CERPEN : Si Sombie Ingin Menembus Bumi

ALLAH berfirman, “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung,” (Al-Isra’: 37).

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain,” (HR Muslim [91]).

TIBA-TIBA ponsel saya berbunyi. Terpaksa saya memperlambat motor dan kemudian berhenti di bawah pohon rindang.

“Hallo! Ini Harry yang dulu kuliah FMIPA angkatan 08,ya?” tiba-tiba suara di ponsel langsung nyelonong.

“Ya,betul. Ini siapa,” karena namanya belum terdaftar di ponsel dan saya belum mengenal suaranya, maka sayapun ingin mengetahui namanya.

“Saya menemukan nama dan nomor ponsel Harry dari internet. Saya Sancoko” begitu mendengar nama Sancoko, maka saya langsung ingat. Dia dulu adalah teman satu fakultas di MIPA. Setelah lulus, bertahun-tahun kami tak pernah bertemu. Di kampus, teman-teman sering memanggilnya dengan sebutan Sombie, plesetan dari kata “sombong”. Maklum, selama di kampus memang Si Sombie terkenal sombong, angkuh dan suka membanggakan diri.

“Hai…apa,kabar? Di mana sekarang?” sayapun membalas sapaannya. Karena lalu lintas di sekitar saya ramai sekali, maka saya mendengarkan ponsel sambil menutup telinga sebelah kanan.

“Saya sekarang jadi manajer. Sekarang saya punya dua gelar S-2, yaitu MBA dan MM,” sahutnya. Masih seperti dulu, menyombongkan diri,” Kamu bagaimana? Sudah S-1?” lanjutnya.

“Saya sih masih S-1. Belum ada duit buat meneruskan S-2,” jujur jawaban saya.

“Hahaha….goblok kamu! Pinteran saya dong.Sudah S-2!” Si Sombie mulai kambuh penyakit sombongnya.

Begitulah, selama telepon Si Sombie hanya berceloteh memamerkan jabatannya, gelarnya, kekayaannya, isterinya yang cantik dan apa saja yang bisa disombongkan ya disombongkan.

“Saya juga jadi anggota DPRRI, Harry,” tambahnya. Padahal saya tidak bertanya. Namun, menghadapi orang seperti itu justru saya angkat tinggi-tinggi dengan harapan suatu saat akan saya jatuhkan serendah-rendahnya.

“Waaah, wakil rakyat,dong. Tentu memperjuangkan nasib rakyat,ya?” tanya saya memancing.

“Rakyat? Hahaha…memperjuangkan rakyat itu prioritas ke-999. Lha,wong untuk jadi anggota DPR saya habis Rp 2 milyar. Ya, harus berjuang kembali modal dulu,dong…,” jawab Si Sombie. Dalam hati sayapun merasa prihatin. Selama sistem politik di Indonersia masih seperti sekarang, maka hancurlah keuangan negara. Korupsi akan merajalela sepanjang massa.

“Oke Harry. Saya minta alamatmu. Kapan-kapan saya akan ke rumahmu,” pintanya. Sayapun mengirim alamat lengkap melalui SMS. Sesudah itu percakapanpun selesai. Saya melanjutkan perjalanan ke WTC Mall.

.———-

Betul saja, sesuai dengan hari yang telah dijanjikan, Si Sombie datang ke rumah saya. Naik mobil Mercy baru gres dan mengajak isterinya yang cantik. Walaupun sombong, saya tetap berkewajiban menyambutnya sebagai tamu yang baik. Mereka berduapun duduk di ruang tamu.

“Oh, rumahmu kok kecil,Harry?” Si Sombie mulai meledek. Saya tak heran. Sejak zamannya kuliah memang Si Sombie suka merendahkan teman-temannya yang miskin. Saya diam saja. Pembantukupun menaruh minuman dingin dan kue-kue seadanya di meja.

“Wah, nggak usah minum, Har. Saya tidak biasa minum teh es manis. Memangnya saya orang miskin apa?” Si Sombie tertawa. Maklumlah, orang kaya baru tingkah lakunya ya seperti itu.

“Oh, ya Harry. Saya sudah dua kali naik haji. Saya sukses!,” lagi-lagi, tanpa saya tanya Si Sombie bercerita. Dia tak menyadari bahwa sesungguhnya kesuksesan adalah karena atas izin Allah swt. Manusia tidak mungkin sukses tanpa restu dari Allah swt.

“Syukurlah kalau sukses besar,” saya ucapkan selamat. Saya lihat isterinya cuma tersenyum saja.

Terus terang, selama kuliah, Si Sombie dijauhi teman-teman. Andaikan bicara juga tak pernah ditanggapi teman-teman. Hanya saya saja yang bisa memahami kesombongannya. Oleh karena itu tak heran kalau dia tetap menjadi sahabat baik saya.

Tanpa saya tanya, Si Sombiepun bercerita macam-macam sambil sedikit-sedikit menyisipkan ayat Al Qur’an. Bukannya ayat-ayat itu digunakan secara benar, melainkan digunakan untuk menyerang orang lain. Seolah-olah Si Sombie merasa paling Islam sendiri dan orang lain kurang Islam.

Saya akui, Si Sombie di samping sombong, suka membanggakan diri, suka merendahkan diri, juga licik dan kikir. Tak pernah beramal. Tak pernah bersodaqoh. Tak pernah berzakat.

Tak lama kemudian, Si Sombiepun pamit pulang dan tak ketinggalan meledek rumah saya. Katanya, rumah saya mirip rumah kelinci. Saya tak membalas. Malahan saya iyakan saja. Soalnya, kalau saya bantah dia pasti marah-marah.

Satu bulan kemudian, saya baca koran Kompas. Ada berita yang menarik, Si Sombie ditangkap KPK karena terlibat kasus korupsi senilai Rp 51,2 Milyar. Membaca berita itu saya Cuma tersenyum saja. Pikir saya, walaupun punya gelar MBA, MM, gelar haji, kaya raya, isteri cantik dan mobil mewah, tapi kalau cacat moral buat apa? Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh ke got  juga.

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: