CERPEN: Cintaku Biru di University of Saskatchewan

SEBELUM lulus S-1 di Fakultas Sastra UI, ada beberapa penawaran bea siswa ke luar negeri. Antara lain ke Amerika yang disponsori Ford Foundation, Fullbright Foundation, dan lain-lain.. Ke Jepang antara lain dari Tokay Foundation. Namun dari beberapa tawaran tersebut, saya tertarik dengan bea siswa dari Saskatchewan Foundation yang berada di Kanada. Alamat situs di http://www. campussaskatchewan.ca.

Kenapa? Bea siswa ke Kanada tersebut bersifat all in. Semua biaya kuliah dan biaya hidup ditanggung yayasan. Mulai dari kos, biaya kuliah, buku, dan lain-lain.. Menariknya, tiap bulan ada rekreasi ke objek wisata dan itu gratis. Tidak perlu takut kehabisan uang karena tiap tanggal satu akan mendapat uang saku yang kalau di kurs rupiah sekarang sekitar Rp 5 juta. Wow! Itulah sebabnya, begitu saya lulus S-1, saya segera mengisi formulir aplikasi yang tersedia.

Singkat cerita, saya telah tiba di Kanada. Begitu tiba di Bandara Vancouver, saya disambut oleh tim penyambut yang terdiri dari lima mahasiswa, lima mahasiswi dan seorang koordinator, Mrs. Linda Badeva. Ternyata, dari Indonesia ada lima orang. Yang saya kenal hanya satu orang, yaitu Irbel Budaya.

Kami langsung ditempatkan di tempat kos dipinggiran kota Ottawa. Sebuah hunian yang cukup mewah untuk ukuran orang Indonesia. Kamarnya cukup besar. Satu kamar untuk dua mahasiswa. Tentu, saya satu kamar dengan Irbel. Fasilitas tempat kos cukup wah. Ada kolam renang, lapangan basket, tempat latihan skate board dan lapangan golf mini dan fasilitas lain yang tidak bisa saya tuliskan di sini satu persatu.

Tiga hari kemudian kami dengan menggunakan bus kampus, kami diantar ke kampus Saskatchewan. Sebuah kampus dengan arsitektur kuno. Usia kampus lebih dari 100 tahun. Halamannya luar biasa luas. Suasananya mirip kampus UGM Bulaksumur. Nama kampus Saskatchewan sebenarnya diambil dari nama sungai besar di Kanada.

Sebulan sudah saya kuliah di Faculty of Economics. Berbagai bangsa ada di situ. Akhir bulanpun ada rekreasi bersama, yaitu ke Kananaskis Valley. Jaraknya 85 km dari Calgary atau 52 km dari Canmore atau 70 km dari Banff. Sebuah lembah yang luar biasa indah. Total rombongan 11 bus besar dan mewah.

Di situlah saya berkenalan dengan seorang mahasiswi dari Faculty of Letters and Fine Arts. . Namanya Debita Navralukita, berkebangsaan Chekoslovakia. Saya agak kaget ketika dia cerita bahwa Bahasa Indonesia juga diajarkan di fakultasnya.

O, sebagai orang Indonesia, saya merasa bangga sekali. Untuk ukuran bule, Debita tergolong pendek, yaitu sekitar 160 cm. Sedangkan tinggi saya 166 cm.

Cukup banyak acara di beberapa objek wisata. Antara lain, golfing, horseback riding, hiking, mountain biking, skiing atau snowboarding, dan lain-lain..

Semula saya agak minder karena semua kegiatan itu belum pernah saya lakukan di Indonesia. Ternyata, sebagian besar mahasiswa memang belum bisa. Untung ada beberapa trainer yang memberikan bimbingan dan pelatihan. Oh, menyenangkan sekali.

Di saat istirahat, sayapun menggunakan kesempatan itu untuk mengobrol dengan Debita.

“Jadi, Anda belajar Bahasa Indonesia juga?”, tanya saya sambil memandangi wajah Debita yang mirip Tamara Blezynski itu.

“Ya, saya suka Bahasa Indonesia. Tidak sesulit yang saya bayangkan”, jawabnya dalam bahasa Indonesia.

Dia menambahkan:

“Bahkan, jika memungkinkan saya ingin ke Bali”

Tentu, saya langsung menyatakan siap mendampinginya ke Bali sebagai guide gratis.

Saya masih ingat, saat itu Debita memakai gaun ungu muda dan celana jean. Kami duduk di kursi panjang dari besi dan penuh ukir-ukiran.

Udara sangat dingin sekali bagaikan di dalam lemari es. Walaupun sudah memakai mantel tebal, namun udara dingin tetap merasuk ke tubuh. Mantel yang dikenakan Debita juga cukup tebal.

Saya akui, Debita memang cantik. Cuma, mampukah saya menaklukan hatinya? Maklum, dia berasal dari keluarga konglomerat. Sedangkan saya di Indonesia dari keluarga biasa-biasa saja.

Sejak itu, Debita sering main-main ke tempat kos saya. Sekadar belajar praktek Bahasa Indonesia. Karena akrab, akhirnya sayapun sering berdua ke restoran atau kafe. Bahkan dengan menyewa mobil, kami berdua sering mengadakan rekreasi sendiri.

Walaupun saya tidak pernah mengatakan cinta dan Debita juga demikian, namun dari sikapnya saya tahu Debita juga mau bersahabat akrab dengan saya. Itu saya buktikan dengan mencium bibirnya yang mungil itu. Tidak ada penolakan. Bahkan Debita membalas ciumanku dengan hangat dan bersemangat. Sayapun sering ke tempat kosnya yang kebetulan tidak begitu jauh. Cukup naik bus kota. Bahkan saya ke tempat kosnya kadang-kadang bersama Irbel Budaya.

Tanpa terasa, masa studipun berakhir. Sesudah acara wisuda, saya tidak tahu apa yang harus saya berbuat. Debita bersedia saya lamar, namun dengan syarat saya harus mau tinggal di Chekoslovakia dan menjadi warganegara negara tersebut. Itupun dengan syarat, saya harus mau memeluk agama Nasrani. Tentu, syarat tersebut tidak mungkin saya lakukan.

Sebaliknya, Debitapun tidak mau saya ajak ke Indonesia dan menikah secara Islam. Saat itu saya sedang mengantarkan Debita ke Bandara Vancouver. Dia akhirnya memutuskan untuk pulang ke negaranya. Tentu, tanpa saya. Sedih rasanya.

Akhirnya Debitapun memasuki pesawat. Saya cuma bisa melambaikan tangan. Kupandangi pesawat yang mulai take off dan akhirnya hilang dari pandangan mata saya.

Sejak itu, saya tidak bertemu lagi dengan Debita.

Sumber foto: johanuhak.co

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

SEBELUM lulus S-1 di Fakultas Sastra UI, ada beberapa penawaran bea siswa ke luar negeri. Antara lain ke Amerika yang disponsori Ford Foundation, Fullbright Foundation, dan lain-lain.. Ke Jepang antara lain dari Tokay Foundation. Namun dari beberapa tawaran tersebut, saya tertarik dengan bea siswa dari Saskatchewan Foundation yang berada di Kanada. Alamat situs di http://www. campussaskatchewan. ca.

Kenapa? Bea siswa ke Kanada tersebut bersifat all in. Semua biaya kuliah dan biaya hidup ditanggung yayasan. Mulai dari kos, biaya kuliah, buku, dan lain-lain.. Menariknya, tiap bulan ada rekreasi ke objek wisata dan itu gratis. Tidak perlu takut kehabisan uang karena tiap tanggal satu akan mendapat uang saku yang kalau di kurs rupiah sekarang sekitar Rp 5 juta. Wow! Itulah sebabnya, begitu saya lulus S-1, saya segera mengisi formulir aplikasi yang tersedia.

Singkat cerita, saya telah tiba di Kanada. Begitu tiba di Bandara Vancouver, saya disambut oleh tim penyambut yang terdiri dari lima mahasiswa, lima mahasiswi dan seorang koordinator, Mrs. Linda Badeva. Ternyata, dari Indonesia ada lima orang. Yang saya kenal hanya satu orang, yaitu Irbel Budaya.

Kami langsung ditempatkan di tempat kos dipinggiran kota Ottawa. Sebuah hunian yang cukup mewah untuk ukuran orang Indonesia. Kamarnya cukup besar. Satu kamar untuk dua mahasiswa. Tentu, saya satu kamar dengan Irbel. Fasilitas tempat kos cukup wah. Ada kolam renang, lapangan basket, tempat latihan skate board dan lapangan golf mini dan fasilitas lain yang tidak bisa saya tuliskan di sini satu persatu.

Tiga hari kemudian kami dengan menggunakan bus kampus, kami diantar ke kampus Saskatchewan. Sebuah kampus dengan arsitektur kuno. Usia kampus lebih dari 100 tahun. Halamannya luar biasa luas. Suasananya mirip kampus UGM Bulaksumur. Nama kampus Saskatchewan sebenarnya diambil dari nama sungai besar di Kanada.

Sebulan sudah saya kuliah di Faculty of Economics. Berbagai bangsa ada di situ. Akhir bulanpun ada rekreasi bersama, yaitu ke Kananaskis Valley. Jaraknya 85 km dari Calgary atau 52 km dari Canmore atau 70 km dari Banff. Sebuah lembah yang luar biasa indah. Total rombongan 11 bus besar dan mewah.

Di situlah saya berkenalan dengan seorang mahasiswi dari Faculty of Letters and Fine Arts. . Namanya Debita Navralukita, berkebangsaan Chekoslovakia. Saya agak kaget ketika dia cerita bahwa Bahasa Indonesia juga diajarkan di fakultasnya.

O, sebagai orang Indonesia, saya merasa bangga sekali. Untuk ukuran bule, Debita tergolong pendek, yaitu sekitar 160 cm. Sedangkan tinggi saya 166 cm.

Cukup banyak acara di beberapa objek wisata. Antara lain, golfing, horseback riding, hiking, mountain biking, skiing atau snowboarding, dan lain-lain..

Semula saya agak minder karena semua kegiatan itu belum pernah saya lakukan di Indonesia. Ternyata, sebagian besar mahasiswa memang belum bisa. Untung ada beberapa trainer yang memberikan bimbingan dan pelatihan. Oh, menyenangkan sekali.

Di saat istirahat, sayapun menggunakan kesempatan itu untuk mengobrol dengan Debita.

“Jadi, Anda belajar Bahasa Indonesia juga?”, tanya saya sambil memandangi wajah Debita yang mirip Tamara Blezynski itu.

“Ya, saya suka Bahasa Indonesia. Tidak sesulit yang saya bayangkan”, jawabnya dalam bahasa Indonesia.

Dia menambahkan:

“Bahkan, jika memungkinkan saya ingin ke Bali”

Tentu, saya langsung menyatakan siap mendampinginya ke Bali sebagai guide gratis.

Saya masih ingat, saat itu Debita memakai gaun ungu muda dan celana jean. Kami duduk di kursi panjang dari besi dan penuh ukir-ukiran.

Udara sangat dingin sekali bagaikan di dalam lemari es. Walaupun sudah memakai mantel tebal, namun udara dingin tetap merasuk ke tubuh. Mantel yang dikenakan Debita juga cukup tebal.

Saya akui, Debita memang cantik. Cuma, mampukah saya menaklukan hatinya? Maklum, dia berasal dari keluarga konglomerat. Sedangkan saya di Indonesia dari keluarga biasa-biasa saja.

Sejak itu, Debita sering main-main ke tempat kos saya. Sekadar belajar praktek Bahasa Indonesia. Karena akrab, akhirnya sayapun sering berdua ke restoran atau kafe. Bahkan dengan menyewa mobil, kami berdua sering mengadakan rekreasi sendiri.

Walaupun saya tidak pernah mengatakan cinta dan Debita juga demikian, namun dari sikapnya saya tahu Debita juga mau bersahabat akrab dengan saya. Itu saya buktikan dengan mencium bibirnya yang mungil itu. Tidak ada penolakan. Bahkan Debita membalas ciumanku dengan hangat dan bersemangat. Sayapun sering ke tempat kosnya yang kebetulan tidak begitu jauh. Cukup naik bus kota. Bahkan saya ke tempat kosnya kadang-kadang bersama Irbel Budaya.

Tanpa terasa, masa studipun berakhir. Sesudah acara wisuda, saya tidak tahu apa yang harus saya berbuat. Debita bersedia saya lamar, namun dengan syarat saya harus mau tinggal di Chekoslovakia dan menjadi warganegara negara tersebut. Itupun dengan syarat, saya harus mau memeluk agama Nasrani. Tentu, syarat tersebut tidak mungkin saya lakukan.

Sebaliknya, Debitapun tidak mau saya ajak ke Indonesia dan menikah secara Islam. Saat itu saya sedang mengantarkan Debita ke Bandara Vancouver. Dia akhirnya memutuskan untuk pulang ke negaranya. Tentu, tanpa saya. Sedih rasanya.

Akhirnya Debitapun memasuki pesawat. Saya cuma bisa melambaikan tangan. Kupandangi pesawat yang mulai take off dan akhirnya hilang dari pandangan mata saya.

Sejak itu, saya tidak bertemu lagi dengan Debita.

Sumber foto: joohanuhak.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: