CERPEN: Indahnya Cinta Monyet

MINGGU, 1 September 1968. Saya masih duduk di kelas 1 SMPN 2 Bojonegoro. Jangan heran, saya punya pacar, masih kelas 6 SD. Namanya Wandha. Sekecil itu, saya dan Wandha sudah berpacaran.

Pagi pukul 06:00 WIB saya menuju ke pesawat telepon. Jaman dulu telepon masih harus dionthel alias diputar.Krek…krek…krek…Lanttas ada jawaban dari operator yang tanya “Minta nomor berapa?” Saya jawab “Minta nomor 123321”. lalu operator menyambungkan.

“Bagaimana Wandha? Jadi nggak?” tanya saya setelah terdengar suara “Hallo” dari Wandha.

“Jadi dong. Saya baru mau berangkat,nih!” merdu suaranya di telepon. Tak lama kemudian, Wandha telah tiba di rumah saya Jl. Trunojoyo No.4 yang sekarang jadi kantor pajak. Wandha naik sepeda jengki berwarna biru metalik. sayapun sudah siap dengan sepeda laki-laki warna merah metalik.

Saya dan Wandha kemudian mengendarai sepeda onthel menuju ke Kolam Renang Dander. Dulu, jalannya jelek sekali. Belum diaspal. Masih berupa batu-batu. Jadi, kadang-kadang harus lewat jalan tanah pinggir kali.

Jarak Bojonegoro ke Kolam Renang Dander sekitar 14 kilometer atau perlu dua setengah jam perjalanan. Maklum, jalannya hancur lebur. Namun akhirnya sampai juga. Sesudah membeli tiket, sepeda kami sandarkan di sebuah pohon tua. Kedatangana kami disambut kicauan burung-burung. Oh, indah sekali hari itu.

Sesudah ganti pakaian, saya dan Wandha langsung nyebur ke kolam renang. Oh, terasa benar-benar indah hari itu. Kami saling kejar di kolam. Sayang, kaki saya mudah terserang kram. Jadi, sebentar-sebentar harus naik ke tepi kolam. Wandhapun turut naik.

“Yuk, beli jagung rebus…” ajaknya. Saya dan Wandha naik ke atas dan membeli jagung rebus yang masih hangat.

“Gurih rasanya,” komentar saya sambil terus memakan jagung rebus. Kamii duduk di bawah pohon yang rindang dengan masih memakai pakaian renang. Wandha mengenakan pakaian renang full body sedangkan saya memakai celana pendek. Malu kalau pakai pakaian renang. Kamipun sempat foto berdua menggunakan kamera. Dulu mereknya Kodak. Yang memfoto orang lain yang saya minta tolong untuk memfoto kami berdua. Upahnya, saya traktir jagung rebus.

“Sudah siang,nih. Pulang,yuk…” ajak Wandha yang berambut sebahu dan berambut halus itu. Bulu matanya lentik. Hidungnya mancung. Sesudah kami berganti pakaian dan memasukkan pakaian rrenang yang basah dan handuk ke tas, maka kami berduapun menuju sepeda dan menggenjot ke luar meninggalkan halaman kolam renang.

Sekitar 15 menit kemudian, tiba-tiba hujan turun dengan deras sekali.

“Yuk, kita berteduh dulu,” ajak saya sambil menuju ke sebuah gardu di pinggir jalan dekat kali. Saya dan Wandhapun duduk-duduk di gardu yang tidak ada temat duduk itu. Lesehan berdua. Saya duduk berdampingan dengan Wandha.Hujan cukup lama turun. Terasa dingin di tubuh.

Saya lantas ingat buku yang saya baca semalaman. Judulnya “Strategi Mencium Cewek” karangan Drs.Sopowae. Wah, tiba-tiba saya ingin mempraktekkan isi buku itu. Apalagi, seumur hidup saya belum pernah mencium cewek.

Kata buku itu di halaman 75 “Pegang tangannya sambil ajak ngobrol tentang apa saja”. Maka saya pegang tangan kiri Wandha. Ternyata ditolak. Sayapun ingat langkah kedua yang ada di halaman 76.” Coba, pegang lagi beberapa saat lagi sambil ngobrol”. Itupun saya lakukan. Setelah dua kali ditolak, yang ketiga kalinya didiamkan saja.

Terus, kata buku karangan Drs.Sopowae halaman 77 mengatakan “Jika dia diam dan tak menarik tangannya yang kamu pegang, coba rangkul dia sambil mengobrol”. sayapun mempraktekkannya. Ternyata tangan saya ditepis dan diturunkan dari pundaknya. Saya ingat halaman 78 yang mengatakan “Jika ditolak, coba rangkul lagi sambil ngobrol ke sana ke mari”. Sayapun mempraktekkannya. Ditolak lagi sampai empat kali. Dan untuk ke lima kalinya dia diam saja.

Lantas, Drs.Sopowae di halaman 79 mengatakan “Jika diia diam saja. Coba puji dia dengan kata cantik,seksi dan semacamnya”. Sayapun mengatakan Wandha cantik, seksi, cerdas dan seterusnya. Ternyata Wandha tersenyum senang.

Di halaman 80 Drs.Sopowae mengatakan “Jika cewekmu tersenyum senang, berarti sudah ada lampu hijau. Artinya, coba cium pipinya”. Sayapun mempraktekkannya. Saya cium pipi kirinya. Namun apa yang saya alami?

“Apa-apaan,sih?” Wandha marah. bahkan muka saya sempat ditamparnya. Buku Drs.Sopowaepun memberikan solusi di halaman 81“Jika cewekmu marah. Katakan minta maaf. Katakan bahwa itu kamu lakukan karena dia cantik dan kamu sayang sama dia.” Sayapun memraktekkannya. Ternyata dia diam saja. Tidak marah lagi.

Buku itu selanjutnya berkata di halaman 82.”Jika cewekmu sudah tidak marah lagi, maka mintalah izin untuk mencium pipinya. Katakan itu karena dia cantik dan kamu sayang kepadanya”. Sayapun mempraktekkannya.

“Wandha. Hari ini Wandha cantik sekali. Izinkan saya untuk mencium pipi Wandha karena saya sayang sama Wandha yang cantik”. Ternyata dia diam saja. Di halaman 83, Drs.Sopoowae memberikan semangat “Kalau dia diam, langsung saja cium pipinya”. sayapun mencium pipinya.Tubuh saya terasa gemetaran Ternyata dia diam saja. Kemudian di halaman 84 Drs.Sopowae mengatakan “Kalau dia mau dicium pipinya, ucapkan terima kasih kepadanya”. Sayapun mengucapkan terima kasih. Sementara itu hujan deras tetap turun terus.

Puas? Oh, tentu saya tidak puas. Sebagai laki-laki normal saya ingin lebih dari itu. Saya ingin mencium bibirnya yang mungil dan seksi itu. Buku itu di halaman 85 mengatakan “Jika kamu ingin mencium bibirnya. Cium dulu pipinya beberapa kali kemudian cium bibirnya”.

Sayapun melakukannya. Saya cium pipinya beberapa kali dan Wandha diam saja. Namun ketika saya mmencoba menciium pipinya,lagi-lagi muka saya ditampar.

“Apa-apaan,sih? Memangnya saya cewek gampangan?” Wandha marah sekali. Buku itu bertanya “Gagal mencium bibirnya? Don’t worry. Lagi-lagi kamu harus minta maaf. Katakan itu kamu lakukan karena dia cantik dan kamu sayang kepadanya” Itu terdapat di halaman  86.

“Wandha. Maafkan saya. Saya lakukan iitu karena Wandha cantik dan karena saya sayang sekali dengan Wandha. Wandha adalah gadis tercantik di mata saya…”. sayapun meminta maaf sekaligus merayunya. Dia diam saja.

Lantas, di halaman 87 Drs.Sopowae mengatakan “Coba lagi beberapa kali. Jangan takut gagal.Cium bibirnya dengan penuh kasih sayang dan belai rambuutnya”. Sayapun melakukannya. Saya pegang dulu tangan Wandha, kemudian saya rangkul, saya cium pipinya dan kemudian saya cium bibirnya. Mak nyusss….dia diam saja. Sayapun mencium bibirnya berkali-kali. Mata Wandha terpejam.rambutnya saya belai-belai. Dia diam dan tidak ada reaksi apa-apa.

Di halaman 88, buku itu mengatakan “Coba cium lagi dan tarik tangannya supaya memeluk tubuhmu”. tanpa buang waktu, saya cium lagi bibirnya dan tangannya saya tarik supaya memeluk saya. Ternyata ada respon. Wandha memeluk saya. Matanya terpejam. Dia mulai aktif membalas ciuman saya. Nafasnya tersengal-sengal.Oh, indahnya cinta monyet kami yang justru merupakan cinta pertama kami.

Tak seberapa lama kemudian, hujanpun mulai terang. saya dan Wandha menuju sepeda dan mulai bersepeda lagi menuju kota Bojonegoro. Tetap menggunakan jalan tanah di pinggir kali.

Karena habis terkena hujan, jalan pinggir kali licin sekali. Dan di luar dugaan, sepeda saya dan Wandha saling bertabrakan dan kami berdua tercebur masuk ke kali. Untung, kalinya tak begitu dalam. Sepeda saya dan sepeda Wandhapun saya angkat ke atas.

Oh, sepeda Wandha rusak. Kaca lampunya pecah, setangnya bengkok dan boncengannya juga peot. Meskipun demikian, akhirnya sore harinya sampai juga di Kota Bojonegoro.

Esok paginya, Wandha telepon. Gara-gara sepeda rusak, papanya marah. Bahkan akhirnya papanya tahu kalau Wandha berpacaran dengan saya.Papanya marah. Katanya, minggu depan akan dipindah sekolah ke Salatiga, ikut tantenya.

Sesudah itu, saya tak pernah bertemu lagi. Oh,Tuhan. Betapa indahnya cinta monyet kami. Saya tak akan melupakan hari itu. Minggu, 1 September 1968. Saat itu Wandha memakai baju warna ungu muda. Entah kapan kami bisa bertemu lagi, saya tidak tahu. Yang pasti, kami tak akan melupakan cinta pertama kami.Cinta monyet.Cinta yang indah.

Catatan:

Ini cuma cerita fiktif.

Sumber foto:jan33ta.info

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: