CERPEN: Berselingkuh Cinta dengan Tamara

SIAPA sih yang tidak mengenal nama Tamara? Dia pernah menjadi Miss Campus di Universitas Metropolitan, Jakarta. Di samping cantik, dia juga cerdas, berpengetahuan luas dan bahasa Inggerisnya bagus. Penampilan tubuhnya yang ramping dan proporsional mendukung kemenangannya itu. Apalagi, dia juga seksi.

 

Kebetulan saja dia satu fakultas dengan saya, yaitu di fakultas ekonomi. Kebetulan juga dia satu kelompok belajar dengan saya. Jadi saya tahu siapa dia. Ternyata dia berasal dari Solo dari keluarga biasa-biasa saja. Namun, dia pandai berbusana walaupun bahannya tidak mahal.

 

Meskipun demikian saya bersahabat saja. Apalagi dia sudah punya pacar mahasiswa fakultas teknik. Saat itu kami berada pada semester keenam. Semakin lama matakuliahnya semakin sulit.

 

“ Jangan lupa ya, hari ini belajar bersamanya di rumah saya”. Begitu pesannya ke beberapa teman yang saat itu sedang menyelesaikan kuliah.

“Oke”. Serentak teman-teman yang satu kelompok belajar berkomentar.

 

Sore harinya seperti biasa kami berdelapan belajar di pavilyun di rumah Tamara di kawasan Kemanggisan. Dia tinggal bersama kakaknya seorang direktur utama perusahaan importir mobil. Sebuah rumah cukup mewah.

 

Tak lupa sambil belajar kami disuguhi kue-kue yang enak yang ternyata buatan Tamara sendiri. Maklum, sejak kecil Tamara senang membuat kue bersama ibunya. Bahkan membuat pizza, spaghetti, hotdog pun bisa dilakukan. Rasanya juga enak. Jadi, jangan heran kalau teman-teman senang belajar di rumah tamara. Biasanya, kami selesai belajar bersama pukul 21:00 WIB.

 

Di kampus kegiatan mahasiswa tidak hanya belajar. Ada acara lain sesuai minat dan bakat para mahasiswa. Mulai dari olah raga basket, sepak bola, voli, tenis, bulu tangkis, musik, seni rupa, berkemah, mendaki gunung, arung jeram, bela diri dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya.

 

Kebetulan kelompok belajar kami memilih kegiatan berkemah. Jadi ketika Tamara punya rencana berkemah ke salah satu gunung di Jawa Barat, maka kamipun gembira. Semua persiapan kami lakukan dengan sempurna.

 

Dan pada hari H kamipun berangkat. Sampai di tempat tujuan kami memasang tenda masing-masing. Berdelapan membangun delapan tenda. Satu tenda satu orang. Jadi, cukup lega dan nyaman.

 

Malam harinya kami berkumpul dan membuat sate kambing sambil main gitar dan bernyanyi bersama. Udara malam itu cukup dingin hingga masuk ke tulang. Rasa-rasanya kurang berguna memakai jaket tebal. Untunglah api untuk membakar sate dan api unggun mengurangi rasa dingin itu.

 

“Uh, dingin sekali”. Ujar Tamara yang kebetulan duduk bersimpuh di samping saya. Kebetulan semua peserta kemah duduk membuat lingkaran di tanah mengelilingi api unggun.

 

Saya tertawa melihat Tamara kedinginan. Padahal AC di rumahnya tak kalah dinginnya. Padahal sayapun sebenarnya juga merasa kedinginan.

 

“Bawa selimut,nggak? Saya lupa bawa selimut”. Ujar Tamara. Kebetulan saya membawa selimut. Tak apalah, demi teman saya mengalah. Selimut itu akan saya pinjamkan untuk Tamara. Daripada dia nanti dia jatuh sakit.

 

“Punya, tapi di dalam tenda saya”. Kata saya. Tamarapun minta diantarkan ke tenda. Sayapun ajak dia. Dia mengikuti saya. Ketika saya masuk tenda, Tamara ternyata juga ikut.

 

Yang membuat saya terkejut, Tamara langsung mendekap saya.

“Uh, gila dingin banget…”. Dipeluknya saya kuat-kuat. Dan entah kenapa, tiba-tiba dia mencium bibir saya. Tentu saya terkejut karena itu di luar dugaan. Nbamun sebagai laki-laki normal, maka kesempatan itu saya manfaatkan sebaik-baiknya. Paling tidak merupakan usaha untuk menghangatkan tubuh.

 

Beberapa menit kami berduapun keluar dari tenda. Tamara menuju ke tendanya sambil membawa selimut. Memang jarang berkemah membawa selimut. Namun pengalaman menunjukkan betapa perlunya membawa benda itu.

 

Begitulah. Di lain kesempatan kami berselingkuh cinta dengan Tamara. Apalagi tiap Jumat pacar Tamara pulang ke Bandung, maka saya punya kebebasan penuh berdua dengan Tamara. Tak jarang dia datang ke tempat kos saya di Jl. Dr. Susilo raya, depan kampus.

 

Tanpa terasa, perselingkuhan itu berjalan selama beberapa tahun. Meskipun demikian Tamara tetap berpacaran dengan mahasiswa dari fakultas teknik. Dan saya sendiri sejak semester satu juga sudah punya pacar. Yaitu, mahasiswi dari Fakultas sastra Universitas Indonesia.

 

Walaupun saya dan Tamara berselingkuh cinta, namun cinta kami cinta biasa-biasa saja. Bukan untuk serius. Kami lebih menekankan persahabatan. Persahabatan yang indah. Aneh memang. Tapi itulah kenyataan hidup yang saya alami.

 

Ketika kami selesai diwisuda, maka saya dan Tamarapun berpisah. Biasa-biasa saja. Tak ada rasa menyesal atau semacamnya. Tak ada rasa sedih atau semacamnya. Kami berpisah dan meneruskan jalan hidup masing-masing. Ternyata, tak sengaja saya mengakui, betapa indahnya perselingkuhan itu.

 

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: