CERPEN: Bukit Cangkuang 30 Tahun yang Lalu

SAYA lupa di mana letak Bukit Cangkuang. Yang pasti dari Bogor ke Selatan. Yang pasti bukit itu punya nilai sendiri bagi saya. Walaupun itu sudah 30 tahun yang lalu, saya ternyata belum lupa.

“Minum, Mas Harry” seorang mahasiswi baru, adik kelas menawarkan teh botol ke saya. Sayapun menerima teh botol dan meminumnya beberapa teguk. Nikmat rasanya. Tidak dingin sebab udara di bukit sudah dingin. Angin memang berembus sejuk.

Sat itu ada sekitar 300 mahasiswa lama dan baru sedang berkemah di bukit itu. Penyelenggaranya mahasiswa baru. Saya dan teman-teman seangkatan, diundang untuk ikut berpartisipasi di acara tersebut. Intinya, supaya mahasiswa lama dan baru bisa saling berkenalan. Tampak mereka sibuk mendirikan tenda. Meriah sekali acaranya.

O ya, mahasiswi tadi namanya Widya Astari. Terus terang saya naksir. Cewek Padang ini memang boleh juga. Murah senyum, enak diajak bicara dan cukup gaul. Cantik dan moderen. Sudah sering sih saya ajak makan bersama di Kentucky, American Hamburger dan beberap resto lain. Tapi anehnya, saya tak pernah mempunyai keberanian untuk mengatakan cinta kepadanya.

Sesudah ngobrol-ngobrol sebentar dengan Widya, teman-teman saya mengajak berkeliling di bukit itu. Melihat sungai kecil yang jernih airnya dan cukup deras arusnya. Bahkan kami sempat cuci kaki di air sungai yang dingin itu. Melihat pepohonan yang rindang. Melihat pemandangan yang indah dan alami.

Masa mahasiswa memang masa yang paling menyenangkan.

“Naksir, Widya ya?” Rudy bertanya. Saya cuma tertawa saja. Saya dan Rudy memang bersahabat baik dan sering becanda dan juga saling meledek. Semua teman-teman saya memang baik-baik.

Kalau saya pikir-pikir, Widya memang boleh juga. Cantik, rambut pendek, mudah bergaul dan hampir semua mahasiswa di kampus mengenalnya. Bahkan sayapun sudah sering ke rumahnya. Sambutannya baik-baik saja. Tidak ada masalah apapun.

Tapi ada hal yang tak pernah saya pahami, kenapa ada rasa ragu-ragu pada diri saya. Lebih tepat, saya tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan cinta. Akibatnya, saya juga tidak tahu apakah Widya mencintai saya atau tidak. Walaupun saya dan Widya sering ke resto, tapi itu belum merupakan jaminan. Bisa saja dia menganggap itu sebagai persahabatan saja.

Apakah saya takut ditolak? Tidak juga. Saya sudah terbiasa mengambil keputusan sendiri tanpa takut menerima resikonya. Apalagi, di kampus saya banyak mahasiswi cantik. Jadi, tak ada alasan yang kuat kalau saya dikatakan takut.

Tanpa terasa, saya telah lulus dari kampus itu dan saya bekerja di PLN Pusat, Jl. Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mungkin, karena saya sibuk bekerja, kerja lembur atau tugas ke berbagai daerah, maka saya tak sempat berkomunikasi dengan Widya. Apalagi, 30 tahun yang lalu belum ada handphone.

Lucunya, walaupun 25 tahun kemudian ada reuni di Jakarta dan saya bertemu dengan Widya, namun saya tak bertanya apa-apa. Sebab, saya yakin Widya sudah menikah dan punya beberapa anak yang sudah besar. Rasa-rasanya saya malu kalau saya menanyakan masalah keluarga. Lucunya, Widyapun tak bertanya apakah saya sudah berumah tangga atau belum.

Nah, menjelang pemilu 2009, Wawan kirim SMS ngobrol-ngobrol soal politik. Karena Wawan teman baik Widya, saya iseng-iseng bertanya tentang siapa saja. Lantas Wawan bercerita tentang Taufan, Ibnu, Wiwik dan belakangan tentang Widya.

“Widya kan sampai sekarang masih belum menikah, Mas”. Ucapan Wawan ini membuat saya terkejut. Semula saya tak percaya. Namun akhirnya saya percaya juga. Apalagi, Wiwik juga kirim SMS dan mengiyakan kalau Widya masih sendiri.

Masih sendiri? Mengherankan, sebab Widya termasuk cantik. Ada apa ini? Itu berarti, pada 2009 Widya telah berusia 48 tahun. Wawan dan Wiwik juga tak kalah terkejutnya ketika tahu pada usia 57 tahun saya juga belum menikah.

“Wah! Kenapa nggak 30 tahun yang lalu berpacaran dengan Widya, Mas? Sekarang, segera dilamar saja, Mas!” Begitu tulis Wawan lewat SMS.

Kehidupan manusia memang kadang-kadang aneh dan sulit dimengerti. Tapi, itulah fakta. Saya tak bisa berbuat apa-apa. Walaupun Widya kini telah berusia 48 tahun dan saya berusia 57 tahun, kalau Widya mau saya lamar, ya tidak apa-apalah menikah di usia tua. Tidak punya anak tidak masalah.

Masalahnya adalah, kalau saya kirim SMS ke Widya, tak pernah dibalas. Kalau saya ke rumahnya, Widya tak pernah mau keluar. Lgi-lagi, ad tanda tanya besar di benak saya. Ada apa sebenarnya dengan Widya yang masih cantik itu? Saya sudah menanyakan hal itu ke Wawan maupun Wiwik, namun sampai hari ini saya tak pernah mendapatkan jawaban yang pasti. Semua salah saya, yaitu saya punya sikap ragu-ragu.

Yang pasti, saya masih punya foto kenang-kenangan indah di Bukit Cangkuang. Tigapuluh tahun yang lalu.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: