CERPEN: Stanza Terakhir di Fakultas MIPA

SEBENARNYA saat itu saya sudah kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, Jakarta. Namun saya merasakan ilmu yang saya miliki masih kurang. Memang, di fakultas tersebut sudah ada matakuliah Matematika Ekonomi. Namun, tak ada salahnya saya kuliah lagi di Fakultas MIPA atau Program Studi MIPA di Universitas Terbuka (UT). Saya pikir, toh di UT bisa belajar secara otodidak.Benar. Akhirnya sayapun meluncur ke Rawamangun untuk mendaftarkan diri.

_”Ngambil prodi apa, Mas?”. Tiba-tiba ada cewek langsing,putih menyapa saya.

-“Oh,ambil MIPA”. Saya menjawab.

Entahlah, seperti kena hipnotis, saya langsung naksir cewek tersebut. Akhirnya sayapun memperkenalkan diri.

-“Harry”. Saya menjabat tangannya yang mulus itu.

“Hernik”. Dia menyebut namanya. Sepintas saya lihat wajahnya mirip Krisdayanti.

Akhirnya saya tahu, cewek itu mengambil prodi MIPA juga. Kemudian saya memasang kertas pengumuan ukuran A1 di papan pengumuman. Siapa saja boleh memasang pengumuman di sini. Isinya, saya mengajak para mahasiswa MIPA untuk bergabung dengan kelompok belajar saya. Semula menggunakan alamat tempat kos saya, namun karena Hernik bersedia rumahnya dipakai untuk belajar bersama, akhirnya alamatnya saya tulis di pengumuman tersebut.

Selesai mendaftar, sayapun diajak ke rumahnya. Katanya, supaya nanti kalau belajar bersama tidak perlu mencari-cari lagi. Sayapun masuk ke mobilnya. Hernik sendiri yang mengemudikan. Dia tinggal di kawasan Perumahan Kelapa Gading. Besar juga rumahnya. Tampaknya dia anak orang kaya. Katanya, dia anak tunggal. Ayahnya memiliki enam buah kapal besar dan dua buah hotel berbintang lima. Wow, agak “minder” juga saya.

Ruangan untuk kelompok belajar cukup luas dan lengkap. Ada papan tulis, data show, komputer, dll. Tanpa terasa, kelompok belajar yang saya bentuk memiliki 20 anggota. Semuanya lulusan SMA IPA. Hanya saya yang satu-satunya lulusan SMA IPS, yaitu dari SMA Negeri 6, Surabaya. Lucunya, Hernik yang lulusan IPA justru suka dengan buku-buku sastra,novel dan gemar membuat puisi. Kebetulan, saya juga membuat puisi.

Anggota kelompok belajar tersebut tidak semuanya mereka yang baru lulus SMA. Banyak yang sudah berstatus karyawan. Bahkan ada seorang ibu rumah tangga berusia 35 tahun. Masing-masing memperkenalkan diri dengan menyebut nama, dan asal kota.

Ketika giliran saya memperkenalkan diri, maka sayapun menyebut nama dan asal kota. Tiba-tiba ada seorang anggota tertawa terbahak-bahak.

-“Jadi, mas Harry dari Bojonegoro? Kabarnya, orang Bojonegoro banyak yang kemlinthi, ya Mas?”

Ketika mendengar istilah “kemlinthi”, ganti saya yang tertawa.

-“Iya. Orang Bojonegoro memang kemlinthi. Sok kaya, sok pinter, suka pamer dan suka ngenyek. Sejak dulu orang Bojonegoro ya begitu..”. saya mengiyakan.

Nah, suatu saat ketika selesai belajar bersama, ternyata Hernik memberi saya sebuah puisi tiga stanza. Isinya, pernyataan cinta. Karena saya juga naksir Hernik yang wajahnya mirip Krisdayanti itu, maka minggu berikutnya saya membalas puisinya. Juga tiga stanza. Akhirnya, Hernikpun menjadi pacar saya.

Sampai suatu saat, saya bertemu dengan teman baik yang kebetulan seorang ustadz dan ahli metafisikawan yang kebetulan juga tetangganya Hernik. Dia tanya, apakah betul saya pacaran dengan Hernik. Ketika saya menjawab ya, maka teman sayapun terkejut dan mengajak saya ke rumahnya.

Di rumahnyapun saya diberi tahu. Bahwa saya sebenarnya kena ilmu hitam. Tepatnya, saya dipelet Hernik. Karena ustadz tersebut teman baik, maka sayapun percaya saja. Di rumahnya sayapun mengikuti acara ritual agama Islam. Kemudian disarankan membaca beberapa ayat suci Alquran. Bahkan ada yang harus dibaca 100 kali.

Ternyata benar. Minggu berikutnya ketika saya bertemu dengan Hernik, saya merasa heran. Hernik yang dulu saya lihat cantik seperti Krisdayanti, ternyata sekarang tampak seperti Omas. Sayapun cepat-cepat membaca doa.

Ternyata benar. Minggu berikutnya ketika saya bertemu dengan Hernik, saya merasa heran. Hernik yang dulu saya lihat cantik seperti Krisdayanti, ternyata sekarang tampak seperti Omas. Sayapun cepat-cepat membaca doa. Maka hari itupun saya membuat puisi tiga stanza. Isinya putus cinta.

Saya katakan saya sudah punya pacar. Puisi itu saya berikan ke Hernik. Sayapun tidak pernah muncul lagi di Fakultas MIPA UT. Kuliah saya di Fakultas MIPA UT cukup sampai sarjana muda saja. Dengan langkah gontai, sayapun meninggalkan rumah Hernik. Untuk selama-lamanya.

Sumber foto: UniversitasTerbukaSkyscrapercity.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: