CERPEN : Presidenku Sangat Layak Dihukum Pancung

POLITIK adalah ilmu untuk berkuasa dengan berbagai cara, termasuk ngibulin rakyat. Caranya, mengobral janji-janji kosong. Kalau sudah terpilih, menumpuk kekayaan dengan berbagai cara, termasuk korupsi.

Di negara saya, Republik Psikopat, merupakan negara yang kaya raya akan sumber daya alam. Sayang, kekayaan alam itu 70% dikuasai kapitalis asing dengan harga murah. Sementara rakyatnya tetap jadi kere.

Pada pemilu, terpilihlah seorang capres-cawapres yang beraliran neolib. Pro Amerika. Apa yang didiktekan Amerika harus dipenuhi. Maklum, pada pemilu yang lalu dia dapat bantuan keuangan dari Amerika yang  jumlahnya luar biasa besar. Syaratnya yaitu, Amerika harus menguasai perekonomian negara saya, Republik Psikopat.

Sebelum pemilu, capres-cawapres itu membayari lembaga survei dengan tujuan menggiring opini para pemilih seolah-olah dia paling populer dan dipilih sebagian besar rakyat. Dasar rakyat saya banyak yang bego, percaya saja dengan hasil survei yang diumumkan di berbagai televisi dan koran.

Faktor kemenangan lainnya yaitu dengan cara menyuap Panitia Pelaksana Pemilihan (3P). Tugasnya, supaya oknum 3P mau memanipulasi data pemilu dan memenangkan Partai Sekarat dengan imbalan akan dijadikan pengurus partai itu. Juga, memenangkan capres-cawapres itu dengan imbalan uang milyaran rupiah. Software untuk memalsu juga sudah dibuat tim Amerika yang saat pemilu datang ke kantor 3P dengan pura-pura mengaku sebagai pemantau independen.

Maka terpilihlah capres-cawapres itu. Nama presidennya, Kebohomo dan nama wapresnya Malingbang. Untuk menyusun kabinet, tidak berdasar profesionalitas, tetapi berdasar balas budi. Itulah sebabnya, jika ada menteri yang tidak mampu, tidak dipecat, melainkan dirotasi saja. Partainyapun mau menerima anggota dari siapa saja asal mau bayar uang banyak. Jadi tak heran kalau Partai Sekarat menjadi sarang koruptor yang motivasinya berlindung pada kekuasaan.

Hampir semua proyek pemerintah Republik Psikopat dimenangkan oleh perusahaan-perusahaan milik anggota Partai Sekarat yang sejatinya berasal dari para koruptor. Tak heran kalau mereka berhasil nyolong uang negara, baik untuk pribadi atau disumbangkan untuk Partai Sekarat.

Supaya kelihatannya pemerintahannya sukses, maka dipakailah tipu-tipu politik. Membantu orang miskin, tetapi uangnya ngutang World Bank. Menaikkan gaji pegawai tetapi uangnya ngutang JICA (Jepang). Membangun berbagai desa, tetapi uangnya ngutang Bank ADB. Membangun ini membangun itu tetapi utang. Tentu, pemerintahannya dapat komisi. Sebagian masuk kantong pribadi,sebagian masuk kas Partai Sekarat.

Karena serakah, maka para kapitalispun diundang. Hasilnya, 70% sumber daya alam dikuasai kapitalis asing. Sekitar 70% perbankan dikuasai kapitalis asing.Sekitar 70% bisnis telekomunikasi dikuasai asing. Sekitar 70% gedung-gedung bertingkat dikuasai kapitalis asing. Sekitar 70 undang-undang merupakan pesanan kapitalis asing. Tentu, komisinya cukup besar. Sebagian masuk kantong pribadi,sebagian masuk kas Partai Sekarat.

Masih kurang banyak? Bikin skenario bank rugi. Kemudian pemerintah mengucurkan bantuan uang senilai 7 triliun dolar Republik Sekarat. Bankpun dibikin kacau. Sebagian uangnya mengalir ke pribadi dan sebagian lagi masuk ke kas Partai Sekarat.

Oh, masih kurang banyak. maka dijual murah saham-saham pabrik baja, pabrik nikel, pabrik ini,pabrik itu. Kemudian saham itu diborong Partai Sekarat, kemudian dijual lagi dengan harga dua kali lipat. Untungnya triliunan dolar Republik Psikopat. Sebagian masuk kantong pribadi, sebagian masuk kas Partai Sekarat.

Begitu pula, membeli mobil mewah untuk semua menteri,membeli helikopter mewah untuk presiden dan wakil presiden dan membeli barang-barang mewah lainnya. Tentu di-mark up dan dikorupsi.Hasil korupsinya sebagian masuk kantong pribadi dan sebagian masuk kas Partai Sekarat.

Kegiatan Presiden Kebohomo cuma pidato. Tidak ada aplikasinya. Penegakan hukum cuma di mulut. Korupsi jalan terus. Tim Pemberanttasan Korupsi (TPK) tidak berani mengusut korupsi Presiden Kebohomo dan kroni-kroninya. Polisi juga tidak berani. Mana mungkin para penegak hukum berani mengusut korupsi pemerintah, mereka dipilih dan dilantik Presiden Kebohomo. Mana mungkin berani melawan orang yang melantiknya. Logikanya begitu.

Supaya kelihatannya sukses, maka permainan statistik dilakukan. Akrobat angka-angka sehingga angka ekonomi baik, angka pendidikan baik, angka pengangguran baik, angka kemiskinan baik, angka keamanan baik, angka pemberantasan korupsi baik. Pokoknya kalau Presiden Kebohomo berpidato, semuanya baik. Tidak ada kekurangannya.

Belakangan rakyat baru sadar kalau mereka dikadalin presiden dan wakil presidennya. Mereka baru sadar kalau presiden dan wakil presiden yang dipilihnya ternyata tidak bersih. Super koruptor. Kasus-kasus korupsi besar selalu ditutupi dengan rapi.

Rakyatpun marah. Sekitar satu juta rakyat melakukan demo di ibukota. Mereka mengepung istana. Pasukan militerpun juga bergerak. Terjadi kericuhan antara pendemo dengan pasukan militer. Terdengar dor di sana dor di sini. Satu persatu para pendemo terluka ataupun tewas tertembak.

Namun, sebagian pendemo berhasil masuk ke istana. Ditangkaplah Presiden Kebohomo dan kebetulan wakil presidennya juga ada di situ. Mereka berdua dieret-eret ke lapangan. Para pendemo ramai-ramai memukuli dan menendang dan menyiksa Presiden Kebohomo dan Wapres Malingbank itu hingga babak belur.Mereka berduapun diludahi rame-rame oleh rakyat.

Akhirnya, rakyatpun sampai pada batas kesabaran. Maklum, sudah puluhan tenaga kerja dihukum mati di luar negeri, namun tak ada perlindungan nyata dari presiden dan wakil presiden.

Nah, saatnyapun tiba. Presiden Kebohomo dan Wakil Presiden akhirnya dihukum pancung memakai pedang berkarat. Tewaslah mereka berdua. Tewaslah Sang Pembual. Tewaslah Sang Pembohong. Tewaslah Sang Penipu Rakyat.

“Pak, sudah sampai setasiun Bragi,” tiba-tiba ada yang menegur saya. Sayapun tersadar dari lamunan saya. Ternyata yang menegur saya adalah sopir taksi. Saya baru ingat, hari itu saya harus ke Kota Sandiyoga naik Kereta Api Lixus L350 berkecepatan 350 km per jam..

Sumber foto: http://felino-feno.blogspot.com/2010/04/apa-sih-beda-hukaman-rajam-gantung-sama.html

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

2 Tanggapan

  1. Great blog! Do you have any helpful hints for aspiring
    writers? I’m hoping to start my own website soon but I’m a little lost on everything.

    Would you suggest starting with a free platform like WordPress or go for
    a paid option? There are so many choices out there that I’m completely confused .. Any ideas? Cheers!

  2. It’s a shame you don’t have a donate button! I’d certainly donate to this brilliant blog! I guess for now i’ll settle for book-marking and adding
    your RSS feed to my Google account. I look forward to fresh updates and will share this website with my Facebook group.
    Talk very soon, with you! Appreciate it!

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: