CERPEN : Dari Glasgow ke Birmingham

Tiap kali Ramadhan tiba. Dua butir air mata pasti menetes di pipi. Teringat masa lalu yang penuh sejuta kenangan indah. Cerita anak muda yang jatuh cinta. Namun semua telah berlalu. Tinggal kenangan dan bayangan yang senantiasa datang. Cinta di bulan Ramadhan. Cinta putih sejuta rasa .(Hariyanto Imadha).

SEMUA orang pasti punya kenangan indah dalam hidupnya. Demikian pula saya. Sesudah saya lulus dari SMAN 6 Surabaya tahun 1972, maka sayapun berniat ke Glasgow. Saya punya sahabat pena di situ.

Pas bulan Ramadan, pesawatpun mengantarkan saya ke Glasgow. Tentu harus berpindah pesawat di London., karena dari Jakarta tidak ada yang langsung ke Glasgow. Begitu pesawat mendarat, saya langsung mencari seorang gadis yang membawa tulisan “Yosephine”. Nama sahabat pena saya itu. Akhirnya ketemu juga.

“Hallo,Yossie”. Panggilan untuk Yosephine.

“Hai,Harry”. Kami berpelukan dan berciuman. Ternyata Yosephine memang secantik foto-foto yang pernah dikirimkan. Kami berdua kemudian keluar bandara. Saya mengira akan naik taksi, ternyata sebuah limousin mewah. Di dalam mobil saya baru tahu kalau itu mobil ayah Yosephine.

Mobil mewah itu terus meluncur di tengah keramaian kota. Kota yang bersih dan nyaman. Tidak seperti Jakarta yang jorok dan macet melulu. Semula saya mengira saya akan ke rumah Yosephine. Ternyata saya diantarkan ke sebuah hotel mewah. Wah, dalam hati saya menolak, soalnya pasti uang saya tidak cukup membayar hotel.

Rupa-rupanya Yosephine cepat tanggap.

“Tidak usah bayar. Ini hotel milik ayah saya”.Wow, tentu saya langsung bergegas masuk kamar hotel. Sebuah kamar yang mewah, dingin dan nyaman. Sesudah mandi, ganti pakaian kemudian saya dan Yosephine menuju ke rumahnya. Tidak ada acara makan siang sebab Yosephine tahu kalau di bulan Ramadan saya pasti berpuasa. Untuk makan saur dan berbuka puasa tidak masalah, karena restoran yang ada di hotel buka 24 jam nonstop. Dan semua masakan dijamin halal.

Rumah Yosephine ternyata sebuah rumah mewah mirip istana negara yang ada di utara Monas,Jakarta. Halamannya luas dan ditumbuhi rumput pendek yang indah. Mirip lapangan golf. Di depannya ada sebuah taman lengkap dengan air mancur. Saya baru tahu kalau ayah Yosephine merupakan salah satu orang terkaya di Glasgow.

Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang indah. Saya diajak melihat pabrik-pabrik milik ayahnya, juga ke sebuah objek wisata dengan pemandangan yang indah. Selama seminggu di Glasgow, saya tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Semua ditanggung Yosephine.

Tiap kali masuk toko, saya pasti ditraktir. Mulai dari baju, celana, kamera,arloji,dll. Semua barang-barang dari merk terkenal. Bahkan tak jarang saya diberi segepok uang yang cukup banyak. Kalau saya menolak, Yosephine pasti marah-marah.

Sayang, sudah seminggu saya di Glasgow dan saatnya saya harus terbang ke Birmingham. Juga, untuk menemui sahabat pena saya. Sayapun diantarkan ke bandara. Kami hanya bisa berpelukan lama. Rasa-rasanya kami tidak ingin berpisah. Yosephine menangisi perpisahan itu. Dia berjanji suatu saat akan ke Indonesia.

BIRMINGHAM. Akhirnya pesawat mendarat mulus di bandara Birmingham. Seperti biasa, turun dari pesawat, saya mencari seorang gadis mengangkat tulisan “Caroline”. Nama gadis itu. Tidak sulit. Kamipun bertemu dan berpelukan. Seolah-olah kami sudah bersahabat lama. Maka langsung ngobrol ke sana kemari.

Kamipun dijemput sebuah mobil tua. Kamipun menuju rumah Caroline. Agak pinggir kota. Malahan tepatnya di daerah pertanian. Caroline bukan anaknya orang kaya, melainkan seorang petani kentang yang sukses. Meskipun bukan petani kaya, namun rumahnya bagus juga. Sawahnya 10 hektar. Punya beberapa traktor ukuran besar. Bahkan punya sebuah pesawat terbang kecil yng digunakan untuk menyirami sawah atau untuk menyemprotkan obat antihama.

Caroline memang gadis ceria dan cantik juga. Dia duduk di kelas satu di salah satu SMA di Birmingham. Caroline sering becanda. Bahkan sering ngenyek Pernah ketika melihat sepatu yang saya pakai, dia langsung ngenyek.

“Kok, sepatu model kuno masih dipakai”. Diapun tertawa renyah. Saya tidak marah karena dia cuma bercanda. Bahkan dia punya kesan, Indonesia itu banyak kere-nya. Tentu saya katakan di Indonesia banyak kere. Tetapi yang jadi konglomerat juga banyak. Bahkan saya katakan, Jakarta sepuluh kali lebih indah daripada Birmingham.

Satu hal yang membuat saya terharu yaitu, dia berjanji, setelah lulus SMA, dia ingin ke Indonesia dan menikah dengan saya. Dia bersedia masuk Islam. Bahkan Caroline pamer ke saya bahwa dia hafal Surat Al Fatehah. Ternyata dia banyak belajar Islam dari teman sekelasnya yang berasal dari Pakistan. Pantaslah, ketika saya di rumah Caroline, saya disediakan sajadah. Katanya pinjam dari temannya yang dari Pakistan itu.

Tidak hanya itu, esok harinya saya diajak ke masyarakat Islam yang ada di Birmingham. Ada satu dua orang Indonesia yang ada di komunitas itu. Untuk makan saur dan berbuka puasa tidak masalah, sebab ternyata Caroline dan kedua adiknya pandai memasak.Tentu harus membuka Cooking Book (Buku Memasak). Hebatnya, semua masakannya khas Indonesia dan sejak dulu katanya tidak pernah memasak atau makan daging babi. Sebagai seorang muslim tentu saya merasa bangga atas sikap Caroline yang menghargai saya sebagai seorang muslim.

Sayang, hanya seminggu saya di Birmingham. Kepulangan saya tidak hanya diantar Caroline, tetapi juga kedua orang tua dan kedua adiknya.Kok mirip di Indonesia, yang pergi cuma satu orang, tetapi yang mengantar orang satu kampung. Sampai di bandara kami hanya bisa berpelukan lama. Rasa-rasanya tidak ingin pulang ke Indonesia.

Tanpa terasa, kami berdua telah saling jatuh cinta .. Bahkan saya berjanji, suatu saat saya akan melamarnya dan membawanya ke Indonesia. Caroline hanya bisa menangis dan menangis.

Namun akhirnya pesawat harus membawa saya meninggalkan Birmingham. Tidak bisa langsung ke Jakarta. Harus ke London dulu. Pesawatpun membelah udara. Dari jendela saya hanya bisa melihat awan-awan putih. Hati ini merasa terharu. Tanpa terasa dua butir air mata membasahi pipi.

Saya tidak tahu, apakah Ramadan tahun berikutnya saya bisa ke Glasgow dan Birmingham lagi. O, saya tersadar sekarang sudah tahun 2010. Berarti kenangan indah itu sudah ternjadi 38 tahun yang lalu. Pasti, Yosephine dan Caroline sudah menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Saya cuma bisa merasakan, hidup ini seperti mimpi.

Tiap Ramadan tiba, saya pasti teringat kenangan indah di Glasgow dan Birmingham.

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s