CERPEN: Revolusi Tikus Pithi 2012

JAKARTA 2010. Saat itu saya sedang asyik membaca buku filsafat berjudul “L’etre et Le Neant” karya Jean Paul Sartre di perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Tiba-tiba di samping saya duduk mBak Retha.

“Nih, saya punya artikel menarik,” katanya sambil menyodorkan sebuah buku yang tebalnya sekitar 200 halaman. Saya baca,judulnya “Revolusi Tikus Pithi”.

“Sudah Mbak Retha baca?” tanya saya. Mbak Retha adalah teman saya satu kelas dan satu jurusan. Yaitu jurusan Bahasa Perancis. Sebenarnya usianya lebih muda daripada saya. Berhubung dia sudah menikah dan punya anak, saya memanggilnya ‘Mbak’.

“Oh,sudah,dong.Ini tentang tafsir ramalan Jayabaya,” ujarnya. Jayabaya merupakan karya sastra yang dikagumi banyak orang, terutama orang Jawa. Bahkan beberapa pecinta sastra dari negera Belanda juga pernah datang ke Indonesia. Mereka mensejajarkan Jayabaya dengan Nostra Damus atau Michel de Nostredame, merupakan pengarang ramalan ternama di dunia. Nostradamus terkenal dengan hasil karyanya berjudul Les Propheties yang terbit untuk pertama kalinya pada tahun 1555.

“Selama ini ada pendapat-pendapat yang ngawur tentang Jayabaya. Ada yang mengatakan Jayabaya itu paranormal,dukun,klenik,mistik atau dapat bisikan setan yang mencuri informasi dari malaikat,” Mbak Retha memulai bicara tentang Jayabaya.

“Hahaha,iya,Mbak.Mereka kan belum baca naskah Jayabaya.Mereka adalah orang-orang yang tidak faham ilmu sastra dan psikologi.Jadi,ya dimaklumi saja,” komentar saya sambil tertawa.

“Betul.Jayabaya memang seorang sastrawan atau pujangga. Beliau juga raja dari Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga.Asal Usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabayalah yg membuat Ramalan-ramalan tersebut,” Mbak Retha membaca sebagian dari isi buku itu.

“Bagaimana ramalan Jayabaya tentang presiden-presiden Indonesia? Tentang Notonagoro?”

“Oh,itu.Banyak orang salah menyebut. Ada yang menyebut notonogoro dan ada yang menyebut notonegoro.Padahal yang betul notonagoro.Sebetulnya secara eksplisit kata notonagoro tidak ada di dalam ramalan Jayabaya. Istilah notonagoro merupakan hasil sastra dari sang Pujangga Raden Ngabehi Ronggowarsito dari Kraton Surakarta, dimana konsep tersebut hasil dari penenungan beliau setelah menafsirkan jangka Jayabaya.Jadi, sumbernya memang dari ramalan Jayabaya”

“Mbak Retha percaya dengan konsep notonagoro itu?

“Percaya.Dikatakan,Indonesia akan dipimpin oleh lima presiden dengan nama akhir No-to dan Na-go-ro.No,nama akhir dari Soekarno dan To adalah nama akhir Soeharto”

“Bagaimana dengan BJ Habibie,Abdurahman Wahid dan Megawati?”

“Ketiga mantan presiden itu nama akhirnya bukan Na-go-ro, jadi dia tidak mungkin menjadi presiden 10 tahun. Sedangkan Soekarno dan Soeharto lebih dari 10 tahun.

“Bagaimana dengan Soesilo Bambang Yudhoyono?”

“Hahaha…Sebetulnya di dalam ramalan Jayabaya atau Ronggowarsito tidak menyebut nama-nama secara jelas.Hanya merupakan syarat-syarat. Soesilo Bambang Yudhoyono nama akhirnya ‘no’. Tidak sesuai dengan Na-go-ro. Jadi, beliau menjadi presiden tidak sampai 10 tahun”

“Maksudnya, tidak sampai 2012?”

“Begitulah.”. Begitu uraian dari Mbak Retha. Sebenarnya, sebagai mahasiswa fakultas sastra saya juga pernah membaca dan mempelajari ramalan Jayabaya maupun ramalan Ronggowarsito. Semua ramalannya sudah terbukti.Antara lain berbunyi “Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran — Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda (mobil),Tanah Jawa kalungan wesi — Pulau Jawa berkalung besi (rel kereta api),

Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang — Perahu berjalan di angkasa (pesawat terbang).Semuanya sudah terbukti. Itu berarti ramalan Jayabaya berlaku saat Indonesia memiliki mobil,kereta api dan pesawat terbang.Jadi, sejak zaman Belanda menjajah Indonesia.

“Kalau menurut buku-buku lain yang saya baca, ramalan Na-goro itu relevan untuk kita diskusikan,” ujar saya.

“Bagaimana menurut pendapat Harry?” Mbak Retha ingin tahu.Saat itu, mahasiswa Jurusan Bahasa Perancis memang dapat tugas membuat tugas tentang ramalan Jayabaya dan harus diterjemahkan dalam bahasa Perancis. Termasuk tafsir dari masing-masing mahasiswa.

“Kalau menurut saya, siapapun yang jadi presiden yang nama akhirnya bukan no-to-na-goro, akan menjadi presiden kurang dari 10 tahun,”

“Berarti SBY 10 tahun karena nama akhirnya ‘no’?

“Jangan lupa,Mbak.ramalan Jayabaya adalah no-to-na-go-ro.Bukan no-to-no-go-ro dan bukan no-to-ne-go-ro”

“Oh,ya saya setuju.Jadi?”

“Jadi,nama akhir SBY bukan ‘na’. Artinya SBY tidak sampai 10 tahun berkuasa”

“Argumentasi lainnya apa?”

“Jayabaya meramalkan nanti ada “revolusi tikus pithi.”

“Apa itu?”

“Menurut tafsir ramalan Jayabaya,yang dimaksud tikus pithi atau  ‘tikus pithi anata baris’ secara langsung diartikan sebagai tikus kecil yang sedang merapikan barisan. Oleh Sujiwo Tejo dimaknai sebagai adanya usaha dari kelompok masyarakat yang menggalang kekuatan untuk memberontak. Peringatan akan adanya pemberontakan rakyat tersebut telah disampaikan beratus tahun yang lalu oleh Jayabaya ,raja Kediri pada abad ke XII dalam Jangka Jayabaya.” saya menerangkan ke Mbak retha.

“Lantas,apa yang terjadi?”

“Berdasarkan fakta-fakta yang ada sekarang ini, maka saya prediksikan nanti pada 2012 akan terjadi era multikrisis. Krisis polititik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan yang sifatnya secara nasional. Bahkan terjadi krisis akhklak moral dan kesewenang-wenangan.Juga,terjadi berbagai bencana dahsyat. Pemerintahan SBY akan semakin represif. Saat itulah muncul ‘revolusi tikus pithi’ yang menyebabkan lengsernya SBY”

“Kira-kira benar tidak prediksi itu?”

“Prediksi bukanlah ilmu matematika, tetapi bicara tentang probabilitas. Jadi, bisa benar dan bisa tidak benar” saya menjelaskan.

“Setuju.Benar tidaknya sebuah prediksi terletak pada pembuktiannya”

“Mari kita tunggu 2012”

“Oke!” sahut Mbak Retha yang cantik dan seksi itu.

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

CERPEN: Bukit Cangkuang 30 Tahun yang Lalu

SAYA lupa di mana letak Bukit Cangkuang. Yang pasti dari Bogor ke Selatan. Yang pasti bukit itu punya nilai sendiri bagi saya. Walaupun itu sudah 30 tahun yang lalu, saya ternyata belum lupa.

“Minum, Mas Harry” seorang mahasiswi baru, adik kelas menawarkan teh botol ke saya. Sayapun menerima teh botol dan meminumnya beberapa teguk. Nikmat rasanya. Tidak dingin sebab udara di bukit sudah dingin. Angin memang berembus sejuk.

Sat itu ada sekitar 300 mahasiswa lama dan baru sedang berkemah di bukit itu. Penyelenggaranya mahasiswa baru. Saya dan teman-teman seangkatan, diundang untuk ikut berpartisipasi di acara tersebut. Intinya, supaya mahasiswa lama dan baru bisa saling berkenalan. Tampak mereka sibuk mendirikan tenda. Meriah sekali acaranya.

O ya, mahasiswi tadi namanya Widya Astari. Terus terang saya naksir. Cewek Padang ini memang boleh juga. Murah senyum, enak diajak bicara dan cukup gaul. Cantik dan moderen. Sudah sering sih saya ajak makan bersama di Kentucky, American Hamburger dan beberap resto lain. Tapi anehnya, saya tak pernah mempunyai keberanian untuk mengatakan cinta kepadanya.

Sesudah ngobrol-ngobrol sebentar dengan Widya, teman-teman saya mengajak berkeliling di bukit itu. Melihat sungai kecil yang jernih airnya dan cukup deras arusnya. Bahkan kami sempat cuci kaki di air sungai yang dingin itu. Melihat pepohonan yang rindang. Melihat pemandangan yang indah dan alami.

Masa mahasiswa memang masa yang paling menyenangkan.

“Naksir, Widya ya?” Rudy bertanya. Saya cuma tertawa saja. Saya dan Rudy memang bersahabat baik dan sering becanda dan juga saling meledek. Semua teman-teman saya memang baik-baik.

Kalau saya pikir-pikir, Widya memang boleh juga. Cantik, rambut pendek, mudah bergaul dan hampir semua mahasiswa di kampus mengenalnya. Bahkan sayapun sudah sering ke rumahnya. Sambutannya baik-baik saja. Tidak ada masalah apapun.

Tapi ada hal yang tak pernah saya pahami, kenapa ada rasa ragu-ragu pada diri saya. Lebih tepat, saya tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan cinta. Akibatnya, saya juga tidak tahu apakah Widya mencintai saya atau tidak. Walaupun saya dan Widya sering ke resto, tapi itu belum merupakan jaminan. Bisa saja dia menganggap itu sebagai persahabatan saja.

Apakah saya takut ditolak? Tidak juga. Saya sudah terbiasa mengambil keputusan sendiri tanpa takut menerima resikonya. Apalagi, di kampus saya banyak mahasiswi cantik. Jadi, tak ada alasan yang kuat kalau saya dikatakan takut.

Tanpa terasa, saya telah lulus dari kampus itu dan saya bekerja di PLN Pusat, Jl. Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mungkin, karena saya sibuk bekerja, kerja lembur atau tugas ke berbagai daerah, maka saya tak sempat berkomunikasi dengan Widya. Apalagi, 30 tahun yang lalu belum ada handphone.

Lucunya, walaupun 25 tahun kemudian ada reuni di Jakarta dan saya bertemu dengan Widya, namun saya tak bertanya apa-apa. Sebab, saya yakin Widya sudah menikah dan punya beberapa anak yang sudah besar. Rasa-rasanya saya malu kalau saya menanyakan masalah keluarga. Lucunya, Widyapun tak bertanya apakah saya sudah berumah tangga atau belum.

Nah, menjelang pemilu 2009, Wawan kirim SMS ngobrol-ngobrol soal politik. Karena Wawan teman baik Widya, saya iseng-iseng bertanya tentang siapa saja. Lantas Wawan bercerita tentang Taufan, Ibnu, Wiwik dan belakangan tentang Widya.

“Widya kan sampai sekarang masih belum menikah, Mas”. Ucapan Wawan ini membuat saya terkejut. Semula saya tak percaya. Namun akhirnya saya percaya juga. Apalagi, Wiwik juga kirim SMS dan mengiyakan kalau Widya masih sendiri.

Masih sendiri? Mengherankan, sebab Widya termasuk cantik. Ada apa ini? Itu berarti, pada 2009 Widya telah berusia 48 tahun. Wawan dan Wiwik juga tak kalah terkejutnya ketika tahu pada usia 57 tahun saya juga belum menikah.

“Wah! Kenapa nggak 30 tahun yang lalu berpacaran dengan Widya, Mas? Sekarang, segera dilamar saja, Mas!” Begitu tulis Wawan lewat SMS.

Kehidupan manusia memang kadang-kadang aneh dan sulit dimengerti. Tapi, itulah fakta. Saya tak bisa berbuat apa-apa. Walaupun Widya kini telah berusia 48 tahun dan saya berusia 57 tahun, kalau Widya mau saya lamar, ya tidak apa-apalah menikah di usia tua. Tidak punya anak tidak masalah.

Masalahnya adalah, kalau saya kirim SMS ke Widya, tak pernah dibalas. Kalau saya ke rumahnya, Widya tak pernah mau keluar. Lgi-lagi, ad tanda tanya besar di benak saya. Ada apa sebenarnya dengan Widya yang masih cantik itu? Saya sudah menanyakan hal itu ke Wawan maupun Wiwik, namun sampai hari ini saya tak pernah mendapatkan jawaban yang pasti. Semua salah saya, yaitu saya punya sikap ragu-ragu.

Yang pasti, saya masih punya foto kenang-kenangan indah di Bukit Cangkuang. Tigapuluh tahun yang lalu.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN JONEGOROAN : That’s The Way Ahak Ahak…!!!

BOJONEGORO.Zamane asu gak enak, aku isih sekolah neng bangku SMPN 2 Jonegoro. Aku naksir koncoku sing uayu banget tur semok. Jian nggemesi banget. Deweke njungok neng krosi paling ngarep, lha aku njungok neng krosi paling mbuncit. Ayune pancen ngedap-edapi tenan.Kulite putih,irungi mbangir,matane plerak-plerok koyo sentir kanginan, jungkatane rapi.Jenenge Merpatiwati.

Minggu isuk aku merdayoh neng ngomahe neng ndeso Bobolan. Iyo, dewekne wong ndeso tapi ayune kutho.Lagek bae aku arep ngomong ‘kulonuwun’,ndadak mak bedunduk deweke njedul neng ngarep lawang.

“Wah, gawe aku njondil,bae,” celathuku..

“Oh, Harry.Ayo,yayak ndikik,” jarene karo ngongkon aku njungok ndikik neng korsi penjalin sing wis moblong-moblong.Maklum, anake wong mlarat arat-arat. Sak teruse aku jangongan ngalor ngidul ngetan bali ngulon.

Terus terang aku kasmaran lan kedanan banget karo dewekne.Soal  dewekne anake kere ra popo.Sing penting ayu kileng-kileng.

“Ono acara po ra?” takonku rodo ndredeg rodo wel-welan.Soale aku durung tau yhang yhangan utowo sir-siran.

“Ra ono ki.Arep ngejak mlaku-mlaku,to,” dewekne malah nantang. Akhire aku ngajak dewekne mbonceng neng sepedha onthelku nyang padusan Dander.

Mak byuuur…aku karo dewekne bluron rame-rame. Senenge ora ilok. Lha wong iku ‘cinta pertamaku’,je! Rasane endah banget dino iku. Mari bluron aku karo dewekne ganti klambi sing apik. Terus njupuk Kodak. Aku lan dewekne potrek-potrekan nganggo gaya sing isih ndesit banget.Lha piye, zaman semono awakku pancen isih ndesit banget.

We, lhadalah.Jebule aku nduwe saingan. Koncoko sak kelasku jenenge Bambang Klowor yo naksir dewekne.Yo ra popo. Saingan yo saingan ning sing waras-waras ae.Ojo urikan utowo srekalan. Tapi aku yakin menang lha wong Bambang Klowor rupane ronggot.Nggak mbejaji babar blas.Rai gedeg. Nek aku nggantheng koyo Leonardo DiCaprio.Ehem…ngalem awake dewe.

Liyo dino aku ketemu Bambang Klowor neng koplakan bis cedake nJethak.Pas dewekne arep lungo neng Kalitidu nunggang bis Robur. Terus ngomong-ngomong ndikik.

“Har,Kowe sir-siran karo Merpatiwati,yo?”

“Lho,iyo.Keno opo kon takon-takon ngono?” aku rodo nggumun ngrongokke omongane singp athing pecotot iku.

“Tak ndari,yo.Tapi Harry ojo purik.”

“Ngomongo”

“Tak ndari,neng ojo ngomong sopo-sopo. Merpatiwati iku wis ora perawan maneh.Wis jebol,Harry!,” ngono jarene.

“Tenan,to?”

“Sumpah! Ciker! Samber bledek,Har.Nanging kowe jo crito sopo-sopo,” mari ngucap ngono,dewekne langsung mlebu bis lan bise langsung budal ninggalno koplakan.

Aku thenguk-thenguk setengah ndlahom. Aku kok yo percoyo. Mulai dino iku aku ra nggubris Merpatiwati maneh. Sebel! Ayu-ayu kok wis jebol. Aku wis janji ninggalnod ewekne.Nggo opo nduwe sir-siran ayu tapi statuse wis bekakas.

“Harry,kok saiki ra tau dolan neng ngomahku,to?” takone wektu mulih sekolah.

“Wegah!”aku njawab rodo kesel. Bar-barane yo bubar tenan. Aku karo dewekne wis putung.Ra sir-siran maneh. Malahan, bar-barane aku malah gawok. Lha,kok dewekne nek ketemu aku langsung ngidu.Ono opo iki? Tapi aku ra takok.Gae opo.

Lha, sak sasi sak wise. Aku ndelok Merpatiwati runtang-runtung karo Bambang Klower.Nek mulih diterno nganggo sepeda onthel.Malah,nggoncenge mesra banget. Bar-barane aku ngerti nek sir-siranku dibajak karo Bambang Klowor.Wah,diamput banget cah sicok iki.

Mergo curigo, akhire aku nganakno penyelidikan.Takon konco-konco keno opo kok sikape Merpatiwati jijik ndelok aku. Lan keno opo kok dewekne ujug-ujug pacaran karo Bambang Klowor sing rupane ronggot kuwi.

Akhire rahasiane kebukak. Nyatane, Bambang Klowor mitnah aku. Carane,ngomong nek Merpatiwati wis ora perawan.Wis jebol mowol-mowol. Terus, dekne yo ngomong karo Merpatiwati nek aku cah lanang gak nggenah. Senengane karo cah wedok nakal alias lonte.

“Ooo,ngono to carane? That’s the way ahak ahak…” anggitku karo misuh-misuh.

Iku lho,pengalamanku naliko isih njungok neng SMP 2 Bojonegoro. Pengalaman sing ora uenak nanging ora iso tak lalekno.Gara-gara putung ati,sekolahku dadi mblangkrah.

“Bambang Klowor pancen matane picek!,” aku mung iso misuh bae.

Sumberfoto: http://duniamascha.wordpress.com

HariyantoImadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Doa Seorang Pengemis Tua

SEPERTI biasa, untuk menuju WTC Mall saya pasti menggunakan fasilitas jembatan penyeberangan umum (JPU) di depan mal tersebut. Seperti biasa pula saya selalu melihat ada pengemis laki-laki dan tua duduk bersimpuh sambil menadahkan topinya menunggu ada orang memasukkan uang ke topinya.

Jarak saya dengan pengemis tua itu masih sekitar sepuluh meter. Saya buka dompet saya mencari pecahan Rp 500. Ternyata tidak ada. Adanya pecahan Rp 1.000. Sambil salan uang itu saya masukkan ke topi pengemis itu. Ternyata dia tahu nilai uang yang saya masukkan.

“Alhamdullillah! Semoga orang yang memberikan uang ini rezekinya dilancarkan Allah swt.” Ujar pengemis itu yang kemudian dia membacakan sebuah ayat Al Qur’an. Saya berhenti sejenak. Baru sekali ini saya melihat ada seorang pengemis seperti itu. Saya terharu. Saya kembali mendekati pengemis itu dan memasukkan satu lembar pecahan Rp 5.000.

“Oh, Tuhan. Ternyata masih ada orang yang peduli dengan nasib orang miskin.Terima kasih, Mas” Ujar pengemis tua itu. Diapun lagi-lagi mendoakan semoga saya sukses.

Setelah itu sayapun menuju ke WTC Mall. Namun pikiran saya masih terpusat ke pengemis tua itu. Kenapa, Indonesia sudah 64 tahun merdeka kok masih ada pengemis? Kalau di katakan angka kemiskinan turun, kenapa jumlah pengemis di Jakarta justru bertambah?

Kalau dikatakan perekonomian Indonesia baik, kenapa tak ada pengaruhnya terhadap kehidupan para pengemis? Kalau pemerintah memberikan pelayanan yang baik terhadap kapitalis-kapitalis asing untuk mendirikan berbagai macam perusahaan di Indonesia, kenapa tak ada dampaknya terhadap para pengemis? Kenapa semua kebijakan-kebijakan ekonomi tak pernah mampu menghilangkan pengemis? Justru, tiap tahun jumlah pengemis di Indonesia bertambah.

Paling tidak, seminggu sekali saya ke WTC Mall dan melewati JPU itu. Dan pengemis tua itu tetap ada di situ. Bahkan tanpa terasa, dua tahun sudah saya melewati JPU itu, namun pengemis tua itu tetap jadi pengemis tua.

Benarkah para pengemis tua itu adalah orang-orang yang malas bekerja? Karena saya penasaran, suatu saat saya menyempatkan diri berbincang-bincang dengan pengemis tua itu. Untung JPU itu beratap, sehingga tidak terasa panas.

“Maaf,Pak. Kenapa bapak kok tidak bekerja saja?” saya mulai pembicaraan. Ternyata pengemis tua itu cukup tanggap dan cukup komunikatif.

“Bekerja? Saya sudah mencari kerja di mana-mana. Melamara jadi tukang sampah, ditolak. Ingin jadi tukang kebun, ditolak. Sudah ratusan kali saya cari kerja, Mas,tetapi ditolak. Padahal saya harus makan”

“Memangnya bapak dari desa mana?”

“Dari Karawang”

“Tidak punya sawah,Pak?”

“Tidak.Rumahpun cuma gubug reyot. Cari kerja sulit.Apalagi saya ini orang bodoh.Tidak pernah sekolah.Tidak bisa baca tulis.Tidak punya keahlian”

“Pernah kena razia?”

“Pernah. Tapi tidak ada manfaatnya. Saya Cuma dapat ceramah-ceramah saja”

“Lantas apa yang bapak ingin kepada pemerintah?”

“Saya maunya pemerintah memberikan modal keterampilan bagi orang miskin supaya bisa hidup mandiri”

“Misalnya apa,Pak”

“Misalnya, ketrampilan menyablon, menjahit, servis sepeda atau sepeda motor dan ketrampilan lain yang benar-benar bisa menghasilkan uang”

“Pemilu kemarin ikut,Pak?

“Ha ha ha…saya tidak punya KTP dan tidak terdaftar di DPT. Orang miskin disuruh mengurus KTP yang biayanya mahal itu, ya nggak mungkin. Seharusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan KTP gratis bagi warga miskin seperti saya ini”

Cukup banyak yang saya tanyakan. Jawaban pengemis tua itu memang ada benarnya. Seharusnya pemerintah lebih peka terhadap mereka. Seharusnya ada anggaran di APBN untuk memberikan keterampilan kepada masyarakat miskin pada umumnya dan kepada para pengemis pada khususnya. Selama iuni yang dilakukan pemda yaitu, merazia para pengemis, kemudian diberi ceramah. Kemudian dibuang ke daerah atau kota lain.

Saya berdiri. Kemudian saya masukkan selembar pecahan Rp 100.000 di topinya. Kemudian melanjtkan perjalanan ke WTC Mall.

“Alhamdulillah. Semoga rezeki sampeyan lancar”. Ujar pengemis itu kemudian dilanjutkan dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an.

Sumber foto: kaskus.us

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Kiamat Dunia 2012 Masihkah Saya Hidup?

SAYA sejak di bangku SMP suka membaca buku-buku apa saja. Mulai psikologi, ekonomi, hukum, filsafat, agama, astronomi, metafisika dan lain-lain. Di garasi mobil yang kosong, saya punya delapan lemari yang berisi buku-buku.Teman-teman saya SMP Negeri II Bojonegoro tentu tahu, kalau apa yang saya tulis ini benar.

Pada 2010 yang lalu saya tertarik membaca beberapa prediksi tentang Kiamat Dunia 2012 sebagai berikut.

1.Prediksi   Nostradamus : A big object heading to our planet, it will reach by 2012 but it wont hit us

2.Kemudian prediksi  Albert Einstein : Be careful about Pole Shift to the earth that can suffer people alot during 2012.

3.Lantas prediksi  Suku Maya: Meramalkan kehidupan manusia dimulai …dari 0….0.0.0.0 yaitu pada 11 Agustus 3114 SM sampai berakhir pada 13.0.0.0.0 yaitu 21 Desember 2012.

4.Juga,  Mama Lauren pernah meramal, pada tahun 2012 nanti jumlah penduduk di Indonesia tinggal 40%. Dia menjelaskan, pada tahun itu sebuah bencana besar akan melanda Bumi secara Global, mungkin setiap negara nantinya hanya akan menyisakan 30-40% kehidupan.

5.Kemudian beberapa  Biksu di Tibet. Mereka mengatakan pada awal tahun 2012 merupakan tahun paling mendebarkan bagi umat manusia, dimana banyak fenomena aneh yang terjadi. Namun pada penutupnya, Biksu mengatakan Bumi akan terselamatkan oleh sebuah kekuatan besar yang melindungi mereka secara kasat mata, sehingga memungkinkan peradaban manusia tidaklah sepenuhnya musnah.

Sekarang, 21 Desember 2012. Saat itu Hari Jum’at. Seperti biasa pagi-pagi saya dan klub sepeda lainnya bersepeda di sekitar Jl.MH Thamrin menuju Monas. Saya menggunakan sepeda lipat mini.

Tiba-tiba keanehan terjadi. Langit yang semula cerah, mendadak berubah menjadi gelap. Anehnya, tidak ada angin.

“Lihat ke langit! Lihat ke langit!” Orang-orang berteriak sambil melihat ke atas. Sungguh menakutkan. Mungkin ada jutaan meteor sedang meluncur ke bumi. Beberapa di antaranya mengenai Hotel Mandarin dan langsung menghancurkan hotel itu rata dengan tanah. Ledakannya luar biasa. Sayapun terpental sekitar 12 meter.

Kepanikanpun terjadi. Orang berlari ke mana saja. Saya tinggalkan sepeda saya yang remuk. Saya berlari ke Utara. Semua gedung bertingkat bergoyang. Semua kacanya pecah. Lampu PLN padam. Tak ada penerangan listrik. Gelap pekat. Hanya sinar-sinar meteor yang jatuh yang memberikan cahaya.

“Oh Tuhan! Ampuni saya!” Saya berteriak histeris. Saya coba hubungi saudara saya lewat HP. Tidak ada sinyal.Saya terus berlari. Saya lihat satu meteor lagi menghantam gedung Bank Indonesia.Meledak,terbakar dan rata dengan tanah.

“Ya,Tuhan,” sambil berlari saya terus membaca Surat Al Fatihah.

Terus berlari menuju Monas. Ratusan orangpun berbuat sama.Mencari tanah lapang yang relatif kosong tak ada bangunan. Nafas saya terengah-engah. Suara hiruk pikuk cukup memekakkan telinga. Mobil digas cepat-cepat. Mungkin ingin segera pulang ke rumah.

Akhirnya saya dan ribuan orang lainnya sampai di Monas.

“Oh,Tuhan.Ampuni semua dosa saya!” Saya takut sekali.Hanya bisa meneteskan air mata.Sedih.Jauh dari saudara.

Tiba-tiba saja terjadi gempa bumi. Saya ingat, Jayabaya pernah meramalkan pada 2012 Pulau Jawa Selatan akan terjadi gempa dahsyat. Bahkan saya yakin, Jawa Barat telah terbelah dan berpisah dengan Jawa Tengah.

Di langit masih terus berjatuhan meteor dan salah satunya menghantam stasiun Gambir.Meledak dahsyat.Hancur. Saya tutup muka saya dengan kedua belah telapak tangan saya.

“Oh Tuhan! Selamatkanlah nyawa saya!” Saya berharap. Lapangan Monas semakin lama penuh sesak. Dan kepanikan semakin menjadi-jadi ketika tanah yang kami injak tiba-tiba bergerak, retak sekitar lima sentimeter.

Haruskah saya takut menghadapi kematian? Kalau kematian memang takdir, kenapa saya harus takut? Nyatanya, ketakutan merupakan hal yang sangat manusiawi.

Lagi, sebuah meteor kecil jatuh tepat di tugu Monas.Meledak.Keluar percikan api dahsyat. Monaspun rubuh. Banyak orang terluka. Bahkan mungkin sekitar 100 orang tewas seketika.

Segera meredakah bencana? Tidak! Tiba-tiba bumi terasa berputar arah. Saya tidak tahu lagi mana Utara,Selatan,Timur atau Barat. Kemudian diikuti angin puting beliung dengan warna hitam yang menakutkan. Tidak cuma satu, tetapi ada sekitar 20 angin puting beliung. Satu di antaranya melewati lapangan Monas, mengangkat puluhan orang,kemudian dicampakkan ke tanah.Mati.

Muncul lagi bencana lain. Suhu udara tiba-tiba menjadi dingin,dingin dan luar biasa dngin. Saya dan semua orang mulai menggigil.

“Ya,Tuhan.Nyawaku adalah milikmu. Kalau Kau mau mengambil nyawaku sekarang.Saya pasrah.” Saya mulai pasrah.Pasrah dan pasrah.Tidak ada pilihan lain. Saya tidak tahu bagaimana nasib saudara-saudara saya. Merekapun pasti tak tahu saya di mana.

Sekitar lima jam kemudian suasana agak mereda. Tak ada transportasi. Saya duduk kelelahan. Ingin pulang ke Tangerang, tak ada bus.Tak ada ojek.Tak ada mobil yang berani lewat karena takut dirampas orang-orang.

Perut lapar.Haus.Walaupun ada uang, tapi tidak ada orang jualan.Perih perut rasanya. Selangkah demi selangkah saya pulang ke Tangerang berjalan kaki.Dua hari saya baru sampai di rumah.

Rumah saya dan tetangga berantakan.Bahkan rumah-rumah se-Indonesiapun berantakan. Meja,kursi,lemari,komputer jungkir balik.

Saya beruntung masih menyimpan beras satu karung. Memang saya persiapkan untuk mengantisipasi bencana. Celakanya, air PAM macet.Listrik padam.Tak ada gas elpiji.Terpaksa saya memasak nasi memakai air mineral yang memang sudah saya persiapkan untuk mengantisipasi bencana itu.Ada lima galon air mineral. Di luar, saya menanak nasi memakai kayu bakar. Istri dan anak-anak, saya tidak tahu di mana mereka. Apakah mereka masih hidup ataukah sudah mati, saya tidak tahu.

Ternyata bencana datang lagi. Gempa bumi dahsyat. Tsunami dahsyat. Tangerang yang seumur hidup tak pernah banjir, mendadak banjir besar. Air di rumah saya setinggi satu meter. Saya sempat melihat beberapa mayat terapung terbawa arus air banjir.Beruntung, beras dan air mineral saya letakkan di tempat teratas.

Sejak saat itu bencana terus terjadi tiap hari. Gempa,banjir,longsor,tsunami,meteor jatuh,angin puting beliung,hujan yang sangat ekstrim,suhu yang sangat dingin,listrik padam,badai, awan gelap dan entah apa lagi.

Hari ke duapuluh, beras habis, air mineral habis. Tak ada toko buka. Saya lapar dan haus. Tetangga saya banyak yang mati kelaparan.

“Lihat ke atas!Lihat ke langit” Teriak orang-orang. Sayapun melihat ke langit. Saya ingat, itulah UFO (Unidentified Flyng Object) milik mahluk angkasa luar yang cerdas. Ada ribuan pesawat UFO dengan kecepatan tinggi mendekati bumi. Pesawat mereka memancarkan cahaya terang benderang.

Tepat di atas kompleks perumahan saya, satu UFO berhenti sekitar 100 meter dari atas tanah. Bentuknya bulat. Dari bagian bawah tengah, tiba-tiba terbuka pintu. Dan ada satu lantai lingkaran turun ke bawah. Di atas lantai ada lima mahluk luar angkasa.

“Jangan takut! Saya anak cucu Nabi Sulaiman! Dulu Nabi Sulaiman pernah ke bumi kami naik Bouraq.Kami akan menyelamatkan kalian! Jangan takut” Teriak mereka.

Saya dan tetanggapun berebut untuk naik ke tangga UFO itu.Tak lama kemudian saya dan sekitar 100 mahluk bumi sudah di dalam ruangan pesawat UFO.Kamipun diberi makan dan minum.Entah apa namanya.Rasanya aneh,tetapi nikmat.

Dan pesawat segera melesat ke angkasa dengan kecepatan cahaya.

Dari pesawat, saya melihat 60% bumi sudah hancur,porak poranda dan gelap gulita. Menurut penjelasan mahluk luar angkasa yang menguasai berbagai bahasa mengatakan, sekitar 60% mahluk bumi telah tewas. Mereka yang dulu tak percaya kiamat 2012-pun saya lihat tewas.Mereka yang hiduppun sengsara.

Saya selamat.Entah saudara-saudara saya.Entah istri dan anak-anak.

Saya bersyukur dan menangis di dalam pesawat yang membawa saya ke planet lain.

Sumber foto/gambar: fadhilza.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Tunggulah Aku di Gg.Jiken

BOJONEGORO,1970. Waktu itu saya resmi keluar dari SMAN 1. Dulu namanya SMA Negara.Rencananya pindah ke SMAN 4 Surabaya. Entah kenapa, saya kok tertarik mendaftar di Sekolah Menengah Atas Katholik atau SMAK, Jl. Untung Suropati.

Hari pertama saya masuk, saya satu kelas dengan Mulyoso, teman sejak SMPN 2. Juga, sekelas dengan Siti Subandiyah, lulusan SMP Nuswantara yang beberapa tahun yang lalu sudah bubar. Satu kelas, yang beragama Islam cuma saya dan Siti. Hari pertama, jam pertama, pelajaranpun dimulai. Semua siswa asyik mendengarkan guru dan sesekali mencatat di buku.

Tiba-tiba, mata saya melihat sesosok cewek. Cantik, rambut pendek, bulu matanya lentik. Mirip Yuni Shara di zaman sekarang.

“Sit,cewek itu namanya siapa?,” saya bisik-bisik ke Siti yang kebetulan duduk sebelah saya. Sayapun menunjuk ke cewek yang saya maksud.

“Oh,iitu? Namanya Chelsea.Chelsea Vitriani,” jawab Siti pelan.”Naksir,ya?” tanya Siti. Saya mengangguk.

Jam istirahat, saya ikuti Chelsea yang sedang menuju ke kantin. Saya duduk tak jauh dari dia. Saya sapa. Eh, ternyata ramah sekali. Saya dan Chelseapun mengobrol ngalor ngidul sambil makan pisang goreng.

“Oh,Chelsea dari Malang? Di jalan apa?” saya baru tahu kalau dia dari Malang.

“Jalan Kepundung,” singkat jawabnya.

“Terus, di Bojonegoro tinggal di mana?”

“Di Jl.Diponegoro,” katanya ramah. Ternyata Chelsea enak diajak bicara. Dan ternyata di kantin itu bukan saya saja yang ingin kenal Chelsea. Ada juga cowok-cowok kelas lain juga nimbrung bertanya atau ngobrol. Dan Chelsea tetap bersikap ramah kepada siapa saja.

Karena Chelsea satu kelas dengan saya, maka tiap hari saya selalu melakukan pendekatan. Siti dan Mulyosopun memberikan support. Dan Chelsea sikapnya tetap seperti hari pertama.Ramah.Murah senyum.Tak ada kesan sombong sedikitpun.

Seminggu kemudian,saat bel terakhir berbunyi, maka saya mengikuti Chelsea ke tempat parkir sepeda. Maklum, zaman dulu belum ada siswa yang membawa motor. Sayapun membawa sepeda. Padahal, rumah saya dekat, yaitu di Gang Netral, Sumbang.

Sayapun pulang bersama Chelsea.Bersepeda bersama.Menyusuri Jl.Diponegoro. Namun di tengah perjalanan Chelsea berhenti.

“Harry, tolong,ya. Jangan ikuti saya sampai ke rumah,”ujarnya.

“Kenapa?” saya ingin tahu.

“Ibuku galak sekali. Saya tidak boleh mengajak teman cowok ke rumah. Maaf,ya? Tolong deh, Harry jangan ikuti saya…” pintanya.

“Oke,deh. Besok ketemu di sekolah saja,” saya menjawab. Saya putar balik sepeda. Langsung pulang menuju Gg.Netral.

Oh, masa remaja. Saya benar-benar mulai jatuh cinta ke Chelsea. Bukan karena kecantikannya saja, tetapi juga keramahtamahannya. Sayang, saya tidak boleh ke rumahnya, sehingga tidak ada acara wakuncar atau wajib kunjung pacar. Malam Minggu tetap di rumah sendiri. Rasanya tidak enak juga, malam Minggu kok tidak ngapel.

Ngapel? Ah, saya ternyata “ge-er”. Lha wong menyatakan cinta ke Chelsea saja belum. Apakah Chelsea pasti mau menerima cinta saya? Juga belum ada kepastian. Wah, sebelum Chelsea jatuh cinta ke cowok lain, maka saya perlu usaha ekstra keras untuk mendapatkan Chelsea. Malam harinyapun saya menulis surat cinta. Namun, berkali-kali surat cinta itu saya robek dan saya buang ke tempat sampah.

“Kok,pakai surat,sih? Kan lebih baik lewat Siti atau lebih baik saya ngomong langsung saja?” begitu kata hati saya. Sudah lima kali menulis surat, selalu saya robek-robek.

Esoknya, pulang sekolah, saya pulang bersama Chelsea lagi. Bersepeda bersama melewati Jl.Diponegoro.Sebelum sampai rumah Chelsea, saya mengajak Chelsea belok sebentar ke Gg.Jiken. Diapun mau.Sepedanyapun dibelokkan ke Gg.Jiken. Kami berduapun turun dari sepeda.

“Ada apa,kok berhenti di Gg.Jiken?” Chelsea ingin tahu.

“Anu,hmmm…saya mau ngomong,nih….” ternyata saya gemetaran menghadapi Chelsea. Mau ngomong salah,nggak ngomong salah. Namun akhirnya saya nekat. Diterima atau ditolak, harus saya hadapi secara jantan. Nah,akhirnya sayapun bilang ke Chelsea, kalau saya sebenarnya menaruh hati.

Chelsea cuma menunduk saja. Tidak ada jawaban.

“Bagaimana?” desak saya.

“Hmmm,saya minta waktu beberapa hari,deh. Saya pikir-pikir,dulu,” jawabnya. Setelah ngobrol sebentar, kamipun berpisah. Pulang ke rumah masing-masing.

Seminggu kemudian, sayapun membuat perjanjian dengan Chelsea. Bertemuu di Gg.Jiken yang tidak jauh dari rumahnya. Kebetulan hari itu hari Minggu. Sayapun mencoba mengajak Chelsea jalan-jalan. Eh, ternyata dia mau. Sejak saat itulah, tiap Minggu pagi saya selalu menunggu Chelsea di Gg.Jiken. Kemudian jalan-jalan ke Kaliketek. Habis, mau ke mana lagi. Objek wisata Dander saat itu jalannya hancur. Demikian juga jalan menuju ke Kahyangan Api ataupun ke Waduk Pacar sangat buruk. Berlubang-lubang. Naik sepedapun tak nyaman. Jadi, ya ke Kaliketek saja.

Sewaktu di Kaliketek, berkali-kali saya mencoba mencium Chelsea, namun selalu ditolak.

“Nggak,ah! Nggak usah gitu-gituan…,” begitu katanya. Meskipun demikian, saya merasakan indahnya hari Minggu itu. Jembatan Kaliketek, merupakan saksi hubungan kami berdua. Sudah berpacarankah? Belum bisa dipastikan. Jangan-jangan Chelsea cuma menganggap saya sebagai teman? Buktinya, tiap kali saya meminta jawaban, Chelsea selalu menolak.

Satu tahun telah berlalu.Akhirnya, sayapun mendapat kepastian dari Chelsea. Dengan kata lain, Chelsea resmi jadi pacar saya. Bukti berupa surat-surat juga ada. Bahkan berciuman sudah bukan hal yang aneh. Semua teman se-SMK juga sudah tahu. Bahkan semua guru dan kepala sekolah juga tahu. Di mana ada Chelsea, di situ ada saya.

Sesudah kenaikan kelas, sayapun pindah ke Surabaya. Sebab, saya tidak betah tinggal di kota Bojonegoro yang sepi. Saya suka tinggal di kota besar. Apalagi, di Surabayapun saya ingin mengambil kursus bahasa Inggeris di lembaga pendidikan yang bonafide. Saya punya cita-cita meneruskan kuliah ke Amerika.

Sayang, saat itu SMAN 4 Surabaya tidak mengakui ijasah saya dari SMAK. Alasannya, SMAN 4 hanya mau menerima pindahan dari sesama SMA Negeri. Terpaksa, saya menggunakan status dari SMAN 1 (SMA Negara) Bojonegoro.Dan sialnya, saya tidak bisa diterima di kelas tiga, melainkan di kelas dua. Apa boleh buat.

Tiap Sabtu saya pulang ke Bojonegoro.Dan tiap Minggu tetap janjian bertemu Chelsea di Gg.Jiken. Kemudian bersepeda keliling kota. Atau, kadang-kadang beli salak di Wedhi atau Kalianyar. Menyenangkan sekali.

Lulus SMA, saya jadi meneruskan studi ke California University, Los Angeles atau UCLA. Sedangkan Chelsea sudah tahun kedua di Fakultas Kedokeran Universitas Airlangga. Hubungan saya dengan Chelsea cuma lewat surat. Maklum, zaman dulu belum ada HP.Belum ada SMS.Belum ada internet.Belum ada Facebook.Masih zaman jadul.

Tahun kedua saya kuliah, saya tak pernah lagi dapat jawaban dari Chelsea. Sudah 10 kali kirim surat, tak ada jawaban. Saya tanya Siti dan Mulyoso lewat surat, mereka juga tak menjawab. Ada apa ini?

Saat liburan semester, sayapun pulang ke Indonesia.Pulang ke Bojonegoro. Saya langsung ke rumah Siti menanyakan soal Chelsea. Pada awalnya Siti mengatakan tidak tahu, karena Siti kuliah di Yogya. Kebetulan liburan semester, dia pulang. Sesudah saya desak, akhirnya Sitipun berkata jujur.

“Jangan marah ya,Harry?,” pinta Siti.

“Emangnya ada apa dengan Chelsea?”

“Chelsea sudah menikah,Harry…”

“Menikah? Dengan siapa…?” Terkejut saya mendengar ucapan itu.

“Dengan Mulyoso. Teman kita sekelas sewaktu kita di SMAK…”

“Mulyoso?” lebih terkejut lagi saya mendengar nama itu. Tak saya sangka, Mulyoso yang merupakan sahabat baik, telah tega merebut Chelsea.

Pelan saya tingggalkan Siti. Dengan naik becak, saya menuju ke Gg.Jiken. Saya terdiam. Tercenung. Teringat kenangan indah beberapa tahun yang lalu. Gg.Jiken…Sampai kapanpun tak akan saya lupakan.

Sumber foto: abiezs.com

Catatan:

Cerita iini merupakan cerita fiktif. Foto sekadar ilustrasi.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Ada Mendung di Atas Telaga Sarangan

TELAGA Sarangan terletak di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Mirip Danau Toba tetapi ukurannya lebih kecil. Ada di atas perbukitan dengan udara sejuk dan airnya dingin sekali. Ada beberapa hotel kecil ditepi telaga.

Saya,Jerry dan Tarry berjaan mengelilingi telaga sambil ngobrol ngalor ngidul. Saat itu kami bertiga masih duduk di bangku SMAN kelas dua di Surabaya. Tanpa saya sadari, saya telah menadi kambing congek mereka berdua. Maklum, Jerry dan Tarry sudah sekitar enam bulan berpacaran. Satu SMAN, tetapi lain kelas.

-“Nah, di sini bagus. Ambil foto,ya Har?”. Ujar Tarry di suatu tempat yang indah dengan latar belakang pohon cemara berdaun lembut. Seperti sebelumnya, Tarry dan Jerry pun berpose.

-“Siap”. Saya siapkan kamera dengan tripod (kaki tiga). Tak lama kemudian mereka terabadikan di dalam kamera. Saya tidak ikut. Hanya satu dua kali kami berfoto bertiga.

Saat itu saya merasakan mereka sedang menaikmati masa-masa indah. Saya bisa merasakannya, soalnya saya juga punya pacar siswa SMAN 5.Namanya Siska.Sayang, dia hari itu sedang sakit sehingga tak bisa menemani saya. Padahal, tiga hari sebelumnya sudah direncanakan secara matang.

Masa SMA memang masa terindah. Mungkin, saat itu adalah masa remaja, masa merasakan cinta pertama dan berlomba menumpuk sejuta kenangan. Foto demi foto telah saya buat. Sesudah saya cetak, maka foto itu saya bagikan ke Jerry dan Tarry untuk kenang-kenangan.

Tapi itu terjadi pada 1971. Sudah lama.Dan pada usia sudah cukup dibilang tua, sayapun berusaha menemui mereka. Mungkin sudah sekitar 38 tahun saya tak pernah bertemu dengan mereka. Tentu, mereka sudah hidup bahagia dengan beberapa anaknya.

Dari Jakarta saya menuju Surabaya dengan menggunakan kereta api. Sesampainya di Kota Buaya itu saya langsung naik taksi menuju kawasan Jl. Bendul Merisi dan berhenti tepat di sebuah rumah. Saya berharap jerry masih tinggal di rumah itu.

-“Pak Jerry ada?”,tanya saya ke seorang gadis remaja yang saya yakin itu anak Jerry. Gadis itu masuk dan tak lama kemudian Jerrypun keluar.

-“Hai…Wah, berapa puluh tahun kita tidak bertemu?” Jerry berteriak kecil kaget campur senang. Kami berpelukan dan kemudian duduk di kursi tamu.

-“Kok, Tarry tidak kelihatan?” Saya ingin tahu. Saya lihat wajah Jerry berubah sedih.

-“Kenapa,Jerry?”. Saya pindah tempat. Duduk dekat Jerry.Menunggu jawaban.

-“Tarry sudah meninggal,Har. Tepatnya pada 1999 karena sakit kanker…”

-“Oh, maaf. Sedih saya mendengarnya”. Saya meminta maaf. Saya menunduk sedih. Terlihat di rak bawah meja ada beberapa album. Intuisi saya mengatakan itu pasti foto kenang-kenangan Jerry dan Tarry.

Benar. Di album itu masih banyak foto saya, Jerry dan Tarry ketika berada di Telaga Sarangan. Selintas kenangan sayapun kembali ke masa lalu. Masa yang indah.

-“Mana istrimu?”.Ganti Jerry bertanya. Sekarang saya yang menunduk sedih.

-“Nasib kita sama,Jerry. Istriku meninggalketika melahirkan anak pertama. Anaknya juga meninggal”

-“Oh, kita senasib”. Jerry memelukku.

Esok harinya saya dan Jerry menuju ke Telaga sarangan naik mobil Jerry. Sesampai di telaga itu kamipun mulai mendaki perbukitan. Sampai di tepi danau, maka saya dan Jerry pun mengunjungi tempat-tempat dulu kami pernah berfoto. Ternyata Telaga Sarangan tidak banyak perubahan. Bahkan nyaris tetap seperti dulu.

Tapi terasa saya meneteskan air mata sedih. Cuma dua butir saja, tetapiitu cukup menjadikan kesedihan saya dan Jerry. Kamipun menerawang masa lalu,masa yang tak mungkin terulang lagi.

Sorenya saya kembali ke Jakarta naik kereta api. Sepanjang perjalanan saya membuka album foto yang memang sengaja saya bawa dari Jakarta sebelumnya. Ada ratusan foto kenangan. Rasa-rasanya, hidup ini seperti mimpi.

Sumber foto: diary-kenzie.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger