CERPEN: Ada Cinta Indah di Menara Eiffel

SATU bulan setelah saya diwisuda di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, Jakarta, sayapun ingin berlibur ke Perancis. Kebetulan, ada Nilla, mantan teman SMAN 4 Surabaya yang sudah lama di Paris.

Begitu pesawat mendarat di bandara Charles de Gaulle, Paris, sayapun disambut Nilla dengan hangat. Kami saling cium pipi dan berpelukan erat. Maklum, sudah lama berpisah.

“Hai, Nilla. Wah, hampir lupa saya. Semakin cantik aja,nih” ujar saya sambil menggandeng Nilla menuju ke luar bandara.

“Ah, gombal! “ Nilla tersenyum.

“Berapa anakmu sekarang?” saya ingin tahu.

“Dua. Nomor satu laki-laki dan nomor dua perempuan. Yang laki-laki tinggal di Minesotta, Amerika. Sedangkan yang perempuan tinggal di Kyoto, Jepang. Saya sendiri di rumah. Maklum, dua tahun yang lalu suamiku sakit dan meninggal”

“Oh, sedih saya mendengarnya” komentar saya.

Sayapun menginap di rumah Nilla di kamar tidur di lantai dua. Hari pertama Cuma ngobrol masa lalu ketika masih sama-sama sekolah di SMAN 4, Jl. Dharma Husada, Surabaya.

Esok harinya saya diajak jalan-jalan pakai mobil dan pertamakali di Menara Eiffel yang cukup terkenal itu. Kamipun ingin berfoto bersama. Berhubung kameranya tidak dilengkapi tripod dan tidak otomatis, maka saya terpaksa meminta bantuan seorang gadis yang kebetulan ada di dekat saya.

“Excusez-moi, pouvez-vous s’il vous plaît aidez-moi? Maaf, bisa bantu saya?” pinta saya ke gadis itu.

“Oh, bien sûr. Avec plaisir Oh, tentu. Dengan senang hati”. Katanya. Entah kenapa, hati saya berdetak keras ketika menatap wajah gadis itu. Gadis yang cantik dan berkulit putih. Mata bening kebiru-biruan. Berbaju ungu muda dan memakai rok pendek hitam. Apakah saya jatuh cinta?

Setelah gadis itu mengambil foto saya dan Nilla, maka saya mencoba mengajak foto bersama dengan gadis Perancis itu. Semula menolak. Tapi ketika saya katakan saya dari Indonesia dan ingin punya kenang-kenangan, maka gadis itupun mau berfoto dengan saya.

Akhirnya sayapun berkenalan.

“Puis-je vous rencontrer? Boleh berkenalan? Mon nom est Harry Nama saya Harry” saya mulai memperkenalkan diri.

“Oh, oui. Merci. Je suis Michelle. Barbara Michelle. S’il vous plaît appelez-moi Chelly O ya. Terima kasih. Saya Michelle. Barbara Michelle. Panggil saja saya Chelly” dia menjabat tangan saya. Halus sekali tangannya. Mata kami saling berpandang. Hati bergetar. Ada apa ini?

Tampaknya Chelly gadis yang ramah. Akhirnya kami bertiga mengobrol ke sana ke mari. Akhirnya saya tahu, Chelly kuliah di Fakultas Ekonomi di Universitas Sorbonne, Paris. Dia punya hobi berwisata dan makan.

Akhirnya kami bertukar alamat dan nomor telepon di Paris. Enak juga ngobrol-ngobrol dengan Chelly. Sayang, mamanya sudah memanggilnya untuk meneruskan acara selanjutnya.

“Harry Désolé. Ma mère m’appelait. N’oubliez pas mon téléphone plus tard, oui? Maaf,Harry. Mama saya sudah memanggil saya. Jangan lupa nanti telepon saya, ya?” Chelly menyalami saya dan Nilla, kemudian pergi bersama mamanya. Sedangkan saya dan Nilla melanjutkan perjalanan ke objek wisata yang lain.

Esok harinya, saya ditelepon Chelly.

“Salut. Bonjour. Où le spectacle d’aujourd’hui? Aujourd’hui, je m’en vais. Ne pouvait pas marcher au touriste avec moi? Si vous voulez, je vais “pick up” Hai. Selamat pagi. Kemana acara hari ini? Hari ini saya libur. Mau tidak jalan-jalan ke objek wisata bersama saya? Kalau mau, nanti saya jemput” suara halus terdengar di telepon saya.

“Oh bien, mais Nilla aujourd’hui ne pouvait pas venir parce qu’il ya un rendez-vous avec son ami Oh boleh, tapi Nilla hari ini tidak bisa ikut karena ada janji dengan temannya” saya menjelaskan.

“Pas de problème Tidak masalah.” Chelly menjawab dengan suara yang enak didengar.

Benar, tak berapa lama kemudian Chelly menjemput saya dengan mengendarai mobil pribadinya berwarna putih metalik. Sesudah saya berpamitan dengan Nilla, maka sayapun segera masuk ke mobil Chelly dan kemudian eluncur ke objek wisata yang seumur hidup belum pernah saya kunjungi.

“Eh bien, je n’ai pas échangé mon argent avec l’argent français Wah, saya belum menukar uang saya dengan uang Perancis” tiba-tiba saya baru ingat.

“Pas de problème. Je vais traiter Tidak masalah. Nanti saya yang traktir” Chelly memberi solusi. Tentu saja saya senang.

Kami berduapun menuju ke objek wisata. Oh, indah sekali pemandangannya. Udaranya sejuk, dingin dan segar. Untunglah saya selalu memakai mantel penghangat tubuh.

“C’est un paysage magnifique ici Indah sekali pemandangan di sini” saya memuji.

“Je n’étais pas ici depuis longtemps. Il ya eu des changements et progrès dans le tourisme objet ici Saya lama tidak ke sini. Sudah ada perubahan dan kemajuan di objek wisata di sini” Chelly menjelaskan. Lantas dia bercerita banyak tentang objek wisata itu. Saya yang baru pertama kali melihat objek wisata itu cukup kagum. Pengunjungnya juga cukup banyak.

Selanjutnya kami menuju objek wisata yang lain. Di sini pembicaraan saya dan Chelly semakin bebas saja. Tak ada rasa canggung lagi. Seolah-olah kami sudah berkenalan puluhan tahun yang lalu.

Ketika Chelly bertanya, berapa anak saya, maka saya menjawab dengan jujur.

“Je ne suis pas mariée Saya belum menikah”

“Oh, oui? C’est l’âge d’Harry est-il? Oh,ya? Memang umur Harry berapa sekarang?” Chelly terkejut tidak percaya.

“Mon âge est de 22 ans Umur saya sekarang 22 tahun” saya menjawab.

“Oh, encore jeune. J’ai 18 ans. Je ne disposent pas de petit ami .Oh, masih muda. Umur saya 18 tahun. Saya juga belum punya pacar” Chelly menjelaskan status pribadinya. Rasa-rasanya saya mendapat angin segar ketika Chelly bilang belum punya pacar.

“Pourquoi ne pas Chelly belle fille ont un petit ami?.Kenapa gadis secantik Chelly belum punya pacar?”

“Oh, je ne sais pas non. Si mes amis le sont. Oh, saya juga tidak tahu. Kalau teman-teman saya sudah.”

“Ever coeur brisé? Pernah patah hati?”

“Ha ha ha … tout simplement jamais courtship .Ha ha ha…Pacaran saja belum pernah” Chelly tertawa.

Kami berdua kemudian terus berjalan melihat objek wisata yang ada di situ. Kadang kami berdua berfoto bersama menggunakan kamera yang otomatis dan dilengkapi tripod.

Ketika saat Dhuhur tiba, saya jadi bingung, kemana saya harus shalat.

“Excusez-moi, si il ya une mosquée à Paris? Maaf, apakah di Paris ada mesjid?”

“Oh, oui, vous savez. Va prier? Permettez-moi de vous prendre .Oh, ya, tahu. Akan shalat? Mari saya antarkan”. Chelly mengajak saya ke mobilnya. Dan benar saja saya diantarkan sampai di depan masjid Grande Mosquée de Paris yanag terletak di arondisemen Ve. Masjid ini diresmikan oleh Presiden Gaston Doumergue pada tanggal 15 Juli 1926.

“J’attendais dans un restaurant, oui ? Saya tunggu di restoran,ya?” Ujar Chelly sambil menunjuk restoran yang tidak jauh dari mesjid.

Hari itu kami mengunjungi beberapa objek wisata, antara lain Arc de Triomphe – monumen di tengah Place de l’Étoile, merayakan kemenangan Perancis dan menghormati semua yang gugur dalam pertempuran.Conciergerie – Terletak Île de la Cité, merupakan bangunan pertengahan yang sebelumnya digunakan sebagai penjara dimana beberapa anggota ancien régime menetap sebelum kematiannya selama Revolusi Perancis

Les Invalides – Museum dan pemakaman banyak tentara terkenal Perancis, termasuk Napoleon..Louvre – galeri seni besar. Montmartre – salah satu distrik terkenal di Paris, terletak di bukit dan memiliki Basilica of the Sacré Cœur dan Place du Tertre.

Esok harinya, saya kembali dijemput Chelly untuk mengunjungi objek wisata yang lain. Di objek wisata inilah cinta kami mulai bersemi. Walaupun belum ada kata cinta, namun apa yang kami lakukan sudah termasuk kategori pacaran. Tak sekedar gandeng tangan atau merangkul. Tapi, kami juga sudah saling cium bibir. Tapi, mungkin itu dianggap biasa-biasa saja oleh Chelly.

Cukup banyak foto yang kami buat di objek wisata ini.

“Wow beaucoup d’images que nous faisons. Peuvent créer des souvenirs, hein? Wow” banyak sekali foto yang kita buat. Bisa buat kenang-kenangan,ya?” Chelly memandangi saya penuh arti. Tatapan matanya yang bening memuat hati saya berdebar keras.

Hari itu saya berkunjung ke objek wisata Notre Dame de Paris (Katedral Notre Dame) di Île de la Cité – bangunan abad ke-12 Paris .Palais Garnier – gedung opera pusat Paris, dibangun pada periode Kekaisaran Kedua.. Grand Palais – sebuah ruang pameran kaca dibangun untuk Pameran Paris 1900.Sainte-Chapelle – juga terletak di Île de la Cité, merupakan kapel istana Gothik abad ke-13.Panthéon – gereja dan makam sejumlah orang Perancis terkenal. Sorbonne – Universitas Paris, pusat Latin Quarter Paris.

Hari berikutnya saya diperkenalkan dengan papa dan mama Chelly. Juga dikenalkan dengan satu adiknya dan satu kakaknya. Ternyata mama dan papanya baik sekali. Papanya bekerja di perusahaan elktronik di Paris. Sedangkan mamanya punya salon di komplek pertokoan. Adiknya kuliah di fakultas psikologi. Sedangkan kakaknya menjadi dosen matematika di salah satu perguruan tinggi di Paris.

Rumah Chelly tergolong mewah. Luas tanah sekitar 2000 meter persegi dan luas bangunan sekitar 1000 meter persegi bertingkat. Katanya itu rumah warisan dari kakeknya yang dulu pernah menjadi menteri.

Sayang, visa saya hampir habis. Maka hari terakhir saya mengajak Chelly ke menara Eiffel lagi. Kami berfoto-foto lagi. Karena hari itu merupakan hari terakhir, maka saya memberanikan diri untuk menyatakan cinta. Diterima syukur, ditolak ya tidak apa-apa.

“Chelly. Peut-Je t’aime? Chelly. Bolehkah saya mencintaimu?” Berdebar dada saya ketika saya mengucapkan kalimat itu.

“Oh, Harry. J’aime aussi vous .Oh, sama Harry. Saya juga mencintaimu” Chelly kemudian memeluk saya. Kami saling berciuman cukup lama. Rasa-rasanya indah sekali hari itu. Ya, betapa indah hari itu.

Hari itu objek wisata yang saya kunjungi antara lain Replika Patung Liberty – versi kecil patung di pelabuhan New York City yang diberikan Perancis kepada Amerika Serikat tahun 1886, terletak di Île des Cygnes di Seine. Versi lain terletak di Kebun Luxembourg.Place des Vosges – taman di distrik Marais yang dibangun oleh Henry IV.Pemakaman Père Lachaise.

Air Mancur Wallace, tersebar di seluruh kota. Replika Api Liberty, api yang dipegang oleh Patung Liberty. Centre Georges-Pompidou – memiliki Museum Seni Modern Paris. Parc de la Villette – memiliki Cité des Sciences et de l’Industrie, sebuah museum ilmiah, dan Cité de la Musique yang merumahkan berbagai institusi musik, museum, dan ruang konser.

Sayang, esok hari saya harus kembali ke Indonesia. Chelly dan Nilla mengantarkan saya ke bandara. Saya lihat Chelly meneteskan air mata. Kami berpelukan dan berciuman. Karena pesawat beberapa menit akan berangkat, terpaksa saya menuju tangga pesawat sambil melambaikan tangan ke Chelly/

“Je t’aime, tu, Chelly .I love,you, Chelly” saya berteriak.

“Je t’aime, Harry .I love you, Harry”

Ternyata, hari itu adalah hari terakhir saya bertemu dengan Chelly. Sesampai di Indonesia, saya mendapat telepon dari Nilla. Katanya, sepulang dari bandara, mobil yang dikendarai Chelly mengalami kecelakaan.

“Chelly meninggal, Harry” kata Nilla di telepon.

Tanpa terasa, dua butir air mata meluncur dipipi saya. Saya tak mengerti, kenapa cinta yang indah itu harus berakhir sampai di situ? Tiap Desember datang, saya pasti membuka album yang memuat foto-foto saya bersama Chelly.

Saya tidak tahu, kenapa Tuhan memisahkan saya dengan Chelly.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

2 Tanggapan

  1. Sedih bgett.

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: