CERPEN: Bangsa Indonesia Bangsa Kacung

HARI ini saya sedang sibuk membuat kanopi atau atap motor yang berbentuk artistik. Sebetulnya hanya merupakan hobi saja. Sekadar menyalurkan kreativitas dan inovasi. Tiba-tiba ada mobil berhenti di depan rumah. Tak lama kemudian pengemudinya turun.

“Hallo,Harry! Lagi, sibuk,ya?” sapanya. Setelah saya perhatikan, ternyata mantan teman kuliah saya di Program S2 di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia

“Oh, kamu Freddy. Dari siapa kok tahu alamat saya?” sayapun mempersilahkan dia masuk dan duduk di ruang tamu.

“Ah, diberi tahu Eva. Dia kan punya kartu nama Harry. Kebetulan saya tingggal di BSD City juga. Tepatnya di Anggrrek Loka,” jawabnya sambil duduk dan melepas kacamatanya.

“Oh,begitu. Nggomong-ngomong sekarang masih kerja, pensiun, bisnis atau apa?”

“Ya,pensiun. Juga bisnis kecil-kecilan. Membantu isteri saya yang membuka satu anjungan di food court di Plasa Senayan.” ujar Freddy. Dulu, dia bekerja di Freepoort Papua.

“Oh,ya. Ngomong-ngomong, bagaimana pengalaman Freddy selama bekerja di Freeport Indonesia. Di Papua?”

“He he he…! Saya menyesal bekerja di sana. Sekaligus prihatin.”

“Lho, memangnya kenapa?” Saya heran.”Apakah gaji Rp 50 juta per bulan tidak cukup?”

“Lebih sih kalau Rp 50 juta. Tapi saya merasa prihatin, sudah ribuan triliun rupiah kekayaan alam Papua dibawa pulang ke Amerika, sementara 70% rakyat Papua masih miskin dan sangat miskin. Saya merasa prihatin, Harry. Saya merasa saya dan teman-teman di Freepoort cuma sebagai kacung saja. Apa yang diberikan Freeport kepada bangsa saya sangat sedikit sekali dibandingkan apa yang mereka bawa pulang ke Amerika…” gerutu Freddy.

“Ya, begitulah nasib bangsa kita. Semua merupakan kesalahan pengambil keputusan. Banyak menteri kita yang bisa disogok, disuap dan dibeli demi kepentingan asing. Mnteri-menteri mendadak kaya raya, tetapi rakyat kita tetap miskin.” komentar saya.

“Betul, Harry. Saya tidak tahu bagaimana nasib bangsa Indonesia di masa mendatang. Di era Soeharto kekayaan minyak kita diekspor habis-habisan dengan harga murah. Sekarang, kita menjadi importir murni. Kalau kekayaan alam di area Freeport habis, kita punya apa? Apa yang akan kita banggakan?”

“Hmm, saya juga prihatin. Bayangkan, minimal 70% kekayaan alam kita dikuasai kapitalis asing. Sedangkan bangsa kita cuma jadi kacung. Apakah SDM kita tak mampu mengelolanya sendiri? Jika ya, maka ini merupakan pengakuan bahwa sistem pendidikan nasional kita tak bermutu. Karena tidak dipercaya mengelola sendiri kekayaan alamnya”

“Sebenarnya sih, bangsa kita banyak yang pandai. Masalahnya adalah, pemerintah takut terhadap tekanan-tekanan ekonomi dan politik Amerika dan kroni-kroninya. Apalagi pemerintah dijebak utang luar negeri yang nilainya lebih dari Rp 1.000 triliun. Kapan lunasnya, tidak ada satupun sarjana ekonomi yang bisa menjawabnya,” kata Freddy sambil mengambil nafas panjang.

“Sebenarnya saya setuju dengan pendapat Peter Drucker yang mengatakan bahhwa sebenarnya tidak ada negara yang miskin, yang ada adalah negara yang salah kelola. Termasuk pemerintahan Indonesia. Coba pikir, BLT sumber dananya dari World Bank. Kenaikan gaji PNS,TNI dan Polri, dananya utang ke JICA, Jepang. Cadangan devisa besar, sebagian dari utang ke IMF. Stimulus ekonomi akibat krisis finansial Amerika, uangnya pinjam dari ADB,” saya berargumentasi.

“Betul Harry. Sebenarnya jumlah PNS cukup 1% dari jumlah penduduk atau sekitar 2,3 juta saja. Kenyataannya sekarang lebih dari 4 juta. Padahal, sesungguhnya APBN kita tak mampu membayar PNS sebanyak itu, termasuk para pensiunannya. Pemerintah selalu menambah jumlah PNS hanya demi citra saja. Sebaliknya, jumlah TNI/Polri seharusnya 0,5% dari jumlah penduduk. Atau sekitar 1,5 juta personil. Kenyataannya cuma sekitar 450 ribu Personil. Mana mungkin mampu mengawasi Indonesia yang sangat luas ini.”

“Betul,Freddy. Pemerintah kita ini juga sangat boros. Pemekaran-pemekaran wilayah sangat membebani APBN. Di samping itu juga ada sekitar 150 institusi-institusi ekstra seperti KPK, satgas ini satgas itu, komisi ini komisi itu yang sangat menghambur-hamburkan uang rakyat. Dibentuknya KPK itu kan cermin seorang presiden yang tidak mampu mengefektifkan lembaga-lembaga resmi yang ada, yaitu kepolisian,kejaksaan maupun kehakiman,” saya menambahkan.

“Iya,Harry.Peemerintah kita tak punya strategi yang jelas. Tak punya GBHN sama saja tak punya masa depan yang jelas. Walaupun ada rencana jangka panjang dan rencana-rencana lain, tapi itu kan penjabaran dari visi misi presiden terpilih. Tidak profesionallah cara berpikir seperti itu.” kata Freddy sambil membaca BBM yang ada di Blackberry-nya.

“Iya. Lebih memprihatinkan lagi, pemerintah tak mampu menciptakaan lapangan kerja di negeri sendiri. Bisanya mengekspor babu. Mengekspor kacung…”

“Ha ha ha….Kita memang bangsa kacung,kok Harry. Bahkan banyak kacung-kacung berdasi yang menjabat sebagai menteri. Jadi kacungnya China untuk pembelian pesawat, jadi kacungnya Amerika untuk pembelian teknologi. Apa yang kta banggakan pemerintahan macam begini? “ Freddy mengeluh.

“Iya,Fred. Saya juga prihatin. Kalau saya ambil rata-rata, 70% perekonoomian Indonesia dikuasai asing, 70% sumber daya alam kiita dikuasai kapitalis asing, 70% perbankan dikuasai kapitalis asing, 70% jasa telekomunikasi dikuasai kapitalis asing, 70% gedung-gedung bertingkat di Jakarta milik kapitalis asing…Terus, salahnya di mana ya?” gerutu saya.

“Salahnya ya di pemerintah. Tidak pro rakyat. Sibuk mengurusi politik melulu. Boros. Lebih suka impor daripada mencoba untuk memproduksi sendiri. Mudah disuap atau disogok, mental korupsi, moral hedonistis. Tidak peka terhadap penderitaan rakyat, terutama para korban lumpur Lapindo, tidak pernah tuntas menyelesaikan kasus-kasus besar seperti kasus Bank Century. Lebih suka membeli mobil menteri yang mewah dan pesawat kepresidenan yang mewah. Kurang peduli dengan bangsa sendiri yang tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia.” kata Freddy cukup panjang.

“Kesimpulannya bagaimana?” saya ingin tahu.

“Kesimpulannya, selama ini bangsa Indonesia selalu memilih presiden yang berfunggsi sebagai manajer politik dan bukan sebagai manajer bangsa dan negara. Artinya, lebih suka mengurusi kepentingan poliitik daripada mengurusi bangsa dan negara.” jawab Freddy.

“Setuju…” singkat jawab saya.

“Yang pasti, walaupun Indonesia sudah 66 tahun merdeka, statusnya tetap sebagai bangsa kacung, bangsa jongos atau bangsa budak.”

“Solusinya bagaimana?” tanya saya.

“Solusinya tergantung rakyat. Jangan memilih capres-cawapres yang pro Amerika. Pilihlah capres-cawapres yang berani menjanjikan untuk menasionalisasikan seluruh sumber daya alam kita secara bertahap. Kalau Presiden Venezuela, Hugo Chavez berani menasionalisasikan seluruh kekayaan minyaknya dari cengkeraman kapitalis Amerika, maka rakyat harus memilih capres yang semangatnya sama dengan Hugo Chavez tersebut. “

“Kalau nggak ada yang sekaliber Hugo Chavez ,bagaimana?”. Saya ingin tahu.

“Lebih baik golput. Daripada salah pilih, bencana akibatnya. Kita akan tetap menjadi bangsa kacung…”

Berhubung sudah sore dan mendekati saat berbuka puasa, Freddypun pamiit uuntuk pulang ke rumahnya di BSD Anggrek Loka. Tidak jauh dari rumah saya di BSD Nusaloka, Tangerang Selatan.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: