CERPEN: B l u k u t u k

PAGI itu para mahasiswa fakultas ekonomi sedang santai di taman. Sebagian makan hotdog, sebagian makan siomai, sebagian minum es teler dan lain-lain. Yang pasti, namanya ngobrol ya materinya apa saja. Maklum, matakuliah berikutnya kosong karena dosennya tidak masuk.

“Kalau menurut saya, pemerintah, dalam hal ini KPK berhasil melakukan pemberantasan korupsi” Momos mulai pembicaraan.

“Ah, kalau menilai berhasil atau tidak, kriterianya bukan seberapa banyak koruptor yang ditangkap. Tetapi, kita harus menggunakan kriteria internasional, yaitu Indek Persepsi Korupsi, atau IPK. IPK Singapura 8 atau baik, IPK Malaysia 6 atau cukup, sedangkan IPK Indonesia hanya 2,8 atau sangat buruk. Artinya, walaupun ada KPK, korupsi tetap jalan terus.” Sahut Shanty

“Tapi, kan lebih bagus dibandingkan pemerintahan sebelumnya” Momos mencoba membela diri.

“Itu kan sama saja membandingkan meja dan kursi. Pemerintahan sebelumnya kan belum ada KPK. Itu bisa dibandingkan kalau pemerintahan-pemerintahan sebelumnya juga sudah ada KPK. Jangan-jangan dibandingkan dengan zaman Kerajaan Mojopahit. Ha ha ha” Bambang Sutedjo menimpali sambil minum teh botol.

“Tapi kemiskinan sekarang kan berkurang” Momos mengalihkan isu pembicaraan.

“Lagi-lagi, kalau kita menggunakan kriteria Biro Pusat Statistik atau BPS, memang angka kemiskinan berkurang. Soalnya, kriterianya tidak mengikuti standar internasional. Kalau kita menggunakan kriteria yang ditentukan PBB, yaitu mereka yang berpenghasilan di bawah USD 2 atau di bawah Rp 20.000 per hari, maka termasuk miskin. Artinya, angka kemiskinan di Indonesia masih sekitar 39 juta jiwa” Sergah Shanty yang memang jago matakuliah statistik.

“Tapi kalau saya katakan angka pengangguran berkurang, tentu tidak salah. Saya punya data bahwa angka pengangguran berkurang” Momos menunjukkan Koran Kompas yang hari itu memang menyajikan angka pengangguran berkurang.

“Itu benar. Tapi itu bukan usaha pemerintah. Itu karena banyak warga miskin ramai-ramai menjadi TKI dan bekerja di Malaysia, Kuwait, Korea Selatan dan lain-lain. Sedangkan pengangguran sarjana justru semakin banyak, yaitu lebih dari 1, 5 juta orang.” Taufik yang jidatnya lebar ikut berpartisipasi menyumbangkan pendapat.

“Tapi, pemerintah kan berhasil melunasi utang ke IMF” Momos mengemukakan fakta.

“Setuju. Itu benar. Tapi itu dilakukan menjelang pemilu 2009 dan diiklankan secara besar-besaran di berbagai televisi. Tapi, sesudah pemilu, Indonesia terjebak utang IMF lagi. Itu fakta” Bambang Sutedjo berkomentar.

“Tapi sepanjang sejarah, hanya pemerintahan sekarang yang menyediakan anggaran pendidikan 20 persen” Momos tetap tidak mau kalah. Tetap memuji pemerintah yang dianggap sukses di segala bidang.

“Iya, sih. Itu tidak salah. Tapi itu ada akibatnya, defisit APBN membengkak. Untuk menutupi defisit itu, pemerintah utang lagi. Lagipula, biaya kuliah tak menjadi murah, tetapi menjadi lebih mahal.” Rini yang manis yang sejak tadi diam tiba-tiba ikut berkomentar.

“Okelah. Tapi mohon dicatat, pemerintah mampu menaikkan gaji PNS, TNI dan polri” Momos tetap ngotot.

“Itu juga betul. Itu baik dan tidak bisa dibantah. Tapi Momos harus tahu, uangnya diperoleh dengan cara utang ke JICA atau Jepang”. Kali ini Djoko Si Item ikut berkomentar. Kebetulan Djoko memang pernah membuat makalah tentang masalah gaji PNS, TNI dan polri.

“Tapi pemerintah juga berhasil swasembada beras,lho” Bela Momos lagi.

“Ha ha ha…Itu juga menjelang pemilu. Sekarang impor lagi. Bahkan impor sembako. Pemerintah gagal untuk mandiri beras. Apalagi berswasembada pangan. Jauh,jauh dari kenyataan…” Ledek Rini.

“Tapi kalian harus mengakui kalau pemilu 2009 kemarin pemilu diselenggarakan dengan sukses” Masih saja Momos ngotot. Tapi, tanpa emosi.

“Ah,sukses apanya? Daftar Pemilu Tetap atau DPT kacau balau begitu, kok. Pemilu 2009 merupakan pemilu terburuk sepanjang sejarah Republik Indonesia” Taufik menjelaskan. Kontan teman-teman ramai-ramai mengiyakan.

“Nah ada satu lagi. Pemerintah sukses menanggulangi dampak krisis finansial Amerika melalui stimulus ekonomi.” Momos bangga.

“Iya,memang ada stimulus ekonomi sekitar Rp 70 triliun. Tapi, kemudian disusul utang ke Asian Development Bank (ADB).” Sekarang, Dedeh yang sedari tadi belum berkomentar, akhirnya berpendapat juga.

“Bagaimana menurut Mas, Harry” Momos melihat ke arah saya. Meminta pendapat.

“Begini,lho. Untuk melihat sukses tidaknya pemerintah, sebaiknya kita menggunakan ukuran internasional. Sebab, kriteria lokal sifatnya politis. Bisa direkayasa. Yang pasti, kita melihat sukses tidaknya pemerintah cukup dari stu hal saja, yaitu dari total utangnya” Saya mulai menjelasnkan.

“Maksudnya?” Serempak Momos dan teman-teman lainnya bertanya.

“Begini. Di dunia ini tidak ada negara yang bisa maju tanpa utang. Bahkan Jepangpun punya utang. Cuma masalahnya, pemerintah kita tidak pernah menurunkan angka total utang. Selalu menambah total utang. Pada 2004, total utang kita Rp 1.299 triliun yang berarti tiap warganegara dibebani utang Rp 5 juta. Akhir 2009 telah mencapai angka Rp 1.900 triliun yang berarti tiap warganegara dibebani utang Rp 8 juta, termasuk bayi di dalam kandungan” Saya berhenti berbicarasebentar. Minum teh botol dulu

Lantas saya melanjutkan.

“Saya menamakan negara kita sebagai Republik Blukutuk”

“Maksudnya?” Teman-teman bertanya.

“Pernah melihat botol? Nah, kalau botol kosong dan tidak tertutup kita masukkan ke dalam air, maka akan mengeluarkan gelembung-gelembung udara dan airpun masuk ke dalam botol. Gelembung-gelembung itu mengeluarkan bunyi blukutuk-blukutuk-blukutuk. Semakin banyak air masuk ke boto, maka tenggelamlah botol itu” Saya menjelaskan dengan gaya filsafat.

“Wah, jelaskan dong maksudnya” Pinta teman-teman.

“Begini. Botol itu ibarat negara kita. Tiap kali ada blukutuk, pasti ada air masuk. Artinya, apa yang dilakukan pemerintah, pasti uangnya berasal dari utang. Bunyi blukutuk artinya, menteri-menteri yang suka memuji diri. Mengatakan programnya sukses. Target tercapai. Tapi utang belum terlunasi.” Saya berhenti lagi bicara. Minum teh botol lagi.

Kemudian melanjutkan lagi.

“Bayangkan. Jika terlalu banyak air masuk ke botol, maka tenggelamlah botol. Artinya, jika total utang bertambah terus, maka tenggelamlah masa depan negara dan bangsa Indonesia. Pemerintahan seperti itu kah yang kalian banggakan? Pemerintahan yang sukses adalah pemerintahan yang berhasil menurunkan angka total utang tiap tahunnya”.

“Tapi, utang kan untuk pembangunan” Momos ngotot lagi.

“Betul. Tetapi, sejak Indonesia merdeka hingga sekarang, belum ada satupun pembangunan yang berhasil melunasi total utang. Lantas, berapa puluh tahun atau berapa ratus tahun lagi bangsa Indonesia bebas dari total utang?”

Teman-teman mengangguk-angguk tanda mulai memahami kondisi Indonesia yang sebenarnya.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: