CERPEN: Saya Menjadi TKI Bukan Karena Takdir

NAMA saya Siti Maemunah.Saya bukan berasal dari keluarga konglomerat. Saya tinggal di desa kecil. Namanya, Desa Ngablak, Kabupaten Bojonegoro.Orangtuaku petani miskin.Saya sekolah hanya lulusan SMP.Itupun sudah hebat. Dengan ijazah SMP, sulit cari kerja. Padahal, adik-adik saya banyak.

“Pak’e. Saya mau jadi TKI saja…” akhirnya, saya satu-satunya anak perempuan bilang ke ayah saya. Semula ayah saya keberatan, sebab sehari-hari saya membantu Mak’e memasak di dapur. Tapi, karena saya janji tiap bulan akan mengirimkan sebagian gaji saya, maka ayah sayapun mengizinkan.

“Yo,wis,nDuk. Lha, piye maneh, wong golek gaweyan zaman saiki angel,” jawab ayah saya. Artinya,”Ya sudahlah,Nak. Habis bagaimana lagi, cari kerja memang sulit”

Akhirnya sesudah mengurus surat ijin dari orang tua dan syarat-syarat lainnya, sayapun mendaftar ke PJTKI PT Indodata Karya Sempurna yang dulu beralamat di Jl. Adema Suryani Nasution No.5, Bojonegoro.

Sayapun mendaftar. Semua berkas diperiksa oleh staf PT IKS.Terus, saya diwajibkan tinggal di penampungan selama seminggu. Tidak dipungut biaya, tetapi tiap bulan gaji saya akan dipotong. Ya, tidak apa-apa, yang penting saya dapat pekerjaan.

Akhirnya, saya dan teman-teman TKI-pun diberangkatkan ke Malaysia. Beruntung saya dipekerjakan di toko. Toko majikan saya berjualan HP, pulsa dan segala aksesorinya.Majikan saya namanya Liem Tjiep Hian, warga Malaysia keturunan China. Untung, orangnya baik.Kalau dagangannya laris, saya sering dapat bonus.

Tapi, isterinya, yang namanya Mo Mey Hwa, judasnya setengah mati. Kalau pas dia yang ada di toko, rasa-rasanya saya tinggal di neraka. Salah tidak salah, saya pasti diomeli.Yang katanya saya ini orang Indonesia goblok-lah, yang katanya saya ini orang Indonesia pemalaslah. Bagi saya, kalau tidak menyebut negara saya sih, tidak apa-apa. Tapi kalau sudah melecehkan negara saya, rasa-rasanya mulutnya ingin saya sobek-sobek saja. Untunglah, sebagai seorang muslimah, saya harus sabar…sabar…sabar. Kayak Pak SBY gitu, walaupun negaranya dilecehkan,Pak SBY tetap sabar…sabar…sabar. Ternyata orang sabar identik dengan penakut.

Pak Liem memang orangnya penuh pengertian. Karena pelanggannya kebanyakan wisatawan asing, maka saya dan satu teman satu toko, dikursuskan bahasa Inggeris. Biaya ditanggung bos.Andaikan semua majikan seperti Pak Liem, tentu akan nyaman bekerja. Tapi kalau macam Bu Mo, wah, rasa-rasanya stres tiada henti.Rasa-rasanya berhadapan dengan setan.

Bagusnya lagi, Pak Liem memberi libur tiap Minggu. Saya dan teman-teman boleh jalan-jalan. Itulah pertamakalinya saya naik monorail. Saya jadi malu jadi bangsa Indonesia. Lha, di Jakarta mau membangun monorail saja puluhan tahun tidak jadi-jadi.Bodoh benar pemimpin bangsa saya ini.

Tiap bulan saya kirim uang ke ayah saya yang tinggal di Desa Ngablak. Nilainya cukup banyak dibandingkan penghasilan ayah saya sebagai petani. Saya cuma berharap agar adik-adik saya bisa melanjutkan sekolah.Maklum, dunia pendidikan penting, walaupun di Indonesia ada dua sarjana yang jadii pengangguran.

Soal pekerjaan, pejabat-pejabat Malaysia memang cerdas. Suku bunga kredit bank sangat rendah. Sehingga banyak warga Malaysia berlomba pinjam uang ke bank untuk membuka usaha. Beda dengan Indonesia yang suku bunga kreditnya sangat tinggi.Lagipula, jadi UMKM di Indonesia juga dibebani bermacam-macam pajak.Sungguh, tidak cerdas.

Saya merasa ngeres juga mendengar cerita teman-teman TKI yang sesama perempuan. Ada diantaranya yang dibius kemudian diperkosa. Masuk untung, majikannya pakai kondom.Mau pulang ke Indonesia tidak bisa karena paspornya ditahan.Akhirnya, seminggu sekali harus mau melayani nafsu bejat majikannya. Apa yang bisa diperbuat pemerintah Indonesia? Tidak ada!

Teman lainnya bilang, hampir tiap hari ditampar majikan perempuan. Bahkan jatah makannya sama dengan jatah makanan kucing majikannya.Teman-teman saya yang mendapat perlakuan tidak baik itu rata-rata menjadi pembantu rumah tangga (PRT).

Mau menggugat ke pengadilan? Biayanya mahal! Gaji setahu habis untuk bayar perkara. Seharusnya sih, ada semacam lembaga bantuan hukum (LBH) yang mau membela para TKI teraniaya tanpa dipungut biaya satu senpun. Daripada uang rakyat dihambur-hamburkan untuk membangun gedung DPRRI senilai Rp 1,6 triliun, lebih baik digunakan untuk membela para TKI yang bermasalah.

Ada sekitar dua juta TKI di Jakarta. Eh, dengan seenaknya pemerintah Indonesia meng-klaim angka pengangguran turun. Seolah-olah itu hasil kerjanya Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Padahal, itu hasil usaha para TKI sendiri. Lebih tidak enak lagi, pemerintah bangga karena cadangan devisanya tinggi sepanjang sejarah. Dengan sombong politisi Partai Demokrat memuji diri sendiri sebagai pemerintahan yang paling berhasil.

Padahal, ketika saya dan teman-teman pulang ke Indonesia, di bandara sudah siap orang-orang yang akan memeras para TKI. Bahkan tak jarang naik kendaraan yang ternyata sopir dan keneknya adalah para pemeras. Seharusnya, para TKI sebagai pahlawab devisa kedatangannya disambut kendaraan khusus dan diantar sampai ke desa masing-masing. Dananya toh bisa diambil dari cadangan devisaa yang merupakan jerih payah para TKI..Nyatanya, pemerintah tak melakukan itu.

“Sedih, deh melihat sikap pemerintah Indonesia yang kurang begitu melindungi para TKI. Tindakan preventifnya sangat kurang. Kalau sudah kejadian, pemerintah baru mikir. Benar-benar telmi,” gerutu saya ke teman kerja satu toko.

“Iya.Apalagi sangat banyak kasus para TKI yang disiksa. Ditampar, dipukul, ditendang, diseterika, kepalanya dibenturkan ke dinding,diberi makanan setara makanan kucing,diperkosa bahkan dibunuh,” teman satu toko saya, namanya Ningsih, mengomentari.

“Begitulah nasib kita. Cari kerja di negara sendiri sulit.Lha wong pemerintah Indonesia tidak mempu menciptakan lapangan kerja. Mulai dari bupati,gubernur hingga menteri, tidak kreatif di dalam menciptakan lapangan kerja. Sangat berbeda jauh dibandingkan kreativitas para pejabat malaysia di dalam menciptakan lapangan kerja dengan gaji yang lumayan,” kata saya ke Ningsih.

Saya terpaksa berhenti ngobrol. Karena, ada bule yang akan membeli HP di toko milik Pak Liem. Sayapun harus melayaninya dengan baik. Apalagi dia berbahasa Inggeris.

“Saya menjadi TKI bukan karena takdir.Tapi, karena pemerintah Indonesia tidak becus menciptakan lapangan kerja bagi bangsanya sendiri,” gerutu saya dalam hati.

Sumber foto: onlineshop-hp.masterjoesandy.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Iklan

CERPEN: Stanza Terakhir di Fakultas MIPA

SEBENARNYA saat itu saya sudah kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, Jakarta. Namun saya merasakan ilmu yang saya miliki masih kurang. Memang, di fakultas tersebut sudah ada matakuliah Matematika Ekonomi. Namun, tak ada salahnya saya kuliah lagi di Fakultas MIPA atau Program Studi MIPA di Universitas Terbuka (UT). Saya pikir, toh di UT bisa belajar secara otodidak.Benar. Akhirnya sayapun meluncur ke Rawamangun untuk mendaftarkan diri.

_”Ngambil prodi apa, Mas?”. Tiba-tiba ada cewek langsing,putih menyapa saya.

-“Oh,ambil MIPA”. Saya menjawab.

Entahlah, seperti kena hipnotis, saya langsung naksir cewek tersebut. Akhirnya sayapun memperkenalkan diri.

-“Harry”. Saya menjabat tangannya yang mulus itu.

“Hernik”. Dia menyebut namanya. Sepintas saya lihat wajahnya mirip Krisdayanti.

Akhirnya saya tahu, cewek itu mengambil prodi MIPA juga. Kemudian saya memasang kertas pengumuan ukuran A1 di papan pengumuman. Siapa saja boleh memasang pengumuman di sini. Isinya, saya mengajak para mahasiswa MIPA untuk bergabung dengan kelompok belajar saya. Semula menggunakan alamat tempat kos saya, namun karena Hernik bersedia rumahnya dipakai untuk belajar bersama, akhirnya alamatnya saya tulis di pengumuman tersebut.

Selesai mendaftar, sayapun diajak ke rumahnya. Katanya, supaya nanti kalau belajar bersama tidak perlu mencari-cari lagi. Sayapun masuk ke mobilnya. Hernik sendiri yang mengemudikan. Dia tinggal di kawasan Perumahan Kelapa Gading. Besar juga rumahnya. Tampaknya dia anak orang kaya. Katanya, dia anak tunggal. Ayahnya memiliki enam buah kapal besar dan dua buah hotel berbintang lima. Wow, agak “minder” juga saya.

Ruangan untuk kelompok belajar cukup luas dan lengkap. Ada papan tulis, data show, komputer, dll. Tanpa terasa, kelompok belajar yang saya bentuk memiliki 20 anggota. Semuanya lulusan SMA IPA. Hanya saya yang satu-satunya lulusan SMA IPS, yaitu dari SMA Negeri 6, Surabaya. Lucunya, Hernik yang lulusan IPA justru suka dengan buku-buku sastra,novel dan gemar membuat puisi. Kebetulan, saya juga membuat puisi.

Anggota kelompok belajar tersebut tidak semuanya mereka yang baru lulus SMA. Banyak yang sudah berstatus karyawan. Bahkan ada seorang ibu rumah tangga berusia 35 tahun. Masing-masing memperkenalkan diri dengan menyebut nama, dan asal kota.

Ketika giliran saya memperkenalkan diri, maka sayapun menyebut nama dan asal kota. Tiba-tiba ada seorang anggota tertawa terbahak-bahak.

-“Jadi, mas Harry dari Bojonegoro? Kabarnya, orang Bojonegoro banyak yang kemlinthi, ya Mas?”

Ketika mendengar istilah “kemlinthi”, ganti saya yang tertawa.

-“Iya. Orang Bojonegoro memang kemlinthi. Sok kaya, sok pinter, suka pamer dan suka ngenyek. Sejak dulu orang Bojonegoro ya begitu..”. saya mengiyakan.

Nah, suatu saat ketika selesai belajar bersama, ternyata Hernik memberi saya sebuah puisi tiga stanza. Isinya, pernyataan cinta. Karena saya juga naksir Hernik yang wajahnya mirip Krisdayanti itu, maka minggu berikutnya saya membalas puisinya. Juga tiga stanza. Akhirnya, Hernikpun menjadi pacar saya.

Sampai suatu saat, saya bertemu dengan teman baik yang kebetulan seorang ustadz dan ahli metafisikawan yang kebetulan juga tetangganya Hernik. Dia tanya, apakah betul saya pacaran dengan Hernik. Ketika saya menjawab ya, maka teman sayapun terkejut dan mengajak saya ke rumahnya.

Di rumahnyapun saya diberi tahu. Bahwa saya sebenarnya kena ilmu hitam. Tepatnya, saya dipelet Hernik. Karena ustadz tersebut teman baik, maka sayapun percaya saja. Di rumahnya sayapun mengikuti acara ritual agama Islam. Kemudian disarankan membaca beberapa ayat suci Alquran. Bahkan ada yang harus dibaca 100 kali.

Ternyata benar. Minggu berikutnya ketika saya bertemu dengan Hernik, saya merasa heran. Hernik yang dulu saya lihat cantik seperti Krisdayanti, ternyata sekarang tampak seperti Omas. Sayapun cepat-cepat membaca doa.

Ternyata benar. Minggu berikutnya ketika saya bertemu dengan Hernik, saya merasa heran. Hernik yang dulu saya lihat cantik seperti Krisdayanti, ternyata sekarang tampak seperti Omas. Sayapun cepat-cepat membaca doa. Maka hari itupun saya membuat puisi tiga stanza. Isinya putus cinta.

Saya katakan saya sudah punya pacar. Puisi itu saya berikan ke Hernik. Sayapun tidak pernah muncul lagi di Fakultas MIPA UT. Kuliah saya di Fakultas MIPA UT cukup sampai sarjana muda saja. Dengan langkah gontai, sayapun meninggalkan rumah Hernik. Untuk selama-lamanya.

Sumber foto: UniversitasTerbukaSkyscrapercity.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN MISTERI: Misteri Piano Tua

JAKARTA. Sudah sekitar lima tahun saya tinggal di Komplek Perumahan Sunter Hijau, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sekitar setahun yang lalu di sebelah kanan rumah saya ada tetangga baru. Katanya pindahan dari Banjarmasin. Suami istri dan tanpa anak.

Nama suami Gatot dan istri bernama Henny. Tiap malam saya mendengar istri Pak Gatot memainkan piano. Lagu-lagu klasik kesukaan saya sejak kecil. Maklum, sewaktu saya masih kecil saya juga mengambil les piano, yaitu sejak SD hingga SMA. Cuma sayang, piano dijual karena orang tua saya waktu itu kesulitan uang.

Sampai suatu hari, Pak Gatot datang ke rumah saya.

“Pak Tommy, saya mau pamit. Saya dapat tugas ke Makassar,” begitu kata Pak Gatot. Katanya, dapat tugas mengajar di Makassar.

“O, ya selamat jalan,Pak. Kok, istrinya tidak kelihatan, apakah belum pulang kantor?” saya ingin tahu.

“O ya, istri saya sudah berangkat duluan mempersiapkan segala sesuatunya di Makassar,” jelasnya.

Kemudian dia menambahkan.

“O ya, Pak Tommy. Saya punya piano akan saya jual murah. Soalnya saya butuh tambahan biaya. Cuma Rp 5 juta saja,” tawar Pak Gatot.

Kebetulan, sudah lama saya ingin membeli piano. Sayapun ke rumah Pak Gatot untuk melihat kondisi piano. Ternyata masih mulus. Ketika saya coba, juga normal dan baik. Saya tahu benar bahwa piano antik itu di pasaran harganya bisa sekitar Rp 25 juta.

Langsung hari itu saya bayar tunai. Kemudian saya memanggil empat pengemudi becak yang ada di komplek untuk mengangkat piano itu ke rumah saya. Piano itu saya letakkan di dekat kamar makan. Senang rasanyabisa memiliki mpiano lagi. Maklum, sudah puluhan tahun saya tak bermain piano.

Seminggu berlalu. Tidak ada kejadian apa-apa. Pak Gatot sudah pindah. Rumahnya sepi. Pulang kantor sesudah makan siang, sayapun mencoba memainkan beberapa lagu.

Namun, pada suatu hari sepulang kantor saya merasa heran. Saya berhenti di depan pintu pagar rumah saya. Kok, ada yang memainkan piano saya? Siapa ya? Namun, begitu saya membuka pintu pagar, suara pianopun lenyap.

“Ah, mungkin tetangga belakang rumah,” begitu pikir saya. Maklum, di komplek perumahan memang ada beberapa yang memiliki piano. Namun karena kejadian itu berulang kali terjadi tiap hari, maka saya memutuskan untuk bertanya ke tetangga belakang rumah, apakah ada yang memiliki piano. Ternyata, tidak ada yang punya.

“Aneh,” begitu kata hati saya. Sesudah berkali-kali saya mengalami kejadian itu, saya yakin bahwa suara piano itu pasti datang dari dalam rumah saya. Untunglah, ketika shalat Jum’at, saya sempat berkenalan dengan seorang ulama. Saya ceritakan kejadian di rumah saya. Katanya, dia bisa membantu. Katanya, dia bisa menerawang ada tidaknya mahluk halus di rumah saya.

Ketika saya mengajak ulama tersebut, namanya Imam Gozali, untuk datang ke rumah saya, dia bersedia dengan senang hati. Bahkan tidak bersedia dibayar. Begitu masuk ke rumah saya, langsung melihat piano tua saya. Langsung memejamkan mata dan berdoa. Entah doa apa.

Beberapa menit kemudian dia berkata.

“Oh, iya. Rumah Pak Tommy memang ada mahluk halusnya”

Namun ketika saya tanya siapa nama dan asal mahluk halus itu, ulama itu tak bisa menjawab. Akhirnya, saya kehilangan kepercayaan kepada ulama yang bernama Imam Gozali tersebut. Menurut buku-buku yang saya baca, orang yang benar-benar bisa melihat mahluk halus, harus tahu nama dan asal usul mahluk halus tersebut.

Lain hari ketika saya memperpanjang KTP di kelurahan, saya berkenalan dengan seseorang yang mengaku paranormal yang sudah empat kali naik haji. Diapun saya undang ke rumah saya. Diapun membaca doa di depan piano saya.

Sesudah itu paranormal yang bernama Pak Sugiyono itupun menerangkan.

“Iya, di sini memang ada mahluk halusnya. Perempuan.Namanya Henny. Dia datang dari rumah sebelah kanan ini.

Sungguh, saya terkejut. Henny adalah nama dari istri Pak Gatot. Ada apa gerangan?

“Apa yang terjadi Pak Sugiyono? Saya ingin tahu.

Paranormal itu menjelaskan bahwa Henny telah dibunuh suaminya ketika sedang tidur nyenyak. Soalnya, Pak Gatot punya istri baru. Mayatnya dikubur di bawah lantai rumah bekas rumah kontrakannya. Sebelah rumah saya.

Sayapun mengajak paranormal itu ke ketua RT,Pak Effendy. Kemudian melapor ke kelurahan dan kepolisian. Di kantor polisi saya dan Pak Sugiyono menandatangani surat bukti pelaporan. Tentu, menunjukkan KTP asli dan menyerahkan fotokopinya.

Beberapa hari kemudian, disaksikan Pak Sugiyono, ketua RT, lurah dan kepolisian, lantai rumah itupun dibongkar sesuai petunjuk Pak Sugiyono. Ratusan warga berjejal ingin turut menyaksikan Ternyata benar. Ditemukan jenasah yang sudah berbau busuk. Proses selanjutnya merupakan wewenang pihak kepolisian.

Sesudah jenasah itu dimakamkan, rumah saya kembali tenang.

Sumber foto: ntzoctptr.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Cintaku Biru di University of Saskatchewan

SEBELUM lulus S-1 di Fakultas Sastra UI, ada beberapa penawaran bea siswa ke luar negeri. Antara lain ke Amerika yang disponsori Ford Foundation, Fullbright Foundation, dan lain-lain.. Ke Jepang antara lain dari Tokay Foundation. Namun dari beberapa tawaran tersebut, saya tertarik dengan bea siswa dari Saskatchewan Foundation yang berada di Kanada. Alamat situs di http://www. campussaskatchewan.ca.

Kenapa? Bea siswa ke Kanada tersebut bersifat all in. Semua biaya kuliah dan biaya hidup ditanggung yayasan. Mulai dari kos, biaya kuliah, buku, dan lain-lain.. Menariknya, tiap bulan ada rekreasi ke objek wisata dan itu gratis. Tidak perlu takut kehabisan uang karena tiap tanggal satu akan mendapat uang saku yang kalau di kurs rupiah sekarang sekitar Rp 5 juta. Wow! Itulah sebabnya, begitu saya lulus S-1, saya segera mengisi formulir aplikasi yang tersedia.

Singkat cerita, saya telah tiba di Kanada. Begitu tiba di Bandara Vancouver, saya disambut oleh tim penyambut yang terdiri dari lima mahasiswa, lima mahasiswi dan seorang koordinator, Mrs. Linda Badeva. Ternyata, dari Indonesia ada lima orang. Yang saya kenal hanya satu orang, yaitu Irbel Budaya.

Kami langsung ditempatkan di tempat kos dipinggiran kota Ottawa. Sebuah hunian yang cukup mewah untuk ukuran orang Indonesia. Kamarnya cukup besar. Satu kamar untuk dua mahasiswa. Tentu, saya satu kamar dengan Irbel. Fasilitas tempat kos cukup wah. Ada kolam renang, lapangan basket, tempat latihan skate board dan lapangan golf mini dan fasilitas lain yang tidak bisa saya tuliskan di sini satu persatu.

Tiga hari kemudian kami dengan menggunakan bus kampus, kami diantar ke kampus Saskatchewan. Sebuah kampus dengan arsitektur kuno. Usia kampus lebih dari 100 tahun. Halamannya luar biasa luas. Suasananya mirip kampus UGM Bulaksumur. Nama kampus Saskatchewan sebenarnya diambil dari nama sungai besar di Kanada.

Sebulan sudah saya kuliah di Faculty of Economics. Berbagai bangsa ada di situ. Akhir bulanpun ada rekreasi bersama, yaitu ke Kananaskis Valley. Jaraknya 85 km dari Calgary atau 52 km dari Canmore atau 70 km dari Banff. Sebuah lembah yang luar biasa indah. Total rombongan 11 bus besar dan mewah.

Di situlah saya berkenalan dengan seorang mahasiswi dari Faculty of Letters and Fine Arts. . Namanya Debita Navralukita, berkebangsaan Chekoslovakia. Saya agak kaget ketika dia cerita bahwa Bahasa Indonesia juga diajarkan di fakultasnya.

O, sebagai orang Indonesia, saya merasa bangga sekali. Untuk ukuran bule, Debita tergolong pendek, yaitu sekitar 160 cm. Sedangkan tinggi saya 166 cm.

Cukup banyak acara di beberapa objek wisata. Antara lain, golfing, horseback riding, hiking, mountain biking, skiing atau snowboarding, dan lain-lain..

Semula saya agak minder karena semua kegiatan itu belum pernah saya lakukan di Indonesia. Ternyata, sebagian besar mahasiswa memang belum bisa. Untung ada beberapa trainer yang memberikan bimbingan dan pelatihan. Oh, menyenangkan sekali.

Di saat istirahat, sayapun menggunakan kesempatan itu untuk mengobrol dengan Debita.

“Jadi, Anda belajar Bahasa Indonesia juga?”, tanya saya sambil memandangi wajah Debita yang mirip Tamara Blezynski itu.

“Ya, saya suka Bahasa Indonesia. Tidak sesulit yang saya bayangkan”, jawabnya dalam bahasa Indonesia.

Dia menambahkan:

“Bahkan, jika memungkinkan saya ingin ke Bali”

Tentu, saya langsung menyatakan siap mendampinginya ke Bali sebagai guide gratis.

Saya masih ingat, saat itu Debita memakai gaun ungu muda dan celana jean. Kami duduk di kursi panjang dari besi dan penuh ukir-ukiran.

Udara sangat dingin sekali bagaikan di dalam lemari es. Walaupun sudah memakai mantel tebal, namun udara dingin tetap merasuk ke tubuh. Mantel yang dikenakan Debita juga cukup tebal.

Saya akui, Debita memang cantik. Cuma, mampukah saya menaklukan hatinya? Maklum, dia berasal dari keluarga konglomerat. Sedangkan saya di Indonesia dari keluarga biasa-biasa saja.

Sejak itu, Debita sering main-main ke tempat kos saya. Sekadar belajar praktek Bahasa Indonesia. Karena akrab, akhirnya sayapun sering berdua ke restoran atau kafe. Bahkan dengan menyewa mobil, kami berdua sering mengadakan rekreasi sendiri.

Walaupun saya tidak pernah mengatakan cinta dan Debita juga demikian, namun dari sikapnya saya tahu Debita juga mau bersahabat akrab dengan saya. Itu saya buktikan dengan mencium bibirnya yang mungil itu. Tidak ada penolakan. Bahkan Debita membalas ciumanku dengan hangat dan bersemangat. Sayapun sering ke tempat kosnya yang kebetulan tidak begitu jauh. Cukup naik bus kota. Bahkan saya ke tempat kosnya kadang-kadang bersama Irbel Budaya.

Tanpa terasa, masa studipun berakhir. Sesudah acara wisuda, saya tidak tahu apa yang harus saya berbuat. Debita bersedia saya lamar, namun dengan syarat saya harus mau tinggal di Chekoslovakia dan menjadi warganegara negara tersebut. Itupun dengan syarat, saya harus mau memeluk agama Nasrani. Tentu, syarat tersebut tidak mungkin saya lakukan.

Sebaliknya, Debitapun tidak mau saya ajak ke Indonesia dan menikah secara Islam. Saat itu saya sedang mengantarkan Debita ke Bandara Vancouver. Dia akhirnya memutuskan untuk pulang ke negaranya. Tentu, tanpa saya. Sedih rasanya.

Akhirnya Debitapun memasuki pesawat. Saya cuma bisa melambaikan tangan. Kupandangi pesawat yang mulai take off dan akhirnya hilang dari pandangan mata saya.

Sejak itu, saya tidak bertemu lagi dengan Debita.

Sumber foto: johanuhak.co

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

SEBELUM lulus S-1 di Fakultas Sastra UI, ada beberapa penawaran bea siswa ke luar negeri. Antara lain ke Amerika yang disponsori Ford Foundation, Fullbright Foundation, dan lain-lain.. Ke Jepang antara lain dari Tokay Foundation. Namun dari beberapa tawaran tersebut, saya tertarik dengan bea siswa dari Saskatchewan Foundation yang berada di Kanada. Alamat situs di http://www. campussaskatchewan. ca.

Kenapa? Bea siswa ke Kanada tersebut bersifat all in. Semua biaya kuliah dan biaya hidup ditanggung yayasan. Mulai dari kos, biaya kuliah, buku, dan lain-lain.. Menariknya, tiap bulan ada rekreasi ke objek wisata dan itu gratis. Tidak perlu takut kehabisan uang karena tiap tanggal satu akan mendapat uang saku yang kalau di kurs rupiah sekarang sekitar Rp 5 juta. Wow! Itulah sebabnya, begitu saya lulus S-1, saya segera mengisi formulir aplikasi yang tersedia.

Singkat cerita, saya telah tiba di Kanada. Begitu tiba di Bandara Vancouver, saya disambut oleh tim penyambut yang terdiri dari lima mahasiswa, lima mahasiswi dan seorang koordinator, Mrs. Linda Badeva. Ternyata, dari Indonesia ada lima orang. Yang saya kenal hanya satu orang, yaitu Irbel Budaya.

Kami langsung ditempatkan di tempat kos dipinggiran kota Ottawa. Sebuah hunian yang cukup mewah untuk ukuran orang Indonesia. Kamarnya cukup besar. Satu kamar untuk dua mahasiswa. Tentu, saya satu kamar dengan Irbel. Fasilitas tempat kos cukup wah. Ada kolam renang, lapangan basket, tempat latihan skate board dan lapangan golf mini dan fasilitas lain yang tidak bisa saya tuliskan di sini satu persatu.

Tiga hari kemudian kami dengan menggunakan bus kampus, kami diantar ke kampus Saskatchewan. Sebuah kampus dengan arsitektur kuno. Usia kampus lebih dari 100 tahun. Halamannya luar biasa luas. Suasananya mirip kampus UGM Bulaksumur. Nama kampus Saskatchewan sebenarnya diambil dari nama sungai besar di Kanada.

Sebulan sudah saya kuliah di Faculty of Economics. Berbagai bangsa ada di situ. Akhir bulanpun ada rekreasi bersama, yaitu ke Kananaskis Valley. Jaraknya 85 km dari Calgary atau 52 km dari Canmore atau 70 km dari Banff. Sebuah lembah yang luar biasa indah. Total rombongan 11 bus besar dan mewah.

Di situlah saya berkenalan dengan seorang mahasiswi dari Faculty of Letters and Fine Arts. . Namanya Debita Navralukita, berkebangsaan Chekoslovakia. Saya agak kaget ketika dia cerita bahwa Bahasa Indonesia juga diajarkan di fakultasnya.

O, sebagai orang Indonesia, saya merasa bangga sekali. Untuk ukuran bule, Debita tergolong pendek, yaitu sekitar 160 cm. Sedangkan tinggi saya 166 cm.

Cukup banyak acara di beberapa objek wisata. Antara lain, golfing, horseback riding, hiking, mountain biking, skiing atau snowboarding, dan lain-lain..

Semula saya agak minder karena semua kegiatan itu belum pernah saya lakukan di Indonesia. Ternyata, sebagian besar mahasiswa memang belum bisa. Untung ada beberapa trainer yang memberikan bimbingan dan pelatihan. Oh, menyenangkan sekali.

Di saat istirahat, sayapun menggunakan kesempatan itu untuk mengobrol dengan Debita.

“Jadi, Anda belajar Bahasa Indonesia juga?”, tanya saya sambil memandangi wajah Debita yang mirip Tamara Blezynski itu.

“Ya, saya suka Bahasa Indonesia. Tidak sesulit yang saya bayangkan”, jawabnya dalam bahasa Indonesia.

Dia menambahkan:

“Bahkan, jika memungkinkan saya ingin ke Bali”

Tentu, saya langsung menyatakan siap mendampinginya ke Bali sebagai guide gratis.

Saya masih ingat, saat itu Debita memakai gaun ungu muda dan celana jean. Kami duduk di kursi panjang dari besi dan penuh ukir-ukiran.

Udara sangat dingin sekali bagaikan di dalam lemari es. Walaupun sudah memakai mantel tebal, namun udara dingin tetap merasuk ke tubuh. Mantel yang dikenakan Debita juga cukup tebal.

Saya akui, Debita memang cantik. Cuma, mampukah saya menaklukan hatinya? Maklum, dia berasal dari keluarga konglomerat. Sedangkan saya di Indonesia dari keluarga biasa-biasa saja.

Sejak itu, Debita sering main-main ke tempat kos saya. Sekadar belajar praktek Bahasa Indonesia. Karena akrab, akhirnya sayapun sering berdua ke restoran atau kafe. Bahkan dengan menyewa mobil, kami berdua sering mengadakan rekreasi sendiri.

Walaupun saya tidak pernah mengatakan cinta dan Debita juga demikian, namun dari sikapnya saya tahu Debita juga mau bersahabat akrab dengan saya. Itu saya buktikan dengan mencium bibirnya yang mungil itu. Tidak ada penolakan. Bahkan Debita membalas ciumanku dengan hangat dan bersemangat. Sayapun sering ke tempat kosnya yang kebetulan tidak begitu jauh. Cukup naik bus kota. Bahkan saya ke tempat kosnya kadang-kadang bersama Irbel Budaya.

Tanpa terasa, masa studipun berakhir. Sesudah acara wisuda, saya tidak tahu apa yang harus saya berbuat. Debita bersedia saya lamar, namun dengan syarat saya harus mau tinggal di Chekoslovakia dan menjadi warganegara negara tersebut. Itupun dengan syarat, saya harus mau memeluk agama Nasrani. Tentu, syarat tersebut tidak mungkin saya lakukan.

Sebaliknya, Debitapun tidak mau saya ajak ke Indonesia dan menikah secara Islam. Saat itu saya sedang mengantarkan Debita ke Bandara Vancouver. Dia akhirnya memutuskan untuk pulang ke negaranya. Tentu, tanpa saya. Sedih rasanya.

Akhirnya Debitapun memasuki pesawat. Saya cuma bisa melambaikan tangan. Kupandangi pesawat yang mulai take off dan akhirnya hilang dari pandangan mata saya.

Sejak itu, saya tidak bertemu lagi dengan Debita.

Sumber foto: joohanuhak.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN : Presidenku Sangat Layak Dihukum Pancung

POLITIK adalah ilmu untuk berkuasa dengan berbagai cara, termasuk ngibulin rakyat. Caranya, mengobral janji-janji kosong. Kalau sudah terpilih, menumpuk kekayaan dengan berbagai cara, termasuk korupsi.

Di negara saya, Republik Psikopat, merupakan negara yang kaya raya akan sumber daya alam. Sayang, kekayaan alam itu 70% dikuasai kapitalis asing dengan harga murah. Sementara rakyatnya tetap jadi kere.

Pada pemilu, terpilihlah seorang capres-cawapres yang beraliran neolib. Pro Amerika. Apa yang didiktekan Amerika harus dipenuhi. Maklum, pada pemilu yang lalu dia dapat bantuan keuangan dari Amerika yang  jumlahnya luar biasa besar. Syaratnya yaitu, Amerika harus menguasai perekonomian negara saya, Republik Psikopat.

Sebelum pemilu, capres-cawapres itu membayari lembaga survei dengan tujuan menggiring opini para pemilih seolah-olah dia paling populer dan dipilih sebagian besar rakyat. Dasar rakyat saya banyak yang bego, percaya saja dengan hasil survei yang diumumkan di berbagai televisi dan koran.

Faktor kemenangan lainnya yaitu dengan cara menyuap Panitia Pelaksana Pemilihan (3P). Tugasnya, supaya oknum 3P mau memanipulasi data pemilu dan memenangkan Partai Sekarat dengan imbalan akan dijadikan pengurus partai itu. Juga, memenangkan capres-cawapres itu dengan imbalan uang milyaran rupiah. Software untuk memalsu juga sudah dibuat tim Amerika yang saat pemilu datang ke kantor 3P dengan pura-pura mengaku sebagai pemantau independen.

Maka terpilihlah capres-cawapres itu. Nama presidennya, Kebohomo dan nama wapresnya Malingbang. Untuk menyusun kabinet, tidak berdasar profesionalitas, tetapi berdasar balas budi. Itulah sebabnya, jika ada menteri yang tidak mampu, tidak dipecat, melainkan dirotasi saja. Partainyapun mau menerima anggota dari siapa saja asal mau bayar uang banyak. Jadi tak heran kalau Partai Sekarat menjadi sarang koruptor yang motivasinya berlindung pada kekuasaan.

Hampir semua proyek pemerintah Republik Psikopat dimenangkan oleh perusahaan-perusahaan milik anggota Partai Sekarat yang sejatinya berasal dari para koruptor. Tak heran kalau mereka berhasil nyolong uang negara, baik untuk pribadi atau disumbangkan untuk Partai Sekarat.

Supaya kelihatannya pemerintahannya sukses, maka dipakailah tipu-tipu politik. Membantu orang miskin, tetapi uangnya ngutang World Bank. Menaikkan gaji pegawai tetapi uangnya ngutang JICA (Jepang). Membangun berbagai desa, tetapi uangnya ngutang Bank ADB. Membangun ini membangun itu tetapi utang. Tentu, pemerintahannya dapat komisi. Sebagian masuk kantong pribadi,sebagian masuk kas Partai Sekarat.

Karena serakah, maka para kapitalispun diundang. Hasilnya, 70% sumber daya alam dikuasai kapitalis asing. Sekitar 70% perbankan dikuasai kapitalis asing.Sekitar 70% bisnis telekomunikasi dikuasai asing. Sekitar 70% gedung-gedung bertingkat dikuasai kapitalis asing. Sekitar 70 undang-undang merupakan pesanan kapitalis asing. Tentu, komisinya cukup besar. Sebagian masuk kantong pribadi,sebagian masuk kas Partai Sekarat.

Masih kurang banyak? Bikin skenario bank rugi. Kemudian pemerintah mengucurkan bantuan uang senilai 7 triliun dolar Republik Sekarat. Bankpun dibikin kacau. Sebagian uangnya mengalir ke pribadi dan sebagian lagi masuk ke kas Partai Sekarat.

Oh, masih kurang banyak. maka dijual murah saham-saham pabrik baja, pabrik nikel, pabrik ini,pabrik itu. Kemudian saham itu diborong Partai Sekarat, kemudian dijual lagi dengan harga dua kali lipat. Untungnya triliunan dolar Republik Psikopat. Sebagian masuk kantong pribadi, sebagian masuk kas Partai Sekarat.

Begitu pula, membeli mobil mewah untuk semua menteri,membeli helikopter mewah untuk presiden dan wakil presiden dan membeli barang-barang mewah lainnya. Tentu di-mark up dan dikorupsi.Hasil korupsinya sebagian masuk kantong pribadi dan sebagian masuk kas Partai Sekarat.

Kegiatan Presiden Kebohomo cuma pidato. Tidak ada aplikasinya. Penegakan hukum cuma di mulut. Korupsi jalan terus. Tim Pemberanttasan Korupsi (TPK) tidak berani mengusut korupsi Presiden Kebohomo dan kroni-kroninya. Polisi juga tidak berani. Mana mungkin para penegak hukum berani mengusut korupsi pemerintah, mereka dipilih dan dilantik Presiden Kebohomo. Mana mungkin berani melawan orang yang melantiknya. Logikanya begitu.

Supaya kelihatannya sukses, maka permainan statistik dilakukan. Akrobat angka-angka sehingga angka ekonomi baik, angka pendidikan baik, angka pengangguran baik, angka kemiskinan baik, angka keamanan baik, angka pemberantasan korupsi baik. Pokoknya kalau Presiden Kebohomo berpidato, semuanya baik. Tidak ada kekurangannya.

Belakangan rakyat baru sadar kalau mereka dikadalin presiden dan wakil presidennya. Mereka baru sadar kalau presiden dan wakil presiden yang dipilihnya ternyata tidak bersih. Super koruptor. Kasus-kasus korupsi besar selalu ditutupi dengan rapi.

Rakyatpun marah. Sekitar satu juta rakyat melakukan demo di ibukota. Mereka mengepung istana. Pasukan militerpun juga bergerak. Terjadi kericuhan antara pendemo dengan pasukan militer. Terdengar dor di sana dor di sini. Satu persatu para pendemo terluka ataupun tewas tertembak.

Namun, sebagian pendemo berhasil masuk ke istana. Ditangkaplah Presiden Kebohomo dan kebetulan wakil presidennya juga ada di situ. Mereka berdua dieret-eret ke lapangan. Para pendemo ramai-ramai memukuli dan menendang dan menyiksa Presiden Kebohomo dan Wapres Malingbank itu hingga babak belur.Mereka berduapun diludahi rame-rame oleh rakyat.

Akhirnya, rakyatpun sampai pada batas kesabaran. Maklum, sudah puluhan tenaga kerja dihukum mati di luar negeri, namun tak ada perlindungan nyata dari presiden dan wakil presiden.

Nah, saatnyapun tiba. Presiden Kebohomo dan Wakil Presiden akhirnya dihukum pancung memakai pedang berkarat. Tewaslah mereka berdua. Tewaslah Sang Pembual. Tewaslah Sang Pembohong. Tewaslah Sang Penipu Rakyat.

“Pak, sudah sampai setasiun Bragi,” tiba-tiba ada yang menegur saya. Sayapun tersadar dari lamunan saya. Ternyata yang menegur saya adalah sopir taksi. Saya baru ingat, hari itu saya harus ke Kota Sandiyoga naik Kereta Api Lixus L350 berkecepatan 350 km per jam..

Sumber foto: http://felino-feno.blogspot.com/2010/04/apa-sih-beda-hukaman-rajam-gantung-sama.html

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Ada Cinta Indah di Menara Eiffel

SATU bulan setelah saya diwisuda di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, Jakarta, sayapun ingin berlibur ke Perancis. Kebetulan, ada Nilla, mantan teman SMAN 4 Surabaya yang sudah lama di Paris.

Begitu pesawat mendarat di bandara Charles de Gaulle, Paris, sayapun disambut Nilla dengan hangat. Kami saling cium pipi dan berpelukan erat. Maklum, sudah lama berpisah.

“Hai, Nilla. Wah, hampir lupa saya. Semakin cantik aja,nih” ujar saya sambil menggandeng Nilla menuju ke luar bandara.

“Ah, gombal! “ Nilla tersenyum.

“Berapa anakmu sekarang?” saya ingin tahu.

“Dua. Nomor satu laki-laki dan nomor dua perempuan. Yang laki-laki tinggal di Minesotta, Amerika. Sedangkan yang perempuan tinggal di Kyoto, Jepang. Saya sendiri di rumah. Maklum, dua tahun yang lalu suamiku sakit dan meninggal”

“Oh, sedih saya mendengarnya” komentar saya.

Sayapun menginap di rumah Nilla di kamar tidur di lantai dua. Hari pertama Cuma ngobrol masa lalu ketika masih sama-sama sekolah di SMAN 4, Jl. Dharma Husada, Surabaya.

Esok harinya saya diajak jalan-jalan pakai mobil dan pertamakali di Menara Eiffel yang cukup terkenal itu. Kamipun ingin berfoto bersama. Berhubung kameranya tidak dilengkapi tripod dan tidak otomatis, maka saya terpaksa meminta bantuan seorang gadis yang kebetulan ada di dekat saya.

“Excusez-moi, pouvez-vous s’il vous plaît aidez-moi? Maaf, bisa bantu saya?” pinta saya ke gadis itu.

“Oh, bien sûr. Avec plaisir Oh, tentu. Dengan senang hati”. Katanya. Entah kenapa, hati saya berdetak keras ketika menatap wajah gadis itu. Gadis yang cantik dan berkulit putih. Mata bening kebiru-biruan. Berbaju ungu muda dan memakai rok pendek hitam. Apakah saya jatuh cinta?

Setelah gadis itu mengambil foto saya dan Nilla, maka saya mencoba mengajak foto bersama dengan gadis Perancis itu. Semula menolak. Tapi ketika saya katakan saya dari Indonesia dan ingin punya kenang-kenangan, maka gadis itupun mau berfoto dengan saya.

Akhirnya sayapun berkenalan.

“Puis-je vous rencontrer? Boleh berkenalan? Mon nom est Harry Nama saya Harry” saya mulai memperkenalkan diri.

“Oh, oui. Merci. Je suis Michelle. Barbara Michelle. S’il vous plaît appelez-moi Chelly O ya. Terima kasih. Saya Michelle. Barbara Michelle. Panggil saja saya Chelly” dia menjabat tangan saya. Halus sekali tangannya. Mata kami saling berpandang. Hati bergetar. Ada apa ini?

Tampaknya Chelly gadis yang ramah. Akhirnya kami bertiga mengobrol ke sana ke mari. Akhirnya saya tahu, Chelly kuliah di Fakultas Ekonomi di Universitas Sorbonne, Paris. Dia punya hobi berwisata dan makan.

Akhirnya kami bertukar alamat dan nomor telepon di Paris. Enak juga ngobrol-ngobrol dengan Chelly. Sayang, mamanya sudah memanggilnya untuk meneruskan acara selanjutnya.

“Harry Désolé. Ma mère m’appelait. N’oubliez pas mon téléphone plus tard, oui? Maaf,Harry. Mama saya sudah memanggil saya. Jangan lupa nanti telepon saya, ya?” Chelly menyalami saya dan Nilla, kemudian pergi bersama mamanya. Sedangkan saya dan Nilla melanjutkan perjalanan ke objek wisata yang lain.

Esok harinya, saya ditelepon Chelly.

“Salut. Bonjour. Où le spectacle d’aujourd’hui? Aujourd’hui, je m’en vais. Ne pouvait pas marcher au touriste avec moi? Si vous voulez, je vais “pick up” Hai. Selamat pagi. Kemana acara hari ini? Hari ini saya libur. Mau tidak jalan-jalan ke objek wisata bersama saya? Kalau mau, nanti saya jemput” suara halus terdengar di telepon saya.

“Oh bien, mais Nilla aujourd’hui ne pouvait pas venir parce qu’il ya un rendez-vous avec son ami Oh boleh, tapi Nilla hari ini tidak bisa ikut karena ada janji dengan temannya” saya menjelaskan.

“Pas de problème Tidak masalah.” Chelly menjawab dengan suara yang enak didengar.

Benar, tak berapa lama kemudian Chelly menjemput saya dengan mengendarai mobil pribadinya berwarna putih metalik. Sesudah saya berpamitan dengan Nilla, maka sayapun segera masuk ke mobil Chelly dan kemudian eluncur ke objek wisata yang seumur hidup belum pernah saya kunjungi.

“Eh bien, je n’ai pas échangé mon argent avec l’argent français Wah, saya belum menukar uang saya dengan uang Perancis” tiba-tiba saya baru ingat.

“Pas de problème. Je vais traiter Tidak masalah. Nanti saya yang traktir” Chelly memberi solusi. Tentu saja saya senang.

Kami berduapun menuju ke objek wisata. Oh, indah sekali pemandangannya. Udaranya sejuk, dingin dan segar. Untunglah saya selalu memakai mantel penghangat tubuh.

“C’est un paysage magnifique ici Indah sekali pemandangan di sini” saya memuji.

“Je n’étais pas ici depuis longtemps. Il ya eu des changements et progrès dans le tourisme objet ici Saya lama tidak ke sini. Sudah ada perubahan dan kemajuan di objek wisata di sini” Chelly menjelaskan. Lantas dia bercerita banyak tentang objek wisata itu. Saya yang baru pertama kali melihat objek wisata itu cukup kagum. Pengunjungnya juga cukup banyak.

Selanjutnya kami menuju objek wisata yang lain. Di sini pembicaraan saya dan Chelly semakin bebas saja. Tak ada rasa canggung lagi. Seolah-olah kami sudah berkenalan puluhan tahun yang lalu.

Ketika Chelly bertanya, berapa anak saya, maka saya menjawab dengan jujur.

“Je ne suis pas mariée Saya belum menikah”

“Oh, oui? C’est l’âge d’Harry est-il? Oh,ya? Memang umur Harry berapa sekarang?” Chelly terkejut tidak percaya.

“Mon âge est de 22 ans Umur saya sekarang 22 tahun” saya menjawab.

“Oh, encore jeune. J’ai 18 ans. Je ne disposent pas de petit ami .Oh, masih muda. Umur saya 18 tahun. Saya juga belum punya pacar” Chelly menjelaskan status pribadinya. Rasa-rasanya saya mendapat angin segar ketika Chelly bilang belum punya pacar.

“Pourquoi ne pas Chelly belle fille ont un petit ami?.Kenapa gadis secantik Chelly belum punya pacar?”

“Oh, je ne sais pas non. Si mes amis le sont. Oh, saya juga tidak tahu. Kalau teman-teman saya sudah.”

“Ever coeur brisé? Pernah patah hati?”

“Ha ha ha … tout simplement jamais courtship .Ha ha ha…Pacaran saja belum pernah” Chelly tertawa.

Kami berdua kemudian terus berjalan melihat objek wisata yang ada di situ. Kadang kami berdua berfoto bersama menggunakan kamera yang otomatis dan dilengkapi tripod.

Ketika saat Dhuhur tiba, saya jadi bingung, kemana saya harus shalat.

“Excusez-moi, si il ya une mosquée à Paris? Maaf, apakah di Paris ada mesjid?”

“Oh, oui, vous savez. Va prier? Permettez-moi de vous prendre .Oh, ya, tahu. Akan shalat? Mari saya antarkan”. Chelly mengajak saya ke mobilnya. Dan benar saja saya diantarkan sampai di depan masjid Grande Mosquée de Paris yanag terletak di arondisemen Ve. Masjid ini diresmikan oleh Presiden Gaston Doumergue pada tanggal 15 Juli 1926.

“J’attendais dans un restaurant, oui ? Saya tunggu di restoran,ya?” Ujar Chelly sambil menunjuk restoran yang tidak jauh dari mesjid.

Hari itu kami mengunjungi beberapa objek wisata, antara lain Arc de Triomphe – monumen di tengah Place de l’Étoile, merayakan kemenangan Perancis dan menghormati semua yang gugur dalam pertempuran.Conciergerie – Terletak Île de la Cité, merupakan bangunan pertengahan yang sebelumnya digunakan sebagai penjara dimana beberapa anggota ancien régime menetap sebelum kematiannya selama Revolusi Perancis

Les Invalides – Museum dan pemakaman banyak tentara terkenal Perancis, termasuk Napoleon..Louvre – galeri seni besar. Montmartre – salah satu distrik terkenal di Paris, terletak di bukit dan memiliki Basilica of the Sacré Cœur dan Place du Tertre.

Esok harinya, saya kembali dijemput Chelly untuk mengunjungi objek wisata yang lain. Di objek wisata inilah cinta kami mulai bersemi. Walaupun belum ada kata cinta, namun apa yang kami lakukan sudah termasuk kategori pacaran. Tak sekedar gandeng tangan atau merangkul. Tapi, kami juga sudah saling cium bibir. Tapi, mungkin itu dianggap biasa-biasa saja oleh Chelly.

Cukup banyak foto yang kami buat di objek wisata ini.

“Wow beaucoup d’images que nous faisons. Peuvent créer des souvenirs, hein? Wow” banyak sekali foto yang kita buat. Bisa buat kenang-kenangan,ya?” Chelly memandangi saya penuh arti. Tatapan matanya yang bening memuat hati saya berdebar keras.

Hari itu saya berkunjung ke objek wisata Notre Dame de Paris (Katedral Notre Dame) di Île de la Cité – bangunan abad ke-12 Paris .Palais Garnier – gedung opera pusat Paris, dibangun pada periode Kekaisaran Kedua.. Grand Palais – sebuah ruang pameran kaca dibangun untuk Pameran Paris 1900.Sainte-Chapelle – juga terletak di Île de la Cité, merupakan kapel istana Gothik abad ke-13.Panthéon – gereja dan makam sejumlah orang Perancis terkenal. Sorbonne – Universitas Paris, pusat Latin Quarter Paris.

Hari berikutnya saya diperkenalkan dengan papa dan mama Chelly. Juga dikenalkan dengan satu adiknya dan satu kakaknya. Ternyata mama dan papanya baik sekali. Papanya bekerja di perusahaan elktronik di Paris. Sedangkan mamanya punya salon di komplek pertokoan. Adiknya kuliah di fakultas psikologi. Sedangkan kakaknya menjadi dosen matematika di salah satu perguruan tinggi di Paris.

Rumah Chelly tergolong mewah. Luas tanah sekitar 2000 meter persegi dan luas bangunan sekitar 1000 meter persegi bertingkat. Katanya itu rumah warisan dari kakeknya yang dulu pernah menjadi menteri.

Sayang, visa saya hampir habis. Maka hari terakhir saya mengajak Chelly ke menara Eiffel lagi. Kami berfoto-foto lagi. Karena hari itu merupakan hari terakhir, maka saya memberanikan diri untuk menyatakan cinta. Diterima syukur, ditolak ya tidak apa-apa.

“Chelly. Peut-Je t’aime? Chelly. Bolehkah saya mencintaimu?” Berdebar dada saya ketika saya mengucapkan kalimat itu.

“Oh, Harry. J’aime aussi vous .Oh, sama Harry. Saya juga mencintaimu” Chelly kemudian memeluk saya. Kami saling berciuman cukup lama. Rasa-rasanya indah sekali hari itu. Ya, betapa indah hari itu.

Hari itu objek wisata yang saya kunjungi antara lain Replika Patung Liberty – versi kecil patung di pelabuhan New York City yang diberikan Perancis kepada Amerika Serikat tahun 1886, terletak di Île des Cygnes di Seine. Versi lain terletak di Kebun Luxembourg.Place des Vosges – taman di distrik Marais yang dibangun oleh Henry IV.Pemakaman Père Lachaise.

Air Mancur Wallace, tersebar di seluruh kota. Replika Api Liberty, api yang dipegang oleh Patung Liberty. Centre Georges-Pompidou – memiliki Museum Seni Modern Paris. Parc de la Villette – memiliki Cité des Sciences et de l’Industrie, sebuah museum ilmiah, dan Cité de la Musique yang merumahkan berbagai institusi musik, museum, dan ruang konser.

Sayang, esok hari saya harus kembali ke Indonesia. Chelly dan Nilla mengantarkan saya ke bandara. Saya lihat Chelly meneteskan air mata. Kami berpelukan dan berciuman. Karena pesawat beberapa menit akan berangkat, terpaksa saya menuju tangga pesawat sambil melambaikan tangan ke Chelly/

“Je t’aime, tu, Chelly .I love,you, Chelly” saya berteriak.

“Je t’aime, Harry .I love you, Harry”

Ternyata, hari itu adalah hari terakhir saya bertemu dengan Chelly. Sesampai di Indonesia, saya mendapat telepon dari Nilla. Katanya, sepulang dari bandara, mobil yang dikendarai Chelly mengalami kecelakaan.

“Chelly meninggal, Harry” kata Nilla di telepon.

Tanpa terasa, dua butir air mata meluncur dipipi saya. Saya tak mengerti, kenapa cinta yang indah itu harus berakhir sampai di situ? Tiap Desember datang, saya pasti membuka album yang memuat foto-foto saya bersama Chelly.

Saya tidak tahu, kenapa Tuhan memisahkan saya dengan Chelly.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Di Langit Kugapai Bintang

YOGYA,17 Juni 1985.Hari ini saya dan Ita atau Ade Rosita sedang duduk berdua di restoran Hellen,Jl.Malioboro.Kami berdua sedang minum ice juice kesukaan masing-masing.

“Selamat hari ulang tahun 17 Juni 1985.Mudah-mudahan Mas Harry cepat mendapatkan pekerjaan lagi”,kata Ita sambil menyalami saya.

“Terima kasih. Saya juga mengucapkan ulang tahun untuk Ita.Bukankah ulang tahun kita sama? Mudah-mudahan Ita kelak menjadi sarjana yang berguna bagi nusa dan bangsa”,sayapun menyalami tangan Ita yang halus lembut itu.

Hari demikian cepat berlalu.Semua sahabat saya telah menikah.Ruddy Rayadi,Faizal Salmun,Armi Helena Nasution,Orizanita,Inggah Silanawati,Chatarina Pri Ernawati,yah..hampir semua.Tinggal saya yang belum.Sudah berkali-kali saya naksir cewek mulai dari Rikit Mulyasari,Nunie Hendrati,Sri Redjeki Cikatomas,Dewi Sayekti,Emiria Bhakti…semuanya menolak.Tapi,untunglah saya menemukan seorang gadis bernama Ita.

“Ita,secepatnya saya akan melamarmu.Apalagi menurut Dokter Arifin Mahubay, telah menyatakan bahwa Ita dalam keadaan sehat dan bahkan sudah mengandung.Tentu,saya harus bertanggung jawab”,kata saya suatu ketika.Saya pandangi bulu mata Ita yang lentik serta alisnya yang tebal.Orang bilang,gadis yang demikian biasanya bisa memiliki keturunan yang cantik dan ganteng.Ita diam saja.Hari itu Ita telah hamil dua bulan.

MALAM harinya saya masih berada di rumah Ita di Jl.Cik Di Tiro.Di ruang tamu kami berbicara,ngobrol,melihat TV sambil membuka-buka album.Ibu Ita,yaitu ibu Sindoro turut menemani.Pak Sindoro telah meninggal sepuluh tahun yang lalu.Putera Bu Sindoro tujuh orang,Ita nomor tujuh.Hanya Ita dan Bu Sindoro yang menempati rumah di Jl.Cik Di Tiro,Yogyakarta itu.

Tiba-tiba saya terkejut ketika membuka album yang berikutnya. Di situ saya melihat foto rumah saya yang terletak di Jl.Trunojoyo No.4 Bojonegoro yang sudah terjual 15 tahun yang lalu.

“Ini foto rumah siapa,Bu?”,tanya saya memancing.Bu Sindoro melihat ke album yang kutunjukkan.Lalu katanya panjang lebar.

“Itu foto rumah Bu Sudjana,bekas tetangga Bu Sindoro sewaktu Pak Sindoro menjabat sebagai bupati waktu itu.Semua putera Bu Sudjana. Karena Bu Sudjana tak berhasil memiliki putera laki-laki,maka akhirnya putera ibu yang laki-laki dimintanya.Sebagai anak angkat”.Wajah Bu Sindoro menerawang,mengingat masa lalu.

Sayapun mengambil kesimpulan bahwa sayalah yang dimaksud putera laki-laki itu.Kalau begitu,saya ini anak angkat?Kalau begitu,Bu Sindoro adalah ibu kandung saya?Kalau begitu,Ita yang tengah mengandung dua bulan ini adalah…adik kandung saya?Ya Tuhan,terkutuklah saya ini…”.Saya berdesah,cemas dan ragu.

ESOK harinya Ita menangis deras.Lama dia menangis di Hotel Intan, tempat saya menginap.

“Tak mungkin kita menikah.Tak mungkin”,ucap saya lirih,setengah putus asa.Saya bingung,pikiran ruwet.Ita berkali-kali mengusap air mata yang membasahi pipinya.

“Ita,satu-satunya jalan adalah …aborsi.Ita harus gugurkan kandungan itu.Sekarang juga kita ke Dokter Arifin.Saya bangkit,kutarik pelan tangan Ita.Ita pun bangkit dari tempat tidur.Sesudah menyeka air mata,Itapun mengikuti saya.

“Apakah aborsi tidak dilarang hukum?”,Ita ingin tahu.Sementara itu Yogya mulai diguyur hujan yang deras.Becak yang kami naiki amat pelan jalannya.Maklum,tukang becaknya sudah tua.

“Sekitar tahun 1972 Indonesia memang menganggap bahwa bahwa aborsi adalah ilegal.Tidak sah.Tanpa kekecualian.Bahkan pasal 346 KUHP  bisa memidanakan seorang wanita yang menggugurkan kandungannya”,saya menjelaskan.

“Jadi?”,Ita ingin tahu.Wajahnya agak ketakutan.Memang serba salah.Alkan menikah,jelas agama tidak mungkin mengijinkan karena kami ternyata kakak beradik kandung.Melakukan aborsi berarti melanggar hukum.Sudahkan Indonesia menganut “legal conditionally” mengenai aborsi di mana aborsi bisa dibenarkan atas dasar pertimbangan ‘rape’ (perkosaan),’incest’ (sesaudara kandung),atau ‘deformed fetus’ atau pertimbangan medis?Entahlah.

Yang jelas,uang adalah segala-galanya.Setelah tawar-menawar akhirnya dr.Arifin Mahubay bersedia melakukan aborsi dengan imbalan uang Rp 15 juta.

Darimana saya mendapatkan uang sebanyak itu?Akhirnya saya nekat,rumah yang saya tempati di kawasan Cinere,Bogor,saya jual.Saya iklankan di Harian Sinar Harapan.Bunyinya:”Rumah:Dijual.Murah,mungil indah.Cinere Blok D-160 (Jl.Bukit Cinere,PT Kani).LT/LB 108/65,2 KT,BathTub.Dijual di bawah harga pasaran.Hub:Harry alamat tsb.TP”.

Untunglah rumah saya cepat laku.Terjual dengan harga Rp 61 juta,yang 15 juta untuk biaya aborsi.Sisanya saya belikan rumah di perumahan Pondok Mekarsari,Jl.Raya Bogor Km 30,sekitar enam kilometer sebelah Selatan terminal Cililitan.

Sikap saya ke Bu Sindoro (ibu kandung saya) biasa-biasa saja.Rahasia itu saya pendam rapat-rapat.Masalah aborsi hanya saya,Ita dan dr.Arifin yang mengetahuinya.Yang jelas,saya tetap menghargai Bu Sudjana yang telah memelihara saya,memmanjakan saya,dan mendewasakan saya hingga sekarang.Luar biasa,betapa tahan Bu Sudjana menyimpan rahasia ini sampai puluhan tahun.

Menjelang lebaran tahun ini,saya meminta ijin ke Bu Sindoro agar Ita boleh saya ajak ke Bali,berlibur dan berlebaran di sana.Ijin dikabulkan.Benarkah kami ke Bali? Tidak!Saya mengajak Ita ke kota Bojonegoro,kota di mana ‘ibu’ saya berada.Saya akana sungkem dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan ‘ibu’ Sudjana.

Ita tetap saya ajak ke Bojonegoro,Jawa Timur.Karena,meskipun Ita ternyata adalah adik kandung saya,namun kami belum bisa mengganti rasa cinta itu dengan rasa persaudaraan.Aneh memang.

“Saya tak mengira cinta pertama saya seburuk ini”,Ita mengeluh berkali-kali.Matanya masih basah.Badannya masih lemah akibat aborsi.Ita memang pantas bersedih, karena sesudah aborsi itu,dr.Arifin mengatakan bahwa Ita tak mungkin akan memiliki keturunan seumur hidup.

Betapa banyak cobaan yang saya hadapi pada tahun 1985 ini.Saya dipecat dari PT Sunan Ngampel akibat saya difitnah,mobil Honda Civic Wonder saya hancur akibat kecelakaan dekat restoran Situ Gintung,Ciputat.Saya ditolak untuk menjadi dosen di Fakultas Ekonomi,Universitas Trisakti,Jakarta karena lowongan telah diisi oleh teman saya Eva Hassan dan Heru Hardjanto dan sekarang mengalami mysibah mencintai seorang gadis yang ternyata adik kandung sendiri.

Malam harinya kami makan malam bersama.Bukan main hiruk-pikuknya.Semua saudara saya yang kebetulan semuanya perempuan datang bersama suami masing-masing,juga famili-famili,sahabat-sahabat se-SMA,lengkap dengan putera-puteranya.

Saya sengaja mengajak Ita supaya tidak diledek.Kalau ditanya, maka saya akan memperkenalkan Ita sebagai calon istri saya.Mereka pasti percaya,termasuk ‘ibu’ saya.Namun suasana lebaran malam itu menjadi lain ketika ‘ibu’ku memandang tajam ke arah Ita.’Ibu’ saya berhenti makan sejenak.Semua yang duduk di sekitar meja makan saling berpandangan tak mengerti.

“Nak Ita,boleh ibu pinjam sebentar kalung,nak Ita?”,pinta ‘ibu’.

Agak ragu dan heran, pelan Ita melepas kalung itu dan memberikannya ke ‘ibu’.’Ibu’ pun melihat dan membolak-baliknya.

“Nak Ita,ibumu namanya siapa?”,tanya ‘ibu’.

“Sindoro” jawab Ita jelas.

“Sindoro Soesmadji?” tanya ‘ibu’.Ita mengangguk.

‘Ibu’ku langsung bangkit dan memeluk Ita erat-erat.

“Ya Tuhan…kamu anak kandung saya…!

Saya semakin heran.Semua yang hadir terpaku.Ita merangkul ‘ibu’ setengah tak percaya.

Namun setelah ‘ibu’ bercerita,segalanya jadi jelas.Dulu,’ibu’ Sudjana berputera seluruhnya perempuan,satu di antaranya jadi anak angkat Bu Sindoro.Sebaliknya,seluruh putera Bu Sindoro adalah laki-laki,satu di antaranya adalah saya)menjadi anak angkatnya Bu Sudjana.Jadi,semacam barter begitu.Jadi,sebenarnya ternyata Ita bukan adik kandung saya!

SEWAKTU seluruh keluarga tidur, di pavilyun saya dan Ita sa;ling berpeluk.Air mata Ita menetes deras.Air mata suka,sedih,haru,kecewa,semuanya menjadi satu.

“Jadi,kita bukan kakak beradik sekandung…”,kata saya.

“Kalau begitu,kita boleh menikah ,bukan?”,ucap Ita.

“Benar.”,singkat jawab saya.

“Tapi,Mas…Kita sudah terlanjur melakukan aborsi.Dan saya tak mungkin memiliki keturunan lagiApakah Mas Harry nanti tak menyesal jika tak punya anak?”,Ita bertanya penuh rasa kekhawatiran.

“Serahkan saja semuanya kepada Tuhan.Masalah kita nanti punya keturunan atau tidak itu tidak masalah bagi saya.Hanya Tuhan yang Maha Tahu”,saya mencoba meyakinkan Ita.

Benar.Dua tahun sesudah kami menikah,saya dan Ita dikaruniai seorang putera sehat dan lucu.

Sumber gambar: ayomenulisdez.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973