CERPEN : Kenapa Mas Harry Belum Menikah?

“Dan (segeralah) menikah orang-orang yang masih sendiri di antara kamu, dan orang-orang yang pantas menikah di antara hamba-hamba sahayamu yang shaleh baik perempuan maupun wanita…” (QS An-Nuur: 32).

“Wanita-wanita yang keji diperuntukkan bagi laki-laki yang keji. Laki-laki yang keji diperuntukkan bagi wanita yang keji. Dan wanita-wanita yang baik diperuntukkan bagi laki-laki yang baik. Laki-laki yang baik diperuntukkan bagi wanita yang baik” (QS An-Nuur: 26).

Dalam ayat Al-Qur’an disebutkan “Dan Allah telah menjadikan jodoh-jodoh kamu sekalian dari jenismu sendiri, lalu menjadikan anak-anak dan cucu bagi kamu dari jodoh-jodohmu (An-Nahl: 72)

TANGERANG 2010. Saya menerima SMS dari mantan pacar yang pernah jadi pacar saya sekitar 36  tahun yang lalu. Intinya, dia tak percaya kalau pada usia 57 tahun ini saya belum menikah. Semula dia mengira saya bohong. Ketika saya katakan, demi Tuhan saya belum menikah, maka dia baru percaya.

“Terlalu dipilih-pilih sih. Dipilah-pilah. Akhirnya, tidak percaya diri. Akhirnya tidak menikah. Itu kan salah,Mas Harry sendiri”. Begitu isi salah satu SMS-nya. Benarkah saya pilih-pilih dan pilah-pilah sehingga saya saya tidak percaya diri? Bisa ya dan mungkin juga bisa tidak.

Semua teman-teman kuliah saya tentu tahu kalau saya sering ganti pacar. Masalahnya adalah, ketika saya akan serius saya menghadapi masalah yang sangat sulit untuk saya pecahkan. Bahkan butuh waktu lama untuk mencari solusi yang akhirnya tidak ada solusinya juga.

“Coba, Mas. Contohnya bagaimana?.” SMS Elsya terus meluncur.

“Ya, contohnya ketika saya pacaran dengan Vanessa. Masalah agama. Saya muslim dia Kristiani. Saya mengharapkan dia masuk Islam, namun hingga tiga tahun tak ada solusi. Saya ingin menikah secara Islam, tetapi dia tidak mau. Akhirnya, kami berpisah secara baik-baik…”. Saya menjelaskan.

Saya juga ceritakan, sesudah itu saya berpacaran dengan seorang gadis Sunda seorang mahasiswi dari sebuah akademi di Jakarta. Namanya Lia Marlia Tampilannya ali, cantik, murah senyum dan enak diajak bicara. Pada awalnya dia mengatakan masih gadis dan masih perawan. Namun kenyataannya, di rumahnya di Jawa Barat saya menemukan seorang anak perempuan kecil yang akhirnya diakui itu anaknya. Dia ternyata seorang janda. Karena saya merasa dibohongi, maka sayapun tidak melanjutkan hubungan. Tiga tahun berpacaran percuma.

“Terus, siapa lagi,Mas? Cerita dong, saya senang membaca cerita,Mas Harry. Begitu bunyi SMS dari Elsya. Walaupun malam telah pukul 23:00, namun saya dan Elsya tetap berkirim-kiriman SMS. Sebenarnya, saya bisa bertemu dengan Elsya secara kebetulan, yaitu melalui dunia Facebook. Tentu, dia sudah menjadi seorang yang baik bagi anak-anaknya.

“Ya,sesudah itu saya berpacaran dengan gadis Padang.Gadis Minang.Hubungan saya sih belum serius. Kadang nyambung kadang putus. Namanya Maharani. Namun ketika saya tahu di suku Minang yang menganut sistem matrimonial, maka sayapun mengundurkan diri.”

“Matrimonial itu apa sih,Mas?”. Elsya penasaran.

“Matrimonial itu artinya, semua harta, termasuk rumah,tanah,mobil,deposito dan harta apa saja, harus nama dia, kalau dia jadi istri saya. Artinya, andaikan saya cerai, maka saya tidak punya apa-apa…”. Begitu penjelasan saya.

“Ha ha ha..Saya baru tahu. Terus, berpacaran dengan siapa lagi? Cerita ya, sampai tuntas. Saya belum ngantuk,kok”. Itu SMS Elsya.

“Berikutnya, Febri. Dia itu gadis Palembang. Dia cantik, langsing, putih dan cerdas. Dua tahun saya pacaran. Namun ketika saya ingin serius, saya mendapat informasi yang cukup mengejutkan. Katanya, di Palembang berlaku sistem beli. Waktu itu tahun 1988, saya harus menebus Rp 25 juta. Sekarang,tahun 2009, kira-kira nilainya sama dengan Rp 100 juta atau lebih. Wah, terus terang saya tidak punya uang sebanyak itu. Nggak boleh ditawar. Itu harga mati. Saya baru tahu kalau adatnya seperti itu, walaupun tidak semua orang Palembang seperti itu.” Kalimat ini saya kirim dua kali kirim SMS.

Tanpa menunggu SMS dari Elsya, saya melanjutkan cerita.

“Berikutnya saya pacaran dengan Agusti. Gadis Riau. Dia karyawati saya. Cantik, banyak ide, sopan namun sering marah. Bahkan kalau marah dengan saya, bisa berhari-hari saya tidak diajak ngomong. Ketika saya mau serius, dia ternyata pulang ke Riau. Memang dia pernah kirim surat, tetapi tidak saya balas. Kemudian saya pindah ke Jawa Timur dan mungkin dia tidak tahu alamat baru saya. Sayapun kehilangan alamat dia di Riau.Putus kontak. Putus hubungan.”

“Terus?.” Elsya ingin tahu kelanjutan cerita saya.

Saya minum kopi susu sebentar. Kemudian kembali memegang ponsel dan mengetik SMS untuk Elsya.

Kemudian saya sibuk mengelola lembaga pendidikan komputer, warnet dan lain-lain. Tanpa terasa usia saya pada 2009 ini sudah 57 tahun.”. Agak sedih saya mengetik SMS yang bunyinya seperti itu.

“Lantas, enak nggak jadi bujangan?”. Elsya kirim SMS lagi.

“Ha ha ha…ya,ada enaknya ada nggak enaknya. Enaknya saya bebas kemana-mana dan uang awet dalam arti saya nikmati sendiri. Nggak enaknya, ketika saya ada reuni saya menjadi sedih. Ternyata teman-teman saya semuanya sudah menikah, anaknya sudah besar. Bahkan ada yang sudah punya cucu.”. Sedih sekali saya mengirim SMS yang jujur ini. Saya jujur, sebab Elsya yang 36 tahun yang lalu pernah jadi pacar saya juga seorang gadis yang jujur.

“Sekarang bagaimana? Ingin membujang terus atau masih ada keinginan untuk menikah?”. Elsya memang penuh perhatian.

“Ya, keinginan untuk menikah masih ada. Tetapi semuanya terserah Tuhan. Agama saya, Islam, mengatakan bahwa rezeki, jodoh dan kematian merupakan rahasia Tuhan. Yang pasti sejak di bangku SD hingga usia 58 tahun saya selalu mencari jodoh seorang gadis yang baik.”.

“Yang Mas Harry alami itu takdir,nasib atau salah Mas Harry sendiri?”. Kali ini pertanyaan Elsya bagus sekali.

“Terus terang saya tidak bisa menjawab,Elsya. Hidup manusia memang penuh misteri. Tiap orang punya jalan hidup sendiri-sendiri.”. Begitu penjelasan saya.

“Kalau begitu, Mas Harry bisa digolongkan pilih-pilih atau tidak?”. Elsya melanjutkan SMS-nya.

“Jawab saja sendiri. Sudah saya katakan hidup manusia itu penuh misteri.”, Kali ini SMS saya agak singkat.

“Bagaimana andaikan hingga tua, hingga kakek-kakek, hingga meninggal, Mas Harry juga belum menikah?”. Elsya mengajukan pertanyaan yang menarik.

“Kalau menurut agama saya,sih. Bagi pria yang tidak menikah di masa hidupnya, maka Tuhan akan memberikan tujuh bidadari yang cantik-cantik…”. Tangan saya mulai pegal mengirim SMS ke Elsya.

“Ha ha ha…”. Melalui SMS Elsya tertawa.

“Ha ha ha…Sudah ya, sudah malam,Saya ngantuk. Besok kita ngobrol-ngobrol lagi, boleh lewat SMS boleh di Facebook.”. Saya mencoba mengakhiri obrolan lewat SMS. Malam telah larut. Jam di dinding menunjukkan pukul 24:00. Komplek perumahan saya sudah sepi.

“Daag…”.Begitu akhir SMS Elsya.

“Daag…”.Begitu pula akhir SMS saya.

Saya matikan ponsel. Saya matikan lampu kamar tidur. Kemudian saya tertidur pulas.

Catatan:

Cerpen ini berdasar pengalaman pribadi tanpa dimodifikasi. saya yakin, tiap manusia punya cerita hidup sendiri-sendiri.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s