CERPEN: Pacarku Cantik Tetapi Ngah-Ngoh

ORANG Bojonegoro, Jawa Timur memang paling pintar membuat istilah. Antara lain “ngah ngoh” ataupun ‘pah poh’. Dari sudut ilmu bahasa atau linguistik, tepatnya etimologi, kata ‘ngah ngoh’ sebenarnya berasal dari bahasa Jawa juga, yaitu ‘plonga plongo’ di mana kata ‘nga ngo’-nya berubah menjadi ‘ngah ngoh’.Ngah ngoh artinya bengong. Sedangkan kata ‘pah poh’ berasal dari kata ‘opa opo’ di mana ‘pa’ dan ‘po’ nya berubah menjadi ‘pah poh’.

Sejak saya jadi mahasiswa di Fakultas Hukum UI memang saya tahu kalau teman saya yang bernama Mirna Yuanita memang cantik tetapi bodoh. Kalau diajak ngomong sering nggak nyambung. Saya tanya A jawabannya B. Saya tanya B jawabannya A. Kalau pertanyaannya diulang baru mengerti.

Mungkin karena cinta, saya tak peduli apakah Mirna bodoh atau tidak bodoh. Yang penting saya cinta dan sayang banget. Jadi jangan heran kalau berangkat kuliah dan pulang kuliah saya antarkan. Untung ya, dia mau saya ajak naik motor. Tapi, dia juga bukan anak orang kaya,kok. Tinggal di kawasan Rawamangun. Waktu itu kampus FHUI masih di Rawamangun.

“Mas Harry kok naksir saya, sih. Mahasiswi lain yang lebih cantik dan pandai daripada saya kan banyak” Mirna tanya ke saya. Saat itu semua mahasiswa ada di dalam ruang kuliah menunggu dosen matakuliah “Aspek-aspek Hukum dalam Transaksi Keuangan” yang belum juga datang.

“Karena cinta” Singkat saja jawab saya.

“Apa karena saya cantik?”

“Bukaaan…Karena saya cinta”. Saya menegaskan sambil membuka-buka catatan kuliah. Saat saya kuliah, hanya ada dua jurusan, yaitu Jurusan Pidana dan Jurusan Perdata. Tepat angkatan saya, dibuka program studi, terdiri dari

Program Kekhususan Hukum Tentang Hubungan antara Sesama Anggota Masyarakat, Program Kekhususan Hukum Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kejahatan, Program Kekhususan Praktisi Hukum, Program Kekhususan Hukum Tentang Kegiatan Ekonomi, Program Kekhususan Hukum Tentang Hubungan Negara dan Masyarakat, Program Kekhususan Hukum Tentang Hubungan Transnasional dan Program Kekhususan Hukum Tentang Kesejahteraan Masyarakat dan Masalah Sosial

Karena saat itu saya juga kuliah di FE Univesitas Trisakti, maka saya memilih Program Kekhusususan Hukum ke-4 yaitu Program Kekhususan Hukum tentang Kegiatan Ekonomi atau mahasiswa biasa menyebut dengan istilah PKH-4.

Teman-teman kuliah saya sering meledek. Katanya, mahasiswi yang canti dan pandai cukup banyak, kenapa kok saya memilih Mirna Yuanita yang cantik tapi bodoh. Terus terang saya cuek dengan pendapat-pendapat orang lain. Urusan saya adalah urusan saya.

Memang ada resikonya sih punya pacar bodoh. Tiap kali ada tugas membuat makalah, Mirna pasti minta tolong. Apa boleh buat. Artinya, tiap ada tugas, saya harus membuat dua makalah dengan materi yang berbeda.

Sering juga saya ajak ke Perpustakaan LIPI, Jl.Gatot Soebroto untuk membantu mencarikan buku-buku untuk bahan makalah. Namun yang diambil asal comot. Buku-buku hukum untuk program kekhususan hukum yang lain yang diambil. Pokoknya, salah melulu.

“Kok salah melulu sih, Mas?” Keluhnya.

“Ya memang bukan itu buku yang saya cari. Kita ini kan di PKH-4. Tentang hukum ekonomi. Bukan yang lain-lain” Saya memberikan penjelasan. Mirna manggut-manggut dan mencoba mencari buku-buku hukum di rak perpustakaan. Dan salah lagi. Akhirnya Mirna duduk saja di kursi. Sayalah yang mencari sendiri buku-buku yang sesuatu dengan materi makalah.

Kenapa seseorang menjadi bodoh. Banyak orang awam berpendapat bahwa penyebab kebodohan adalah semasa kecil terlalu banyak bermain, akibat terlalu banyak merokok, karena pneumonia, karena teriakan, kecelakaan,pukulan, trauma,kemiskinan, juga ada yang mengatakan disleksialah penyebabnya bahkan faktor keturunan juga dianggap penyebabnya.

Kalau mau jujur. Penyebab kebodohan adalah karena potensi otak manusia belum dioptimalkan. Banyak cara untuk mengoptimalkan kemampaun otak. Antara lain melalui proses belajar dengan atau tanpa bimbingan. Juga dengan metoda program aktivasi otak tengah atau PAOT.Bisa juga dengan cara memberikan bimbingan,pencerahan,motivasi,semangat dan latihan.Ada juga dengan cara metode “Q & A”.

Nah, di perpustakaan LIPI itulah saya memberikan motivasi dan pencerahan ke Mirna tentang bagaimana caranya mencari buku-buku dengan benar. Harus bertahap, sebab IQ orang tidak sama. Setelah itu, Mirna ternyata bisa mencari buku-buku hukum dengan benar.

“Terima kasih. Kali ini buku-buku yang Mirna ambil benar semua” Saya memberikan pujian ke Mirna.

“Terima kasih atas pujiannya, Mas Harry”. Mirna terus duduk di samping saya. Siang itu udara AC di perpustakaan LIPI cukup nyaman. Membuat cinta kami berdua semakin nyaman dan indah pula. Orang yang bodoh tidak boleh dibodoh-bodohkan tetapi harus diberi pencerahan, motivasi dan semangat.

Ada pendapat bahwa semua wanita cantik itu bodoh. Pendapat ini tidak benar dan tidak ilmiah. Apakah pria yang taman pasti pandai? Ternyata tidak. Jadi, pandai atau bodoh itu relatif. Orang bodoh karena belum tahu. Kalau sudah tahu tentu tidak bodoh lagi. Albert Einstein itu pandai fisikam kimia dan matematika. Tapi, soal bahasa Jawa dia bodoh. Kecuali mau mempelajarinya.

Manusia adalah tempat salah dan lupa atau ‘al insanu mahallul khatai wannisyani’.maksudnya, orang kelihatan bodoh bisa juga karena melakukan kesalahan berpikir atau lupa. Tapi itu manusiawi sekali.

Hari demi hari, hubungan saya berlanjut terus. Lancar tanpa hambatan. Sayapun sering ke rumah Mirna untuk keperluan pribadi ataupun belajar bersama.

Dengan metode “Q & A” atau “Question and Answer”, akhirnya secara bertahap Mirna memahami matakuliah yang pernah diajarkan. Kalau selama semester I nilai ujian Mirna rata-rata Cuma 60, maka pada semester II telah naik menjadi 65. Dan semeter III telah meningkat menjadi rata-rata 70. Semester IV rata-rata 75.

Teman-teman yang dulu meledek saya dengan mengatakan buat apa punya pacar cantik tapi bodoh, menjadi tercengang. Bahkan banyak di antara mereka yang nilai ujiannya rata-rata hanya 65. Jadi, merekalah sekarang yang bodoh.

“Nah! Makanya, kalian jangan meremehkan orang lain dan mengatakan orang lain bodoh. Contohnya, sewaktu saya masih sekolah di SMPN 2 Bojonegoro, ulangan bahasa Inggeris saya dapat 1,2. Guru saya namanya Pak Paryono dan sekarang tinggal dekat Jembatan Kaliketek. Sedangkan teman-teman saya dapat nilai 75 ke atas. Bodoh sekali waktu itu.

Nah, di Akademi Bahasa Asing “Jakarta”, dulu kampusnya sebelah selatan Polda Metro Jaya, saya membalas dendam. Dan saya lulus dengan predikat cum laude. Begitu juga Mirna. Dulu memang bodoh. Sekarang nilai rata-ratanya 75”. Panjang lebar saya bicara ke teman-teman se kampus. Antara lain ada Prawoto, Abu Thalib, Mukharom, Diena, Puji,Endrarti dan Anneke.

Sayang, saat itu saya dapat panggilan dari pihak fakultas. Saya dapat teguran keras karena di samping saya kuliah di FHUI, saya juga kuliah di FSUI. Hal ini terlacak di komputer data milik UI. Sayapun disuruh memilih, FHUI ataukah FSUI. Alasannya, tiap mahasiswa PTN dapat subsidi Rp 300.000 per semester. Berapa miliar kerugian negara kalau banyak mahasiswa PTN merangkap kuliah di lingkungan PTN juga?

Dengan sangat berat, saya akhirnya memilih FSUI, sebab di fakultas sastera saya sedang menyusun skripsi. Jadi, lebih baik saya mengorbankan FHUI.

Celakanya, sejak saat itu juga saya tak pernah bertemu lagi dengan Mirna, sebab dia pindah ke Fakultas Hukum, Universitas Sriwijaya, Palembang. Kedua orang tuanya pindah tugas ke Kota Pempek itu.

Sejak saat itu, hingga tahun 2011 sekarang, saya tak pernah bertemu lagi.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: