CERPEN : Ustadz Gemblung dari Desa Cikadut

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata”Kami telah beriman”. Dan apabila  mereka kembali kepada syaithan-syaitan mereka, mereka berkata “Sesungguhnya tiada lain kami hanyalah mengolok-olok (14). Allah akan (membalas)  olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka (QS Al Baqarah ayat 14 – 15).

KESALAHAN dari sebagian orang Indonesia yaitu, menilai orang hanya dari luarnya saja (penampilannya, pakaiannya, kekayaannya, gelar sarjana atau gelar hajinya atau jabatannya). Padahal yang seharusnya, penilaian ditujukan kepada kualitas tingkah laku dan pemikirannya.

Contohnya, sebagian orang Indonesia menganggap ustadz adalah manusia pilihan Tuhan. Semua ucapan dan tindakannya benar dan tidak mungkin salah. Seolah-olah ustadz itu sederajat dengan malaikat. Padahal, sesungguhnya ustadz adalah manusia biasa yang kebetulan memahami ilmu Islam.

Padahal, motivasi orang untuk menjadi ustadz juga bermacam-macam. Antara lain, untuk menutupi masa lalunya yang buruk (eks pemakai narkoba), karena motif ekonomi (karena dulu cuma penjual es di terminal bus), karena status sosial dan ingin dihargai masyarakat (karena sebelumnya sering dilecehkan orang), karena pendidikan (karena latar pendidikannya sangat relevan dengan pekerjaannya sebagai ustadz), karena ingin dianggap suci (karena sebelumnya pernah menipu banyak orang), karena ikut-ikutan, karena ingin dianggap suci, karena ingin dianggap paling tahu soal agama Islam, karena panggilan jiwa dan karena gemblung.

“Assalamu’alaikum” Tiba-tiba ada tamu di depan rumah saya. Waktu itu saya masih tinggal di Desa Cikadut sebagai mantan kepala desa.

“Oh, Pak ustadz. Silahkan duduk” Saya mempersilahkan Pak ustadz duduk. Dia memang sering ke rumah saya yang sederhana itu. Nama ustadz itu yaitu Prof.Dr.H.Gemblung MA,MBA,MSc. Katanya lulusan dari Universitas Sorbonne Paris, UCLA Amerika, University of Queensland Australia dan entah mana lagi. Saya lupa. Apakah semua itu benar atau tidak benar saya tidak tahu. Maklum, sebelumnya 35 tahun lebih saya tidak pernah bertemu.

Saya dan ustadz Gemblung sudah bersahabat sejak masih kecil. Saya dan dia berpisah setelah sama-sama lulus SMA. Jadi, saya tahu masa kanak-kanaknya yang buruk. Suka mencuri di rumah saya. Suka menipu. Juga, suka pinjam uang tetapi tidak pernah dikembalikan. Dulu orang tua saya tergolong kaya, jadi saya memaklumi perbuatannya itu.

-“Apa khabar Pak Ustadz?” Saya basa-basi saja. Saya tahu benar bahwa dia datang ke rumah saya hanya ingin menunjukkan kehebatannya. Kadang-kadang mengucapkan salah satu ayat Al Quran yang mungkin sebelumnya sudah dihafalkan selama 77 hari. Buktinya, ketika saya tanyakan bunyi ayat yang lain, dia selalu menghindar dan bilang lupa. Artinya, teman saya yang mengaku ustadz itu belum qatam Al Quran.

Kata orang sedesa, Ustadz Gemblung kalau membacakan ayat-ayat sewaktu berceramah, itu sambil membaca Kitab Suci Al Quran. Bukan dari huruf Arabnya, tetapi dari huruf Latinnya.

Menurut warga sedesa, kebiasaan Si Gemblung sejak kecil belum hilang, yaitu suka berhutang dan tidak pernah membayar.

“Iya Pak, kalau saya tagih dia selalu mengatakan supaya piutang saya dianggap amal saja. Katanya, orang yang banyak amal dijamin masuk sorga” Begitu kata beberapa orang warga Desa Cikadut kepada saya.

Hari itu seperti biasa Ustadz Gemblung bicara apa saja, seolah-olah mengerti ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu matematika, ilmu bahasa, psikologi, dan lain-lain. Saat itu dia bilang bahwa warga bernama Zaenuddin itu dianggap sakit jiwa.

“Lho, kenapa kok sakit jiwa, Pak Ustadz?” Saya ingin tahu.

“Ya iyalah. Dia selalu membantah dan menyalahkan saya. Kalau menurut psikologi, itu termasuk Personal Obsessive Syndrome” Katanya sambil menghisap rokok.

“Memang sudah dibuktikan,Pak Ustadz?” Saya ingin tahu.

“Feeling saya mengatakan begitu” Ujarnya.

Dalam hati saya tertawa. Setahu saya, untuk menilai seseorang itu menderita sindromatik atau tidak, harus dilakukan observasi psikologis dan medis yang memakan waktu relatif lama. Tidak bisa hanya berdasarkan feeling saja.

Tapi saya tidak membantah, sebab kalau membantah dia pasti melakukan pembenaran-pembenaran. Dan saya tahu, sejak kecil Si Gemblung memang selalu merasa benar sendiri. Artinya, justru dialah yang menderita sindromatik. Gangguan kejiwaan. Atau sakit jiwa ringan.

Bicaranya juga sering membanggakan orang lain. Misalnya dia punya teman baru berumur 22 tahun tapi sudah S3. Atau dia bilang kenal profesor anu, profesor ini, profesor itu. Padahal saya tidak menayakan hal itu dan apa yang dikatakan itu juga tidak ada relevansinya dengan saya. Saya yang pernah belajar psikologi puluhan tahun berdiam diri saja.

Walaupun dia sering memberikan ceramah di mesjid, namun satu persatu warga pindah ke mesjid lain. Karena, belangnya ustadz yang gemblung itu diketahui warga. Ternyata Si Ustadz Gemblung itu punya banyak utang ke puluhan warga dan utang itu digunakan untuk membayar kredit motor dan rumah tipe 21 yang belum lunas-lunas juga. Dia selalu membayar utang dengan cara berutang dulu ke warga yang lain.

Jadi, sama dengan pemerintah Indonesia yang utang ke IMF, kemudian dibayar dengan hasil utang ke World Bank. Kemudian hasil utang ke World Bank dibayar dari hasil utang ke Asian Development Bank (ADB) dan seterusnya.

Ketika saya dulu menjadi kepala desa, saya selalu memberikan petuah ke warga sebagai berikut:

“Banyak orang merasa pandai,tapi tidak pandai.Banyak orang merasa benar, tapi tak memiliki kebenaran.Banyak orang memiliki kepandaian,tapi tak merasa pandai. Banyak orang benar, tetapi tak merasa benar.Banyak orang pandai dan benar, tetapi dianggap tak pandai dan tak benar oleh orang tak pandai dan tak benar.Sebab, yang tahu yang pandai dan yang benar hanya orang yang pandai dan yang benar. Oleh karena itu, tak ada gunanya orang yang pandai dan benar berdebat dengan orang yang tak pandai dan tak benar. Sebab hanya orang yang pandai yang bisa menghasilkan kebenaran dan kebenaran hanya milik orang yang pandai.Oleh karena itu orang yang tak pandai dan tak benar wajib bertanya dan belajar kepada orang yang pandai dan benar supaya orang yang tak pandai dan tak benar bisa menjadi orang yang pandai dan benar.”

Lama kelamaan ustadz yang menamakan dirinya Prof.Dr.H.Gemblung, MA, MBA, MSc kehabisan pengikut. Akhirnya pindah ke desa sebelah, yaitu Desa Cigagarutan, sekitar 10 kilometer dari desa saya, Desa Cikadut.

Catatan:

Cerpen ini merupakan hasil imajinasi penulis dan bersifat fiktif. Tidak ada maksud untuk mendiskreditkan profesi ustadz, melainkan sekadar menyampaikan kritik pencerahan. Jika ada nama, kejadian atau tempat yang sama, mohon saya dimaafkan.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: