CERPEN: Ketika Cinta Dihantam Prahara

SURABAYA 1971. Waktu itu saya merupakan siswa pindahan dari SMAN 4 Surabaya ke SMAN 6 Surabaya. Dari kelas 2 ke kelas 3 IPS. Dulu istilahnya Sos.Saya di 3 Sos 1. Saya satu kelas dengan Jully Jethro yang saat itu jadi pacarnya Arthur Kaunang, pemain band AKA.

Satu bulan, belum banyak siswa SMAN 6 yang saya kenal. Namun, ketika saya aktif menulis cerpen di buletin Elka,buletin sekolah, maka banyak siswa yang ingin kenal. Tidak hanya sesama kelas 3, tetapi juga adik-adik kelas 1 dan kelas 2.

“Yang mana sih yang namanya Harry?” begitu, hampir tiap hari ada siswa masuk ke kelas saya pada jam istirahat jika kebetulan saya sedang berada di kelas. Salah satunya bernama Lia Amelia, kelas 3 IPA 1.

“Boleh kan kenalan?” tanyanya. Dia ditemani seorang teman. Tentu saja saya menjawab boleh. Semula saya menganggap teman saja. Namun ketika pulang sekolah, saya lihat dia berdiri di depan sekolah.

“Mau pulang,ya?” saya menghentikan motor.

“Iya. Motor saya lagi di bengkel. Boleh nggak minta antar?” tanyanya. Tentu saja dengan senang hati saya mengatakan boleh. Diapun segera duduk di motor saya. Dan motor segera berjalan pelan. Sepanjang perjalanan ngobrol ke sana ngobrol ke sini. Dalam hati saya merasa tertarik juga. Di samping enak diajak bicara, Lia juga termasuk cantik. Sayang, tak bisa ngobrol lama, karena telah sampai di rumahnya di kawasan Jl.Pucang Anom Timur.

Itulah awalnya. Lia tahu, saya baru putus pacaran dengan siswa SMAN 4. Saya juga tahu, saat itu Lia masih berstatus pacarnya Wawan, teman sekelasnya. Namun tampaknya Lia agresif sekali melakukan pendekatan ke saya. Tanpa sengaja, hubungan Lia dan Wawanpun putus. Untung Wawan sabar, saya dan Wawan tetap bersahabat baik.

Begitulah. Akhirnya tiap malam Minggu saya apel ke rumah Lia. Bahkan tiap malam Minggu suka ke resto, jalan-jalan atau nonton bioskop. Bioskop pertama yang pertama kalinya saya tonton berjudul “Cintaku Jauh di Pulau” di Indra Theatre..

Walaupun saya pernah ganti-ganti pacar, namun dengan Lia saya merasakan cinta yang sesunggguhnya. Saya merasakan indahnya cinta. Hangatnya cinta. Tiada hari tanpa Lia. Di mana ada saya,di situ ada Lia. Semua siswa SMAN 6, mulai kelas 1 hingga kelas 3 tahu kalau Lia adalah pacar saya. Dan hidup terasa indah sekali. Bahkan saya berharap, Lia adalah cinta terakhir saya. Saya bosan ganti-ganti pacar.

Enam bulan tanpa terasa, kami saling memadu cinta. Sampai akhirnya Dika, teman sekelas bercerita, kalau Lia punya pacar lain.

“Kok, Dika tahu?” tanya saya pada jam istirahat. Kebetulan Lia tidak masuk sekolah karena sakit.

“Ya tahu,dong.Kan saya tetangga seberang rumah,” sahut Dika. Kami saat itu ngobrol di dalam kelas. Dikapun bercerita kalau tiap Minggu malam atau malam Senin, selalu ada mobil Mercy parkir di depan rumah Lia. Dan Lia pernah datang mencek siapa cowok itu.

“Cowoknya kuliah di Fakultas Hukum,Unair,Harry. Namanya Buddy. Maaf ya,Harry. Bukan maksud saya mengadu domba atau memecah belah hubungan Harry dan Lia. Cuma, saya menyampaikan informasi apa adanya,” ujar Lia yang juga berparas cantik itu.

Dua hari kemuudian, Lia telah masuk kembali ke sekolah. Sewaktu beli es campur kacang hijau di Selatan kantor pos, sayapun mencoba memancing info tentang pacar lain Lia. Namun Lia mengatakan kalau yang datang tiap Minggu malam adalah putera Om-nya. Dengan kata lain, cowok itu masih ada hubungan famili. Tidak mungkin menjadi pacarnya.

Karena penasaran, Minggu malampun saya nekat mendatangi rumah Lia. Benar saja, di situ ada mobil Mercy warna putih. Dan ketika saya masuk, saya lihat Lia sedang ngobrol dengan cowok itu. Terkesiap saya melihatnya. Masak sih, kalau masih ada hubungan famili, duduknya rapat dan semesra itu?

Sambil menahan emosi, sayapun memperkenalkan diri dengan cowok itu. Tidak lama saya ngobrol-ngobrol dengan Lia. Cuma pura-pura tanya tentang hal-hal yang ada hubungannya dengan sekolah. Akhirnya, sayapun pulang.

Esok harinya. Pada jam istirahat, saya mengajak Lia ke Selatan kantor pos. Biasa, beli es campur kacang hijau atau terkenal dengan sebutan Es Pak Usup. Rasanya memang sangat enak dan cukup terkenal untuk ukuran Surabaya.

Saat itulah,saya tanya Lia agar Lia mau terus terang.

“Lia. Saya butuh kejujuran. Cowok kemarin saudara, teman atau pacar?” saya memulai pembicaraan. Semula Lia selalu membantah. Namun, akhirnya mengaku juga.

“Maaf,Harry. Buddy memang pacar saya. Tapi, mohon pengertiannya. Harry tahu kan kalau mama saya lagi dirawat di rumah sakit? Harry tahu kan papa saya sudah lama meninggal? Harry tahu kan selama ini yang membiayai sekolah saya Mbak Nina, kakak saya? Gaji Mbak Nina tidak cukup untuk membiayai biaya perawatan mama,Harry,” cerita Lia.

“Maksudnya?”

“Ya, selama ini Buddy yang membayarnya,” Lia mengaku. Saya ingat kata Dika, Buddy anaknya orang kaya yang tingggal di Jl.Diponeoro.

“Jadi, Lia ingin membalas budi?”

“Habis bagaimana,Harry? Solusinya bagaimana? Beri dong solusi,” jawab Lia. Tanpa kami sadari, kami terjebak pada pertengkaran.

Semula hanya pertengkaran biasa saja. Namun lama kelamaan pertengkaran semakin panas.  Apalagi, mungkin di luar kesengajaan, Lia mengatakan butuh pacar yang bisa membiayai hidupnya. Sayapun merasa tersinggung karena saya merasa diangggap miskin.

“O,begitu? Jadi Lia tak mau lagi jadi pacar saya karena saya miskin? Tidak mau punya pacar yang cuma punya motor?”

“Habis bagaimana,dong solusinya?” masih saja Lia ngotot.

Tanpa saya rencanakan, mungkin emosi sudah memuncak, tangan kanan sayapun dua kali menampar muka Lia. Dan sempat saya lihat darah mengalir dari lubang hidungnya.

“Aduh! Jangan begitu dong caranya!” Lia berteriak kesakitan sambil memegang mukanya. Spontan Lia membalas, gelas yang berisi es campur kacang hijau langsung disiramkan ke baju saya. Ketika saya akan menampar lagi, Pak Usup dan teman-teman yang ada di situpun melerainya.

“Sudah!Sudah!Sudah!…” begitu cegah teman-teman.

“Oke Harry! Hubungan kita cukup sampai di sini saja!Putus!,” teriak Lia sambil meninggalkan saya.

“Itu lebih baik!” jawab saya. Juga dengan nada yang keras.

Begitulah. Sejak saat itu, saya tak pernah bertegur sapa lagi dengan Lia. dari hari ke hari, saya baru merasakan, saya telah kehilangan cinta. Saya telah kehilangan keindahan. Saya telah kehilangan harapan.

Sebulan penuh saya jadi pemurung. Saya lebih banyak tinggal di dalam kelas pada jam istirahat. Namun teman-teman sekelas selalu memberi semangat.

“Sudahlah Harry. Lupakan saja Lia. Dia itu sejak dulu suka ganti-ganti pacar. Dia itu ‘ulo’. Dia itu ular,” begitu kata Gaguk Wibowo.

“Betul,Harry. Di Surabaya ini cewek yang lebih cantik daripada Lia,banyak,” sahut Lisa Harahap yang berwajah cantik.

“Harry. Kalau mau, kapan-kapan saya kenalin cewek SMAN 5. Cantik,Har. Dia juga belum pernah pacaran. Kalau mau, kapan-kapan akan saya kenalkan,” ujar Arifin.

Begitulah, suatu saat ada pertandingan voli antara SMAN 6 dan SMAN 5 yang diadakan di SMAN 5, maka Arifinpun memperkenalkan saya dengan cewek yang dijanjikannya.

“Harry,” saya memperkenalkan diri.

“Siska.Siska Marina Yordhant,” katanya lembut. Oh, apa yang dikatakan Arifin memang benar. Siska lebih cantik dibandingkan Lia. Di tengah-tengah meriahnya pertandingan voli, sayapun asyik ngobrol-ngobrol dengan Siska. Cukup gaul juga dia.Enak diajak bicara. Sebentar-sebentar kami ttertawa. Seolah-olah kami berdua sudah berkenalan lama.

Begitulah, tiap Minggu saya ngapel ke rumahnya di Jl.Anjasmara. Kedua orang tua dan adik serta kakaknya,  bersikap ramah terhadap saya. Bahkan tak jarang saya diajaknya makan malam bersama.

Tanpa terasa, hari demi hari,bulan demi bulan, sayapun berhasil melupakan Lia. Kehancuran cinta saya, telah tertutup dengan kehadiran Siska.

Saya pegang teguh motto yang diberikan Dika ke saya. Motto itulah yang saya jadikan motivasi buat saya.

Bunyinya:” Patah tumbuh. Hilang berganti”

Sumber gambar: mastorsepang.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Bloogger.

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: