CERPEN: Luka Hati Si Badroen

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu jika kamu lupa dan katakanlah “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.” (Q.S Al-Kahfi 18:24)

SEBENARNYA sih, namanya bagus. Cuma kenalan-kenalannya sering memanggil di Si Badroen. Entah bagaimana asal usulnya, Si Badroen sendiri lupa. Saya baru saja kenal beberapa bulan yang lalu ketika saya mampir ke rumah sahabat saya di kawasan Bintaro.

Dia seorang wiraswastawan, badannya kurus, tinggi sekitar 166 cm. Bicaranya ceplas-ceplos tanpa memikir dan tanpa melihat dengan siapa dia percaya. Seolah apa yang dikatakan pasti benar. Dalam pertemuan itu dia punya rencana mendirikan kafe di kawasan Sunter Hijau Permai, Jakarta Utara,

Kebetulan, saya pernah tinggal di daerah itu dan kebetulan juga saya berniat mendirikan kafe, maka bersambutlah dua ide yang sama. Si Badroen yang kekurangan modal senang sekali melihat saya juga ingin bergabung mendirkian kafe. Akhirnya, kami berdua saling tukar kartu nama.

“Oh, ya. Kalau bisa, kita ketemu di Sunter Hijau Permai. Kita bicarakan bersama,”ajaknya bersemangat. Dia mengajak bertemu Minggu pagi antara pukul 09:00 hingga pukul 11:00 WIB dan akan ditunggu di Restoran Ayam Goreng Listy.

“Minggu jam 09:00-11:00 WIB di Restoran Ayam Goreng Listy,ya?” saya meyakinkan tempat pertemuan itu.

“Insya Allah! Saya akan menunggu,” kata Si Badroen yang terburu-buru akan pulang .”Maaf ya, sayang pulang duluan,” diapun langsung masuk ke mobilnya dan langsung melaju entah kemana.

Beberapa hari kemudian, tepatnya hari Minggu. Saya sudah siap di tempat perjanjian.Mulai pukul 09:00 hingga pukul 10:00 WIB Si Badroen tidak datang. Saya kirimi SMS, tidak dibalas. Saya telepon, tidak diangkat. Saya pikir,mungkin dia sedang dalam perjalanan sehingga tak sempat membalas SMS ataupun telepon saya.

Sayapun kembali menunggu hingga pukul 11:00 WIB, Si Badroen tidak datang juga.Lagi-lagi, SMS dan telepon saya dari ponsel tidak dibalas atau tidak diangkat. Sayapun berpikir,mungkin ada halangan di jalan. Akhirnya, karena waktu janji sudah terlewati, maka sayapun pulang dengan dongkol. Apalagi rumah saya jauh, yaitu di BSD Nusaloka, Tangerang.

Esok harinya secara tak sengaja saya bertemu dengan Si Badroen di stasiun Kota. Kebetulan saya mengantarkan tamu saya dari Bojonegoro yang akan pulang ke kota asalnya. Kebetulan juga Si Badroen juga mengantarkan familinya yang akan pulang ke Yogyakarta. Sayapun mengingatkan tentang rencana membuka kafe.

“Oh, iya, Saya kemarin lupa. Ya,ya,ya saya lupa.bagaimana kalau besuk pagi saja, tetapi kita ketemu di Carrefour Blok M saja. Saya tunggu di sana pukul 09:00-11:00 WIB

“Boleh. Di Carrefour Blok M Square,ya?” sya mengingatkan.

“Insya Allah. Saya pasti datang,” janjinya. Setelah ngobrol-ngobrol tentang konsep bisnisnya, maka dia mengubah rencananya akan membuka kafe di Blok M Square saja.

Besoknya, tetap waktu saya sudah berada di depan pintu masuk Carrefour. Detik demi detik, menit demi menit, jaam demi jam, ternyata tak datang juga. Beberapa kirim SMS dan telepon, tak ada jawaban. Akhirnya pukul 11:15 WIB sayapun mengisi acara sendiri pergi ke Harco Mangga Dua.

Malam harinya sya telepon dan Si badroen mengangkatnya. Lagi-lagi soal janji dia bilang lupa. Dan membuat janji lagi. Katanya akan ke rumah saya di BSD Nusaloka, Tangerang. Waktunya sama, pukul 09:00-11:00 WIB.

“Insya Allah, saya besok pagi saya akan datang. Kebetulan saya tidak ada kesibukan apa-apa,” ujarnya di ponsel. Sayapun berkali-kali mengingatkan jangan sampai lupa lagi. Si Badroen berjanji tidak akan ingkar janji lagi. Katanya, yang kemarin benar-benar lupa.

Esok harinya, sesuai dengan waktu yang telah disepakati, sayapun menunggu dan menunggu. Namun, hasilnya sama. Hingga pukul 11:00 Si Badroen tidak datang juga. Akhirnya sayapun memanfaatkan acara cadangan saya, yaitu pergi ke ITC untuk membeli harddisk baru dan keperluan lainnya.

Sudah tiga kali Si Badroen mengucapkan “Insya Allah” dan sudah tiga kali pula ingkar janji. Tidak ada tanda-tanda Si badroen berusaha menepati janjinya. Memang, harus diakui bahwa umat Islam Indonesia sangat mudah sekali mengucapkan “Insya Allah”, namun dengan enteng pula ingkar janji. Seolah-olah, dengan mengucapkan “Insya Allah,” maka ingkar janjinya tidak bisa disalahkan.

Lain hari bertemu lagi di Kampus Universitas Trisakti. Kali ini saya yang berjanji untuk datang ke rumahnya di kawasan Tanjung Duren. Sayapun minta digambarkan denah atau peta menuju ke lokasi rumahnya. Sayapun berjanji pada jam yang sama.

“Insya Allah,” saya akan datang antara pukul 09:00-11:00,” ucap saya.

Terus terang, saya ingin memberikan pelajaran bagi ummat Islam yang dengan entengnya mengucapkan “Insya Allah”, namun dengan entengnya ingkar janji. Dan esok harinya, sengaja saya tidak datang dan mengisi acara membeli AC di ruko yang ada di dekat rumah saya.

Ketika sedang memilih-milih AC, ponsel saya berbunyi. Dari Si Badroen. Sebenarnya saya malas untuk menerima teleponnya. Tapi, tak apalah, saya ingin tahu apa reaksinya. Ternyata dia marah-marah karena sudah menunggu berjam-jam kok saya tidak datang. Sayapun disalahkan, katanya sudah janji kok tidak ditepati.

Akhirnya sayapun bilang, kalau Si Badroen sudah tiga kali ingkar janji dan saya tidak marah. Kenapa saya baru satu kali tidak datang,kok marah-marah. Sayapun menasehati Si Badroen.

“Lain kali kalau mau mengucapkan ‘Insya Allah’ dipikir dulu, kira-kira bisa tidak. Itupun harus dibuktikan dengan adanya usaha. Sudah berusaha untuk menepati janji. Mana usahamu? Nggak ada,kan? Andaikan ada halangan, misalnya macet di jalan, mobil rusak atau ada halangan lain, kamu memberi informasi ke saya,dong!”

Akhirnya, Si Badroen meminta maaf ke saya. Begitulah, kuman di seberang nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak.

Sebenarnya mengucapkan “Insya Allah” ada etikanya.

Pertama:Harus dibuktikan bahwa sudah ada usaha untuk memenuhi janji itu. Kedua:Andaikan gagal, maka harus memberi informasi, apa penyebabnya sampai tak bisa menepati janji. Ketiga:Alasan lupa adalah alasan yang tak bertanggung jawab, sebab orang berjanji harus mengingat-ingat betul janjinya.Keempat:Jika ingkar, apapun alasannya, wajib meminta maaf, sebab ingkar janjinya telah melukai perasaan orang lain. Kelima:Janji,jika perlu dicatat. Dengan demikian seorang muslim atau muslimah bisa menepati janjinya secara berkualitas.

Dan tidak seribu kali mengucapkan Insya Allah, tapi seribu kali ingkar janji.

Di Indonesia sangat banyak muslim/muslimah yang bermental seperti Si Badroen.

 

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

 

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: