CERPEN: Kisah Penjual Siomay Kentut

SEJAK saya masih mahasiswa, sekitar tahun 1973, hingga sekarang, tahun 2011, saya masih paling suka maka siomay. Kebetulan, tiap sore ada penjual siomay lewat depan rumah. Meskipun demikian, saya membelinya Cuma seminggu sekali. Supaya tidak bosan.

“Siomay!” panggil saya suatu sore. Penjual siomay iitupun berenti.

“Biasa! Nggak pakai pare” ucap saya mengingatkan walaupun sebenarnya dia sudah hafal. Diapun segera melayani saya.

Saya katakan siomay kentut karena dia berjualan memakai sepeda onthel. Sedangkan siomay dan perlengkapannya diletakkan di boncengan. Tentu, tepat di belakang pantatnya. Di komplek perumahan tempat tinggal saya, di samping penjual siomay kentut, juga ada penjual nasi goreng kentut, penjual gado-gado kentut, penjual ketoprak kentut, penjual kue bacang kentut dan penjual lainnya yang menggunakan sepeda sebagai sarana usahanya.

Biasanya, sambil menunggu penjual siomay membuat siomay, saya sering mengajak ngobrol-ngobrol. Dia termasuk penjual baru di komplek saya. Kira-kira baru dua bulan.

“Sebelumnya kerja di mana, Mas,” tanya saya. karena saya tahu dia orang Jawa, maka saya panggil Mas.

“Jadi TKI,Pak” katanya.

“Kok, kemudian jadi penjual siomay?”

“Wah, jadi TKI di Malaysia tidak enak,Pak. Kebetulan saya dapat majikan yang kelakuannya buruk. Saya bekerja di perusahaan mebel atau furniture. Sering gaji saya terlambat dibayar. Kadang-kadang tiga bulan baru dibayar.”

“Memangnya dulu lewat jasa PJTKI resmi atau lewat calo?” saya ingin tahu.

“Wah, saya orang desa yang bodoh,Pak. Saya tidak tahu bedanya mana yang PJTKI resmi dan mana yang tidak resmi, saya tidak tahu. Lha, buktinya perusahaannya tidak ditutup pemerintah daerah” dia menjelaskan.

“Kok tidak mencari kerja di Indonesia saja?”

“Hahaha…Saya menyadari,Pak. Pemerintahan di era SBY ini tak mungkin sanggup menciptakan lapangan kerja buat bangsanya sendiri. Beda dengan zamannya Soeharto dulu. Zamannya SBY cari kerja sulit.

“Iya,ya. Sekarang saja ada dua juta sarjana yang jadi pengangguran,” saya mengomentari

“Monggo,Pak,” kata penjual siomay yang bernama Ngadimin itu sambil menyampaikan sepiring siomay buat saya. Seperti biasa, saya duduk di kursi teras sambil terus ngobrol dengan penjual siomay.

“Terus, siomaynya ini tinggal menjualkan atau membuat sendiri?” saya tanya lagi sambil menikmati siomay.

“Bulan pertama saya cuma menjualkan.Dan sekalian belajar membuat sendiri. Bulan kedua saya akhirnya membuat sendiri.”

“Isteri di mana?”

“Isteri dan anak tinggal di Magetan, Jawa Timur,Pak”

“Kok tidak diajak ke Jakarta?”
”Wah, hidup di Jakarta sulit Pak. Cari uang yang tidak halal saja sulit, apalagi yang halal. Yang pasti saya ingin usaha yang halal. Jualan di Magetan untungnya kecil. Sedangkan jualan siomay di Jakarta untungnya lumayan. Tiap bulan saya kirim ke isteri dan anak”

“Anaknya umur berapa?”

“Sudah kuliah,Pak.Di Fakultas Ekonomi Unair,Surabaya”

“Kuliah?” hampir tak percaya saya mendengarnya. Tidak mengira penjual siomay mampu membiayai kuliah anaknya.

“Iya,Pak. Sudah semester keenam,” katanya.

“Oh,hebat,ya? Dapat bea siswa?”

“Tidak,Pak. Bea siswa hanya untuk mahasiswa dari keluarga miskin tetapi pandai. Anak saya tidak pandai. Biasa-biasa saja. Jadi tidak dapat bea siswa.”

“Iya.Itulah bodohnya pemerintah kita. Beberapa tahun yang lalu saya sudah mengusulkan ke pemerintah agar dibuat KTP tiga golongan”

“Maksudnya apa,Pak?” tanya Ngadimin,penjual siomay.

“Begini. KTP tiga golongan yaitu, golongan A untuk masyarakat mampu. Biaya pengurusannya mahal. KTP golongan B, untuk masyarakat yang perekonomiannya sedang. Biaya KTP-nya agak mahal sedikit. Dan KTP golongan C,untuk masyarakat miskin, Dan KTP bisa diperoleh gratis”

“Terus, kegunaannya,apa,Pak?”

“Kegunaannya, mahasiswa pemilik KTP golongan C berhak mendapat keringanan biaya kuliah mulai 50% hingga kuliah gratis. Kalau universitas menolak, bisa digugat .Tentu,harus ada dasar hukumnya”

“Wuuah,gagasan yang bagus,Pak. Kenapa kok tidak direalisasikan pemerintah?”

“Hahaha…SDM pemerintah banyak yang bego. Menterinya juga bego.Tiidak kreatif.Malas. Membuat KTP nasional saja bertahun-tahun tidak selesai. NIK atau nomor induk kependudukan juga berubah-ubah.Nggak profesional sama sekali,” gerutu saya.

“Iya,Pak. Kalau di Malaysia KTP nasional sudah sejak puluhan tahun yang lalu. malahan dilengkapi microchip. Bahkan monoirail juga sudah puluhan tahun lalu ada di Malaysia. Sungguh,Pak. Malaysia sangat maju dibandingkan dengan Indonesia. Saya kagum. Bahan-bahan pokok harganya juga murah. Hanya soal TKI saja dipandang rendah. Kiita ini dianggap bangsa budak,Pak. Kenapa bisa begitu?”

“Sebabnya? Karena presiden dan menteri-menterinya tidak kreatif dan malas. Saya juga malu kok, masak Indonesia bisanya Cuma mengekspor pembantu rumah tangga. Seharusnya yang akan dikirim ke luar negeri dibekali ketrampilan yang benar-benar memadai. Juga mampu berbahasa Inggeris, Arab atau bahasa negara setempat”

“Iya,Pak. Di Malaysia para pelajar SD dan SMP saja bahasa Inggerisnya bagus. Tidak seperti di Indonesia. Sudah lulus SMA bahkan lulus sarjana, bahasa Ingggerisnyab berantakan. Kenapa bisa begitu,Pak?”

“Ya, seharusnya matakuliah bahasa Inggeris diajarkan seminggu empat atau lima atau tiap hari. Di Indonesia terlalu banyak matapelajaran atau matakuliah sehingga yang dipelajari hanya kulit-kulitnya saja”

“Betul,Pak. Seharusnya, pendidikan untuk masyarakat miiskin benar-benar gratis,mulai dari TK hingga universitas. Apalagi kalau sistem KKTP golongan C diberlakukan. Ide yang bagus,Pak. Sayang,ya,presiden dan menteri-menteri kita tidak kreatif…”

“Ah, sudahlah. Jangan berharap ke pemerintahan yang sekarang. Yang penting, pemilu 2014 nanti, pilih capres-cawapres yang cerdas. Jangan memilih capres yang penakut,peragu dan pesolek”

“He he he…Iiya,Pak.”

“Oh,ya. Sudah habis,nih. Berapa?” kata saya sambil mengembalikan piring siomay yang sudah kosong.

“Biasa,Pak. Rp 6000 saja”

Sayapun memberikan selembar uang Rp 5.000 dan selembar uang Rp 1.000.

“Apa rencananya tetap mau berjualan siomay?” tanya saya.

“Insya Allah. Saya menabung dulu,Pak. Jika sudah cukup, saya mau membuka resto kecil-kecilan khusus siomay,bakso,es teler dan makanan minuman ringan lainnya. Rencananya di Pamulang,Pak”

“Oh, syukurlah kalau ada rencana untuk maju. Tuhan tak akan mengubah nasib manusia kalau manusia itu tak mau mengubah sendiri nasibnya”

“Betul,Pak”

Tak lama kemudian, penjual siomay itupun meelanjutkan perjalanannya. dalam hati saya bangga melihat Ngadimin yang pantang menyerah menghadapi sulitnya hidup. Saya juga kagum dengan rencana hidupnya yang menuju ke arah ytang lebih baik. Lebih kagum lagi, walaupun cuma tukang siomay, tetapi mampu meng-kuliahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Sumber foto: azzamudin.wordpress.com/

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: