CERPEN : Mahasiswi Itu Bernama Endang Syarikawati

“DIA-LAH yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui. Ialah segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya.(QS. Al-Baqarah ayat 22)

BUS yang saya naiki dari Jakarta berangkat pagi hari. Tujuannya ke Sukabumi. Ceritanya, saya mau mengunjungi nenek saya. Beberapa jam kemudian, sampai juga di terminal Sukabumi. Karena belum sarapan, saya makan dua bungkus bacang. Wah, masih hangat. Rasanya nikmat sekali.

Sesudah itu naik angkot dan turun di depan Matahari Department Store. Lantas melanjutkan ke terminal angkot. Kemudian naik angkot jurusan Desa Bojong Lopang. Penuh. Di antaranya ada lima mahasiswi. Kok tahu mahasiswi? Dari percakapannya tentang perkuliahan, dosen, kampus maka saya mengambil kesimpulan dia mahasiswi.

Daripada sepanjang perjalanan melamun, maka iseng-iseng saya tanya kepada mereka.

“Mau kemana,Teh?,” saya mulai menyapa salah satu dari mereka.”Teh” artinya saama dengan “Mbak” di Jawa.

“Ke Bojong Lopang,Mang,” jawabnya. Saya yang orang Jawa dipanggil “Mang”. Ya, tidak apa-apalah.”Mau kemana, Mang?,” ganti mahasiswi itu bertanya.

“Mau ke Bojong Lopang juga. Mau menengok nenek,” saya menjelaskan tujuan saya ke Desa Bojong Lopang. Mahasiswi itu manggut-manggut. Dari hasil ngobrol-ngobrol, saya tahu nama mahasiswi itu bernama Endang Syarikawati. Bapaknya Jawa, ibunya Sunda. Ceritanya, Endang dan teman-teman, dari Bojong Lopang akan meneruskan ke Bojong Tipar.

“Dalam rangka apa?” tanya saya. Endang menjelaskan, teman-temannya yang semua kuliah di Bandung, sebentar lagi akan menghadapi ujian semester. Untuk itu, mau minta doa restu ke orang tua.

“Orang tua siapa,?” saya bertanya karena tidak mengerti maksudnya.

“Maksudnya, orang pintar, Mang,” Endang menjelaskan. Sekarang saya faham. Kelima mahasiswa itu akan ke paranormal supaya bisa lulus ujian.

“Tahunya dari mana kalau di Bojong Tipar ada orang pintar,” saya berlagak dan memberi kesan seolah-olah percaya hal-hal yang bersifat syirik itu.

“Dari teman-teman di Bandung. Terbukti,kok. Mereka lulus semua,” Endang berkata dengan nada yakin, padahal belum pernah melakukannya.

“Bagaimana tuh, caranya? Kebetulan saya juga akan menghadapi ujian semester,nih. Saya kuliah di Universitas Borobudur, Jakarta,” saya terus memancing. Karena saya sudah dipercaya, maka Endangpun bercerita. Katanya, nanti Endang dan teman-temannya akan diberi air putih yang sudah diberi doa, kemudian diminum. Tapi, syaratnyaa harus membeli bunga tujuh rupa yang dijual di teras padepokan paranormal itu. Sesudah minum air putih, nanti disuruh mandi sendiri dan bunga tujuh rupa harus dimasukkan ke bak mandi. Begitu cerita Endang. Karena penasaran, saya tidak jadi berkunjung ke rumah nenek, melainkan menuju ke Desa Bojong Tipar. Itupun harus naik ojek, sebab angkot hanya sampai Desa Bojong Lopang. saya penasaran, ingin tahu, seperti apa sih padepokannya paranormal itu.

Tak lama kemudian, sampai juga. Rumahnya ukuran sedang tapi cukup mewah. Di depan rumahnya ada kolam ikan lengkap dengan air mancurnya. Sayapun duduk di sebuah kursi. Cukup banyak pengunjungnya. Ada sekitar 100 orang. Uniknya, mereka yang mau menemui paranormal, harus mengambil nomor urut. Persis, seperti mau periksa dokter. Saya juga mengambil nomor, hanya untuk memberi kesan kalau saya juga ada keperluan bertemu dengan paranormal. Padahal, saya cuma ingin tahu, apa saja sih persoalan mereka?

Dari hasil ngobrol-ngobrol, mereka ada yang minta doa enteng jodoh, penglaris usaha, ingin kebal dari ilmu santet, ingin cepat naik jabatan, ingin cepat kaya, ingin lulus ujian semester, ingin cepat naik pangkat, ingin cepat dapat pekerjaan dan masih banyak lainnya. Bagi yang sudah dua tiga kali datang menceritakan, mereka harus membeli bunga tujuh rupa, ada juga harus beli keris kecil, yang lainnya bercerita harus beli cincin kuningan dan lain-lain. Katanya, semua benda itu sudah diberi doa oleh paranormal yang ternyata bernama Mbah Kawul, pindahan dari Situbondo, Jawa Timur.

Kalau saya lihat sih, mereka yang datang tergolong orang-orang berpendidikan. Ada mahasiswa, ada sarjana, ada PNS, ada guru dan bahkan ada dosen.

Sesudah puas melakukan pengamatan tingkah laku mereka, akhirnya saya kembali ke Desa Bojong Lopang menemui nenek saya. Sayapun cerita tentang orang-orang yang datang ke Mbah Kawul. Nenek saya yang fanatik Islam mengatakan “Itulah perbuatan orang-orang syirik. Mereka menganggap benda-benda punya kekuatan tertentu. Padahal, kalau ingin lulus, ya belajar. Ingin laris, ya berusaha maksimal.Mau dapat jodoh, ya harus pandai bergaul.Ingin kebal santet, ya perdalam Al Qur’annya. Seharusnya umat Islam yang punya keinginan, berdoalah ke Tuhan Yang Maha Esa. Bukan meminta keajaiban dari kembang tujuh rupa, keris,cincin,batu dan semacamnya. Itu, syirik namanya,”

Saya cuma mengangguk-angguk. Hari sudah sore. sayapun minta izin ke nenek untuk shalat Ashar. Nenekpun mempersilahkan dengan senang hati.

Sebulan kemudian saya bertemu lagi secara tak sengaja dengan Endang Syarikawati.

“Wah, saya nggak lulus ujian semester,Mang,” katanya kecewa.

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: