CERPEN: Bencana 7 Januari 2012

TANGERANG, Sabtu, 7 Januari 2012. Saat itu hari masih pagi. Seperti biasa, saya menyiapkan motor untuk mempromosikan kanopi motor. Tapi, aneh. Di langit ada mendung yang warnanya aneh. Sekumpulan awan besar berkumpul dan membentuk huruf Arab berbunyi “Allah”. Kebetulankah? Saya lihat, banyak tetangga keluar menyaksikan keanehan itu. Beberapa di antaranya mengabadikan dengan menggunakan kamera ponsel.

Entah kenapa, saya teringat sebuah ramalan yang pernah saya baca beberapa tahun yang lalu. Saya lupa itu ramalan siapa, tetapi bunyinya sebagai berikut:

.————————————————————————————————-

”… Wolak-waliking jaman, sing ngelmune mung sak dumuk lan cubluk,  gawene umuk bebener keminter, lan seneng miala, aniaya lan ngluputake liyan. Manungsa lagake wus keminter, najan mangkono ora ngerti apa kang ana sajroning samudra ?

.————————————————————————————————-

Artinya; “Zaman serba terbalik, orang yang ilmunya hanya sebatas kulit dan sangat bodoh, (cirinya) gemar pamer kebenaran dan merasa paling pandai, suka menyakiti, menganiaya, dan menyalahkan orang lain. Manusia sudah berlagak pandai, sementara apa yang ada di dalam laut saja tidak diketahuinya

Tiba-tiba, motor saya ambruk, kepala saya pusing, saya mencoba berjalan tetapi sempoyongan. Lantas terdengar suara hiruk pikuk.

“Gempa…!Gempa…! Gempa…!” Sayapun lihat semua penghuni rumah keluar ramai-ramai. Jalan penuh orang. Mobil tetangga yang diparkir di jalan tiba-tiba menggelundung beberapa meter. Sayapun bergegas lari ke jalan. Langit semakin gelap. Tak lama kemudian hujan turun secara tiba-tiba. Deras sekali.

Serba salah. Mau masuk rumah, masih dalam situasi  gempa. Di luar saja ,kehujanan. Akhirnya saya dan semua tetangga memilih tinggal di luar. Luar biasa gempa itu. Beberapa pohon tumbang. Ribuan genteng rontok jatuh ke tanah. Jerit-jerit histeris terdengar di mana-mana. Anak-anak kecil menangis keras.

Sebagian tetangga cepat-cepat masuk mobil dan entah pergi ke mana. Sayapun segera membetulkan letak motor. Langsung saya kendarai meninggalkan komplek perumahan. Tidak kehujanan , sebab motor dilengkapi kanopi atau atap dari bahan akrilik dan polikarbonat. Melaju meninggalkan kompleks perumahan. Saya tak punya tujuan, yang penting menyelamatkan diri.

Saya lihat beberapa rumah tingkat ambruk. Celakanya, tepat di depan dekat pos satpam, tanah retak dengan lebar sekitar 50 cm. Motor tak bisa lewat. Terpaksa lewat sebelah kiri, naik gundukan tanah sedikit, kemudian turun ke Jl. Bali. Tepat tujuh menit, gempapun berhenti.

Motor terus melaju. Hujan tetap turun dengan deras. Jalan-jalan penuh mobil dan motor. Tepat di depan Alfamart, semakin lama air di jalan semakin tiinggi, semakin tinggi. Saya langsung belok ke depan Alfamart. Banjirpun datang. Motor mulai tenggelam. Saya bergegas naik pohon sambil terus menyebut nama Tuhan. Saya terus menuju batang pohon paling atas. Sekitar lima orang menyusul saya. Saya lihat air banjir sudah sekitar satu meter.

“Berarti seluruh Tangerang juga banjir!,” teriak salah seorang yang ada di bawah saya.

“Mungkin tsunami!” sahut satu orang lainnya yang saya tidak tahu namanya. Walaupun saya kebetulan memakai jaket, namun dinginnya air hujan terasa juga. Masih untung saya tidak menggigil. Saya terus membaca ayat-ayat Al Qur’an memohon perlindungan Tuhan.

Saya mencoba menghubungi saudara-saudara saya lewat ponsel. Mati. Tak bisa digunakan. Mungkin semua menara ponsel di Tangerang tergenang banjir. Rasa-rasanya saya tak tahu apa yang harus saya lakukan. Pikiran kacau sekali. Seberapa lama bencana ini akan berhenti? Saya tidak tahu.

Saya lihat ke bawah. Saya lihat barang-barang milik Alfamart berhamburan keluar dibawah banjir. Satu orang di bawah saya turun sedikit dan mengambil beberapa kue-kue yang ada di kaleng dan mengapung. Satu persatu diberikan ke atas secara berantai. Sayapun dapat biskuit satu kaleng. Di tengah hujan deras, saya buka kaleng itu dan sedikit demi sedikit makan biskuit. Maklum, lapar.

Di bawah, semua mobil macet. Air setinggi mobil. Semua penumpangnya naik ke atap mobil. Beruntung yang membawa payung. Yang tidak membawa payung, menggigil kedinginan. Betul-betul seperti di neraka.

“Ya, Tuhan. Lindungilah kami…!” teriakan seperti itu terdengar di mana-mana.

Untunglah saya teringat nasehat-nasehat bijak bahwa dalam keadaan seperti itu, kita tidak boleh panik. Pikiran harus tenang setenang-tenangnya. Dalam pikiran yang tenang, sayapun mencoba mencari solusi. Sulit. Beberapa lama saya berpikiir, saya tak menemukan solusi. Air banjir di bawah masih mengalir dengan deras. Namun tingginya relatif stabil.Sekitar satu meter.

“Demi Tuhan. Seumur hidup daerah ini tak pernah banjir satu sentimeterpun!,” teriak salah seorang yang berbaju merah di bawah saya.

“Betul! Tapi ada ahli geologi yang meramalkan terjadinya gempa ini. Sebab, dari Laut Selatan hingga Sukabumi, Bogor,Tangerang hingga di anak Gunung Krakatau, ada sub lempeng dari “ring of  fire”,” kata yang berbaju biru.

“Maksudnya?” tanya saya.

“Ya, di bawah tanah Tangerang, mulai dari Selatan hingga Utara, ada sub lempeng. Jika di laut Selatan terjadi gempa hebat, maka Tangerang terkena akibatnya?” jawab si baju biru.

“Oh, Tuhan. kalau saya mengerti, saya tak akan membeli rumah di Tangerang ini…,” gerutu saya.

Huh! Lima jam saya dan beberapa orang tetap berada di pohon. Menjelang sore, air banjir sedikit demi sedikit mulai surut. Dan akhirnya…menjelang malampun air banjir sudah surut. Saya dan orang-orang di pohonpun turun. Waktu sudah senja. Listrik PLN padam.

Hari mulai gelap. Semua mobil macet. Tidak ada satupun bisa distarter. Motor saya penuh lumpur. Juga tak bisa distarter. Terpaksa, saya tuntun menuju ke rumah. Cukup sulit sebab jalan-jalan yang semula berupa jalan aspal mulus, sekarang penuh lumpur. Secara bertahap saya terus mendorong motor. Sepanjang perjalanan saya terus berdoa. Terutama membaca Surat Al Fatehah. Tiap seratus meter berhenti. Nafas terasa ngos-ngosan.

Akhirnya malam hari sekitar pukul 19:00 WIB tiba di rumah. Semua listrik PLN di komplek perumahan tetap mati. Saya punya gensetpun tidak bisa dipakai. Sayapun masuk rumah. Wow! Berantakan. Meja, kursi, rak buku, lemari semuanya bergeser dari ttempat semula. Piring, gelas, sendok,garpu, botol dan barang-barang lain jatuh di lantai. Jam dinding, piagam penghargaan atau award dan lukisan yang ada di dinding, juga jatuh ke lantau. Kulkas, TV terjatuh di lantau penuh lumpur. Tiga galon air mineralpun jatuh ke lantai. Alhamdulillah…isinya masih bersih 100% dan bisa di minum.

Dengan menggunakan senter yang kebetulan ada di atas lemari, saya lihat semua ruangan. Mulai dari kamar mandi, dapur, kamar tidur dan kamar-kamar lain. Alhamdulillah, tidak ada satu dindingpun yang retak. Bahkan kondisipun ubinpun tetap utuh.

“Oh, Tuhan. Terima kasih. Engkau telah melindungi nyawa dan rumah saya…”

Masih untung juga, air PAM masih mengucur lancar. Semalaman terpaksa saya kerja bakti membersihkan ubin dan apa saja yang perlu dibersihkan. Malam harinya saya tidur di tempat tidur atas. Kebetulan, di kamar tidur saya punya tempat tidur tingkat.

Sekitar pukul 21:00 WIB di tempat tidur atas, saya mencoba membunyikan radio. Ada beberapa yang bisa ditangkap siarannya. Salah satunya Radio Elshinta. Kebetulan ada berita tentang gempa di Tangerang. Katanya, gempa dahsyat hanya terjadi di Laut Selatan, Sukabumi, Bogor dan Tangerang.

Sedangkan Jakarta juga terkena imbasnya.  Ada beberapa bangunan di Jakarta yang retak. Namun yang mengejutkan, gedung DPRRI, istana negara, Gedung KPK, Gedung Mahkamah Agung, Gedung Polda Metro Jaya,Gedung Kementrian Kehakiman, Gedung Kejaksaan Agung dan Kantor Pusat DPP Partai Demokrat ambruk total. Rata dengan tanah.

Dari Radio Elshinta, juga diberitakan bahwa berdasarkan pantauan dari udara, ribuan bangunan di Tangerang hancur lebur. BSD Juction ambruk, ITC Mall dan WTC Mall ambruk. Dan ada retakan tanah di Jl.Serpong Raya  dengan lebar sekitar 50 cm sepanjang lima kilomter. Luar biasa! Macet total. Juga dikabarkan sekiitar sembilan bangunan mengalami kebakaran. Kabarnya, semua listrik PLN di Tangerang juga padam. Suasana gelap gulita. Bagaikan di alam kubur.

“Oh, Tuhan. Saya bersyukur karena Engkau telah menyelamatkan jiwa saya…,”

Esoknya ponsel baru bisa digunakan. Saya hubungi semua saudara-saudara dan keponakan-keponakan. Alhamdulillah. Selamat semua. Rumahnya juga utuh semua. Itulah gempa terdahsyat. Pusat gempa di Laut Selatan. Kekuatan gempa 9,1 Skala Richter. Sabtu, 7 Januari 2012. Sangat mencekam.

.————————————————————————————————

”… Wolak-waliking jaman, sing ngelmune mung sak dumuk lan cubluk,  gawene umuk bebener keminter, lan seneng miala, aniaya lan ngluputake liyan. Manungsa lagake wus keminter, najan mangkono ora ngerti apa kang ana sajroning samudra ?

.————————————————————————————————

Artinya; “Zaman serba terbalik, orang yang ilmunya hanya sebatas kulit dan sangat bodoh, (cirinya) gemar pamer kebenaran dan merasa paling pandai, suka menyakiti, menganiaya, dan menyalahkan orang lain. Manusia sudah berlagak pandai, sementara apa yang ada di dalam laut saja tidak diketahuinya

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Iklan

CERPEN: Bambang Tralala Si Pembawa Sial

SIANG itu para mahasiswa Akademi Bahasa Asing (ABA) Metropolitan sedang punya acara unik. Yaitu pemilu senat. Tujuannya memilih ketua senat mahasiswa, wakil ketua, sekretaris, wakil sekretaris, bendahara dan wakil bendahara. Hanya ada dua bilik suara. Semua plakat, spanduk, brosur dan media kampanye sudah dicopot semua sesuai dengan peraturan. Namun, selama proses pemilihan hari itu, kampanye secara oral atau secara lisan tidak dilarang. Jadi jangan heran kalau ada yang berteriak pilih Si A,pilih Si B dan seterusnya.

Dua jam kemudian pemilupun usai. Hasil pemilu dihitung oleh ketua senat yang lama disaksikan semua dosen dan semua ketua kelas. Pemenangnyapun langsung diumumkan. Ketua terpilih Bambang Djatmiko, wakil ketua Darmawan Sulyanto (beberapa bulan setelah terpilih,meninggal), sekretaris Hariyanto Imadha (saya), wakil sekretaris Rudy Rayadi, Bendahara Suhata Wiramihardja dan wakil bendahara Inggah Silanawati. Kemenangan itupun dilanjutkan dengan pesta kampus berupa makan nasi tumpeng bersama.

Sebulan kemudian, saya baru bisa menilai kemampuan ketua senat yang baru, yaitu Bambang Djatmiko. Karena dia satu kelas dengan saya, maka saya tahu sebenarnya dia bukan termasuk yang pandai. Bahkan tergolong bodoh. Kalau ujian sering tanya ke saya atau teman lainnya. Ganteng sih ganteng, tetapi bodoh.

Hasil analisa saya, kalau Bambang terpilih bukan karena dia pandai. Tetapi, dia termasuk cowok yang ganteng.  Apalagi, dia pandai main gitar dan bernyanyi. Bagi kampus ABA Metropolitan yang 80% terdiri dari cewek, tak heran kalau memilih ketua senat yang ganteng, pandai main gitar, dan pandai bernyanyi. Betul kata orang bijak, kalau pemilihnya bodoh, maka pemimpin yang dipilih juga bodoh. Cocok.

“Harry, tolong ya nanti rapat senatnya dipimpin,” katanya. Tiap Sabtu memang ada rapat senat. Bambang memang tak punya kemampuan organisasi. Bahkan memimpin rapatpun tak bisa. Dia itu bisanya cuma mengeluh. Bahkan seringkali cuma curhat melulu ke saya. Sebelum rapat, berputar-putar dulu di depan cermin lemari. Merapikan celana, merapikan baju dan merapikan sepatu. gayanya memang seperti peragawan. Dasar pesolek.

Bambang malas belajar. Jam istirahat dipakai main gitar dan bernyanyi di ruang senat. Sejak itulah teman-teman menyebutnya dengan sebutan “Bambang Tralala”. Hampir semua kegiatan senat, sayalah yang memimpin. Apa boleh buat, sebagai sekretaris saya tak ingin program-program senat gagal.

“Oh,ya Harry. Jangan lupa, tolong diatur bersama ketua seksi rekreasi. Bulan depan kita rekreasi ke Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu,” katanya. Demi teman dan demi mahasiswa keseluruhan, maka saya dan ketua seksi rekreasi membahas rencana itu secara mendalam. Sedangkan Bambang Tralala cuma memantau saja.

Ketika saat rekreasi tiba, timbul keributan. Mahasiswa sebanyak dua bus protes, kenapa kok sarana transportasinya tidak sesuai janji? Katanya akan naik kapal kecil, kok hanya naik perahu nelayan yang dilengkapi mesin perahu? Katanya berangkat dari Pantai Marina Ancol, kenapa berangkat dari Pantai Kamal yang tergolong kampung? Usut punya usut, ternyata ketua rekreasi telah tertipu pemilik kapal kecil itu.

Apa boleh buat, sekitar 100 mahasiswa naik sekitar lima buah perahu nelayan. Satu perahu nelayan diisi 25 mahasiswa. Mengerikan sebab jarak airnya cuma sekitar 20 cm. Artinya, goyang sedikit, pasti terjadi kecelakaan .

Keributan berikut, renacanya ke Pulau Bidadari, ternyata cuma di Pulau Onroes. Pulau kecil yang tidak ada apa-apanya. Hanya ada bangunan-bangunan tua yang sudah rusak. Lagi-lagi ketua rekreasi meminta maaf karena uangnya untuk ke Pulau Bidadari tidak cukup karena sebagian sudah dibayarkan ke orang yang mengaku pemilik kapal kecil yang ternyata menipu itu.

Rekreasi dua bulan kemudian ke Yogyakarta. Kebetulan Bambang Tralala tidak ikut karena sakit. Berangkat dari Jakarta lancar saja. Di Yogya menginap di Hotel Maerakaca untuk hari pertama dan kedua. Sedangkan hari ketiga dan keempat menginap di salah satu vila di Kaliurang. Acaranya di samping kunjungan ke ABAYO (Akademi bahasa Asing Yogyakarta), juga ke Pantai Parangtritis, Keraton, Candi Borobudur, Candi Prambanan, Grojogan Sewu dan lain-lain.

“Tumben ya, acaranya lancar-lancar saja,” kata Etta atau Wan Sukmawati sekwaktu beristirahat.

“Iya. Kalau Mas Harry yang memimpin, pasti lancar,” jawab Inggah Silanawati.

“Bukan di situ persoalannya,” sahut Tata Suhata.

“Terus, apa sebabnya?” Ari Helena Nasution ingin tahu.

“Oooh, tahu saya. Soalnya Bambang Tralala tidak ikut,” kata Darmawan Sulyanto.

“Kenapa memang?” tanya Faisal Salmun,

“Soalnya, Bambang Tralala itu Si Pembawa Sial,” komentar Djamaluddin.

“Ha ha ha….,” semua teman-teman yang saat itu sedang beristirahat di vila di Kaliurang tertawa terbahak-bahak.

Dan apa yang dikatakan Djamaluddin atau biasa dipanggil Ustadz Djamaluddin memang terbukti. Rekreasi-rekreasi berikutnya memang sial. Antara lain, sewaktu ke Gunung Tangkuban Perahu, salah satu bus dari lima bus rombongan ABA Metropolitan mengalami kecelakaan, sehingga seluruh penumpangnya yang kebetulan selamat, dipindahkan ke empat bus lainnya. Penuh sesak.

Rekreasi berikut ke Pantai Pelabuhan Ratu. Sekitar 10 mahasiswi kesurupan dan histeris. Untunglah bisa ditanggulangi oleh Djamaluddin Si Ustadz itu. Dengan dibacakan doa-doa tertentu, kesepuluh mahasiswi itupun sembuh dari kesurupannya.

Begitu pula sewaktu rekreasi ke Pantai Carita, sekitar 10 mahasiswa kehilangan barang-barangnya yang ditinggalkan di bus. Antara lain berupa uang, kamera, gelang emas, dan barang-barang berharga lainnya.

“Iya,ya. Tiap kali Bambang Tralala ikut, pasti kita sial,” ujar teman-teman sewaktu di kampus, di dalam ruang kuliah, menunggu dosen masuk. Itu kata Inggah Silanawati. Kebetulan Bambang Tralala tidak masuk karena sakit. Dia memang sering sakit.

“Iyalah. Yang namanya Bambang, kalau jadi pemimpin, pasti pembawa sial atau pembawa bencana,” kata Zaenal.

“Hahaha…Ada benarnya juga. Ada faktanya juga…,” Faisal Salmun menimpali.

Hal itu terbukti. Ketika bulan-bulan berikutnya rekreasi ke Bukit Cangkuang, Taman Selabintana Sukabumi, Waduk Jatiluhur, ternyata lancar-lancar saja.

“Nah, kalau Bambang Tralala tidak ikut, lancar-lancar saja,kan? “ tanya Rudy rayadi sewaktu kami rekreasi ke Waduk atau Bendungan Jatiluhur.

“Iya,ya. Aneh, tapi nyata…,” komentar Yoelly Krisna Murti yang baru kali itu ikut rekreasi.

Begitulah kenangan saya sewaktu menjadi aktivis mahasiswa. Berdasarkan pengalaman seperti itu, saya memberi saran kepada para mahasiswa kalau memilih ketua senat jangan karena faktor ngganteng, pandai main gitar, pandai bernyanyi dan pandai menciptakan lagu, tetapi pilihlah calon ketua senat mahasiswa yang berkualitas dan punya program kerja yang realistis.

“Setujuuu……” serempak teman-teman yang saat itu jajan di kantin berteriak kecil serentak. Juga ada adik-adik kelas mahasiswa di kantin itu. Memang, masyarakat kita masih tergolong bodoh di dalam memilih pemimpin. Bukan kualitas calon pemimpin yang jadi bahan pertimbangan, tetapi faktor ganteng atau cantik, faktor popularitas. Faktor janji-janji muluk. Faktor kharisma. Hasilnya, ya korupsi merajalela, soalnya pemimpin yang dipilih juga berbakat korupsi. Berbakat maling. Betul kata teman-teman, orang yang bernama Bambang kalau dipilih jadi pemimpin, akan menjadi pembawa sial. Seperti Bambang Tralala, yang telah berkali-kali terbukti membawa sial.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN : Pacarku Cantik Tetapi Ngentutan

PALEMBANG 1988. Waktu itu saya menjadi konsultan manajemen salah satu proyek dari Dirjen PUOD, Departemen Dalam Negeri. Saat itu yang menjadi menteri dalam negeri yaitu Rudini. Saya ditugaskan di pemda Palembang, Muara Enim, Prabumulih, Baturaja, Lahat, Bengkulu dan Bengkulu Selatan.

Kota pertama yaitu Palembang. Dari Jakarta naik pesawat dan turun di Bandara Sultan Badaruddin II, Palembang. Naik taksi dan langsung meluncur ke Hotel Sriwijaya. Pesan kamar. Dan sayapun menuju kamar di lantai dua diantar karyawan hotel yang membawakan kopor saya.

Sesudah meletakkan kopor dan barang-barang di meja, sayapun meninggalkan kamar dan mencari rumah makan yang tak jauh dari hotel. Maklum, hari agak siang dan saatnya makan siang. Enak juga makanannya. Saya makan kenyang.

Oh,ya. Saya ingat, saya perlu beli baju dan celana. Maklum, baju dan celana yang saya bawa jumlahnya sedikit. Sewaktu berangkat dari Jakarta, sebagian baju dan celana saya masih basah habis dicuci dan tidak mungkin saya bawa.

Selesai makan, sayapun menuju ke JM Mall yang tidak jauh dari rumah makan tadi. Saya menuju ke lantai dua. Saya pilih-pilih baju dan celana. Sesampai di bagian celana jean, sayapun tanya ke pramuria yang sedang bertugas.

“Yang ini berapa,Mbak? Kok tidak ada harganya?” saya tanya. Pramuria itu melihat ke arah saya. Wow, cantik sekali cewek itu. Diapun mencoba mencari label harga. Ternyata tidak ada sedangkan celana jean lainnya ada harganya. Mungkin, satu-satunya celana yang label harganya hilang atau lupa belum ditempel adalah celana yang saya pilih.

“Sebentar, Mas. saya tanyakan ke Boss dulu,” diapun membawa celana yang akan saya beli. Sempat saya lihat, tubuhnya langsing, kulitnya putih dan rambutnya pendek. Hmm… seperti itulah cewek dambaan saya. Tak lama kemudian cewek itu kembali lagi. Saya manfaatkan untuk bertanya macam-macam sekitar celana jean. Buntut-buntutnya saya bertanya yang menyangkut pribadinya.

“Sudah lama, kerja di sini, Mbak?” tanya saya lagi. Akhirnya sayapun ngobrol ke sana ngobrol ke sini dan akhirnya saya menyatakan ingin berkenalan. Dan ternyata pramuria itu menerima perkenalan saya dengan senang hati. Namanya Asmarani. Sayapun meminta alamat dan nomor teleponnya. Sayapun bercerita bahwa saya ke Palembang di dalam rangka tugas dan juga saya katakan saya menginap di Hotel Sriwijaya. Itulah awal perkenalan saya.

Esok harinya, sebagai konsultan yang ditugaskan di daerah, maka terlebih dulu saya harus melaporkan kehadiran saya ke gubernur Sumatera Selatan sambil menyerahkan surat tugas dari Dirjen PUOD, Departemen Dalam Negeri. Ternyata, saya disambut seperti pejabat saja. Dengan menaiki mobil, oleh salah satu kepala dinas, saya diantarkan ke hotel tempat saya menginap.

Esok harinya, saya seperti biasa makan siang di rumah makan di mana saya kemarin juga makan di situ. Wah, sate kambingnya enak sekali. Minumannya es jeruk kesukaan saya. Sedang enak-enaknya saya makan, saya melihat di luar rumah makan melintas Asmarani.Entah mau ke ke mana. Mungkin ke JM Mall. Sayapun segera keluar dan memanggilnya. Sekaligus saya ajak makan siang bersama. Semula Asmarani menolak, tetapi akhirnya mau juga. Diapun masuk dan duduk bersama saya. Diapun segera memesan makanan dan minuman.

“Kok, tidak memakai seragam?” tanya saya.

“Lho, kalau Sabtu saya off, Mas. Tidak masuk kerja. Cuma ingin bertemu dengan teman di JM Mall saja,” jawabnya lembut. Saya pandangi wajahnya. Wow, cantik sekali. Betapa sempurna Tuhan menciptakan Asmarani.

Malam harinya, malam Minggu. Sayapun menepati janji untuk main-main ke rumahnya. Sampai di rumahnya, muncullah Asmarani.

“Oh, mencari Asmarani,ya? Tunggu sebentar, Mas. Asmarani sedang ke toko sebelah sebentar,” katanya. Aneh. Kok Asmarani bilang seperti itu? Sayapun duduk di kamar tamu. Tak lama kemudian masuk cewek.

“Oh, sudah lama menunggu,Mas?” tanya Asmarani. Saya jadi bingung. Apakah Asmarani punya saudara kembar? Ternyata benar. Tak lama kemudian Asmaranipun memperkenalkan saudara kembarnya. Namanya Asmarina. Astaga…Keduanya bagaikan pinang dibelah dua. Rambutnya sama, matanya sama, bibirnya sama, suaranya sama, bajunya sama. Semuanya sama. Saya tak bisa membedakan.

Itulah awal persahabatan saya. Hari-hari berikutnya sayapun sering ke rumahnya. Dan tetap tak bisa membedakan mana Asmarani dan mana Asmarina. Apalagi, saya juga merasa dikerjain. Soalnya, ketika saya mengajak Asmarani makan siang, ternyata yang saya ajak adalah Asmarina.

“Hahaha….Coba, cari perbedaan saya dengan Asmarani, Mas. Suatu saat pasti akan tahu,” Asmarina tertawa terbahak-bahak melihat saya berhasil dikadalin. Hmm…memang sulit untuk membedakan.

Namun akhirnya, sedikit demi sedikit akhirnya saya tahu ciri-ciri Asmarani, yaitu suka kentut sembarangan. Pertama, ketika saya ajak nonton film, dia kentut. Kedua, ketika saya ajak ke salah satu tempat wisata, dia juga kentut. Ketiga, ketiga saya mengantarkan Asmarani ke salon, dia juga kentut. Akhirnya, Asmarani mengakui dia tak bisa menahan kentut. Kalau ditahan bisa sakit. Dan untuk itu dia meminta maaf.

“Maaf, Mas, kalau saya sering kentut sembarangan,” katanya.

“Nggak apa-apa, asal kentutnya tidak bunyi,” jawab saya.

“Ha ha ha….!” Asmarani tertawa terbahak-bahak. Yah, karena sudah terlanjur jatuh cinta, segala kekurangan yang ada pada diri Asmarani bisa saya maklumi. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

“Nggak menyesal punya pacar saya,Mas? Pendidikan saya cuma lulusan SMA. Sedangkan Mas Harry seorang sarjana. Mas Harry seorang konsultan, sedangkan saya cuma pramuria. Cuma penjaga toko,” begitu katanya suatu ketika. Selesai berkata begitu, kentutnyapun bunyi. “Tuuut…”. Saya dan diapun tertawa.

“Jangan merendahkan diri, ah. Saya hanya membutuhkan cinta Asmarani. Apapun pendidikannya. Apapun pekerjaannya. Jangan membeda-bedakan semuanya itu.”

Namun hubungan saya tak selancar yang saya duga. Saudara kembarnya, Asmarina, ternyata juga naksir saya. Jadi, tak heran kalau selalu ada hal-hal yang di luar dugaan saya. Misalnya, ketika sedang enak-enak istirahat di kamar hotel, tiba-tiba Asmarina masuk. Untunglah saya sudah bisa membedakan mana Asmarina dan mana Asmarani. Ternyata, Asmarina punya tahi lalat kecil di leher sebelah kiri. Sedangkan Asmaranii tak punya tahi lalat di leher.

Memang, Asmarina dan Asmarani sama-sama cantiknya. Sewaktu saya belum bisa membedakan, sayapun pernah mencium Asmarina, yang saya kira Asmarani. Dan celakanya, itupun berlangsung berkali-kali. Artinya, tak sengaja saya berpacaran dengan Asmarani dan Asmarina.

Namun akhirnya saya bersikap tegas ke Asmarina, bahwa saya hanya mencintai Asmarani. Diapun menangis. Tapi akkhirnya menyadari posisinya. Begitulah, bulan berikutnya saya bertugas ke Baturaja satu bulan, kemudian ke Muara Enim satu bulan, kemudian ke Prabumulih satu bulan, kemudian ke Bengkulu satu bulan dan kemudian ke Bengkulu Selatan satu bulan. Kemudian dimulai dari kota pertama lagi, yaitu Palembang. Begitu seterusnya. Tanpa terasa, telah dua tahun saya berpacaran dengan Asmarani

Sayang, tugas sayapun selesai. Saya harus kembali ke Jakarta. Celakanya, Asmarani tidak mau saya ajak pindah ke Jakarta, sebab ibunya sering sakit dan dia dan Asmarina harus merawatnya. Tapi itu tidak masalah. Paling tidak seminggu sekali saya terbang dari Jakarta ke Palembang. Tepatnya, Sabtu pagi berangkat ke Palembang. Soalnya, tiap Sabtu saya libur. Minggu sore kembali ke Jakarta. Memang, butuh biaya besar. Untunglah, pekerjaan saya sebagai konsultan manajemen bisa diandalkan. Gaji saya cukup besar. Jadi, Sabtu dan Minggu saya berada di Palembang. Demi pacar tercinta.

Asmarani. Memang cantik, tetapi “ngentutan.”

“Tuuut…!”

Harriyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Ada Cinta di Malam Wisuda

JAKARTA 1980. Saat yang saya tunggu-tunggupun tiba. Yaitu, lulus kuliah dari Akademi Bahasa Asing “Metropolitan” sekaligus mempersiapkan acara malam wisuda. Kebetulan saya termasuk panitianya. Berhari-hari aktif mempersiapkan segala sesuatunya. Capek juga.

Sekitar pukul 18:00 WIB saya telah tiba di Gedung Kebayoran Inn, yaitu satu jam sebelum acara. Celakanya, penerima tamunya belum datang semua. Bingung juga ya. Apalagi saya dapat info dari Faisal, katanya Zaenal mobilnya mogok sewaktu menjemput para penerima tamu. Wah, kacau sekali.

Pukul 18:30 WIB. Untunglah, akhirnya semua penerima tamu datang juga.

“Kamu bagaimana sih. Jadi panitia tidak tanggung jawab. Sudah ada keputusan rapat, semua panitia harus hadir tepat pukul 18:00 WIB !,” saya marah-marah. Tentu, saya berhak marah-marah sebab saya ketua panitia.

“Maaf, Harry. Tadi mobilnya mogok di jalan. Terpaksa saya pinjam mobil Om saya yang rumahnya tidak jauh dari tempat mobil saya mogok. Sekali, lagi. Mohon Maaf,Harry…,” Zaenal meminta maaf. sayapun memaafkan karena alasannya memang kuat. Di samping itu juga ada usaha untuk mencari solusi dengan cara meminjam mobil Om-nya.

Tamu-tamu yang sebagian besar merupakan kedua orang tua para calon wisudawanpun sudah mulai datang.

Tiba-tiba perut saya terasa sakit luar biasa.

“Oh, penyakit maag saya kambuh…,” keluh saya sambil memegang perut. Tentu sambil meringis kesakitan. Gelas minuman yang saya pegangpun jatuh dan pecah.

“Kenapa Harry?” tiba-tiba salah satu dosen saya, Pak Frans Soeprapto mendekati saya. Saya katakan maag saya kambuh. Pak Franspun mengajak saya untuk istirahat sebentar di salah satu ruangan. Entah ruang apa. Di situ ada sofa. Saya tidur-tiduran sebentar di sofa itu.

“Istirahatlah sebentar, Harry,” ujar Pak Frans yang kemudian meminta izin untuk meninggalkan saya sebentar. Sayapun tercenung sendiri di ruangan itu. Sambil sebentar-sebentar memegang perut yang sakit.

Ketika hampir tertidur, tiba-tiba ada yang menyapa saya.

“Sakit, Mas Harry?” lembut suaranya. Ketika saya buka mata, terkejut saya melihat Adelia sudah duduk di sofa dekat tubuh saya. Dia adalah adik kelas saya. Saya akui, Adelia merupakan salah satu mahasiswi tercantik di kampus saya.

“Minum obat dulu,Mas Harry,” katanya sambil memberikan sebuah pil Promag dan segelas air putih. Sayapun bangkit dan meminum air putih itu beserta pil tersebut.

“Kok, tahu saya ada di sini?” saya ingin tahu.

“Tadi saya bertemu Pak Frans dan beliau pesan untuk dicarikan obat. Kebetulan saya juga punya sakit maag dan kemana-mana selalu membawa obat maag. Lantas Pak Frans menugaskan saya ,membawa segelas air dan obat maag untuk Mas, Harry,” katanya lancar sekali.

Hubungan saya dengan Adelia selama ini biasa-biasa saja. Sejak dulu saya menganggapnya sebagai seorang adik atau sahabat. Tidak lebih dari itu.

“Cepat sembuh ya Mas Harry,” bisik Adelia yang ternyata kemudian mencium pipi saya.

“Insya Allah,” jawab saya. Sebagai laki-laki normal, sayapun membalas ciuman pipi Adelia. Ada perasaan aneh yang muncul pada diri saya.

Tak berapa lama kemudian, sayapun sembuh. Bergegas saya menemui rekan-rekan lain yang juga akan diwisuda. Segera saya kenakan toga dan mempersiapkan diri. Untunglah acara masih berupa sambutan-sambutan.

Namun akhirnya, acara wisudapun selesai juga. Kami yang diwisuda saling foto bersama. Saling peluk cium tanda perpisahan dengan janji akan selalu bertemu kembali dalam acara reuni-reuni mendatang. Semua orang tua teman-teman saya hadir, kecuali kedua orang tua saya yang berdomisili di Bojonegoro, Jawa Timur. Kedua orang tua saya tidak bisa hadir karena sudah tua.

 

Sebagai ketua panitia, tentu saya tidak boleh pulang duluan. Harus menunggu semua orang meninggalkan gedung. Kemudian saya mencek barang-barang yang mungkin ada yang ketinggalan. Betul saja, di ruang panitia saya menemukan sebuah kamera, sebuah vandel, dan sebuah tas wanita yang saya hafal betul milik siapa tas itu,

“Kok,sendirian Mas harry.” tiba-tiba di belakang saya ada yang menyapa. sayapun menoleh.

“Oh,Adelia. Kok,belum pulang?” saya tercengang melihat dia belum pulang.

“Iya. Tidak ada yang menjemput. Rencananya sih mau naik taksi saja,” Adelia menjelaskan.

“Oh, jangan. Sama-sama saya saja,” janji saya.

Setelah beres-beres, maka sayapun pamit ke satpam Kebayoran Inn. Sayapun mengajak Adelia menuju ke tempat parkir. Adelia masuk ke mobil dan sayapun mengendarainya. Pelan-pelan meninggalkan Gedung Kebayoran Inn menuju ke arah Pancoran. Kebetulan, rumah Adelia tidak jauh dari rumah saya. Rumah Adelia di Tebet sedangkan rumah saya saat itu di Pasar Minggu.

Tentu, sebelum sampai kerumahnya, sepanjang perjalanan mengobrol kesana kemari sambil sebentar-sebentar tertawa. Maklum, saya dan Adelia memang suka bercanda. Dia suka sekali cerita yang lucu-lucu terutama adanya peristiwa yang lucu selama acara wisuda.

Namun, ketika mobil sudah dekat dengan rumahnya, mendadak Adelia berbicara serius. Terpaksa moobil saya jalankan pelan. Bahkan berhenti di pinggir jalan. Mesin saya matikan.

“Mau bicara apa,Adelia?” saya ingin tahu.

“Ya, sesudah wisuda, Mas Harry masih sering ke kampus tidak?”

“Mungkin jarang. Soalnya saya sudah dapat panggilan kerja di Bank of Tokyo, Jl.MH Thamrin. Kenapa?”

“Oh, syukurlah kalau sudah dapat kerja. Berarti kita tidak mungkin bertemu lagi,dong?’ tanyanya memacing. Sayapun faham kata-kata itu. Kebetulan, saya sebetulnya juga ada perhatian ke Adelia sejak dulu.

“Hmmm. Kalau boleh sih, tiap malam Minggu saya mau ke rumah Adelia. Kalau boleh,sih…”

“Oooh, boleh. Dengan senang hati. Serius apa bohong,nih? Nanti dimarahi pacarnya?”

“Ha ha ha…pacar yang mana?”

“Lho, kan sama Niken. Cewek ASMI yang cantik itu?”

“Hahaha…Sebulan yang lalu dia menikah. Dijodohin kedua orang tuanya…” saya bicara serius. Saya lihat Adelia tersenyum penuh arti. Akhirnya, sebagai laki-laki saya memberanikan diri untuk mengatakan cinta ke Adelia. Diterima ya syukur, nggak diterima ya cari yang lain. Jakarta kan masih banyak cewek yang cantik,kok.

 

Ternyata, Adelia menyambut pernyataan cinta saya. Wow, tanpa buang-buang waktu, kamipun berciuman sepuas-puasnya di dalam mobil. Indah sekali malam itu. Malam cinta pertama bagi Adelia dan malam cinta kedua bagi saya.

 

Mobilpun segera berjalan menuju ke rumah Adelia di kawasan Tebet. Sesudah pintu rumah dibukakan ibunya, maka sayapun minta izin pamit. Ibunya mengucapkan terima kasih. Sayapun melangkah balik menuju ke mobil. Saya lihat Adelia melambaikan tangannya. Sayapun membalasnya.

Mobil Honda Civic Wonder empat pintu warna putih segera meluncur ke arah Pasarminggu.

Malam wisuda. Malam yang indah. Malam yang tak kusangka.Ternyata Tuhan memberi jodoh buat saya. Alhamdulillah, sejak malam itu Adelia resmi menjadi pacar saya.

 

Catatan:

Berdasarkan pengalaman pribadi, tetapi sudah dimodifikasi.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

 

 

CERPEN: Naik Kereta Api…Tut…Tut…Tut…!

SAYA baru saja menyelesaikan studi saya dari Unigoro (Universitas Bojonegoro). Umur saya 21 tahun. Tentu, langkah berikutnya yaitu mencari kerja. Saya mengambil keputusan untuk mencari kerja ke Jakarta. Saya berangkat dari stasiun kota itu dan naik kereta api Gumarang dan dapat tempat duduk nomor 12A.

Sejak dari Kota Bojonegoro kursi di sebelah saya kosong. Baru sesampainya di Semarang, ada seseorang menanyakan tempat duduk itu.

“Maaf, nomor 12B,ya?,” tanya seorang gadis cantik yang wajahnya mirip Ratna Listy.

“Oh, ya.Kosong. Silahkan…,” saya mempersilahkan dia duduk. Sesudah dia menaruh tas tentengnya di dekat tas tenteng saya yang terletak di atas, diapun duduk. Waktu itu saya sedang asyik mendengarkan MP3 dari ponsel.

“Mau ke mana,Mas,” saya dengar suaranya. Saya lepas headset saya. Saya matikan lagu MP3.

“Oh, mau ke Jakarta….,” saya menjawab singkat. Akhirnya saya dan diapun ngobrol-ngobrol. Katanya, dia juga baru saja lulus dari Fakultas Ekonomi, Undip, Semarang. Juga mau ke Jakarta untuk mencari kerja.

“Nama saya Astuti,” dia memperkenalkan diri. Sayapun menyebutkan nama saya. Enak juga ngobrol-ngobrol dengan dia. Di samping cantik, gaul dan juga terkesan cerdas. Banyak sekali ceritanya, terutama tentang dunia wiraswasta.

“Memangnya di Semarang uasha apa?” saya ingin tahu.

“Antara lain salon kecantikan, warnet dan bengkel motor,” sahutnya.

“Bengkel motor? Memangnya mengerti mesin motor?”

“Saya yang punya modal, adik saya yang lulusan SMK Mesin yang mengelolanya. Saya cuma memantau saja.”

“Kalau salon?”

“Adik saya yang perempuan yang mengelola”

“Lha, nanti kalau diterima kerja di Jakarta, bagaimana?”

“Ya, tidak apa-apa. Nanti bisnis saya di Semarang adik-adik saya yang akan mengelolanya,” sahutnya lancar sekali.

Malam semakin larut. Hampir semua penumpang tidur. Hanya saya, Astuti dan dua penumpang di depan saya yang belum tidur. Di depan saya duduk seorang bapak dan seorang anaknya yang masih duduk di bangku SMP. Bapaknya asyik membaca koran sedangkan anaknya sibuk mengisi teka-teki silang. Yang anak SMP kadang-kadang tanya ke saya tentang pertanyaan yang ada di TTS untuk mencari jawabannya. Untung, saya bisa menjawab semuanya.

Karena lapar, sayapun berniat ke gerbong restoran. Sayapun mengajak Astuti dan ternyata dia mau. Kami berdua memasan nasi goreng dan the hangat manis. Sambil makan juga sambil ngobrol. Ternyata dia pecinta sinetron, pecinta Opera van Java, Bukan Empat Mata. Juga penggemar MetroTV dan TVOne.

Katanya, dia di Jakarta akan menginap di rumah saudaranya di kawasan Kompleks Perumahan Suntert Hijau Permai, Jakarta Utara. Saypun diberi alamatnya.

Dari hasil ngobrol-ngobrol di restoran, akhirnya Astuti berkata terus terang kalau belum punya pacar. Kebetulan, saya juga belum punya pacar. Maka, tak heran kalau saya memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil foto dirinya dengan menggunakan kamera ponsel yang saya bawa. Diapun memfoto saya menggunakan ponselnya. kamipun bertukar nomor ponsel.

“Yuk, kembali ke gerbong kita,” ajak saya sesudah makan. Ketika saya akan membayarinya, dia menolak.

“Kita bayar sendiri-sendiri saja,Mas,” katanya dan langsung mengeluarkan uang membayar nasi goreng dan teh hangat manisnya. Sayapun berbuat yang sama.

Saya dan Astutipun kembali ke tempat duduk semula. Sesudah ngobrol-ngobrol, terasa saya merasa haus lagi.

“Haus ya,Mas Harry?” tanyanya. Diapun berdiri dan mengambil minuman Coca Cola kaleng yang diambil dari tas tentengnya yang ada di atas. sayapun tidak menolak sebab miniman Aqua saya sudah habis. maklum, saya punya penyakit diabetes. Selalu merasa lapar dan haus. Sayapun meminumnya. Segar sekali rasanya. Kebetulan, Coca Cola adalah minuman saya sejak dulu.

Malam semakin larut. Mungkin, di Bojonegoro saya tidak tidur siang, maka mata saya tak bisa diajak damai. Mengantuk sekali. Sayapun bersandar ke dinding kereta dekat jendela. Astutipun mulai tidur dan menyhandarkan kepalanya di pundak saya. Sempat saya mencium bau harum dari rambutnya. Harum sekali. Dan malam itu terasa sangat indah sekali. maunya sih saya ingin mencium Astuti. sayang, bapak dan anak yang duduk di depan saya belum tidur juga. Asyik membaca dan mengisi majalah TTS.

Akhirnya, sayapun tertidur. Dalam mimpi, seolah-olah saya telah diterima di Bank of Tokyo yang berlokasi di Wisma Nusantara, Jl. MH Thamrin Jakarta. Sebuah bank yang sangat disiplin. Kebanyakan wsanita yang bekerja di situ. kabarnya, walaupun namanya Bank og Tokyo, tetapi pemilik modalnya adalah orang-orang Inggeris. Benar atau tidak, saya tidak tahu.

Sayang, mimpi yang menyenangkan itu harus berakhir, sebab saya terbangun karena ingin buang air kecil. Cuma saya heran, kok Astuti tidak ada? Semula, saya mengira di ada di gerbong restoran atau sedang buang air kecil.

“Oh, cewek di samping sampeyan? Dia sudah turun di Cirebon,Mas” kata bapak yang duduk di depan saya ketika saya menanyakannya.

“Turun di Cirebon?”  tanya saya. bapak itu mengangguk. Saya merasa kecewa karena kehilangan teman mengobrol. Namun saya meneruskan niat saya untuk buang air kecil di kamar kecil. Kemudian balik kembali ke tempat duduk.

Secara tak sengaja, saya melihat ke atas. Oh My God! jantung saya berdebar keras.

“Ada apa,Mas?” tanya bapak yang duduk di depan saya melihat saya terkejut.

“Tas saya tidak ada,Pak?”

“Warnanya?”

“Hitam”

“Oh, yang warna hitam bukannya mbak-mbak tadi? saya lihat dia yang bawa dan turun di Cirebon,” kata bapak itu.

“Oh Tuhan….Tas hitam itu punya saya,Pak. Tas dia yang warna biru tua…” saya menjelaskan ke bapak itu.

“Oh, mungkin dia salah ambil. Tas sampeyan mirip sih sama tas dia. Waktu mengambil tas itupun dia tampak tergesa-gesa. Mungkin dia tak sengaja dan salah ambil. Tertukar….barangkali,” katanya.

Ya, saya tidak suudzon.kata bapak itu mungkin benar.Mungkin tertukar. Akhirnya, sesampai di Jakarta, tas Astutipun saya ambil dengan harapan tiga-empat hari nanti akan saya kembalikan ke rumah oorangtuanya di Semarang. Kebetulan, saya punya alamatnya. Sudah berkali-kali ponselnya saya hubungi, tetapi tidak diangkat. SMS-pun tidak dijawab. bahkan saya baru tahu, ternyata ponselnya ada di tasnya yang saya bawa dalam keadaan off. Isi tasnya sebagian pakaian wanita, alat-alat kecantikan, handuk dan alat-alat kosmetik. Tidak ada surat-surat penting.

Tiga-empat hari kemudian, saya ke Kompleks Perumahan Sunter Hijau Permai, Jakarta Utara. katanya, itu rumah tantenya. Rumah saya dapatkan. Ternyata, penghuninya tak kenal Astuti. Rumah itu dihuni keluarga keturunan China, sedangkan Astuti orang Jawa.

Esok harinya saya ke Semarang dan langsung naik taksi menuju ke alamat rumah orang tuanya. Ternyata bukan rumah, tetapi alamat hotel. Karena hari itu hari Minggu, maka baru hari Senin saya bisa mencek ke kampusnya. saya datangi Bagian Tata Usaha, Fakultas Ekonomi, Undip, untuk mencari kebenaran informasinya. Setelah petugas mencarinya di komputer, ternyata tidak ada yang namanya Astuti. Adanya nama Widyastuti. Fotonyapun tidak sama dengan Astuti. Widyastutipun kabarnya sudah meninggal karena sakit kanker otak.

“Oh, Tuhan. saya tertipu,” sampai di hotel tempat saya menginap, saya baru sadar kalau tertipu. Saya benar-benar merasa terpukul karena semua isi tas saya amblas. Antara lain, sebuah ponsel Blackberry yang baru saya beli. Uang tunai Rp 33 juta. Dua buah buku tabungan Bank BRI dan Bank BNI. Sebuah cek senilai Rp 11 juta. Sertifikat tanah dan ijasah sarjana saya dari Unigoro.

Saya baru sadar. Minuman Coca Cola yang diberikan ke saya sewaktu di kereta, pasti sudah dicampur obat tidur.

“Oh, Astuti. Benar-benar Astuti….(As)li (tu)kang (ti)pu….Ya,Astuti memang asli tukang tipu…”

Catatan:

Judul asli : Astuti

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

CERPEN: Loe…Gue…End…!

JAKARTA, 2009. Reuni yang diadakan di Hotel Hilton cukup sukses. Sekitar 95% alumni menghadirinya. Reuni akbar. Bahkan sudah 30 tahun saya tidak pernah bertemu dengan mantan teman-teman kuliah. maklum, selama 15 tahun saya tinggal di Jawa Timur, sehingga tiap ada reuni angkatan saya, saya tak bisa menghadirinya. Apalagi teman-teman tidak ada yang tahu alamat baru saya di jawa Timuur.

”Hai! mas Harry! Apa khabar?” tiba-tiba ada seorang menyapa saya. Ternyata Della. nama lengkapnya Della Purnamasari. Adik kelas sewaktu kuliah.

“Hai! Apa khabar Della!” sayapun langsung mencium pipinya. Cium persahabatan. Della memang masih seperti dulu, cantik dan banyak bicaranya. Suka ngobrol. Bedanya, Della sudah menjadi seorang ibu dari dua orang anak.

Acara reuni cukup meriah. Apalagi Della yang sejak dulu punya hobi menyanyi juga ikut menyumbangkan suara. Dia memang punya talenta uuntuk itu. Sayapun punya gagasan, ingin membantu mengorbitkan Della melalui stasiun ttelevisi agar menjadi penyanyi terkenal. Bahkan kalau bisa menjadi pemain sinetron.

“Wah! Suara Della tetap masih bagus seperti dul!,” saya angkat dua jempol tangan saya selesai Della menyanyi. Diapun duduk di dekat saya. Saat itu satu meja ada enam kursi, yaitu saya, Della, Mathias Muchus, Rudy Rayadi, Suhata Wiramiharja, Faisal Salmun dan Armi Helena. kami bersahabat akrab sejak di kampus. walaupun dulu berbeda tingkat dan berbeda kelas, namun kami ttetap komppak. Maklum, kami semua dulu aktivis senat mahasiswa.

“Oh, ya,Della. Mau nggak diorbitkan jadi penyanyi terkenal?” saya menawarkan niat baik ke Della. Dellapun menengok ke arah saya setengah percaya setengah tidak percaya.

“Ah! yang benar…” katanya sambil menunggu jawaban.

“Serius. Kebetulan saya punya kenalan di SCTV. Kalau Della mau, kapan-kapan saya antarkan ke SCTV,” saya serius berkata. Dellapun menggeser kursinya lebih dekat dengan saya.

“Wow! Kalau serius, boleh juga,nih! Kapan rencananya?” Della semangat bertanya.

Akhirnya, kamipun berjani Sabtu depan bertemu dulu di food court, Plasa Senayan. Dan Dellapun datang diantarkan suaminya. Sesudah Della duduk, suaminyapun meneruskan perjalanannya mengantarkan anak-anaknya ke kolam renang.

Begitulah, setelah membuat rencana yang matang dan sesudah makan siang, sayapun mengantarkan Della ke SCTV. sayapun langsung memasuki ruangan produksi tempat teman saya bekerja.

Sayapun memperkenalkan Della ke Handoko, manajer produksi SCTV. Sehari sebelumnya memang saya sudah kontak dia melalui ponsel.

“Boleh! Siap mengikuti audisi? Kebetulan hari ini saya mau men-tes enam calon penyanyi termasuk Della,” kata Handoko. Tentu saja Della menjawab siap. Dan memang hari itu juga Della langsung mengikuti audisi. Cukup lama juga. Sekitar enam jam untuk enam peserta. Ada enam juri yang menilainya. hasilnya akan diberitahukan lewat SMS seminggu kemudian.

Alhamdulillah! Seminggu kemudian saya dapat SMS dari Handoko, bahwa dari enam peserta, hanya dua orang yang lolos, termasuk Della. Langsung saya kontak Della. Dan mulai esok harinya saya selalu menjemput Della untuk keperluan latihan. Suaminya tidak bisa mengantarkan karena kerja di kantor.

Begitulah. Tidak hanya latihan suara, tetapi juga latihan gerak tubuh atau koreografi.Bahkan juga membahas kostum atau pakaian untuk artis. Tentu, pakaian seorang artis harus berbeda dengan pakaian nonartis.

Sebulan kemudian, Della telah muncul di SCTV mengisi beberapa acara musik. Honornya meemang semula tak seberapa, namun ketika ada sebuah perusahaan sabun menawarkan untuk menjadi bintang iklan, maka penghasilan Della-pun meningkat. Bahkan bulan berikutnya perusahaan mie instan, perusahaan shampo, dan perusahaan motor juga memintanya menjadi bintang iklan. Ratusan juta rupiah mulai mengalir ke rekeningnya.

Sebetulnya saya tidak meminta imbalan. Namun, kalau Della memberi seagian rezekinya, saya juga tidak menolak. Menolak rezeki itu tidak baik. Tidak perlu malu-malu. yang penting saya tidak meminta.

Sampai suatu saat, ketika akan rekaman, Mathias Muchuspun hadir. Iseng-iseng saya menyampaikan gagasan saya untuk membuat sinetron berdasarkan novel-novel yang saya buat. Kebetulan saya telah membuat enam buah novel. Kebetulan Muchus yang saat itu juga menjadi pemilik dan pengelola production house (PH) tidak keberatan dengan syarat akan membaca semua novel saya terlebih dulu.

Alhamdulillah! Salah satu novel saya, yaitu yang berjudul “Misteri Gelas Pecah” disetujui untuk ditampilkan dalam bentuk sinetron. Sayapun mengusulkan agar Della sebagai salah satu pemeran utamanya. Ternyata Muchus tidak keberatan.

Bulan-bulan berikutnya, Dellapun tidak hanya sibuk rekaman untuk bernyanyi, tetapi juga sibuk shooting sinetron. Konsekuensinya, tiap hari saya selalu antar jemput. Dan dengan penuh pengertian, sayapun kecipratan rezeki dari Della. Apalagi, lagu-lagu ciptaan sayapun telah mendominasi pasaran lagu di Indonesia. Dan akhirnya, Della secara khusus anya membawakan llagu-lagu ciptaan saya.

Tanpa terasa, sinetron “Misteri Gelas Pecah” yang sebagian shootingnya di Yogyakarta, selesai sudah. Lemudian disambung untuk men-sinetronkan novel saya yang berikut. Yaitu, “Balada Pantai Lovina” dan disusul “Di Telaga Sarangan Pernah Ada Cinta”.

Setahun sudah. Della sudah berubah menjadi kaya raya. Punya moobil pribadi. Tiodak mau saya jemput lagi. Jadi tiap kali ada acara ke SCTV, dia datang dan pulang menyetir mobil barunya. Sayapun tak banyak lagi buang-buang tenaga untuk antar jemput Della. Namun konsekuensinya, saya juga jarang bertemu dengan Della. Apalagi, akhir-akhirnya Della lebih sering bermain sinetron daripada bernyanyi. Cuma, setelah keenam sinetron saya habis, Della membintangi sinetron yang dibuat oleh orang lain. Konsekuensinya saya tidak dapat apa-apa.

“Kok, begini jadinya?” gerutu saya. Usaha saya membuat novel barupun tak pernah tterealisasi. Serasa ide saya macet. Bahhkan untuk mengarang lagupun tak sebanyak dulu. Apalagi, akhir-akhir ini sikap Della agak berubah. Kalau dulu selalu ada di dekat saya, sekarang lebih dekat dengan para selebriti lainnya. Kalau saya mendekati, Della selalu menghindar secara halus dengan berbagai alasan.

Lama-lama, sikap Della semakin jelas. Mencoba menjauhi saya. Tak membutuhkan saya lagi. Kalau saya datang ke rumahnyapun, saya selalu diusir secara halus. Begitu pula, tiap kali bertemu di SCTV, Della cepat-cepat bergabung dengan teman-teman artis lainnya.

Akhirnya, suatu saat, selesai Della shootiing sinetron, sayapun mencoba bertanya secara baik-baik ke Della, kenapa kok sikapnya berbeda. Semula jawabannya diplomatis dan berusaha tidak melukai perasaan saya. Namun dari hari ke hari, sikapnya berubah. Ketus!

Itulah yang menyebabkan saya menjadi emosi.

“Kok Della sekarang menjauh dari saya?” tegur saya di gedung SCTV.

“Ya, kan saya sudah bisa mandiri. Sudah ada pengarang lagu lain. Sudah ada pembuat novel dan sinetron lain. Lagu-lagunya juga lebih enak. Sinetronnya juga lebih bagus,” begitu jawwaban Della. Walaupun diucapkan secara baik-baik, tetapi cukup menyinggung perasaan.

“Kalau begitu, Dela memberlakukan saya bagaikan habis manis sepah dibuang?” agak keras saya berkata.

“Terserah apa kata Harry. Yang pasti situasi sudah berubah!” katanya ketus sekali.

Akhirnya, terjadilah pertengkaran yang cukup hebat antara saya dan Della.

Dan akhirnya sayapun mengambil keputusan untuk memutus persahabatan saja.

“Oke! Loe…Gue…End…!” keras kata saya sambil menggerakkan tangan kiri ke kiri dan tangan kanan ke kanan. Simbol putusnya persahabatan.

“Baik! Loe…Gue…End…!” balas Della dengan suara keras pula sambil kedua tangannya membuat simbul putusnya sebuah persahabatan.

Dellap dan teman-temannya masuk ke lift dan menghilang dari pandangan saya. sayapun segera keluar dari gedung SCTV. Pelan, saya kemudikan Honda Freed saya meninggalkan halaman gedung.

“Huh! Saya tidak menyangka, maksud baik saya jadi begini…” gerutu saya.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Dosen Pembimbing Skripsiku Cantik dan Seksi

SURPRISE! Ternyata di papan pengumuman saya baca bahwa calon pembimbing skripsi saya yaitu Bu Nita atau Arnita Ardhyanna. Dosen yang paling cantik dan seksi di Fakultas Psikologi, Universitas Maharani, Bandung. Teman-teman sayapun menyalami saya satu persatu.

“Wah! dapat durian runtuh kamu. Selamat Harry…” begitu ucap Chandra yang mendapat dosen pembimbim Pak Kartomo Wisnusoebroto,MPsy. Waktu itu memang saya dan teman-teman seangkatan telah menyelesaikan studi di fakultas tersebut.

Sayapun segera ke Gedung A, gedung khusus dosen-dosen. Saya menuju lantai dua dan mencari ruang kerja Bu Nita. Kuketuk pintunya.

“Masuk…!” terdengar suara merdu dari dalam. Saya buka pintu dan melangkah masuk. Di depan sana Bu Nita sedang sibuk menghadapi laptopnya.

“Permisi, Bu…” salam saya. Bu Nitapun mempersilahkan saya duduk. Sayapun mengutarakan maksud saya untuk meminta bimbingan skripsi.

“Sudah membuat outline,nya?” tanya Bu Nita yang saat itu memakai baju putih tipis sehingga samar-samar BH-nya terlihat. Payudaranya yang padat membuat saya tak bisa berkedip.

“Su…su…sudah, Bu…” tergagap saya menjawabnya. Sayapun membuka tas kuliah. Saya ambil outline skripsi dan saya sampaikan ke Nita. Saat itu saya membuat skripsi berjudul “Puasa Tak Bisa Mengubah Perilaku ataupun Watak : Sebuah Tinjauan Psikologis”. Bu Nitapun membaca outline tersebut dengan teliti.

“Baiklah. Sebaiknya bimbingan di rumah saya saja. Tiap Selasa dan Sabtu pagi, sebab hari-hari itu saya tidak mengajar. Bisa?”

“Bi…bi…bisa,Bu…,” jawab saya. Setelah itu sayapun meninggalkan ruang kera Bu Nita.

Selasa pagi. Dengan naik motor, sayapun meluncur menuju ke Jl. Biliton, ke rumah Bu Nita. Sesudah memarkir motor, sayapun menuju ke pintu rumahnya yang terbuka. Tak lama Bu Nitapun muncul. Wow! Memakai rok mini. Pahanya yang putih mulus membuat jantung saya berdebar keras.

“Silahkan duduk…,” kata Bu Nita yyang juga langsung duduk di sofa. Tanpa buang-buang waktu saya dan Bu Nita membahas outline skripsi. Ada beberapa yang dikoreksi. Ada subbab yang diganti ataupun dihilangkan. Ada bab yang diganti. Sesekali Bu Nita meminta saya menjelaskan secara umum isi tiap bab. Sayapun menjelaskannya dengan lancar. Maklum, saya sudah membaca texbook-nya berkali-kali. Sesekali saya mengagumi wajah Bu Nita yang cantik, rambut pendek, bulu mata lentik. Sepintas mirip Cut Tari. Sebagai laki-laki normal, tentu tak sengaja membayangkan yang bukan-bukan. Ah, persetan!

Bu Nita memang tergolong masih muda. Usia sekitar 25 tahun dan sudah menyandang gelar doktor psikologi dari salah satu perguruan tinggi di California. Di rumah tinggal sendiri. Tidak punya pembantu. Rumahnya cukup mewah. Bu Nita suku Jawa. Dan satu lagi, belum menikah. Hmmm…Laki-laki mana yang tak terangsang melihat Bu Nita yang mirip Cut Tari itu?

“Sebentar, Harry. Saya buatkan minuman dulu,” ujar Bu Nita sambil berdiri.

“Ah, nggak usah repot-repot, Bu…” sahut saya basa-basi. Namun Bu Nita langsung berjalan menuju ke dapur. Dan tak lama kemudian membawa dua gelas minuman es jeruk manis.

“Diminum dulu, Harry. Ini buatan saya sendiri. Maklum, saya sudah tiga kali gantii pembantu, tidak ada yang cocok…,” Bu Nita mempersilahkan saya minum dan beliau langsung duduk di sofa di depan saya. Karena haus, sayapun langgsung meneguk air jeruk dingin itu. Dan kemudian membahas skripsi lagi.

Mungkin karena kebanyakan minum, sayapun ingin buang air kecil. Daripada ditahan bisa jadi ppenyakit, maka sayapun minta izin Bu Nita untuk ke toilet. Sayapun diantarkan ke toilet yang letaknya agak ke belakang.

Sabtu pagi. Sayapun kembali ke rumah Bu Nita. Kali ini membawa skripsi bab I yang telah saya susun beberapa hari sebelumnya. Sampai di rumah Bu Nita, ternyata di halaman rumahnya ada sebuah mobil putih. Mobil Bu Nita.

“Mau pergi, Bu?” tanya saya sesudah memarkir motor.

“Iya. Tolong Harry, antarkan saya sebentar. Bisa bawa mobil, khan?” tanya Bu Nita. Kebetulan memang saya bisa bawa mobil. Bu Nitapun duduk di di samping kiri saya. Mobilpun segera meluncur. Tujuannya ke salah satu salon terkemuka di Bandung.

Tiba-tiba, tanpa sengaja, ketika mau memegang persneling, tangan kiri saya meleset dan mengenai paha kanan Bu Nita.

“Oh, maaf, Bu. Nggak sengaja…,” ucap saya gelagapan. Saat itu saya memang benar-benar tidak sengaja. Namun tampak Bu Nita tidak marah. Biasa-biasa saja. Hmm, sepanjang perjalanan sebentar-sebentar mata saya melirik melihat paha Bu Nita yang mulus. Apalagi memakai rok mini. Huh! Persetan.

Pulang dari salon, Bu Niita langsung memberikan bimbingan skripsi. Satu persatu, lembar per lembar dibacanya dan kemudian diberi komentar sambil sesekali mencoret-coretkan ballpointnya ke naskah skripsi saya.

Satu jam kemudian, seperti biasa, Bu Nitapun menuju ke dapur untuk membuatkan minuman buat saya. Sayapun memandangi tubuh Bu Nita yang padat sintal. Betul-betul wanita yang sempurna.

Tak lama kemudian Bu Nitapun kembali sambil membawa dua gelas minuman . Ketika akan meletakkan gelas itu ke meja, tanpa sengaja tangan saya menyenggol baki yang dibawahnya. Gelaspun jatuh dan airnyapun tumpah mengenai rok Bu Nita dan celana saya. Basah kuyup!

“Ah…! Aduh…Bagaimana ini?” teriakan kecil keluar dari Bu Nita. Sayapun terkejut dan tak mengira kejadian itu akan terjadi. Dalam hati saya memperkirakan Bu Nita akan marah. Ternyata tidak.

“Oh, Harry. Ganti celana dulu. Basah tuh. Bisa pakai celana saya dulu.Mungkin cocok…” usul Bu Nita yang di luar dugaan. Tangan sayapun ditariknya dan diajak menuju ke kamar tidurnya. Dibukanya lemari pakaiannya dan diambil dua celana panjang yang tampaknya cocok buat saya.

“Pakailah. Tidak usah malu-malu…,” kata Bu Nita. Beliau sendiripun mencari rok di lemari. Sayapun memberanikan diri melepas celana saya yang basah. Dan sempat juga saya melihat Bu Nita melepas roknya yang basah.

Kami saling berpandangan. Tiba-tiba Bu Nita yang tidak mengenakan rok itu mendekati saya. Dipeluknya saya. Padahal, sayapun dalam kondisi tiidak memakai celana. Diciumnya bibir saya. Sebagai laki-laki normal, sayapun membalas ciumannya dengan hangat. Bu Nitapun saya rebahkan ke tempat tidur.

Tiba-tiba.

“Harry! Harry!….,” terdengar suara Chandra memanggil saya. Suara pintu kamarpun diketok keras. Saya buka mata saya. Saya lihat sekeliling saya.

“Oh, Tuhan…Ternyata saya bermimpi…”

Sayapun bangun dan membukakan pintu untuk Chandra yang biasa menjemput saya untuk berangkat ke kampus.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger