CERPEN: Playboy Cap Wedhus Gembel

DI TERMINAL BSD City, saya melihat pelajar laki-laki rambutnya keriting. Namun keritngnya seperti wedhus gembel. Saya lantas ingat pengalaman saya sewaktu masih duduk di kelas 3 SMPN 2 Bojonegoro. Ada pelajar baru. Pindahan dari salah satu SMA di Sidoarjo. namanya Gatut.

“Harry. saya mau minta tolong, nih,” katanya suatu hari di rumah saya. Waktu itu saya tinggal di rumah Jl. Trunojoyo No.4, yang sekarang dijadikan Kantor Pelayanan pajak. Seberang Kantor PMI.

“Ada apa, kok minta tolong?” tanya saya. kami berdua duduk santai di ruang depan sambil sesekali membuka komik.

Gatutpun cerita. Di SMPN 2, dia jatuh cinta sama cewek SMPN 2 juga. Namanya Tutut. Juga kelas 3, tetapi lain kelas.

“Saya naksir Tutut. Tetapi, saya tidak berani bicara secara langsung,” ujar gatut.

“Lho, piye to sampeyan iki? katanya, sewaktu di Sidoarjo sampeyan jadi playboy. Mulai kelas 1 hingga kelas 2 ganti-ganti pacar. Lha,kok di Bojonegoro jadi penakut gitu?”

“Begini,lho. Sewaktu di Sidoarjo, saya masih tinggal sama orang tua. bapak saya lurah. jadi, saya punya wibawa. Lha, di Bojonegoro saya tinggal sama Pak De saya. Sedangkan Tutut, bapaknya seorang lurah. Jadi, saya kalah wibawa,” Gatut bicara jujur.

“Ooo,begitu to. Lha, sekarang. karepmu gimana,to?”

“Begini Harry. harry kan jago bikin puisi, humor, artikel dan cerpen,” kata Gatut.

“Maksudmu?”

“Ya, kalau bisa, tolong deh, saya buatkan surat cinta buat Tutut,” memelas kata Gatut.

“Ha ha ha…Playboy kok penakut begitu,” saya tertawa.

“Bukannya penakut. saya minder sama Tutut. Dia cantik dan anaknya lurah”

Setelah saya pikir-pikir, sayapun setuju. Apa salahnya membantu teman. Berbuat kebaikan hukumnya wajib. Sayapun masuk ke dalam untuk mengambil buku tulis dan fulpen. sayapun membuat konsep surat cinta sesuai pesanan Gatut. Setelah koreksi sana koreksi sini, akhirnya Gatutpun setuju. sayapun minta Gatut mencontoh surat cinta itu dengan tulisan tangannya. Lantas saya masukkan ke amplop yang kebetulan saya punya.

“Maaf,Harry. saya minta tolong lagi,” pinta Gatut.

“Apa lagi?”

“Tolong, surat itu sampaikan ke Tutut. jangan sampai teman-teman lainnya mengetahuinya,” begitu pesan Gatut.

“Oh my God,” saya tertawa. namun menyanggupinya juga.

Esok harinya, sepulang sekolah, saya tidak langsung pulang. Dengan naik sepeda ontel, saya ikuti Tutut dari belakang. Setiba di dekat restoran, Tutut saya kejar dan saya dekati.

“Tut. Tolong dong,berhenti sebentar,” saya memepetkan sepeda saya ke sepeda Tutut yang wsaktu itu sendirian. Tututpun berhenti.

“Ono opo to,Har?” Tutut ingin tahu.

Sayapun mengajak Tutut masuk ke restoran. Cuma pesan bakso dan es teler. Terus, sambil makan bakso, saya sedikit demi sedikit cerita, kalau ada cowok ganteng naksir Tutut.

“Siapa,sih?” Tutut penasaran. Akhirnya saya sebutkan nama Gatut. Sekaligus memberikan surat Gatut ke Tutut.

“Tolong, deh, dibuka di rumah saja,” pesan saya. Tutut setuju usul saya. Surat itupun dimaksukkan ke tas sekolahnya. Selesai makan bakso dan minum es teler, Tututpun melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah. sayapun demikian.

Esok harinya, sesuai dengan perjanjian saya dengan Tutut, sepulang sekolah bertemu lagi di restoran yang kemarin. Di situ Tutut memberikan respon yang positif.

“Boleh juga tuh,Har. Gatut memang gantheng,” puji Tutut.

“Jadi, setuju?”

“Ya, positiflah. Cuma, masalahnya….,”

“Ada masalah apa?”

“Hmmm, sebaiknya komunikasi lewat surat dulu. Cuma, saya tidak bisa membuat surat. Tolong deh, Harry yang membuatkan. Nanti saya salin memakai tulisan saya,” kata Tutut. Saya jadi bingung. Saya tolak, berarti saya tidak membantu teman. kalau saya terima, kok lucu. Namun, akhirnya saya setuju juga. Demi teman, tak apa-apalah.

Di restoran itu juga, saya membuat konsep surat cinta balasan dari Tutut untuk Gatut. Tentu, sesuai dengan arahan dari Tutut. Setelah koreksi sana sini, akhirnya surat konsep saya itu disalin Tutut. kebetulan, di samping restoran ada kantor pos. Cepat-cepat saya dan Tutut beli amplop. Surat cintapun dimasukkan ke amplop.

“Harry, tolong ya. Surat ini supaya disampaikan ke Gatut. Bilang saja, saya suka sama dia,” pesan Tutut sambil memberikan surat itu ke saya.

Keesokan harinya, surat dari Tutut saya sampaikan ke Gatut yang kebetulan satu kelas dengan saya. Eh, ternyata saya dapat tugas lagi untuk membuat konsep surat cinta balasan dari Gatut untuk Tutut. Dan hari berikutnya saya bikin konsep surat cinta balasan dari Tutut untuk Gatut. Itu berlangsung sampai lima kali.

Akhirnya, saya ajak Gatut ke rumah Tutut. Pas malam Minggu. Nah, sejak saat itulah, Gatut mempunyai keberanian untuk ngapel ke rumah Tutut. Hari-hari berikutnya mereka berani pacaran terang-terangan di sekolah. Dalam waktu singkat, teman-teman sekelas tahu kalau Tutut yang cantik itu pacarnya Gatut yang gantheng dan rambutnya keriting seperti wedhus gembel itu.

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan.Tahun berganti tahun. Akhirnya saya,Gatut,Tutut dan teman-teman SMPN 2 lulus ujian. Kemudian melanjutkan sekolah ke SMAN 1 Bojonegoro.

Dasar playboy. Setelah bosan berpacaran dengan Tutut, ternyata di SMAN 1, Gatut cari pacar lagi. Kali ini dia sudah pede. Berani langsung melakukan pendekatan ke cewek. Bukan hanya berpacaran dengan cewek SMAN 1, tetapi juga dengan cewek SMEA dan sekolah lainnya.

Akhirnya saya kesal dengan kelakuan Gatut. Tanpa sengaja, saya cerita ke Tutut tentang surat-surat cinta mereka berdua.

“Ha ha ha…Jadi, semuanya Harry yang bikin konsepnya?” tanya Tutut sewaktu jam istirahat. Saya ceritakan itu di kantin sekolah. Saya cuma mengiyakan. Sayapun ikut tertawa. Teman-teman di kantin yang turut mendengar cerita saya, juga turut tertawa.

Kalau saya ingat pengalaman itu, saya jadi menyesal. Menyesal karena telah pernah membantu Gatut, Si Playboy Cap Wedhus Gembel itu.

Sumber foto: pentinggak.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: