CERPEN : Trauma Banjir Bojonegoro 2007/2008

Katakanlah [Muhammad]: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari BENCANA di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (BENCANA) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur””.(QS -An’am,6:63).

Catatan: Cerpen ini berdasarkan pengalaman pribadi dan benar-benar terjadi.

HARI itu Sabtu, 29 Desember 2007. Seperti biasa pagi-pagi saya membuka pintu pagar. Lho, kota saya dalam keadaan terang benderang tidak hujan, kok Jl. Ade Irma di depan rumah saya banjir? Tinggi air saat itu Cuma lima sentimeter. Saya sadar, pasti akan ada banjir. Apalagi di televisi sedang hangat-hangatnya isu global warning alias pemanasan global.

Saya pikir, ah tinggi air banjir seperti tahun 1987, hanya sekitar 3o cm. Sayapun masuk ke rumah. Beres-beres kamar tidur dan warnet. Kebetulan sendirian. Karyawanpun belum datang. Ketika keluar dari warnet, saya terkejut. Lho, kok air bisa masuk ke warnet? Tentu ketinggian air lebih dari 30 cm. Cepat sekali.

Karena saya pikir tinggi air tidak seberapa, maka semua barang-barang termasuk komputer, scanner, printer, kulkas, dll. Saya biarkan saja. Pikir saya, di atas meja cukup aman.

Tapi, e…kurang ajar. Air masuk ke kamar tidur saya sudah setinggi 10 cm dari ubin atau selutut dari tanah. Sayapun panik. Saya kirim SMS ke semua saudara saya yang ada di Surabaya, Jakarta, dll. Saya selamatkan sura-surat penting. Saya masukkan ke tas kecil dan saya gantungkan di paku di kamar yang letak pakunya paling tinggi. Saya ambil baju, celana, odol, sikat gigi, obat-obatan, payung, senter, fulpen, notes, HP. Saya masukkan ke tas dan mulai mengungsi. Saat itu air sudah setinggi perut saya.

Saya susuri pelan-pelan Jl. Ade Irma, belok kiri ke Jl. Diponegoro. Busyet, arusnya cukup deras. Berkali-kali saya hampir jatuh. Dengan susah payah saya sampai di jl. Diponegoro paling Utara. Di sini tanahnya tinggi dan tidak banjir.

Ada becak. Saya minta diantarkan ke Hotel Sahabat yang ada di belakang Supermarket Rajawali.Tidak banjir. Kamar atas sudah penuh. Kamar bawah tinggal satu. Saya langsung masuk. Yah, sialnya saat itu sinyal Simpati drop gara-gara BTS di luar kota mati.Tidak bisa kirim SMS dan tidak bisa terima SMS. Komunikasi terputus.

Sesudah makan malam sayapun tidur.Eh, pukul 23:00 WIB pintu digedor karyawan hotel.

-“Pak. Bangun Pak. Banjir…”

Sayapun bangun. Werleh weleh weleh…air hampir mengenai kasur. Diamput…”

Saya segera ambil tas kecil saya kemudian pindah ke lantai dua. Di lantai ini sudah banyak orang yang tidur-tiduran di lantai. Sebagian mengobrol. Berjubel seperti cacing kermi.

Saya paksakan tidur sambil duduk. Pukul tiga pagi listrik padam. Maklum solar diesel milik hotel sudah habis. Di era SBY ini khan beli solar dibatasi. Kalau listrik PLN sudah mati total sejak kemarin.

Minggu, 30 Desember 2007.

Pagi-pagi ibu-ibu mulai memasak secara gotong royong. Selesai masak makananpun dibagi. Saya pikir saya dapat bagian. Ternyata mereka bertetanmgga dan makanannya dimakan mereka sendiri.

Diamput! Sayapun mengambil keputrusan pindah tempat mengungsi. Sesudah membayar hotel, saya coba kedalaman air di lobi hote. Wow, setinggi perut. Ketika tida di jalan depan hotel, tinggi air setinggi dada. Rasa-rasanya saya ada di tengah laut. Ke mana mata memandang, hanya air yang saya lihat. Tidak ada tim SAR. Biasalah, kalau soal penanggulangan bencana pemerintah kita terkenal telmi (telat mikir).

Tiba di perempatan, saya belok kanan. Hanya berdasar intuisi saja. Semakin ke barat, tinggi air semakin berkurang. Pas di depan masjid At Taqwa ternyata tidak banjir. Di situ sudah ada ribuan pengungsi. Saya kebagian di anak tangga. Ya sudah, duduk-duduk di situ.

Malamnya minta ampun. Dingin, bau pesing, dan banyak nyamuk. Untunglah saya membawa pil Decolgen untuk mencegah demam. Di sini lumayan, ada pembagian nasi bungkus, air mineral dan obat-obatan gratis. Tapi, nggak bisa mandi. Karena listrik PLN mati, kamar mandi dan WC tidak ada air. Saat itu saya ganti kartu HP dari Simpati ke Mentari dan bisa berkomunikasi lagi dengan saudara-saudara dan teman-teman.

Lho, kenapa tidak mengungsi ke Surabaya saja? Saat itu kota Bojonegoro terkepung banjir. Terminal juga banjir.

Senin, 31 Desember 2007.

Saya jalan-jalan ke Jl.Diponegoro. Utara yang tidak banjir. Kebetulan ada truk marinir akan ke terminal. Katanya, terminal sudah tidak banjir . Sesudah satu jam menunggu, akhirnya saya dapat bis menuju Surabaya. Sayapun kirium SMS ke saudara-saudara yang ada di Surabaya.

Sampai di Surabaya, saya janjian dengan kakak saya supaya dijemput di Kampus Stikom. Sayapun menunggu di Kampus Stikom, Jl. Kendangsari Industri. Weleh…weleh…weleh…sampai satu jam saya tidak dijemput. Mau naik taksi saya belum pernah ke rumah kakak saya. Salah-salah taksinya berputar-putar saja hingga uang habis. Mau kirim SMS lagi baterai HP sudah habis. Kepala pun agak pusing.

Akhirnya saya memutuskan pulang lagi ke Bojonegoro naik bis. Lha, sialnya tanggul di Kecamatan jebol. Akhirnya lewat jalan alternatif yang lebih jauh dan kena biaya tambahan Rp 5.000 dari tarif Rp 13.000. Iya deh, malam itu saya merayakan acara Tahun Baru di dalam bis.

Sampai di Bojonegoro langsung jalan kaki menuju stasiun. Ternyata di sini fasilitasnya lumayan. Ada tiga kamar mandi dan WC. Airnyapun cukup. Tidak antri. Maklum jumlah pengungsi Cuma sekitar 50 orang. Mereka menempati gerbong kereta Gumarang yang kursinya empuk itu. Semua kereta tidak jalan karena banjir.

Saya cuma kebagian kursi tunggu yang panjang. Saya istirahat di situ seperti gelandangan. Untung wakil kepala stasiunnya baik. Saya boleh numpang nge-charge baterai HP. Listrik PLN juga sudah mulai menyala (hanya di daerah tertentu). Di depan stasiun banyak warung makan, toko kue,toko obat-obatan dan ada juga mobil milik crew MeetroTV. Sdempat juga bincang-bincang sebentar dengan mereka.

O ya, ada juga warnet. Nah, di situ saya rental internet dan kirim surat pembaca yang dimuat di harian Jawa Pos, Suryta, dll. Judulnya “Suara Korban banjir Bojonegoro”.

Malam hari dingin banget. Walaupun sudah memakai mantel tebal, namun angin dingin terasa masuk ke tulang. Lagi-lagi saya minum pil Decolgen. Di stasiun itu saya kirim SMS ucapan selamat tahun baru ke teman-teman yang ada di jakarta, Bandung, dll. Semua kaget ketiika tahu saya kebanjiran.bahkan ada yang berjanji akan mengirim bantuan dana.

Selasa, 1 Januari 2008.

Melalui SMS akhirnya saya tahu kenapa di Surabaya saya tidak dijemput kakak saya. Ternyata, saya menunggu di Stikom Jl. Kendangsari Industri, sedangkan kakak-kakak saya mencarinya di Stikom Jl. Kedung Baruk. Ya, asampai kiamat nggak bakalan ketemu. Ha..ha..ha..

Selanjutnya saya lupa hari dan lupa tanggal. Saya juga lupa berapa malam saya di stasiun Bojonegoro. Pokoknya saya hari itu saya ke Surabaya dan langsung dijemput kakak saya di terminal Bratang.

Saya nggak ingat berapa hari di Surabaya. Pokoknya saya selalu memantau kondisi Bojonegoro melalui televisi. Ketika ada informasi banjir sudah surut, akhirnya sayapun pulang ke Bojonegoro. Saya lupa hari apa dan tanggal berapa.

Ketika sampai di rumah, saya hanya bisa tercengang. Saya melihat lemari, kursi, televisi, kulkas, dll dalam kondisi jungkir balik. Seperti habis perang. Atau seperti habis ada orang gila mengamuk. Lantai licin karena lumpur. Berkali-kjali hampir terjatuh. Bekas banjir menunjukkan air masuk dalam rumah setiunggi satu meter diukur dari ubin atau setinggi dada diukur dari tanah.

Saya terdiam. Sedih.Kecewa.Gundah.Ingin menangis.Semua komputer terjungkir balik. Begitu juga scanner, printer, HP, kamera, kompor listrik, blender, ratusan CD software (sebagian original), arsip,card reader,pen device,ratusan kaset, ribuan data, ratusan cerpen karya saya, ratusan foto kenang-kenangan yang tidak mungkin dibuat lagi, beberapa skripsi….semuanya! Ya, semuanya hancur! Rusak! Hanya sebagian kecil yang bisa terselamatkan.

Yang membuat saya merasa berdosa besar yaitu empat Al Qur’an yang harganya mahal itu tergeletak di lantai dan sudah rusak bercampur lumpur. Tidak bisa dibaca lagi. Benar-benar saya merasa berdosa sekali.

Kerugian sekitar Rp 100 juta. Saya jatuh miskin. Usaha warnet terpaksa tutup. Saya akhirnya menganggur. Tidak ada pemasukan uang kecuali belas kasihan dari saudara-saudara. Uang pribadi sudah habis selama dalam pengungsian. Bantuan dana dari pemda nol besar.

Saya jadi kere. Namun saya pikir, penderitaan saya belum apa-apa dibandingkan dengan ribuan korban lumpur Lapindo yang telah menderita lahir batin lebih dari setahun. Semangat hidup sayapun bangkit. Saya jual apa yang bisa saya jual. Uangnya saya belikan sebuah komputer dan akhirnya hobi saya main internet bisa tersalurkan lagi.

Ada perang batin saat itu. Pertama, saya harus wiraswasta lagi atau menganggur? Jika wiraswasta lagi, saya terlanjur kehabisan modal. Jika menganggur, saya akan menjadi beban saudara-saudara karena tiap bulan harus mengirim uang.

Kedua, saya harus memikirkan diri sendiri ataukah memikirkan Rencana Reuni Akbar SMAN 1 Bojonegoro, SMAN 4 Surabaya dan SMAN 6 Surabaya? Sudah ratusan atau ribuan alumni mengetahui ini. Kebetulan saya adalah satu-satunya pemrakarsa (initiator).

Aklhirnya dengan berat hari, saya saat ini harus memprioritaskan kepentingan pribadi dulu. Rumah yang saya tempati cukup luas di atas tanah yang luas juga, yaitu 2689 meter persegi dan terletak di dalam kota.

Karena saya tidak mampu membayar orang, terpaksa bersih-bersih lumpur sendiri. Kadang-kadang dibantu karyawan. Ini butuh waktu yang lama. Mungkin, enam bulan baru bersih.

Hingga Februari saya masih bersih-bersih rumah.

Kerugian sekitar Rp 100 juta.

Catatan

Sudah sejak 1945 warga Bojonegoro membayar bermacam-macam pajak, retribusi dan pungli,namun tetap saja kebanjiran.Kok tidak ada koordinasi yang baik antara pemkab dengan pemprov dan pempus.Padahal rencana penanggulangan banjir Bengawan Solo sudah dibuat sejak zaman Belanda.

Bupati-bupati Bojonegoro itu serius mementingkan rakyat atau tidak,sih?

Sumber foto: http://www.smp1bojonegoro.net/images/banjir2009.jpg

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: