CERPEN: Si Putih Anjing Kesayanganku

SETAHUN yang lalu saya membeli anjing di Kintamani, Bali. Harganya cukup mahal. Termasuk ras Kintamani. Anjing terbagus di Indonesia dan setara dengan anjing dari luar negeri. Bulunya halus. Sudah cukup dewasa. Jantan.Dan sangat cerdas.

“Cerdas?” tanya tetangga saya.

“Ya, cerdas. Dalam satu hari bisa menghafalkan lima perintah.Mulai dari kata ‘duduk’.’berdiri dua kaki’,’makan’,’kemari’,’naik’,turun’ dan masih banyak lagi. Jadi, dalam satu tahun ini sudah ratusan kkata atau perintah yang dihafalkannya. Bahkan boleh dikatakan, Si Putih mengerti kalau diajak bicara,” saya menerangkan ke tetangga tentang anjing putih yang saya beri nama Si Putih.

“Oh, hebat sekali,” komentar tetangga saya, Pak Naryo namanya. Sayapun membuktikannya dengan menyuruh Si Putih berdiri dua kaki, duduk, tidur dan perintah lainnya.

Esok harinya, kebetulan hari Minggu, Si Putih saya ajak jalan-jalan pakai mobil Honda Jazz putih. Dia duduk di jok sebelah kiri saya. Mobilpun saya jalankan pelan-pelan melalui Jl. Serpong Raya, Tangerang. Ketika melewati Kompleks Perumahan Alam Sutera, tiba-tiba kaki kanan Si Putih nunjuk-nunjuk ke arah music player.

“Oh, kamu mau mendengarkan musik,ya?” komentar saya. Sayapun memutarkan lagu kesayangan Si Putih, yaitu Black or White dari Michael Jackson. Diapun menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil menjulurkan lidahnya. Ah, lucu sekali Si Putih.

Ketika sudah sampai ke Plasa Senayan, sayapun memarkir kendaraan. Begitu berhenti, tiba-tiba tangan kanan Si Putih menyentuh tangan kiri saya dan kemuudian dia melihat ke arah luar kiri. Saya mengerti maksudnya. Sayapun melihat ke arah luar.

“Oh, ternyata ada seorang gadis yang sangat saya kenal,” gumam saya. Saya dan Si Putihpun segera keluar dari mobil. Segera saya mendekati gadis itu.

“Hallo, Stella,” sapa saya ketika sudah dekat. Stella terkejut, melihat ke arah saya, setengah tak percaya dia langsung menyalami saya.

“Oh, Harry. Nggak sengaja kita bertemu di sini,” ujarnya. Stella adalah seorang gadis cantik yang saya kenal di Kintamani sewaktu saya membeli Si Putih. Dia juga membeli seekora anjing Kintamani, tetapi berwarna hitam. Dia masih mahasiswi dan kuliah di Universitas Denpasar sedangkan saya kuliah di Universitas Tarumanegara, Jakarta Barat.

Akhirnya, saya menemani Stella berbelanja di Plasa Senayan. Kebetulan saat itu dia sedang liburan semester dan tinggal sementara di rumah tantenya di Menteng, Jakarta Pusat. Kebetulan, di Plasa Senayan saya juga ingin membeli sesuatu.

“Ini anjing yang beli di Kintamani,ya?” tanyanya sambil melihat Si Putih yang selalu berlari-lari kecil mengikuti kami.

“Iya. Ayo,Si Putih! Kasih salam buat mBak Stella,” perintah saya. Si Putihpun berdiri dua kaki dan menyodorkan “tangan kanannya” ke Stella.

“Oh, mau mengajak bersalaman? Pintar sekali,” Stellapun menyalami Si Putih.

Selesai belanja, saya dan Stella menuju ke food court untuk makan siang bersama. Agak ramai siang itu. Untung, masih ada tempat duduk. Saya dan Stellapun segera memesan makanan dan minuman. Tak lupa saya membeli makanan yang cocok buat Si Putih. Si Putih makan di bawah meja.

“Kapan Harry ke Bali lagi?” tanyanya. Saya cuma tersenyum sambil melihat wajahnya yang cantik. Rambutnya pendek, bulu matanya lentik,tubuhnya ramping dan penampilannya mirip Lula Kamal.

“Hmm, mungkin liiburan semester depan,” namun akhirnya saya menjawab juga.

Akhirnya, sayapun memenuhi janji. Liburan semester berikutnya, sayalah yang berlibur ke Denpasar, Bali. Tak lupa, Si Putihpun saya ajak. Saya naik kereta api ke Bali kemudian dari Banyuwangi naik bus malam full AC. Sambutan Stella hangat sekali.

Saya duduk di teras rumahnya. Sayapun diperkenalkan kepada papa, mama dan kedua adik ceweknya. Stella anak nomor pertama. Di depan tteras ada ar mancur dan kolam kecil. Sedang enak-enak ngobrol, tiba-tiba dari dalam rumah, keluar anjing Kintamani berwarna hitam. Anjing betina, Cantik sekali. Bulunya halus.

“Oh ya, ini namanya Si Hitam,” ujar Stella. Sayapun menggiring Si Putih dan memperkenalkannya ke Si Hitam. tampaknya keduanya cukup gaul. Dalam waktu singkat mereka berdua jalan-jalan ke taman di depan rumah. Entah apa yang dibicarakannya, saya dan Stella tidak mengerti.

“Mungkin,mereka saling jatuh cinta,” komentar Stella sambil tertawa “Mari Harry, diminum dulu minumannya,”ujarnyanya lagi. Sayapun langsung meminum capucino yang ada di gelas.hangat, manis dan nikmat rasanya.

“Anjing juga berhak jatuh cinta,lho,” saya menambahkan. Stellapun tertawa.

“Iya.Mereka juga punya perasaan.Punya otak.Punya selera.Apalagi, anjing Kintamani cukup cerdas,” Stella menambahi komentar saya.

Namun, ketika saya mau ppamit pulang, ada masalah. Si Putih tidak mau diajak pulang. Berkali-kali saya tarik untuk masuk ke taksi, selalu menolak. Selalu mendekati Si Hitam. Ketika Si Putih saya paksa masuk ke taksi, justru Si Hitam ikut masuk. Tampaknya, Si Putih dan Si Hitam tak mau dipisahkan.

“Wah,terlanjur jatuh cinta. Tinggalkan saja Si Putih,Harry,” usul Stella. Terpaksa, Si Putih saya tinggalkan dan saya langsung menuju ke hotel.

Esok harinya, saya dan Stella beserta kedua adiknya, membuat acara yang kocak. Yaitu menikahkan Si Putih dan Si Hitam. Lucunya, keduanya kelihatannya mengerti.Duduk berdua berdampingan.

“Wah, bagaimana ini solusinya?” saya bergumam. Sebab, Si Putih tetap tidak mau diajak pulang. Akhirnya, saya mengambil keputusan meninggalkan Si Putih di rumah Stella.

“Stella, terpaksa, saya tinggal dulu Si Putih di sini. Dua minggu sekali saya akan ke Bali naik pesawat menengok Si Putih,” kata saya ke Stella. Hari itupun saya pamit ke Stella untuk pulang. Ketika saya pamit ke Si Putih, tampak mata Si Putih berkaca-kaca. Dia menangis.

“Jangan menangis, Si Putih. Dua minggu sekali, saya akan menengokmu,” kata saya. Akhirnya, sayapun pulang ke Jakarta naik pesawat.Dan sayapun menepati janji, dua minggu sekali saya berkunjuung ke Bali. Di samping menengok Si Putih dan bertemu Stella yang diam-diam saya taksir.

Tanpa terasa, akhirnya Si Hitampun melahirkan tiga ekor anak anjing. Anjing pertama berwarna putih, kedua hitam dan ketiga berwarna hitam-putih.

Waktu berjalan begitu cepat. Mungkin sudah jodoh, akhirnya sayapun meniikah dengan Stella yang kebetulan sama-sama beragama Islam dengan saya. Akhirnya saya memutuskan pindah ke Bali. Kebetulan, kuliah saya di Universitas Tarumanegara sudah selesai. Kuliah Stellapun juga sudah selesai.Saya bekerja sebagai dosen di salah satu universitas swasta yang cukup ternama di Bali.

Nah, akhirnya saya bisa berkumpul lagi dengan Si Putih, anjing kesayangan saya. Bahkan, karena jasa Si Putih, ssaya biisa bertemu lagi dengan Stella dan menikah dengan Stella.

“Terima kasih Si Putih,” saya menyalami Si Putih,anjing Kintamani yyang cerdas itu.

 

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: