CERPEN : Abdul Bakhil di Penghujung Jalan

“SEKALI-KALI janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali ‘Imran: 180)

SIAPA sih yang tidak kenal Pak Abdul Bakhil? Dia tinggal di Komplek Perumahan BSD Nusaloka. Rumahnya paling meawah. Namun, di sekitarnya adalah perkampungan masyarakat miskin. Walaupun di BSD Nusaloka, namun dia beli tanah dari masyarakat kampung dan bukan dari pengembang BSD Nusaloka. Rumahnya berlantai tiga dan dilengkapi dengan kolam renang.

Sebenarnya kalau dikatakan rumahnya satu komplek dengan BSD Nusaloka, sebab menurut peta rumahnya di luar komplek. Cuma, karena berdekatan dengan komplek perumahan, maka orang sering menyebut rumah Pak Bakhil berada di komplek BSD Nusaloka, sebuah komplek perumahan elit. Dia punya bisnis macam-macam dan tergolong sukses.

Suatu hari ada suami istri warga dari masyarakat miskin datang ke rumah Pak Bakhil. Setelah memencet bel berkali-kali di dekat pintu pagar, Pak Bakhilpun keluar. Kebetulan dia belum punya pembantu.

“Ada apa?” Pak Bakhil bertanya dengan pandangan penuh curiga.

“Ini, Pak. Isteri saya mau melahirkan,” ujar Pak Darmin, suami dari Sukinah, istrinya.

“Maksudnya?”

“Ya, kalau boleh pinjam uang, Pak. Untuk biaya melahirkan,” Pak Darmin meminta tolong dengan wajah memelas.

“Wah, sampeyan apa nggak pernah nonton televisi kalau masyarakat tidak mampu bisa dapat keringanan biaya kesehatan? Coba deh, minta surat keterangan tidak mampu ke Kepala Desa, bawa pengantar dari Ketua RT/RW. Dari lurah bawa Surat Keterangan Tidak Mampu dan tunjukkan ke rumah sakit,” ketus jawaban Pak Bakhil.

Pak Darminpun akhirnya saling berpandangan dengan isterinya. Mereka tahu kalau Pak Bakhil itu orang kikir, tapi masih juga mencoba pinjam uang. Akhirnya, suami isteri itupun mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu atau SKTM dari kelurahan.

Lain hari Pak Martopun meminta bantuan ke Pak Bakhil, karena isterinya terkena tipus, namun jawabannya sama saja. Begitu pula usaha Pak Karmin meminta bantuan untuk membayar sekolah anak-anaknya juga ditolak. Pokoknya, ada puluhan masyarakat setempat yang kecewa atas sikap Pak Bakhil yang kikir itu.

Bahkan Darno, Kusmin, Sutomo, Daryo,Gimin dan Gondo yang pernah bekerja untuk membangun rumah Pak Bakhilpun permohonan bantuannya ditolak. Mereka bekerja sebagai tukang batu, pengaduk semen pasir, tukang kayu, tukang las,tukang listrik dan tukang cat.

Masyarakat sekitar tahu, lebaran tahun yang lalu, Pak Bakhil yang Cu

ma punya anak satu itu memanjakan anaknya dengan membelikan kembang api senilai Rp 5 juta. Hanya satu dua jam habis. Teman-temannya datang membawa mobil mewah diparkir di halamannya yang luas. Namun, tidak sebutir kuepun yang terbagikan ke masyarakat sekitarnya. Bahkan, yang membantu acara-acara di rumahnya adalah karyawan yang bekerja di perusahaannya.

Sodaqoh? Zakat? Infaq? Jangan tanya itu. Tidak satupun uangnya keluar dari dompetnya untuk sodaqoh, zakat maupun infaq. Padahal, saat itu ratusan warga antri di depan pagar menunggu datangnya secuil rezeki. Namun, justru mereka diusir oleh dua orang satpam kantornya. Untunglah, masyarakat bersabar dan bisa menahan emosi. Pak Bakhil kawatir kalau terlalu banyak mengeluarkan uang untuk sodaqoh, zakat, infaq atau apalah namanya, uangnya akan habis.

“Saya kerja keras, kok orang lain tinggal minta saja. Kalau ingin duit, kerja,dong. Dagang, dong. Jualan pisang goreng,kek. Jualan jagung rebus,kek. Saya tidak suka dengan masyarakat yang malas. Tubuh masih sehat begitu kok minta-minta. Kerja!” begitu kata-kata yang sering terlontar jika ada masyarakat miskin meminta bantuan.

Sebenarnya, apa yang dikatakan Pak Bakhil ada benarnya. Kebiasaan meminta-minta memang bisa menimbulkan sikap malas berusaha. Malas untuk bekerja. Hanya gampangnya saja, tinggal minta. Tapi Pak Bakhil lupa bahwa kebanyakan masyarakat miskin tidak punya keterampilan, pendidikannya rendah dan cara berpikirnya sangat sederhana. Andaikan disuruh dagang pisang gorengpun, mereka butuh modal. Buat beli minyak dan lain-lain.

Sampai suatu hari. Anak tunggalnya yang masih duduk di bangku asyik bermain play station (PS) dikejutkan karena ada korsluiting listrik. Pak Bakhilpun segera mencoba mengatasinya. Terlambat, percikan api menyambar drum berisi BBM yang ada di garasi yang kebetulan letaknya berdekatan. Dalam hitungan detik, api telah membesar,membakar tiga buah mobil dan seisi rumahnya.

“Toloong…!!! Toloong…!!! Tolooong…!!!,” Pak Bakhil yang Cuma berpakaian celana pendek itu berteriak-teriak meminta tolong ke masyarakat sekitar. Rumah Pak Bakhil memang jaraknya agak jauh dengan rumah masyarakat sehingga tidak mungkin api akan membakar rumah masyarakat sekitar. Bahkan, merupakan rumah tunggal di kaveling itu.

Melihat teriakan itu, apalagi melihat api membubung tinggi, masyarakat miskinpun berhamburan keluar dari rumahnya masing-masing. Apa yang terjadi? Seperti dikomando, tidak ada satupun masyarakat yang mau menolong Pak Bakhil. Apipun terus melalap dengan ganas. Akhirnya, seluruh kekayaannya ludes dilalap api. Akhirnya, Pak Bakhilpun jatuh miskin.

 

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Iklan

CERPEN : Kenapa Mas Harry Belum Menikah?

“Dan (segeralah) menikah orang-orang yang masih sendiri di antara kamu, dan orang-orang yang pantas menikah di antara hamba-hamba sahayamu yang shaleh baik perempuan maupun wanita…” (QS An-Nuur: 32).

“Wanita-wanita yang keji diperuntukkan bagi laki-laki yang keji. Laki-laki yang keji diperuntukkan bagi wanita yang keji. Dan wanita-wanita yang baik diperuntukkan bagi laki-laki yang baik. Laki-laki yang baik diperuntukkan bagi wanita yang baik” (QS An-Nuur: 26).

Dalam ayat Al-Qur’an disebutkan “Dan Allah telah menjadikan jodoh-jodoh kamu sekalian dari jenismu sendiri, lalu menjadikan anak-anak dan cucu bagi kamu dari jodoh-jodohmu (An-Nahl: 72)

TANGERANG 2010. Saya menerima SMS dari mantan pacar yang pernah jadi pacar saya sekitar 36  tahun yang lalu. Intinya, dia tak percaya kalau pada usia 57 tahun ini saya belum menikah. Semula dia mengira saya bohong. Ketika saya katakan, demi Tuhan saya belum menikah, maka dia baru percaya.

“Terlalu dipilih-pilih sih. Dipilah-pilah. Akhirnya, tidak percaya diri. Akhirnya tidak menikah. Itu kan salah,Mas Harry sendiri”. Begitu isi salah satu SMS-nya. Benarkah saya pilih-pilih dan pilah-pilah sehingga saya saya tidak percaya diri? Bisa ya dan mungkin juga bisa tidak.

Semua teman-teman kuliah saya tentu tahu kalau saya sering ganti pacar. Masalahnya adalah, ketika saya akan serius saya menghadapi masalah yang sangat sulit untuk saya pecahkan. Bahkan butuh waktu lama untuk mencari solusi yang akhirnya tidak ada solusinya juga.

“Coba, Mas. Contohnya bagaimana?.” SMS Elsya terus meluncur.

“Ya, contohnya ketika saya pacaran dengan Vanessa. Masalah agama. Saya muslim dia Kristiani. Saya mengharapkan dia masuk Islam, namun hingga tiga tahun tak ada solusi. Saya ingin menikah secara Islam, tetapi dia tidak mau. Akhirnya, kami berpisah secara baik-baik…”. Saya menjelaskan.

Saya juga ceritakan, sesudah itu saya berpacaran dengan seorang gadis Sunda seorang mahasiswi dari sebuah akademi di Jakarta. Namanya Lia Marlia Tampilannya ali, cantik, murah senyum dan enak diajak bicara. Pada awalnya dia mengatakan masih gadis dan masih perawan. Namun kenyataannya, di rumahnya di Jawa Barat saya menemukan seorang anak perempuan kecil yang akhirnya diakui itu anaknya. Dia ternyata seorang janda. Karena saya merasa dibohongi, maka sayapun tidak melanjutkan hubungan. Tiga tahun berpacaran percuma.

“Terus, siapa lagi,Mas? Cerita dong, saya senang membaca cerita,Mas Harry. Begitu bunyi SMS dari Elsya. Walaupun malam telah pukul 23:00, namun saya dan Elsya tetap berkirim-kiriman SMS. Sebenarnya, saya bisa bertemu dengan Elsya secara kebetulan, yaitu melalui dunia Facebook. Tentu, dia sudah menjadi seorang yang baik bagi anak-anaknya.

“Ya,sesudah itu saya berpacaran dengan gadis Padang.Gadis Minang.Hubungan saya sih belum serius. Kadang nyambung kadang putus. Namanya Maharani. Namun ketika saya tahu di suku Minang yang menganut sistem matrimonial, maka sayapun mengundurkan diri.”

“Matrimonial itu apa sih,Mas?”. Elsya penasaran.

“Matrimonial itu artinya, semua harta, termasuk rumah,tanah,mobil,deposito dan harta apa saja, harus nama dia, kalau dia jadi istri saya. Artinya, andaikan saya cerai, maka saya tidak punya apa-apa…”. Begitu penjelasan saya.

“Ha ha ha..Saya baru tahu. Terus, berpacaran dengan siapa lagi? Cerita ya, sampai tuntas. Saya belum ngantuk,kok”. Itu SMS Elsya.

“Berikutnya, Febri. Dia itu gadis Palembang. Dia cantik, langsing, putih dan cerdas. Dua tahun saya pacaran. Namun ketika saya ingin serius, saya mendapat informasi yang cukup mengejutkan. Katanya, di Palembang berlaku sistem beli. Waktu itu tahun 1988, saya harus menebus Rp 25 juta. Sekarang,tahun 2009, kira-kira nilainya sama dengan Rp 100 juta atau lebih. Wah, terus terang saya tidak punya uang sebanyak itu. Nggak boleh ditawar. Itu harga mati. Saya baru tahu kalau adatnya seperti itu, walaupun tidak semua orang Palembang seperti itu.” Kalimat ini saya kirim dua kali kirim SMS.

Tanpa menunggu SMS dari Elsya, saya melanjutkan cerita.

“Berikutnya saya pacaran dengan Agusti. Gadis Riau. Dia karyawati saya. Cantik, banyak ide, sopan namun sering marah. Bahkan kalau marah dengan saya, bisa berhari-hari saya tidak diajak ngomong. Ketika saya mau serius, dia ternyata pulang ke Riau. Memang dia pernah kirim surat, tetapi tidak saya balas. Kemudian saya pindah ke Jawa Timur dan mungkin dia tidak tahu alamat baru saya. Sayapun kehilangan alamat dia di Riau.Putus kontak. Putus hubungan.”

“Terus?.” Elsya ingin tahu kelanjutan cerita saya.

Saya minum kopi susu sebentar. Kemudian kembali memegang ponsel dan mengetik SMS untuk Elsya.

Kemudian saya sibuk mengelola lembaga pendidikan komputer, warnet dan lain-lain. Tanpa terasa usia saya pada 2009 ini sudah 57 tahun.”. Agak sedih saya mengetik SMS yang bunyinya seperti itu.

“Lantas, enak nggak jadi bujangan?”. Elsya kirim SMS lagi.

“Ha ha ha…ya,ada enaknya ada nggak enaknya. Enaknya saya bebas kemana-mana dan uang awet dalam arti saya nikmati sendiri. Nggak enaknya, ketika saya ada reuni saya menjadi sedih. Ternyata teman-teman saya semuanya sudah menikah, anaknya sudah besar. Bahkan ada yang sudah punya cucu.”. Sedih sekali saya mengirim SMS yang jujur ini. Saya jujur, sebab Elsya yang 36 tahun yang lalu pernah jadi pacar saya juga seorang gadis yang jujur.

“Sekarang bagaimana? Ingin membujang terus atau masih ada keinginan untuk menikah?”. Elsya memang penuh perhatian.

“Ya, keinginan untuk menikah masih ada. Tetapi semuanya terserah Tuhan. Agama saya, Islam, mengatakan bahwa rezeki, jodoh dan kematian merupakan rahasia Tuhan. Yang pasti sejak di bangku SD hingga usia 58 tahun saya selalu mencari jodoh seorang gadis yang baik.”.

“Yang Mas Harry alami itu takdir,nasib atau salah Mas Harry sendiri?”. Kali ini pertanyaan Elsya bagus sekali.

“Terus terang saya tidak bisa menjawab,Elsya. Hidup manusia memang penuh misteri. Tiap orang punya jalan hidup sendiri-sendiri.”. Begitu penjelasan saya.

“Kalau begitu, Mas Harry bisa digolongkan pilih-pilih atau tidak?”. Elsya melanjutkan SMS-nya.

“Jawab saja sendiri. Sudah saya katakan hidup manusia itu penuh misteri.”, Kali ini SMS saya agak singkat.

“Bagaimana andaikan hingga tua, hingga kakek-kakek, hingga meninggal, Mas Harry juga belum menikah?”. Elsya mengajukan pertanyaan yang menarik.

“Kalau menurut agama saya,sih. Bagi pria yang tidak menikah di masa hidupnya, maka Tuhan akan memberikan tujuh bidadari yang cantik-cantik…”. Tangan saya mulai pegal mengirim SMS ke Elsya.

“Ha ha ha…”. Melalui SMS Elsya tertawa.

“Ha ha ha…Sudah ya, sudah malam,Saya ngantuk. Besok kita ngobrol-ngobrol lagi, boleh lewat SMS boleh di Facebook.”. Saya mencoba mengakhiri obrolan lewat SMS. Malam telah larut. Jam di dinding menunjukkan pukul 24:00. Komplek perumahan saya sudah sepi.

“Daag…”.Begitu akhir SMS Elsya.

“Daag…”.Begitu pula akhir SMS saya.

Saya matikan ponsel. Saya matikan lampu kamar tidur. Kemudian saya tertidur pulas.

Catatan:

Cerpen ini berdasar pengalaman pribadi tanpa dimodifikasi. saya yakin, tiap manusia punya cerita hidup sendiri-sendiri.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

CERPEN : Si Sombie Ingin Menembus Bumi

ALLAH berfirman, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung,” (Al-Isra’: 37).

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain,” (HR Muslim [91]).

TIBA-TIBA ponsel saya berbunyi. Terpaksa saya memperlambat motor dan kemudian berhenti di bawah pohon rindang.

“Hallo! Ini Harry yang dulu kuliah FMIPA angkatan 08,ya?” tiba-tiba suara di ponsel langsung nyelonong.

“Ya,betul. Ini siapa,” karena namanya belum terdaftar di ponsel dan saya belum mengenal suaranya, maka sayapun ingin mengetahui namanya.

“Saya menemukan nama dan nomor ponsel Harry dari internet. Saya Sancoko” begitu mendengar nama Sancoko, maka saya langsung ingat. Dia dulu adalah teman satu fakultas di MIPA. Setelah lulus, bertahun-tahun kami tak pernah bertemu. Di kampus, teman-teman sering memanggilnya dengan sebutan Sombie, plesetan dari kata “sombong”. Maklum, selama di kampus memang Si Sombie terkenal sombong, angkuh dan suka membanggakan diri.

“Hai…apa,kabar? Di mana sekarang?” sayapun membalas sapaannya. Karena lalu lintas di sekitar saya ramai sekali, maka saya mendengarkan ponsel sambil menutup telinga sebelah kanan.

“Saya sekarang jadi manajer. Sekarang saya punya dua gelar S-2, yaitu MBA dan MM,” sahutnya. Masih seperti dulu, menyombongkan diri,” Kamu bagaimana? Sudah S-1?” lanjutnya.

“Saya sih masih S-1. Belum ada duit buat meneruskan S-2,” jujur jawaban saya.

“Hahaha….goblok kamu! Pinteran saya dong.Sudah S-2!” Si Sombie mulai kambuh penyakit sombongnya.

Begitulah, selama telepon Si Sombie hanya berceloteh memamerkan jabatannya, gelarnya, kekayaannya, isterinya yang cantik dan apa saja yang bisa disombongkan ya disombongkan.

“Saya juga jadi anggota DPRRI, Harry,” tambahnya. Padahal saya tidak bertanya. Namun, menghadapi orang seperti itu justru saya angkat tinggi-tinggi dengan harapan suatu saat akan saya jatuhkan serendah-rendahnya.

“Waaah, wakil rakyat,dong. Tentu memperjuangkan nasib rakyat,ya?” tanya saya memancing.

“Rakyat? Hahaha…memperjuangkan rakyat itu prioritas ke-999. Lha,wong untuk jadi anggota DPR saya habis Rp 2 milyar. Ya, harus berjuang kembali modal dulu,dong…,” jawab Si Sombie. Dalam hati sayapun merasa prihatin. Selama sistem politik di Indonersia masih seperti sekarang, maka hancurlah keuangan negara. Korupsi akan merajalela sepanjang massa.

“Oke Harry. Saya minta alamatmu. Kapan-kapan saya akan ke rumahmu,” pintanya. Sayapun mengirim alamat lengkap melalui SMS. Sesudah itu percakapanpun selesai. Saya melanjutkan perjalanan ke WTC Mall.

.———-

Betul saja, sesuai dengan hari yang telah dijanjikan, Si Sombie datang ke rumah saya. Naik mobil Mercy baru gres dan mengajak isterinya yang cantik. Walaupun sombong, saya tetap berkewajiban menyambutnya sebagai tamu yang baik. Mereka berduapun duduk di ruang tamu.

“Oh, rumahmu kok kecil,Harry?” Si Sombie mulai meledek. Saya tak heran. Sejak zamannya kuliah memang Si Sombie suka merendahkan teman-temannya yang miskin. Saya diam saja. Pembantukupun menaruh minuman dingin dan kue-kue seadanya di meja.

“Wah, nggak usah minum, Har. Saya tidak biasa minum teh es manis. Memangnya saya orang miskin apa?” Si Sombie tertawa. Maklumlah, orang kaya baru tingkah lakunya ya seperti itu.

“Oh, ya Harry. Saya sudah dua kali naik haji. Saya sukses!,” lagi-lagi, tanpa saya tanya Si Sombie bercerita. Dia tak menyadari bahwa sesungguhnya kesuksesan adalah karena atas izin Allah swt. Manusia tidak mungkin sukses tanpa restu dari Allah swt.

“Syukurlah kalau sukses besar,” saya ucapkan selamat. Saya lihat isterinya cuma tersenyum saja.

Terus terang, selama kuliah, Si Sombie dijauhi teman-teman. Andaikan bicara juga tak pernah ditanggapi teman-teman. Hanya saya saja yang bisa memahami kesombongannya. Oleh karena itu tak heran kalau dia tetap menjadi sahabat baik saya.

Tanpa saya tanya, Si Sombiepun bercerita macam-macam sambil sedikit-sedikit menyisipkan ayat Al Qur’an. Bukannya ayat-ayat itu digunakan secara benar, melainkan digunakan untuk menyerang orang lain. Seolah-olah Si Sombie merasa paling Islam sendiri dan orang lain kurang Islam.

Saya akui, Si Sombie di samping sombong, suka membanggakan diri, suka merendahkan diri, juga licik dan kikir. Tak pernah beramal. Tak pernah bersodaqoh. Tak pernah berzakat.

Tak lama kemudian, Si Sombiepun pamit pulang dan tak ketinggalan meledek rumah saya. Katanya, rumah saya mirip rumah kelinci. Saya tak membalas. Malahan saya iyakan saja. Soalnya, kalau saya bantah dia pasti marah-marah.

Satu bulan kemudian, saya baca koran Kompas. Ada berita yang menarik, Si Sombie ditangkap KPK karena terlibat kasus korupsi senilai Rp 51,2 Milyar. Membaca berita itu saya Cuma tersenyum saja. Pikir saya, walaupun punya gelar MBA, MM, gelar haji, kaya raya, isteri cantik dan mobil mewah, tapi kalau cacat moral buat apa? Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh ke got  juga.

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

CERPEN : Mahasiswi Itu Bernama Endang Syarikawati

“DIA-LAH yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui. Ialah segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya.(QS. Al-Baqarah ayat 22)

BUS yang saya naiki dari Jakarta berangkat pagi hari. Tujuannya ke Sukabumi. Ceritanya, saya mau mengunjungi nenek saya. Beberapa jam kemudian, sampai juga di terminal Sukabumi. Karena belum sarapan, saya makan dua bungkus bacang. Wah, masih hangat. Rasanya nikmat sekali.

Sesudah itu naik angkot dan turun di depan Matahari Department Store. Lantas melanjutkan ke terminal angkot. Kemudian naik angkot jurusan Desa Bojong Lopang. Penuh. Di antaranya ada lima mahasiswi. Kok tahu mahasiswi? Dari percakapannya tentang perkuliahan, dosen, kampus maka saya mengambil kesimpulan dia mahasiswi.

Daripada sepanjang perjalanan melamun, maka iseng-iseng saya tanya kepada mereka.

“Mau kemana,Teh?,” saya mulai menyapa salah satu dari mereka.”Teh” artinya saama dengan “Mbak” di Jawa.

“Ke Bojong Lopang,Mang,” jawabnya. Saya yang orang Jawa dipanggil “Mang”. Ya, tidak apa-apalah.”Mau kemana, Mang?,” ganti mahasiswi itu bertanya.

“Mau ke Bojong Lopang juga. Mau menengok nenek,” saya menjelaskan tujuan saya ke Desa Bojong Lopang. Mahasiswi itu manggut-manggut. Dari hasil ngobrol-ngobrol, saya tahu nama mahasiswi itu bernama Endang Syarikawati. Bapaknya Jawa, ibunya Sunda. Ceritanya, Endang dan teman-teman, dari Bojong Lopang akan meneruskan ke Bojong Tipar.

“Dalam rangka apa?” tanya saya. Endang menjelaskan, teman-temannya yang semua kuliah di Bandung, sebentar lagi akan menghadapi ujian semester. Untuk itu, mau minta doa restu ke orang tua.

“Orang tua siapa,?” saya bertanya karena tidak mengerti maksudnya.

“Maksudnya, orang pintar, Mang,” Endang menjelaskan. Sekarang saya faham. Kelima mahasiswa itu akan ke paranormal supaya bisa lulus ujian.

“Tahunya dari mana kalau di Bojong Tipar ada orang pintar,” saya berlagak dan memberi kesan seolah-olah percaya hal-hal yang bersifat syirik itu.

“Dari teman-teman di Bandung. Terbukti,kok. Mereka lulus semua,” Endang berkata dengan nada yakin, padahal belum pernah melakukannya.

“Bagaimana tuh, caranya? Kebetulan saya juga akan menghadapi ujian semester,nih. Saya kuliah di Universitas Borobudur, Jakarta,” saya terus memancing. Karena saya sudah dipercaya, maka Endangpun bercerita. Katanya, nanti Endang dan teman-temannya akan diberi air putih yang sudah diberi doa, kemudian diminum. Tapi, syaratnyaa harus membeli bunga tujuh rupa yang dijual di teras padepokan paranormal itu. Sesudah minum air putih, nanti disuruh mandi sendiri dan bunga tujuh rupa harus dimasukkan ke bak mandi. Begitu cerita Endang. Karena penasaran, saya tidak jadi berkunjung ke rumah nenek, melainkan menuju ke Desa Bojong Tipar. Itupun harus naik ojek, sebab angkot hanya sampai Desa Bojong Lopang. saya penasaran, ingin tahu, seperti apa sih padepokannya paranormal itu.

Tak lama kemudian, sampai juga. Rumahnya ukuran sedang tapi cukup mewah. Di depan rumahnya ada kolam ikan lengkap dengan air mancurnya. Sayapun duduk di sebuah kursi. Cukup banyak pengunjungnya. Ada sekitar 100 orang. Uniknya, mereka yang mau menemui paranormal, harus mengambil nomor urut. Persis, seperti mau periksa dokter. Saya juga mengambil nomor, hanya untuk memberi kesan kalau saya juga ada keperluan bertemu dengan paranormal. Padahal, saya cuma ingin tahu, apa saja sih persoalan mereka?

Dari hasil ngobrol-ngobrol, mereka ada yang minta doa enteng jodoh, penglaris usaha, ingin kebal dari ilmu santet, ingin cepat naik jabatan, ingin cepat kaya, ingin lulus ujian semester, ingin cepat naik pangkat, ingin cepat dapat pekerjaan dan masih banyak lainnya. Bagi yang sudah dua tiga kali datang menceritakan, mereka harus membeli bunga tujuh rupa, ada juga harus beli keris kecil, yang lainnya bercerita harus beli cincin kuningan dan lain-lain. Katanya, semua benda itu sudah diberi doa oleh paranormal yang ternyata bernama Mbah Kawul, pindahan dari Situbondo, Jawa Timur.

Kalau saya lihat sih, mereka yang datang tergolong orang-orang berpendidikan. Ada mahasiswa, ada sarjana, ada PNS, ada guru dan bahkan ada dosen.

Sesudah puas melakukan pengamatan tingkah laku mereka, akhirnya saya kembali ke Desa Bojong Lopang menemui nenek saya. Sayapun cerita tentang orang-orang yang datang ke Mbah Kawul. Nenek saya yang fanatik Islam mengatakan “Itulah perbuatan orang-orang syirik. Mereka menganggap benda-benda punya kekuatan tertentu. Padahal, kalau ingin lulus, ya belajar. Ingin laris, ya berusaha maksimal.Mau dapat jodoh, ya harus pandai bergaul.Ingin kebal santet, ya perdalam Al Qur’annya. Seharusnya umat Islam yang punya keinginan, berdoalah ke Tuhan Yang Maha Esa. Bukan meminta keajaiban dari kembang tujuh rupa, keris,cincin,batu dan semacamnya. Itu, syirik namanya,”

Saya cuma mengangguk-angguk. Hari sudah sore. sayapun minta izin ke nenek untuk shalat Ashar. Nenekpun mempersilahkan dengan senang hati.

Sebulan kemudian saya bertemu lagi secara tak sengaja dengan Endang Syarikawati.

“Wah, saya nggak lulus ujian semester,Mang,” katanya kecewa.

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

CERPEN: Meneguk Gelas Kosong

“SESUNGGUHNYA orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (Al Quran (24) An Nuur : Ayat 11)

NAMANYA Duddy Dastin. Sudah 30 tahun tidak pernah bertemu. Dulunya sih, teman satu kampung di Jawa Timur. Itupun kenal tak begitu akrab. Tiba-tiba saja bertemu di FB (Facebook).

“Maaf, apakah ini Harry yang dulu tinggal di Bojonegoro,” tanyanya pertama kali di FB. Karena namanya sangat jarang dikembari orang, atau bahkan satu-satunya di dunia, saya yakin dia Duddy Dastin dari Bojonegoro.

“Iya. Betul. Ini Duddy Dsatin dari Bojonegoro,ya?” ganti saya bertanya.

“Iya”, singkat jawabnya. Selanjutnya kami Cuma bertemu di FB, berbicara di FB dan ngobrol-ngobrol lewat FB.

“Harry, saya merasa beruntung karena pernah kuliah di luar negeri,” ceritanya. Tentu hebat, sebab sewaktu di Bojonegoro da berasal dari keluarga miskin. Bahkan siapa ayahnya, juga tidak jelas.

“Wah, hebat,dong. Di mana saja?” sayapun ingin tahu. Lha, wong saya yang dari keluarga mampu hanya kuliah di Indonesia saja.

“Hmmm, saya pernah kuliah di Hokaido University, Jepang,”

“Wah, mengambil jurusan apa?” saya kagum.

“ Di Hokaido University saya ambil Si-1 kedokteran. Terus melanjutkan ke Jerman,” Duddy Dastin bercerita dengan nada bangga,

“Wah, hebat sekali. Di Jerman kuliah di mana?”

“Saya ambil S-2 di Universitas Johann Wolfgang von Goethe Frankfurt,” katanya sangat meyakinkan.

“Kok tidak ambil S-3 sekalian?” saya terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan.

“S-3 saya kuliah di Perancis. Tepatnya di Universite d’Avignon et des Pays du Vaucluse,”

Ceritanya, membuat saya berdecak kagum. Selanjutnya, di FB Duddy Dustin cerita pengalamannya kuliah di Hokaido University. Katanya, dia pernah berfoto bersama dengan Miyabi, bintang film porno yang pernah batal datang ke Indonesia.

Kemudian, sewaktu di Jerman dia kos di rumah cucunya Adolf Hitler yang terkenal sebagai penjahat perang. Dan, Duddy Dastin mengatakan ketemu jodoh sewaktu kuliah di Perancis. Asli gadis Perancis. Namanya Estelle Dion,” begitu Duddy Dastin bercerita di inbox FB saya. Bahkan foto Estelle Dion juga dilampirkan. Wow, cantik sekali. Bagaikan bintang film terkenal.

“Terus, sekarang kegiatannya apa?” masih di FB, saya bertanya.

“Saya sekarang sudah profesor. Tiap hari saya tugas di rumah sakit melakukan penelitian tentang hal-hal yang berhubungan dengan mikrobiologi. Tepatnya saya di laboratorium,”

Lain hari, masih di FB saya juga, Duddy Dastin bercerita kalau sudah lama menjadi ustadz.

“Jadi ustadz? Lho, dulu kamu kan beragama Katolik?” saya heran.

“Dulu adalah masa lalu. Kehidupan ini penuh perubahan. Saya dan isteri sayapun pindah ke agama Islam. Sebab saya yakini Islam adalah agama yang sempurna,” katanya. Dulu, Duddy Dastin sekolah di SMK Katholik, Bojonegoro.

Lain hari, entah kenapa kok saya iseng-iseng tanya ke Duddy Dastin menggunakan bahasa Jerman.

“Wie geht es Ihnen…?” tanya saya. Ternyata dia tidak menjawab dalam bahasa Jerman. Katanya, sudah puluhan tahun tidak menggunakan bahasa Perancis, jadi sudah lupa. Karena dia pernah kuliah di Jepang, sayapun bertanya dalam bahasa Jepang.

“Nani ga on’nanoko nitsuite no go ikendesu ka?”

Lagi-lagi Duddy Dustin tidak menjawab. Terakhir saya bertanya dalam bahasa Perancis.

“Ou habitez-vous?” sederhana pertanyaan saya. Namun, pertanyaan ini juga tidak dijawab. Katanya, di Jepang, Jerman dan Perancis kuliahnya memakai bahasa Inggeris. Jadi, dia tak begitu faham dengan bahasa Jepang, Jerman atau Perancis. Hanya mengerti sedikit-sedikit saja.

Terakhir, karena Duddy Dustin mengaku ustadz, maka sayapun bertanya lagi. Walaupun bahasa Indonesia, namun saya menggunakan huruf Arab. Lagi-lagi tidak dijawab. Alasannya, dia memakai huruf Arab hanya kalau sedang mengajar anak-anak di tempat tinggalnya.

Akhirnya saya tanya alamatnya. Diapun memberikan alamat di daerah Tangerang.Lengkap dengan RT/RW. Cuma, tidak ada nomor telepon maupun ponsel.

Hari Minggu, saya meluangkan waktu mencari alamat rumahnya. Maklum, teman lama tidak pernah bertemu. Apalagi, dia termasuk orang sukses. Pernah kuliah di luar negeri, jadi profesor juga seorang ustadz.

Dengan susah payah, akhirnya alamat itu saya temukan. Ternyata bukan alamat dia, melainkan alamat seorang dokter. Ketika saya tanya tentang Duddy Dastin, dokter itu heran. Sayapun dipersilahkan duduk, mungkin dikira saya saudaranya Duddy Dustin. Setelah saya ceritakan pengalaman saya dengan Duddy Dastin di FB, dokter yang bernama Harno Purboyo itupun tertawa.

“Kenapa, Pak,” saya penasaran ingin tahu. Akhirnya Dokter Harnopun bercerita, kalau Duddy Dastin itu pembohong besar. Dia tidak pernah kuliah di mana-mana. Bukan profesor dan bukan ustadz.

“Dia itu pembohong besar. Pembual.Penghayal. Sudah banyak orang yang dibohongi. Kalau dia bilang punya isteri Perancis, itu juga bohong. Sejak dulu dia tak pernah menikah”. Dokter Harno ternyata dokter jiwa yang sampai hari ini merawat Duddy Dustin.

“Dia bukan psikopat.Dia normal-normal saja, tetapi rohaninya sakit. Memang ada gangguan jiwa, tetapi masih dalam batas toleransi.Yang pasti dia pembohong besar! Bahkan dia pernah mengaku sebagai Nabi.Dia sekarang kerja di rumah sakit tempat saya. Bekerja sebagai tukang bersih-bersih kamar mandi.Sejak kecil dia mengalami krisis agama”

“Astaga!” seru saya dalam hati. Saya hanya bisa mengelus dada.

 

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973.

CERPEN: Berselingkuh Cinta dengan Tamara

SIAPA sih yang tidak mengenal nama Tamara? Dia pernah menjadi Miss Campus di Universitas Metropolitan, Jakarta. Di samping cantik, dia juga cerdas, berpengetahuan luas dan bahasa Inggerisnya bagus. Penampilan tubuhnya yang ramping dan proporsional mendukung kemenangannya itu. Apalagi, dia juga seksi.

 

Kebetulan saja dia satu fakultas dengan saya, yaitu di fakultas ekonomi. Kebetulan juga dia satu kelompok belajar dengan saya. Jadi saya tahu siapa dia. Ternyata dia berasal dari Solo dari keluarga biasa-biasa saja. Namun, dia pandai berbusana walaupun bahannya tidak mahal.

 

Meskipun demikian saya bersahabat saja. Apalagi dia sudah punya pacar mahasiswa fakultas teknik. Saat itu kami berada pada semester keenam. Semakin lama matakuliahnya semakin sulit.

 

“ Jangan lupa ya, hari ini belajar bersamanya di rumah saya”. Begitu pesannya ke beberapa teman yang saat itu sedang menyelesaikan kuliah.

“Oke”. Serentak teman-teman yang satu kelompok belajar berkomentar.

 

Sore harinya seperti biasa kami berdelapan belajar di pavilyun di rumah Tamara di kawasan Kemanggisan. Dia tinggal bersama kakaknya seorang direktur utama perusahaan importir mobil. Sebuah rumah cukup mewah.

 

Tak lupa sambil belajar kami disuguhi kue-kue yang enak yang ternyata buatan Tamara sendiri. Maklum, sejak kecil Tamara senang membuat kue bersama ibunya. Bahkan membuat pizza, spaghetti, hotdog pun bisa dilakukan. Rasanya juga enak. Jadi, jangan heran kalau teman-teman senang belajar di rumah tamara. Biasanya, kami selesai belajar bersama pukul 21:00 WIB.

 

Di kampus kegiatan mahasiswa tidak hanya belajar. Ada acara lain sesuai minat dan bakat para mahasiswa. Mulai dari olah raga basket, sepak bola, voli, tenis, bulu tangkis, musik, seni rupa, berkemah, mendaki gunung, arung jeram, bela diri dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya.

 

Kebetulan kelompok belajar kami memilih kegiatan berkemah. Jadi ketika Tamara punya rencana berkemah ke salah satu gunung di Jawa Barat, maka kamipun gembira. Semua persiapan kami lakukan dengan sempurna.

 

Dan pada hari H kamipun berangkat. Sampai di tempat tujuan kami memasang tenda masing-masing. Berdelapan membangun delapan tenda. Satu tenda satu orang. Jadi, cukup lega dan nyaman.

 

Malam harinya kami berkumpul dan membuat sate kambing sambil main gitar dan bernyanyi bersama. Udara malam itu cukup dingin hingga masuk ke tulang. Rasa-rasanya kurang berguna memakai jaket tebal. Untunglah api untuk membakar sate dan api unggun mengurangi rasa dingin itu.

 

“Uh, dingin sekali”. Ujar Tamara yang kebetulan duduk bersimpuh di samping saya. Kebetulan semua peserta kemah duduk membuat lingkaran di tanah mengelilingi api unggun.

 

Saya tertawa melihat Tamara kedinginan. Padahal AC di rumahnya tak kalah dinginnya. Padahal sayapun sebenarnya juga merasa kedinginan.

 

“Bawa selimut,nggak? Saya lupa bawa selimut”. Ujar Tamara. Kebetulan saya membawa selimut. Tak apalah, demi teman saya mengalah. Selimut itu akan saya pinjamkan untuk Tamara. Daripada dia nanti dia jatuh sakit.

 

“Punya, tapi di dalam tenda saya”. Kata saya. Tamarapun minta diantarkan ke tenda. Sayapun ajak dia. Dia mengikuti saya. Ketika saya masuk tenda, Tamara ternyata juga ikut.

 

Yang membuat saya terkejut, Tamara langsung mendekap saya.

“Uh, gila dingin banget…”. Dipeluknya saya kuat-kuat. Dan entah kenapa, tiba-tiba dia mencium bibir saya. Tentu saya terkejut karena itu di luar dugaan. Nbamun sebagai laki-laki normal, maka kesempatan itu saya manfaatkan sebaik-baiknya. Paling tidak merupakan usaha untuk menghangatkan tubuh.

 

Beberapa menit kami berduapun keluar dari tenda. Tamara menuju ke tendanya sambil membawa selimut. Memang jarang berkemah membawa selimut. Namun pengalaman menunjukkan betapa perlunya membawa benda itu.

 

Begitulah. Di lain kesempatan kami berselingkuh cinta dengan Tamara. Apalagi tiap Jumat pacar Tamara pulang ke Bandung, maka saya punya kebebasan penuh berdua dengan Tamara. Tak jarang dia datang ke tempat kos saya di Jl. Dr. Susilo raya, depan kampus.

 

Tanpa terasa, perselingkuhan itu berjalan selama beberapa tahun. Meskipun demikian Tamara tetap berpacaran dengan mahasiswa dari fakultas teknik. Dan saya sendiri sejak semester satu juga sudah punya pacar. Yaitu, mahasiswi dari Fakultas sastra Universitas Indonesia.

 

Walaupun saya dan Tamara berselingkuh cinta, namun cinta kami cinta biasa-biasa saja. Bukan untuk serius. Kami lebih menekankan persahabatan. Persahabatan yang indah. Aneh memang. Tapi itulah kenyataan hidup yang saya alami.

 

Ketika kami selesai diwisuda, maka saya dan Tamarapun berpisah. Biasa-biasa saja. Tak ada rasa menyesal atau semacamnya. Tak ada rasa sedih atau semacamnya. Kami berpisah dan meneruskan jalan hidup masing-masing. Ternyata, tak sengaja saya mengakui, betapa indahnya perselingkuhan itu.

 

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

CERPEN: Rina Rani Rini

SAYA merasa gembira karena dikaruniai Tuhan seorang istri yang cantik, putih, langsing, sabar, soleh, seorang muslimah dan berkerudung.Isteri saya masih keturunan asing. Ayahnya Amerika dan ibunya Jawa.. Semua anak saya mirip ibunya, mirip bule.

Saya juga dikaruniai tiga orang anak cantik bernama Rina berumur lima tahun, Rani berumur empat tahun dan Rini berumur tiga tahun. Lengkapnya Rina Ekawati, Rani Dwiwati dan Rini Triwati. Semua anak saya bernama Indonesia.

Saya tidak mau ikut-ikutan seperti muslim lainnya di mana anak-anaknya diberi nama Arab atau diambil dari bahasa Arab. Mereka adalah muslim-muslim yang tidak bisa menghargai budaya Indonesia.

Sekaligus saya juga sedih, karena ketiga anak saya yang masih kecil ternyata menderita autis.

“Autis itu apa sih, Mas? Apakah termasuk sakit jiwa?”. Sepulang konsultasi dari dokter, istriku yang bernama Paramitha itu bertanya kepada saya. Saat itu kami berdua sedang menuju pulang naik taksi Blue Bird lengkap bersama Rina, Rani dan Rini.

“Oh, bukan sakit jiwa. Autisme itu merupakan gangguan perkembangan neurobiologis yang berat, yang timbul dalam tiga tahun pertama kehidupan anak. Autisme berasal dari bahasa Yunani yaitu “autos” atau “sendiri” yang diartikan memiliki keanehan dalam bersosialisasi dengan dunia di luar dirinya.

Banyak penderita dengan sindrom ini memiliki inteligensi rata-rata atau sering kali juga di atas rata-rata, tetapi umumnya mereka sudah didiskreditkan sejak awal. ” Saya menjelaskan.

“Ada penjelasan lainnya, Mas? Saya kok kurang faham”. Istriku semakin ingin tahu.

 

“Ada. Autisme sebagai cacat pada perkembangan syaraf dan psikis manusia, baik sejak janin dan seterusnya, yang menyebabkan kelemahan dalam berinteraksi sosial, kemampuan berkomunikasi, perbedaan pola minat dan tingkah laku. Autisme cukup luas dan mencakup banyak hal. ”

“Gejala-gejalanya bagaimana sih, Mas?”. Mitha ingin tahu.

“Begini. Gejala-gejala bisa terlihat sejak beberapa hari/minggu setelah bayi lahir, atau beberapa bulan kemudian setelah tahap-tahap perkembangan yang seharusnya ada tetapi tidak dicapai oleh balita yang bersangkutan.

Ada juga anak-anak yang mula-mula perkembangannya tampak normal, tetapi kemudian terjadi kemunduran pada umur 18 bulan, yaitu berbagai kemampuan yang tadinya sudah ada, misalnya sebelumnya anak sudah berbicara sepatah-dua-patah kata, tetapi kemudian menghilang. ”. Sayapun menyebut nama Rini, si bungsu yang kehilangan suara. Tak mampu berkata banyak. Suaranya pun lirih tak jelas. Ciri khas anak autis yaitu selalu berusaha menghindari kontak mata dengan orang lain”

Taksi terus meluncur di kawasan Tebet menuju rumah saya.

Sayapun melanjutkan penjelasan ke Mitha soal autis. Kebetulan dulu saya pernah kuliah di Fakultas Kedokteran, Universitas Trisakti, Jakarta. Semester enam gagal, kemudian pindah ke Fakultas Ekonomi, di Universitas Trisakti juga.

“Autis bukan sakit jiwa. Tetapi suatu kelainan yang dianggap tidak bisa disembuhkan. Namun dengan terapi dan penanganan yang optimal, anak-anak kita mudah-mudahan bisa disembuhkan”

“Pasti bisa disembuhkan, Mas?” Istriku kurang yakin.

Maklum, ibu mana yang tidak sedih melihat anak-anaknya menderita autis? Semula Mitha tidak bisa menerima kenyataan itu. Namun, saya selalu memberikan keyakinan bahwa suatu ketika anak-anak akan sembuh. Untuk itulah, atas nasehat dokter, saya menyewa tenaga terapis untuk datang ke rumah tiga kali seminggu untuk memberikan terapi kepada Rina, Rani dan Rini.

 

Saya menyadari bahwa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, tiap tahun penyandang autis jumlahnya terus meningkat. Anak autis memang mempunyai tingkah laku yang lain daripada anak-anak normal lainnya. Anak-anak autis adalah anak-anak yang memiliki kebutuhan lebih.

“Jangan sekali-kali memarahi anak-anak ya, Ma. Betapapun nakalnya mereka”. Pesan saya ke isteri ketika taksi sudah sampai di rumah. Sesudah membayar taksi, saya, Mitha dan ketiga anak-anakpun masuk ke rumah.

Sejak ada anak-anak autis ini memang rumah saya berantakan. Jemuran diobrak-abrik anak-anak. Di ruang tamu ada sapu, ada ember, boneka dan barang apa saja. Kalau nonton televisipun rebutan. Ada yang suka filem kartun, ada yang suka musik dan ada yang suka balap motor atau mobil. Bisa dibayangkan betapa ribut dan kotornya rumah kami ini.

Tiap kali saya mau berangkat kantor, Mitha pasti menangis. Sedih, karena bertahun-tahun harus hidup menderita karena punya anak-anak autis. Selalu jadi bahan pembicaraan dan cibiran para tetangga. Maklum, ketiga anak kami memang juga sering mengganggu tetangga. Nakal, tetapi nakalnya keterlaluan. Misalnya, suka membuang sampah yang semula ada di tempat sampah, dilemparkan ke rumah-rumah tetangga.

 

Pernah Mitha ribut dengan tetangga gara-gara Rina ditampar seorang ibu rumah tangga karena Rina merobohkan dengan sengaja jemuran ibu itu. Keluhan juga banyak diterima para tetangga. Sejak itu, anak-anak tidak boleh keluar. Pintu pagar ditinggikan dan digembok.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun. Tanpa terasa sudah sepuluh tahun anak-anak kami mendapatkan terapi. Namun hasilnya tidak ada. Bahkan mereka hanya sanggup duduk hingga lulus SD. Kata dokter, itu sudah hebat. Yang mengherankan, anak tante saya yang juga autis, ternyata bisa disembuhkan. Sedangkan anak-anak kami tetap autis hingga usia remaja.

Lantas, terjadilah sebuah hal yang tak pernah saya bayangkan. Ketika saya sedang bekerja, tiba-tiba ada tetangga menelepon agar saya segera pulang karena Mitha sakit keras. Sakit keras apa? Sewaktu saya berangkat kantor istriku sehat-sehat saja, kok. Sayang, di rumah saya belum pasang telepon sehingga saya tidak bisa mencek kebenaran informasi itu.

Akhirnya, dengan mengendarai mobil Daihatsu Espass kesayangan saya, yang baru saya ambil dari bengkel, sayapun segera pulang. Waktu itu sekitar pukul 11:00 WIB. Sampai di rumah saya lihat sudah banyak orang berkumpul.

Begitu saya masuk kamar, saya menemukan Mitha di tempat tidur dalam keadaan kaku, tubuhnya membiru dan dari mulutnya keluar buih. Mitha telah bunuh diri. Oh, Tuhan!

Saya menutup muka dengan kedua telapak tangan saya. Saya menangis. Kemudian mencium pipi istri tercinta yang sudah tak bernyawa lagi. Anak-anak menangis sedih. Hanya selembar surat yang ditinggalkan Mitha. Isinya, Mitha tak tahan lagi mengalami penderitaan seperti itu. Dia tak bisa menerima kenyataan punya tiga anak penderita autis.

Istriku, Paramitha, seorang muslimah yang tidak mau menerima kenyataan hidup. Tak tahan menerima cobaan dari Tuhan. Tak menyadari bahwa semua orang di dunia, tanpa terkecuali, pasti menghadapi berbagai macam cobaan

Saya baca surat dari Paramitha yang ditulis sebelum meninggal.

“Mas, tolong anak-anak dijaga baik-baik. Saya tidak tahan lagi. Maafkan saya, Mas…”

Sementara itu, ketiga anak saya terus menangis di dekat jenasah ibunya.

 

Hariyanto Imadha

Penulis Cerpen

Sejak 1973