CERPEN: Cewek Nagoya itu Bernama Imadha Nakagawa

WAKTU itu, tahun 1975, Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta, mendapat kunjungan sekitar 50 mahasiswa dari Universitas Nagoya, Jepang. Tentu, kunjungan persahabatan. Kebetulan, saya ditunjuk teman-teman menjadi sekretaris panitia. Sibuk juga, tetapi tak mengganggu perkuliahan. Maklum, ujian semester baru saja selesai.

Di aula, ketua rombongan mahasiswa Jepang, memberikan gambaran singkat tentang Universitas Nagoya adalah universitas negeri yang berpusat di Chikusa-ku, Nagoya, dan menjadi salah satu universitas bergengsi di Jepang.

Berdiri tahun 1871, Universitas Nagoya adalah sebuah sekolah medis. Tahun 1939 berubah menjadi Nagoya Imperial University. Tahun 1947 berubah nama menjadi Nagoya University.

Kemudian disusul ketua panitia dari kampus saya. Singkat saja. Sesudah itu kemudian diisi dengan acara saling bekenalan dan tentu saja saling berfoto. Karena banyak teman-teman saya yang tidak bisa berbahasa Jepang, terpaksa menggunakan bahasa Inggeris. Demikian juga para mahasiswa dari Jepang juga berbahasa Inggeris.

Namun, saya yang kuliah merangkap di Nihongo Bunka Gakuin (NBG) merasa beruntung bisa sedikit berbahasa Jepang. Apalagi, saya tertarik dengan salah satu mahasiswi Jepang yang putih cantik.

Sayapun mencoba mengajak bercakap-cakap dalam bahasa Jepang.
“Kon’nichiwa, o genkidesu ka? Hallo, apa khabar?” sapa saya sambil membungkukkan badan seperti lazimnya orang Jepang. mahasiswi itu terkejut melihat saya berbahasa Jepang.
“Wow. Anata ga nihongo o hanasu koto ga dekimasu ka? Wow. Anda bisa berbahasa Jepang?”
“Sukoshi. Mitashite iru hitsuyō ga arimasu? Watashi no namae wa Harry desu. Sedikit. Boleh berkenalan? Nama saya Harry.”
“Tashika ni. Dō itashimashite. Watashi no namae Imadha Nakagawa.Tentu. Dengan senang hati. Nama saya Imadha Nakagawa.”

Itulah awal perkenalan saya dengan Imadha. Cewek Jepang yang termasuk cantik dalam rombongannya. Sayapun mengobrol ke sana ke mari. Tentu sekitar dunia pendidikan, objek wisata, budaya dan akhirnya mengobrol apa saja. Acara hari itu cukup meriah dan siang hari diisi dengan acara saling tukar budaya di panggung yang ada di aula.

Tahun 1976. Sesuai janji saya dengan Imadha, hari itu saya jadi pergi mengunjungi Nagoya. Pesawat mendarat di bandara Nagoya atau Nagoya Hikōjō adalah sebuah bandar udara yang terletak dalam wilayah pemerintahan Toyoyama, Komaki, Kasugai dan Nagoya di Prefektur Aichi, Jepang. Tahun 1976 masih merupakan bandara internasional.

Begitu turun dari pesawat, Imadha langsung menyambut saya dengan senyumnya yang sangat menawan itu.
“Nagoya e yōkoso. Selamat datang di Nagoya.” sapanya. Sayapun langsung diajak masuk ke mobilnya dan Imadha yang pegang kemudi langsung mengemudikan ke arah jalan raya.

“Hai watashi no ie e? Ke rumah saya dulu,ya?” ajaknya.
“Doi. Setuju,” sahut saya pendek. Sepanjang perjalanan saya merasa kagum melihat Kota Nagoya yang sangat indah dan tertata rapi. Tidak ada kemacetan lalu lintas. Menunjukkan betapa pandainya pemerintahan Nagoya di dalam mengatur lalu lintasnya.

Sesampai di rumah Imadha, sayapun diperkenalkan dengan ayah dan ibunya. Ternyata Imadha anak tunggal. Sayapun dipersilahkan istirahat dan menempati sebuah kamar di lantai dua. Sebuah kamar yang mewah. Ternyata Imadha anak dari keluarga kaya. Rumahnya besar dan halamannya luas.

Setelah istirahat sebentar, Imadha kemudian mengajak saya mengunjungi kampus Universitas Nagoya. Ternyata, universitas tersebut berdiri di tanah yang sangat luas. Berdiri beberapa gedung terpisah dengan arsitektur moderen. Kemudian saya diajak ke bangunan inti yang sangat besar dan megah.

“Subarashii! Subarashii… ! Luar biasa! Hebat…! ” saya memuji dan berdecak kagum. Apalagi ketika diajak memasuki bagian dalam gedung. Wow, fasilitasnya sangat lengkap. Ruang full ac. Furniture mewah. Dan para mahasiswanya sangat ramah. Apalagi ketika mereka tahu saya dari Indonesia. Tentu, Imadha yang memperkenalkan mereka kepada saya.

Selesai melihat situasi kampus, Imadha kemudian mengajak ke objek wisata. Mobilnyapun segera mengantarkan kami berdua. Satu hal yang saya kagumi yaitu, rasa nasionalisme bangsa Jepang yang tinggi. Menurut Imadha, 90% penduduk Jepang menggunakan mobil buatan Jepang. Dan hanya 10% saja yang menggunakan mobil buatan Amerika dan Eropa. Itupun sekadar untuk menyenangkan produsen mobil Amerika dan Eropa. Saya jadi malu. Soalnya, kalau bangsa Indonesia, lebih suka memakai mobil impor daripada buatan Indonesia. Dasar nasionalismenya rendah!

Objek wisata yang kami kunjungi antara lain Atsuta Jingu Shrine, sebuah kebun yang indah;Furukawa Art Museum, museum seni yang mengangumkan; Higashiyama Koen (Nagoya zoo & botanical garden), perpaduan antara kebun binatang dan kebun mirip Kebun Raya Bogor; Meiko Triton, sebuah pantai mirip Pantai Pangandaran; Odaka Green, sebuah taman indah yang tertata sangat rapi; Toganji Temple, sebuah tempat keagamaan yang mengingatkan saya dengan candi Prambanan.

Menjelang Ashar, Imadha menghentikan mobilnya di pelataraan Masjid Honjin.
“Rettsu saisho no inori. Silahkan shalat dulu.” ujar Imadha. Dan saya terkejut ketika melihat bungkusan yang dibawa Imadha. Ternyata pakaian muslimah. Pakaian shalat.
“Oh, anata wa isuramu kyōtoda? Oh, kamu muslimah?” saya terkejut.
“Hai. Watashi no mama to papa ni mo isuramu kyōtodesu. Ya. Kedua orang tua saya juga beragama Islam,” jawabnya tenang.

Seusai shalat Ashar, kamipun pulang ke rumah Imadha. Iitulah saat-saat indah saya bersama Imadha. Yang kemudian selama lima hari di Nagoya, saya benar-benar diperlakukan bagaikan seorang pangeran.

Dan di hari terakhir, sayapun menyatakan cinta ke Imadha.
“Imadha, watashi wa anata o aishite.Imadha, saya cinta kepadamu.”
Imadha melihat ke arah saya.
“Jissai? Sungguh?”
Saya mengangguk. Kamu berdua kemudian saling berangkulan.

Sayang, esok hari saya harus kembali ke Indonesia sambil membawa sejuta kenangan, sejuta cerita dan sejuta foto serta sejuta cinta. Sebuah kenangan yang tidak akan saya lupakan selama-lamanya. Selanjutnya, hubungan saya dengan Imadha hanya lewat surat-menyurat saja.

Tahun 1977, seusai wisuda di Fakultas Ekonomi,Universitas Trisakti, Jakarta, saya kembali berkunjung ke Nagoya. Sudah banyak perubahan kota itu. Dengan naik taksi, saya menuju rumah Imadha.

Namun, setiba di rumah Imadha, tampak sepi. Hanya ada papan bertuliskan “For Sale”. Rumah itu akan dijual. Saya tanyakan ke tetangganya, katanya keluarga Nakagawa sudah pindah ke Kyoto. Alamatnya tidak tahu.

“Oh,Tuhan,” sayapun duduk lemas di dekat pintu pagar.

Hariyanto Imadha
Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: