CERPEN: Saya Menjadi TKI Bukan Karena Takdir

NAMA saya Siti Maemunah.Saya bukan berasal dari keluarga konglomerat. Saya tinggal di desa kecil. Namanya, Desa Ngablak, Kabupaten Bojonegoro.Orangtuaku petani miskin.Saya sekolah hanya lulusan SMP.Itupun sudah hebat. Dengan ijazah SMP, sulit cari kerja. Padahal, adik-adik saya banyak.

“Pak’e. Saya mau jadi TKI saja…” akhirnya, saya satu-satunya anak perempuan bilang ke ayah saya. Semula ayah saya keberatan, sebab sehari-hari saya membantu Mak’e memasak di dapur. Tapi, karena saya janji tiap bulan akan mengirimkan sebagian gaji saya, maka ayah sayapun mengizinkan.

“Yo,wis,nDuk. Lha, piye maneh, wong golek gaweyan zaman saiki angel,” jawab ayah saya. Artinya,”Ya sudahlah,Nak. Habis bagaimana lagi, cari kerja memang sulit”

Akhirnya sesudah mengurus surat ijin dari orang tua dan syarat-syarat lainnya, sayapun mendaftar ke PJTKI PT Indodata Karya Sempurna yang dulu beralamat di Jl. Adema Suryani Nasution No.5, Bojonegoro.

Sayapun mendaftar. Semua berkas diperiksa oleh staf PT IKS.Terus, saya diwajibkan tinggal di penampungan selama seminggu. Tidak dipungut biaya, tetapi tiap bulan gaji saya akan dipotong. Ya, tidak apa-apa, yang penting saya dapat pekerjaan.

Akhirnya, saya dan teman-teman TKI-pun diberangkatkan ke Malaysia. Beruntung saya dipekerjakan di toko. Toko majikan saya berjualan HP, pulsa dan segala aksesorinya.Majikan saya namanya Liem Tjiep Hian, warga Malaysia keturunan China. Untung, orangnya baik.Kalau dagangannya laris, saya sering dapat bonus.

Tapi, isterinya, yang namanya Mo Mey Hwa, judasnya setengah mati. Kalau pas dia yang ada di toko, rasa-rasanya saya tinggal di neraka. Salah tidak salah, saya pasti diomeli.Yang katanya saya ini orang Indonesia goblok-lah, yang katanya saya ini orang Indonesia pemalaslah. Bagi saya, kalau tidak menyebut negara saya sih, tidak apa-apa. Tapi kalau sudah melecehkan negara saya, rasa-rasanya mulutnya ingin saya sobek-sobek saja. Untunglah, sebagai seorang muslimah, saya harus sabar…sabar…sabar. Kayak Pak SBY gitu, walaupun negaranya dilecehkan,Pak SBY tetap sabar…sabar…sabar. Ternyata orang sabar identik dengan penakut.

Pak Liem memang orangnya penuh pengertian. Karena pelanggannya kebanyakan wisatawan asing, maka saya dan satu teman satu toko, dikursuskan bahasa Inggeris. Biaya ditanggung bos.Andaikan semua majikan seperti Pak Liem, tentu akan nyaman bekerja. Tapi kalau macam Bu Mo, wah, rasa-rasanya stres tiada henti.Rasa-rasanya berhadapan dengan setan.

Bagusnya lagi, Pak Liem memberi libur tiap Minggu. Saya dan teman-teman boleh jalan-jalan. Itulah pertamakalinya saya naik monorail. Saya jadi malu jadi bangsa Indonesia. Lha, di Jakarta mau membangun monorail saja puluhan tahun tidak jadi-jadi.Bodoh benar pemimpin bangsa saya ini.

Tiap bulan saya kirim uang ke ayah saya yang tinggal di Desa Ngablak. Nilainya cukup banyak dibandingkan penghasilan ayah saya sebagai petani. Saya cuma berharap agar adik-adik saya bisa melanjutkan sekolah.Maklum, dunia pendidikan penting, walaupun di Indonesia ada dua sarjana yang jadii pengangguran.

Soal pekerjaan, pejabat-pejabat Malaysia memang cerdas. Suku bunga kredit bank sangat rendah. Sehingga banyak warga Malaysia berlomba pinjam uang ke bank untuk membuka usaha. Beda dengan Indonesia yang suku bunga kreditnya sangat tinggi.Lagipula, jadi UMKM di Indonesia juga dibebani bermacam-macam pajak.Sungguh, tidak cerdas.

Saya merasa ngeres juga mendengar cerita teman-teman TKI yang sesama perempuan. Ada diantaranya yang dibius kemudian diperkosa. Masuk untung, majikannya pakai kondom.Mau pulang ke Indonesia tidak bisa karena paspornya ditahan.Akhirnya, seminggu sekali harus mau melayani nafsu bejat majikannya. Apa yang bisa diperbuat pemerintah Indonesia? Tidak ada!

Teman lainnya bilang, hampir tiap hari ditampar majikan perempuan. Bahkan jatah makannya sama dengan jatah makanan kucing majikannya.Teman-teman saya yang mendapat perlakuan tidak baik itu rata-rata menjadi pembantu rumah tangga (PRT).

Mau menggugat ke pengadilan? Biayanya mahal! Gaji setahu habis untuk bayar perkara. Seharusnya sih, ada semacam lembaga bantuan hukum (LBH) yang mau membela para TKI teraniaya tanpa dipungut biaya satu senpun. Daripada uang rakyat dihambur-hamburkan untuk membangun gedung DPRRI senilai Rp 1,6 triliun, lebih baik digunakan untuk membela para TKI yang bermasalah.

Ada sekitar dua juta TKI di Jakarta. Eh, dengan seenaknya pemerintah Indonesia meng-klaim angka pengangguran turun. Seolah-olah itu hasil kerjanya Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Padahal, itu hasil usaha para TKI sendiri. Lebih tidak enak lagi, pemerintah bangga karena cadangan devisanya tinggi sepanjang sejarah. Dengan sombong politisi Partai Demokrat memuji diri sendiri sebagai pemerintahan yang paling berhasil.

Padahal, ketika saya dan teman-teman pulang ke Indonesia, di bandara sudah siap orang-orang yang akan memeras para TKI. Bahkan tak jarang naik kendaraan yang ternyata sopir dan keneknya adalah para pemeras. Seharusnya, para TKI sebagai pahlawab devisa kedatangannya disambut kendaraan khusus dan diantar sampai ke desa masing-masing. Dananya toh bisa diambil dari cadangan devisaa yang merupakan jerih payah para TKI..Nyatanya, pemerintah tak melakukan itu.

“Sedih, deh melihat sikap pemerintah Indonesia yang kurang begitu melindungi para TKI. Tindakan preventifnya sangat kurang. Kalau sudah kejadian, pemerintah baru mikir. Benar-benar telmi,” gerutu saya ke teman kerja satu toko.

“Iya.Apalagi sangat banyak kasus para TKI yang disiksa. Ditampar, dipukul, ditendang, diseterika, kepalanya dibenturkan ke dinding,diberi makanan setara makanan kucing,diperkosa bahkan dibunuh,” teman satu toko saya, namanya Ningsih, mengomentari.

“Begitulah nasib kita. Cari kerja di negara sendiri sulit.Lha wong pemerintah Indonesia tidak mempu menciptakan lapangan kerja. Mulai dari bupati,gubernur hingga menteri, tidak kreatif di dalam menciptakan lapangan kerja. Sangat berbeda jauh dibandingkan kreativitas para pejabat malaysia di dalam menciptakan lapangan kerja dengan gaji yang lumayan,” kata saya ke Ningsih.

Saya terpaksa berhenti ngobrol. Karena, ada bule yang akan membeli HP di toko milik Pak Liem. Sayapun harus melayaninya dengan baik. Apalagi dia berbahasa Inggeris.

“Saya menjadi TKI bukan karena takdir.Tapi, karena pemerintah Indonesia tidak becus menciptakan lapangan kerja bagi bangsanya sendiri,” gerutu saya dalam hati.

Sumber foto: onlineshop-hp.masterjoesandy.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: