CERPEN: Andai Aku Jadi Gayus

SEKITAR dua tahun yang lalu, saya masih menjadi staf ahli salah satu BUMN di Jakarta. Semula keadaan biasa-biasa saja. Sampai suatu hari, saya iseng-iseng melihat-lihat pembukuan yang dilakukan oleh teman sekantor. Ternyata, saya menemukan adanya korupsi pengadaan komputer bernilai ratusan juta rupiah. Sayapun menegur teman saya itu. Aneh, saya disuruh bungkam.

Dua hari kemudian, ketika saya sedang membuat konsep, tiba-tiba secara mengejutkan muncul empat orang satpam mencari-cari nama saya.

“Siapa yang namanya Harry?” tanya salah seorang dari mereka yang bertubuh kekar. Sayapun angkat tangan dengan wajah penuh tanda tanya. Mereka langsung mendekati saya. Salah seorang mengambil pisau lipat di meja saja. Kemudian saya digelandang di ruang satpam. Di situ, saya baru duduk persoalannya.

Kata satpam, mereka dapat telepon dari seseorang yang satpam tidak mau menyebutkan namanya. Katanya, saya akan membunuh salah seorang kepala dinas di BUMN itu. Buktinya, ada pisau di meja saya. Lalu saya katakan, saya membawa pisau karena tiga buah cutter yang saya bawa ke kantor hilang melulu. Fungsi pisau itu adalah untyuk memotong kertas ketik dari ukuran folio menjadi ukuran kuarto.

Mereka tak percaya. Bahkan saya dilaporkan ke polisi. Ketika di pengadilan, saya lebih terkejut lagi karena ada dua saksi palsu yang tidak pernah saya kenal. Karena ada “barang bukti” pisau dan dua saksi palsu, akhirnya saya dijebloskan ke lembaga pemasyarakatan atau LP.

Saya menempati sebuah ruang tahanan yang seharusnya dihuni 7 napi, ternyata harus ditempati 17 napi. Bisa dibayangkan, betapa tidak nikmatnya. Beruntung, napi-napi lainnya menaruh rasa simpati ketika saya ceritakan sebab-sebab saya dijebloskan di penjara.

“Jadi, saya dipenjara sebenarnya bukan karena saya ingin membunuh salah satu atasan saya. Tapi, semata-mata saya mengetahui adanya korupsi pembelian komputer yang bernilai ratusan juta rupiah,” begitu saya bercerita ke teman-teman satu sel.

Seminggu kemudian, masuklah seorang tahanan. Sehat, perlente, penampilannya serba pede dan jalannya santai-santai saja. Dia menempati satu sel khusus. Sendiri. Belakangan saya baru tahu kalau dia bernama Gayus si mafia pajak yang mempunyai kekayaan tidak halal lebih dari Rp 100 milyar.

“Oh, itu yang namanya Gayus?” komentar saya. Maklum, satu dua hari sebelumnya saya sering mendengar cerita dari teman-teman satu sel yang diperbolehkan membeli dan membaca koran.

Selama beberapa bulan, saya melihat dengan mata kepala sendiri, betapa bebasnya Gayus keluar dari LP. Konon, sampai ke Bali dan entah ke negara mana lagi. Maka di selpun muncul bahan perbincangan dengan judul “Andai Aku Jadi Gayus”. Satu persatu napi mengemukakan pendapatnya.

“Kalau saya sih, andai saya jadi Gayus, saya akan perbaiki kondisi LP ini. Kalau bisa, ditingkat menjadi dua atau tiga lantai sehingga tiap ruang tahanan sesuai dengan kapasitasnya. Tidak berjubel seperti sekarang ini,,” itu pendapat Bimo yang berbadan kurus iitu.

“Kalau saya sih, saya akan keluar penjara siang hari untuk mengurusi anak istri. Malam hari saya akan kembali ke penjara,” sahut Tinton yang berwajah ganteng itu.

“Kalau Harry, bagaimana pendapatnya?” tanya mereka ke saya. Kebetulan, saya adalah napi terakhir yang harus berpendapat.

“Hmm, kalau saya sih, akan undang pers. Akan saya sebutkan nama-nama oknum perpajakan, polri, kejaksaan dan pengadilan yang pernah saya suap atau pernah memeras saya. Juga, akan saya sebutkan satu persatu nama-nama perusahaan dan nama-nama pelakunya yang mengajak saya untuk melakukan manipulasi pajak. Kalau perlu, semua keterangan saya dibukukan,” kata saya.

“Maksudnya?” tanya mereka.

“Supaya masyarakat luas tahu, betapa lemahnya manajemen pemerintahan, terutama di tubuh perpajakan,polri, kejaksaan dan pengadilan.. Terutama manajemen pengawasannya. Bahkan saya menilai manajemen pengawasan terhadap rutan maupun LP luar biasa lemahnya.” saya menambahi.

“Bukankah ada inspektorat?” tanya teman-teman.

“Betul. Tapi sejauh mana sih prestasi kerja inspektorat? Seberapa jauh pengawasan yang mereka lakukan?” tanya saya kepada diri sendiri.

“Kenapa kira-kira berbagai macam unit pengawasan di Indonesia ini seperti krupuk? Mlempem?” tanya Gito yang berambut cepak iitu.

“Sejak dulu unit-unit pengawasan di Indonesia memang lemah. Sebab, proses rekruitmen SDM di Indonesia kurang profesional. Di samping itu moralitas oknum birokrasi banyak yang rusak. Yang dipikirkan hanya duit,duit dan duit melulu.”

“Bukankah karena faktor ekonomi? Faktor gaji yang kecil?” tanya Endut yang memang perutnya gendut.

“Alasan klise. Kalau gaji kecil, ya cari penghasilan tambahan yang halal. Ada ratusan jenis usaha yang halal. Walaupun digaji besar kalau moral etikanya bejat, ya korupsi juga. Mereka yang korupsi itu kan orang-orang yang sesat. Agama dipahami hanya kulit-kulitnya saja,” saya mencoba meyakinkan mereka.

“Ada betulnya juga. Saya dulu melakukan penipuan juga karena keyakinan agama saya tipis. Saya hanya memikirkan uang,uang dan uang. Padahal, sebenarnya gaji saya waktu itu lebih dari cukup,” kata Purnomo yang bergelar S-1 namun terpaksa harus masuk LP gara-gara melakukan penipun.

“Lantas, menurut Harry, bagaimana kok manajemen pengawasan di Indonesia lemah?” sekarang Warsito yang bertanya.

“Kalau mau jujur,sih. Sejak era Soekarno hingga era SBY, belum ada presiden yang memiliki kemampuan manajemen yang profesional. Seharusnya tiap menteri diberi target kualitatif dan kuantitatif yang jelas. Jika dalam waktu satu tahun target tidak tercapai, maka harus dicopot dan diganti. Semua menterinya harus punya kompetensi, baik dari kalangan profesional maupun kalangan parpol. Mereka harus punya ‘road map’ yang jelas dan realistis,” saya menjelaskan.

“Lantas?”

“Lantas, jika ada kejadian korupsi, mafia pajak, markus dan semacamnya, maka atasannya harus dipecat. Jika sampai terjadi tiga kali, maka menterinya harus dicopot walaupun masa tugasnya belum satu tahun,” saya menambahkan.

“Lantas, kembali ke topik semula, andaikan Harry jadi Gayus, apalagi yang harus dilakukan?” tanya Bogel yang bertubuh pendek. Saya dan semua napi duduk dan tidur di lantai. Tidak ada tempat tidur ataupun kasur.

‘Andaikata saya jadi Gayus? Ha ha ha…Selama presiden kita tak memiliki kemampuan manajemen yang profesional, tidak jujur, tidak adil, tidak tegas, tidak cerdas dan tidak amanah, maka saya leluasa untuk membeli pejabat. Saya bisa membeli oknum perpajakan, polri, kejaksaan, pengadilan dan bahkan saya akan meminta bantuan para cukong dan politisi untuk mengatur saya agar bisa bebas, dihukum ringan atau bahkan kabur ke luar negeri seperti Edi Tansil. Sejak era Presiden Soekarno hingga Presiden SBY, mereka adalah manajer-manajer politik. Bukan manajer negara. Artinya, mereka bisa terpilih sebagai presiden, tetapi tidak bisa mengelola negara” cukup panjang penjelasan saya.

“Ha ha ha….Betul itu. Maju mundurnya sebuah negara memang tergantung dari kualitas presidennya. Kalau presidennya berkualitas, tentu akan dibangun banyak LP baru atau menjadikan LP bertingkat yang benar-benar manusiawi. Seorang presiden yang berkualitas tentu akan bergaul dengan masyarakat untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi masyarakat kemudian mencari solusinya,” cukup panjang komentar Gunawan yang pandai bermain gitar iitu.

“Dan jangan cuma menyalahkan iklim atau cuaca,” sahut Pinto yang pandai melucu.

“Ha ha ha….’” semua tertawa.

“Jadi, kesimpulan saya. Selama kita punya presiden yang tidak berkualitas, maka kasus Gayus akan terus bermunculan. Bukan hanya di Jakarta, tetapi se-Indonesia. Dan sebenarnya mafia pajak itu sudah terjadi sejak era Soekarno. Sudah lama. Kita butuh sebuah presiden yang mampu membuat semacam “corporate planning”, GBHN harus dihidupkan lagi supaya masa depan negara kita jelas. Presiden harus memiliki dewan pakar yang berfungsi sebagai ‘think-tank’. Kita butuh seorang presiden yang berani mati seperti Bung Karno,” saya menjawab pertanyaan mereka.

Kemudian saya melanjutkan.

“Jadi, saya ulangi,andaikan saya jadi Gayus, maka saya akan menyusun buku tentang mafia pajak, mafia polri, mafia kejaksaan, mafia pengadilan, mafia birokrasi dan mafia politik dan mafia-mafia lainnya. Dengan demikian semua orang akan tahu betapa lemahnya manajemen birokasi kita ini.Judul buku saya ‘Republik Mafia’,” saya mengakhiri pendapat saya.

“Setuju…!!!” serentak teman-teman satu persatu menyalami saya.

Catatan:

Video dan lagu berjudul “Andai Aku Gayus Tambunan” yang dibawakan Bona Paputungan,bisa Anda saksikan di:

http://www.youtube.com/watch?v=_82mLXXChKY

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: