CERPEN: Tunggulah Aku di Gg.Jiken

BOJONEGORO,1970. Waktu itu saya resmi keluar dari SMAN 1. Dulu namanya SMA Negara.Rencananya pindah ke SMAN 4 Surabaya. Entah kenapa, saya kok tertarik mendaftar di Sekolah Menengah Atas Katholik atau SMAK, Jl. Untung Suropati.

Hari pertama saya masuk, saya satu kelas dengan Mulyoso, teman sejak SMPN 2. Juga, sekelas dengan Siti Subandiyah, lulusan SMP Nuswantara yang beberapa tahun yang lalu sudah bubar. Satu kelas, yang beragama Islam cuma saya dan Siti. Hari pertama, jam pertama, pelajaranpun dimulai. Semua siswa asyik mendengarkan guru dan sesekali mencatat di buku.

Tiba-tiba, mata saya melihat sesosok cewek. Cantik, rambut pendek, bulu matanya lentik. Mirip Yuni Shara di zaman sekarang.

“Sit,cewek itu namanya siapa?,” saya bisik-bisik ke Siti yang kebetulan duduk sebelah saya. Sayapun menunjuk ke cewek yang saya maksud.

“Oh,iitu? Namanya Chelsea.Chelsea Vitriani,” jawab Siti pelan.”Naksir,ya?” tanya Siti. Saya mengangguk.

Jam istirahat, saya ikuti Chelsea yang sedang menuju ke kantin. Saya duduk tak jauh dari dia. Saya sapa. Eh, ternyata ramah sekali. Saya dan Chelseapun mengobrol ngalor ngidul sambil makan pisang goreng.

“Oh,Chelsea dari Malang? Di jalan apa?” saya baru tahu kalau dia dari Malang.

“Jalan Kepundung,” singkat jawabnya.

“Terus, di Bojonegoro tinggal di mana?”

“Di Jl.Diponegoro,” katanya ramah. Ternyata Chelsea enak diajak bicara. Dan ternyata di kantin itu bukan saya saja yang ingin kenal Chelsea. Ada juga cowok-cowok kelas lain juga nimbrung bertanya atau ngobrol. Dan Chelsea tetap bersikap ramah kepada siapa saja.

Karena Chelsea satu kelas dengan saya, maka tiap hari saya selalu melakukan pendekatan. Siti dan Mulyosopun memberikan support. Dan Chelsea sikapnya tetap seperti hari pertama.Ramah.Murah senyum.Tak ada kesan sombong sedikitpun.

Seminggu kemudian,saat bel terakhir berbunyi, maka saya mengikuti Chelsea ke tempat parkir sepeda. Maklum, zaman dulu belum ada siswa yang membawa motor. Sayapun membawa sepeda. Padahal, rumah saya dekat, yaitu di Gang Netral, Sumbang.

Sayapun pulang bersama Chelsea.Bersepeda bersama.Menyusuri Jl.Diponegoro. Namun di tengah perjalanan Chelsea berhenti.

“Harry, tolong,ya. Jangan ikuti saya sampai ke rumah,”ujarnya.

“Kenapa?” saya ingin tahu.

“Ibuku galak sekali. Saya tidak boleh mengajak teman cowok ke rumah. Maaf,ya? Tolong deh, Harry jangan ikuti saya…” pintanya.

“Oke,deh. Besok ketemu di sekolah saja,” saya menjawab. Saya putar balik sepeda. Langsung pulang menuju Gg.Netral.

Oh, masa remaja. Saya benar-benar mulai jatuh cinta ke Chelsea. Bukan karena kecantikannya saja, tetapi juga keramahtamahannya. Sayang, saya tidak boleh ke rumahnya, sehingga tidak ada acara wakuncar atau wajib kunjung pacar. Malam Minggu tetap di rumah sendiri. Rasanya tidak enak juga, malam Minggu kok tidak ngapel.

Ngapel? Ah, saya ternyata “ge-er”. Lha wong menyatakan cinta ke Chelsea saja belum. Apakah Chelsea pasti mau menerima cinta saya? Juga belum ada kepastian. Wah, sebelum Chelsea jatuh cinta ke cowok lain, maka saya perlu usaha ekstra keras untuk mendapatkan Chelsea. Malam harinyapun saya menulis surat cinta. Namun, berkali-kali surat cinta itu saya robek dan saya buang ke tempat sampah.

“Kok,pakai surat,sih? Kan lebih baik lewat Siti atau lebih baik saya ngomong langsung saja?” begitu kata hati saya. Sudah lima kali menulis surat, selalu saya robek-robek.

Esoknya, pulang sekolah, saya pulang bersama Chelsea lagi. Bersepeda bersama melewati Jl.Diponegoro.Sebelum sampai rumah Chelsea, saya mengajak Chelsea belok sebentar ke Gg.Jiken. Diapun mau.Sepedanyapun dibelokkan ke Gg.Jiken. Kami berduapun turun dari sepeda.

“Ada apa,kok berhenti di Gg.Jiken?” Chelsea ingin tahu.

“Anu,hmmm…saya mau ngomong,nih….” ternyata saya gemetaran menghadapi Chelsea. Mau ngomong salah,nggak ngomong salah. Namun akhirnya saya nekat. Diterima atau ditolak, harus saya hadapi secara jantan. Nah,akhirnya sayapun bilang ke Chelsea, kalau saya sebenarnya menaruh hati.

Chelsea cuma menunduk saja. Tidak ada jawaban.

“Bagaimana?” desak saya.

“Hmmm,saya minta waktu beberapa hari,deh. Saya pikir-pikir,dulu,” jawabnya. Setelah ngobrol sebentar, kamipun berpisah. Pulang ke rumah masing-masing.

Seminggu kemudian, sayapun membuat perjanjian dengan Chelsea. Bertemuu di Gg.Jiken yang tidak jauh dari rumahnya. Kebetulan hari itu hari Minggu. Sayapun mencoba mengajak Chelsea jalan-jalan. Eh, ternyata dia mau. Sejak saat itulah, tiap Minggu pagi saya selalu menunggu Chelsea di Gg.Jiken. Kemudian jalan-jalan ke Kaliketek. Habis, mau ke mana lagi. Objek wisata Dander saat itu jalannya hancur. Demikian juga jalan menuju ke Kahyangan Api ataupun ke Waduk Pacar sangat buruk. Berlubang-lubang. Naik sepedapun tak nyaman. Jadi, ya ke Kaliketek saja.

Sewaktu di Kaliketek, berkali-kali saya mencoba mencium Chelsea, namun selalu ditolak.

“Nggak,ah! Nggak usah gitu-gituan…,” begitu katanya. Meskipun demikian, saya merasakan indahnya hari Minggu itu. Jembatan Kaliketek, merupakan saksi hubungan kami berdua. Sudah berpacarankah? Belum bisa dipastikan. Jangan-jangan Chelsea cuma menganggap saya sebagai teman? Buktinya, tiap kali saya meminta jawaban, Chelsea selalu menolak.

Satu tahun telah berlalu.Akhirnya, sayapun mendapat kepastian dari Chelsea. Dengan kata lain, Chelsea resmi jadi pacar saya. Bukti berupa surat-surat juga ada. Bahkan berciuman sudah bukan hal yang aneh. Semua teman se-SMK juga sudah tahu. Bahkan semua guru dan kepala sekolah juga tahu. Di mana ada Chelsea, di situ ada saya.

Sesudah kenaikan kelas, sayapun pindah ke Surabaya. Sebab, saya tidak betah tinggal di kota Bojonegoro yang sepi. Saya suka tinggal di kota besar. Apalagi, di Surabayapun saya ingin mengambil kursus bahasa Inggeris di lembaga pendidikan yang bonafide. Saya punya cita-cita meneruskan kuliah ke Amerika.

Sayang, saat itu SMAN 4 Surabaya tidak mengakui ijasah saya dari SMAK. Alasannya, SMAN 4 hanya mau menerima pindahan dari sesama SMA Negeri. Terpaksa, saya menggunakan status dari SMAN 1 (SMA Negara) Bojonegoro.Dan sialnya, saya tidak bisa diterima di kelas tiga, melainkan di kelas dua. Apa boleh buat.

Tiap Sabtu saya pulang ke Bojonegoro.Dan tiap Minggu tetap janjian bertemu Chelsea di Gg.Jiken. Kemudian bersepeda keliling kota. Atau, kadang-kadang beli salak di Wedhi atau Kalianyar. Menyenangkan sekali.

Lulus SMA, saya jadi meneruskan studi ke California University, Los Angeles atau UCLA. Sedangkan Chelsea sudah tahun kedua di Fakultas Kedokeran Universitas Airlangga. Hubungan saya dengan Chelsea cuma lewat surat. Maklum, zaman dulu belum ada HP.Belum ada SMS.Belum ada internet.Belum ada Facebook.Masih zaman jadul.

Tahun kedua saya kuliah, saya tak pernah lagi dapat jawaban dari Chelsea. Sudah 10 kali kirim surat, tak ada jawaban. Saya tanya Siti dan Mulyoso lewat surat, mereka juga tak menjawab. Ada apa ini?

Saat liburan semester, sayapun pulang ke Indonesia.Pulang ke Bojonegoro. Saya langsung ke rumah Siti menanyakan soal Chelsea. Pada awalnya Siti mengatakan tidak tahu, karena Siti kuliah di Yogya. Kebetulan liburan semester, dia pulang. Sesudah saya desak, akhirnya Sitipun berkata jujur.

“Jangan marah ya,Harry?,” pinta Siti.

“Emangnya ada apa dengan Chelsea?”

“Chelsea sudah menikah,Harry…”

“Menikah? Dengan siapa…?” Terkejut saya mendengar ucapan itu.

“Dengan Mulyoso. Teman kita sekelas sewaktu kita di SMAK…”

“Mulyoso?” lebih terkejut lagi saya mendengar nama itu. Tak saya sangka, Mulyoso yang merupakan sahabat baik, telah tega merebut Chelsea.

Pelan saya tingggalkan Siti. Dengan naik becak, saya menuju ke Gg.Jiken. Saya terdiam. Tercenung. Teringat kenangan indah beberapa tahun yang lalu. Gg.Jiken…Sampai kapanpun tak akan saya lupakan.

Sumber foto: abiezs.com

Catatan:

Cerita iini merupakan cerita fiktif. Foto sekadar ilustrasi.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: