CERPEN: Meneguk Gelas Kosong

“SESUNGGUHNYA orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (Al Quran (24) An Nuur : Ayat 11)

NAMANYA Duddy Dastin. Sudah 30 tahun tidak pernah bertemu. Dulunya sih, teman satu kampung di Jawa Timur. Itupun kenal tak begitu akrab. Tiba-tiba saja bertemu di FB (Facebook).

“Maaf, apakah ini Harry yang dulu tinggal di Bojonegoro,” tanyanya pertama kali di FB. Karena namanya sangat jarang dikembari orang, atau bahkan satu-satunya di dunia, saya yakin dia Duddy Dastin dari Bojonegoro.

“Iya. Betul. Ini Duddy Dsatin dari Bojonegoro,ya?” ganti saya bertanya.

“Iya”, singkat jawabnya. Selanjutnya kami Cuma bertemu di FB, berbicara di FB dan ngobrol-ngobrol lewat FB.

“Harry, saya merasa beruntung karena pernah kuliah di luar negeri,” ceritanya. Tentu hebat, sebab sewaktu di Bojonegoro da berasal dari keluarga miskin. Bahkan siapa ayahnya, juga tidak jelas.

“Wah, hebat,dong. Di mana saja?” sayapun ingin tahu. Lha, wong saya yang dari keluarga mampu hanya kuliah di Indonesia saja.

“Hmmm, saya pernah kuliah di Hokaido University, Jepang,”

“Wah, mengambil jurusan apa?” saya kagum.

“ Di Hokaido University saya ambil Si-1 kedokteran. Terus melanjutkan ke Jerman,” Duddy Dastin bercerita dengan nada bangga,

“Wah, hebat sekali. Di Jerman kuliah di mana?”

“Saya ambil S-2 di Universitas Johann Wolfgang von Goethe Frankfurt,” katanya sangat meyakinkan.

“Kok tidak ambil S-3 sekalian?” saya terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan.

“S-3 saya kuliah di Perancis. Tepatnya di Universite d’Avignon et des Pays du Vaucluse,”

Ceritanya, membuat saya berdecak kagum. Selanjutnya, di FB Duddy Dustin cerita pengalamannya kuliah di Hokaido University. Katanya, dia pernah berfoto bersama dengan Miyabi, bintang film porno yang pernah batal datang ke Indonesia.

Kemudian, sewaktu di Jerman dia kos di rumah cucunya Adolf Hitler yang terkenal sebagai penjahat perang. Dan, Duddy Dastin mengatakan ketemu jodoh sewaktu kuliah di Perancis. Asli gadis Perancis. Namanya Estelle Dion,” begitu Duddy Dastin bercerita di inbox FB saya. Bahkan foto Estelle Dion juga dilampirkan. Wow, cantik sekali. Bagaikan bintang film terkenal.

“Terus, sekarang kegiatannya apa?” masih di FB, saya bertanya.

“Saya sekarang sudah profesor. Tiap hari saya tugas di rumah sakit melakukan penelitian tentang hal-hal yang berhubungan dengan mikrobiologi. Tepatnya saya di laboratorium,”

Lain hari, masih di FB saya juga, Duddy Dastin bercerita kalau sudah lama menjadi ustadz.

“Jadi ustadz? Lho, dulu kamu kan beragama Katolik?” saya heran.

“Dulu adalah masa lalu. Kehidupan ini penuh perubahan. Saya dan isteri sayapun pindah ke agama Islam. Sebab saya yakini Islam adalah agama yang sempurna,” katanya. Dulu, Duddy Dastin sekolah di SMK Katholik, Bojonegoro.

Lain hari, entah kenapa kok saya iseng-iseng tanya ke Duddy Dastin menggunakan bahasa Jerman.

“Wie geht es Ihnen…?” tanya saya. Ternyata dia tidak menjawab dalam bahasa Jerman. Katanya, sudah puluhan tahun tidak menggunakan bahasa Perancis, jadi sudah lupa. Karena dia pernah kuliah di Jepang, sayapun bertanya dalam bahasa Jepang.

“Nani ga on’nanoko nitsuite no go ikendesu ka?”

Lagi-lagi Duddy Dustin tidak menjawab. Terakhir saya bertanya dalam bahasa Perancis.

“Ou habitez-vous?” sederhana pertanyaan saya. Namun, pertanyaan ini juga tidak dijawab. Katanya, di Jepang, Jerman dan Perancis kuliahnya memakai bahasa Inggeris. Jadi, dia tak begitu faham dengan bahasa Jepang, Jerman atau Perancis. Hanya mengerti sedikit-sedikit saja.

Terakhir, karena Duddy Dustin mengaku ustadz, maka sayapun bertanya lagi. Walaupun bahasa Indonesia, namun saya menggunakan huruf Arab. Lagi-lagi tidak dijawab. Alasannya, dia memakai huruf Arab hanya kalau sedang mengajar anak-anak di tempat tinggalnya.

Akhirnya saya tanya alamatnya. Diapun memberikan alamat di daerah Tangerang.Lengkap dengan RT/RW. Cuma, tidak ada nomor telepon maupun ponsel.

Hari Minggu, saya meluangkan waktu mencari alamat rumahnya. Maklum, teman lama tidak pernah bertemu. Apalagi, dia termasuk orang sukses. Pernah kuliah di luar negeri, jadi profesor juga seorang ustadz.

Dengan susah payah, akhirnya alamat itu saya temukan. Ternyata bukan alamat dia, melainkan alamat seorang dokter. Ketika saya tanya tentang Duddy Dastin, dokter itu heran. Sayapun dipersilahkan duduk, mungkin dikira saya saudaranya Duddy Dustin. Setelah saya ceritakan pengalaman saya dengan Duddy Dastin di FB, dokter yang bernama Harno Purboyo itupun tertawa.

“Kenapa, Pak,” saya penasaran ingin tahu. Akhirnya Dokter Harnopun bercerita, kalau Duddy Dastin itu pembohong besar. Dia tidak pernah kuliah di mana-mana. Bukan profesor dan bukan ustadz.

“Dia itu pembohong besar. Pembual.Penghayal. Sudah banyak orang yang dibohongi. Kalau dia bilang punya isteri Perancis, itu juga bohong. Sejak dulu dia tak pernah menikah”. Dokter Harno ternyata dokter jiwa yang sampai hari ini merawat Duddy Dustin.

“Dia bukan psikopat.Dia normal-normal saja, tetapi rohaninya sakit. Memang ada gangguan jiwa, tetapi masih dalam batas toleransi.Yang pasti dia pembohong besar! Bahkan dia pernah mengaku sebagai Nabi.Dia sekarang kerja di rumah sakit tempat saya. Bekerja sebagai tukang bersih-bersih kamar mandi.Sejak kecil dia mengalami krisis agama”

“Astaga!” seru saya dalam hati. Saya hanya bisa mengelus dada.

 

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973.

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: