CERPEN : 22 Hari di Neraka Gaza

“Kiamat tidak akan terjadi sebelum kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi. Mereka akan diperangi kaum Muslimin, sehingga orang-orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Maka berkatalah batu dan pohon tersebut: Wahai orang Islam, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi bersembunyi di belakangku, kemarilah, bunuhlah dia! Kecuali pohon gharqad, karena pohon itu adalah pohon Yahudi”. (HR.Bukhori- Muslim)

PUKUL 00:00. Semua keluarga Achmed tidur terlelap. Sudah tiga bulan saya berada di Palestina di dalam rangka kunjungan ke salah satu perguruan tinggi. Kebetulan saya dapat tempat di keluarga ini. Keluarga Achmed terdiri dari satu kepala keluarga, anak laki-laki yang sedang duduk di bangku SMP dan seorang bayi perempuan berusia satu tahun.

Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan luar biasa dahsyat. Rumah bergetar hebat. Berbagai sirene meraung-raung. Semua warga terbangun. Achmedpun membangunkan istri, Fadhel dan Fadjilla dan mengajak bersembunyi di ruang bawah tanah yang sudah dibangun sejak bertahun-tahun yang lalu.

“هاري! سريع المأوى في القبو! هناك قنبلة! وهاجمت اسرائيل” (“ Harry! Cepat berlindung di bunker! Ada bom! Israel menyerang!,”) teriak Achmed.

Bagi Achmed hal tersebut mungkin hal yang biasa. Namun, bagi saya yang datang dari Indonesia, tentu panik, takut dan cemas. Saya hanya membayangkan kematian saja.

Sayapun bergegas lari ke ruang bawah tanah. Suara gelagar bom di mana-mana. Deru pesawat helikopter Israel datang silih berganti. Rentetan tembakan tak pernah berhenti. Celakanya, listrikpun dipadamkan. Di ruang bawah tanah hanya memakai lampu minyak tanah.

Semalaman tak bisa tidur. Hanya kematian saja yang ada di depan mata saya. Apalagi, sesudah sholat Subuh, pintu rumah Achmed digedor orang. Ternyata ada empat tentara Israel memeriksa seisi rumah. Mencari senjata atau pasukan Hamas.

“الأخ الجاسوس ، هاه؟” (“Kamu mata-mata,ya?”) Hardik salah seorang di antara mereka kepada saya. Achmedpun menjelaskan, saya dari Indonesia dalam rangka kunjungan ke perguruan tinggi. Meskipun demikian tentara Israel itu tetap memeriksa saya dengan kasar. Saya diminta menunjukkan kartu identitas, paspor dan surat penting lainnya. Kemudian, dia melepas peci saya dengan kasar, dibanting ke lantai dan akan diinjak-injak. Untunglah, salah seorang temannya mencegahnya. Sesudah itu, mereka meninggalkan rumah Achmed. Sementara itu Fadjilla, anak perempuan Achmed menangis ketakutan. Itu adalah perang antara Hamas dan Israel hari pertama.

“من الأفضل تأجيل الخطط الخاصة بك إلى الكلية ، (“Lebih baik tunda dulu rencana Anda ke perguruan tinggi,”) saran Achmed. Saya mengangguk saja. Akhirnya selama seminggu saya tidak berani ke mana-mana. Maklum, katanya di tiap sudut jalan ada tentara Israel bersenjata lengkap dan beberapa tank di parkir di jalan.

Hari ketujuh. Sebuah ledakan hebat memekakkan telinga. Ternyata mengenai rumah sebelah dan dampaknya luar biasa. Rumah Achmed lantai dua dan tiga hancur berantakan. Saya hanya bisa berdoa dan menyebut nama Allah berkali-kali.

Hari ke sepuluh. Keluarga Achmed sudah kehabisan bahan makanan. Kebetulan Israel mengumumkan jeda perang selama tiga jam. Artinya, selama tiga jam masyarakat diberi kesempatan untuk berbelanja. Achmedpun keluar rumah untuk berbelanja.

“هل يمكنني ان اكون معكم؟” (“Boleh saya ikut?”) tanya saya.

“لا! البقاء في المنزل. نعتنى فاضل وشقيقته! ” (“Tidak! Tinggal saja di rumah. Jaga baik-baik Fadhel dan Fadjilla,”) jawabnya

Cukup lama dia pergi. Pulang-pulang dia sudah membawa sekarung makanan. Namun jalannya tertatih-tatih. Kaki kanannya berdarah-darah. Dia meringis kesakitan. Katanya, dia kena peluru nyasar dari Israel.

Apa boleh buat, saya membantunya sekuat tenaga. Dan hari itu adalah pengalaman yang mengerikan buat saya. Saya harus membantu Achmed menuju ke rumah sakit. Padahal, jeda tiga jam hampir berakhir.Karena mobil Achmed rusak, terpaksa saya mengantarkannya menggunakan gerobak. Cukup berat. Untunglah, di tengah perjalanan ada dua warga Palestina yang membantu. Benar, begitu sampai ke rumah sakit. Ribuan peluru kembali berdesing. Ratusan bom jatuh di mana-mana. Puluhan helikopter melintas di udara.

Hari itu Israel sudah tidak punya perikemanusiaan lagi. Bom yang dijatuhkan merupakan bom cluster yang ketika jatuh akan menjadi banyak jumlahnya. Bom fosfor putih yang bisa membakar apa saja dan merupakan senjata yang dilarang dalam konvensi Jenewa.

Hampir semua pasien di rumah sakit cemas, takut dan frustrasi. Jantung berdetak keras. Dokter yang jumlahnya sedikit itu mondar-mandir ke sana kemari. Juru rawat juga sibuk mengurusi pasien 24 jam penuh. Celakanya, perut saya saat itu lapar. Terpaksa harus puasa.

Satu malam Achmed dirawat di rumah sakit. Saya tidur di lantai dingin menungguinya.Entah mimpi apa saya terjebak di dalam perang yang sangat biadab itu.

Saya lihat di rumah sakit itu banyak anak-anak yang tak berdosa menjadi korban. Ada yang matanya buta karena kena peluru. Ada bayi yang kulitnya mengelupas kena serpihan bom fosfor. Ada anak perempuan yang tangan kirinya patah. Banyak di antaranya kehilangan ayah, ibu, kakak atau adik. Sekecil itu mereka harus menderita.

Tepat 19 Januari 2009. Sehari menjelang pelantikan Obama, Israel secara sepihak melakukan gencatan senjata. Hati saya merasa sedikit lega. Suara tembakan sudah jarang terdengar. Suara bom tak ada lagi. Hanya satu dua helikopter Israel berpatroli di atas Palestina.

Dua hari kemudian saya ditemukan sebuah tim medis dari Indonesia, terutama dari Mer-C. Kebetulan saya mengenal baik salah satu dokter dari tim medis Mer-C, yaitu dr.Imam Suhardja. Melalui tim inilah saya dievakuasi ke wilayah Mesir.

Setelah berkoordinasi dengan pihak KBRI di Mesir, akkhirnya saya bisa pulang ke Indonesia.Kebetulan, saya satu pesawat dengan Umi Saodah, TKI yang dipenjara di Palestina karena dituduh mencuri uang majikannya. Sampai di Bandara Soekarno-Hatta, saya langsung sujud menyembah tanah.

“يا إلهي! انت انقذتني من جحيم غزة. البربرية الحرب من قبل اليهود ، واليهود الذين سرقوا الاراضي الفلسطينية. آمين”.(“Ya, Allah! Kau telah menyelamatkan saya dari Neraka Gaza. Sebuah perang yang sangat biadab yang dilakukan bangsa Yahudi. Sebuah bangsa yang merampok tanah milik Palestina.Amien”.)

Sumber foto:http://helenamayawardhani.wordpress.com/2009/01/14/kapan-perang-itu-akan-berakhir/

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: