CERPEN : Ghea Istriku Sayang Istriku Malang

BANDUNG 1978. Baru saja saya selesai diwisuda di Fakultas Psikologi, Unpad. Kedua orang tua saya yang berdomisili di Bojonegoro tak bisa hadir. Namun saya cukup bahagia karena mendapat ucapan selamat dari teman-teman se kampus. Terlebih lagi, mendapat ucapan selamat berupa ciuman di pipi dari Ghea, yang juga bersama-sama diwisuda pada fakultas yang sama.

Nama lengkapnya Ghea. mahasiswi cantik yang selalu membujang dan kebetulan tiga tahun saya mencoba merebut hatinya, tetapi gagal. Ditolak mentah-mentah dengan alasan Ghea ingin menyelesaikan studinya dulu.

“Yuk, kita makan-makan di kantin,” teriak teman-teman yang merupakan teman satu kelompok belajar, termasuk Ghea. Serentak saya, Ghea, Budi, Sandra, Eko, Paramitha. Hendro, Encung, Dhalia, dan Anita menuju ke kantin yang kebetulan memang sudah kami booking. Alhamdulillah, teman kelompok belajar saya lulus semua.

“Mari kita berdoa kepada Tuhan mengucapkan puji syukuur atas kelulusan kita semua,” usul Dhalia. Kami semua kemudian menunduk dan berdoa. Mengucapkan terima kasih atas bimbingan dan petunjuk dari Allah swt sehingga kami semua bisa lulus.

Selesai makan-makan, merekapun bubar. Hanya saya dan Ghea yang masih tinggal di kantin. Cuma ngobrol-ngobrol ke sana kemari. rasa-rasanya hari wisuda juga sekaligus merupakan hari kelam, sebab berarti kami sebentar lagi harus berpisah. tak bisa kumpul-kumpul tiap hari seperti biasanya.

Nah, saat itulah, saya menyatakan cinta ke Ghea, yang punya nama lengkap Ghea Andhika Pratiwi. saya nekat saja. Ditolak ya tidak apa-apa, kalau diterima ya alhamdulillah.

“Terserah Harry sajalah,” jawab Ghea singkat. Wow, bagaikan kejatuhan durian saja saat itu. Gembira sekali karrena cinta saya diterima. Apalagi, Ghea seorang muslimah yang taat. Namun seorang muslimah yang moderat. Gadis seperti dia yang saya idam-idamkan. Itulah awal ceritanya. Tiga bulan kemudian saya menikah dengan Ghea. Sebuah pernikahan yang sederhana saja. Diadakan di Bandung karena orang tua Ghea di bandung dan juga di Bojonegoro karena orang tua saya di Bojonegoro.

JAKARTA 1988. Saya dan Ghea menempati rumah di Komplek Perumahan Sunter Hijau Permai, Jakarta Utara. Saya bekerja di salah satu BUMN di bagian Personalia dan Ghea di sebuah perusahaan swasta di Bagian R & D. Saya dikaruniai dua orang anak. Anak pertama perempuan bernama Eka Psikoyanti dan yang kedua laki-laki bernama Dwi Psikoyanto. Cukup bahagia kehidupan kami berdua. Rezeki juga lancar. Kesehatan juga baik-baik saja. Anak-anakpun tumbuh dan berkembang dengan sangat baik.

YOGYAKARTA 2008. Tepat liburan lebaran, sesudah berkunjung ke Bojonegoro, berziarah ke makam kedua orang tua saya, anak-anak minta jalan-jalan ke Yogya. Ingin melihat Candi Borobudur, Candi Prambanan dan oobjek wisata lainnya di Yogya. Tentu, karena membawa mobil sendiri, saya sekeluarga dengan senang hati menikmati semua objek wisata di kota gudeg itu. Bahkan juga memborong baju batik yang berkualitas tinggi. Kami semua menginap di Hotel Maerakaca.

Sampai di hotel, Ghea mengeluh. Keluhannya antara lain sakit kepala disertai mual sampai muntah . Segera saya dan Ghea menuju ke dokter Praktiknyo yang tidak jauh dari hotel. Menurut penjelasan dokter, sementara mungkin Ghea capai. Oleh karena itu disarankan supaya istirahat.

Esok harinya, Ghea mengeluh.

“Mas Harry. Kenapa penglihatan saya mulai berkurang? Pendengaran saya juga berkurang?” . Karena saya bukan dokter, maka hari itu saya ke dokter lagi. Dan dokter mengatakan, ada kemungkinan itu merupakan gejala kanker otak.

“Kanker otak?” saya dan Ghea terkejut mendengar hasil diagnosa dokter seperti itu.

“Ya. Gejala-gejalanya memang mirip itu. Tapi sabarlah. Kita tunggu perkembangan selanjutnya. Tidak usah berkecil hati. Berdoalah” ujar dokter memberi semangat.

Karena kondisi kesehatan Ghea tidak mengizinkan untuk pulang ke Jakarta, terpaksa kami sekeluarga menginap di hotel selama seminggu.

JAKARTA 2008.Ternyata, selama seminggu itu kesehatan Ghea semakin merosot. Antara lain kehilangan keseimbangan tubuh. Kalau berjalan seperti orang yang hampir jatuh. Dan tangan kirinya sering kejang. Atas saran dokter, saya sekeluarga segera pulang ke Jakarta dan langsung mengantarkan Ghea ke salah satu rumah sakit di Jakarta Pusat. Dan menurut hasil pemeriksaan Menurut hasil pemeriksaan CT scan, MRI, angiogram, myelogram, spinal tap dan biopsi, Ghea positif menderita kanker otak

“Mama, cepat sembuh,ya,” kata Eka yang saat itu sudah dewasa sambil mencium kening ibunya saat bezoek ke rumah sakit. Hari-hari selanjutnya saya, Eka dan Dwi secara bergiliran membezoek Ghea.

Tiga bulan Ghea dirawat di rumah sakit. saya dan anak-anak selalu berdoa agar Ghea cepat sembuh dan bisa berkumpul seperti biasanya. Dan dokter selalu mengatakan bahwa masih terbuka kesempatan untuk sembuh.

Dan…apa yang kami kawatirkan tibalah. Saat itu saya, Eka dan Dwi melihat, wajah Ghea putih pucat. Grafik yang ada di alat pemantau jantung naik turun rendah sekali. Bunyi “tit..tit…tit..” semakin lama semakin melemah. Dan akhirnya merupakan bunyi “tit” yang panjang.

“Mamaaaa…!” itulah teriakan histeris Eka yang langsung memeluk tubuh Ghea. Eka dan Dwipunpun menangis. Sayapun ikut terharu. Air mata saya menetes satu persatu.

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…” Saya berdoa, mudah-mudahan menerima semua amal iibadahnya dan mengampuni seluruh dosanya. Sayapun mencium kening Ghea.

“Selamat jalan Ghea. Semoga Allah swt menerima engkau di sorga,” bisik saya di telinganya.

Itulah hari terakhir saya bersama Ghea. Seorang isteri yang sholeh, cantik, pandai mendidik anak-anaknya. Ingin rasanya kami hidup bersama sepanjang masa. Namun, Tuhan berkehendak lain. Kebahagiaan saya dan anak-anak dengan Ghea, berhenti sampai di situ saja. Hidup ini terasa bagai serentetan mimpi. Dan saya tak akan melupakan hari itu, Kamis, 21 Agustus 2008.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

 

 

 

 

 

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: