CERPEN: Guru Komputerku Ternyata Sakit Jiwa

BOJONEGORO. Sekarang ini saya berstatus sebagai salah satu siswa di salah satu SMA di Bojonegoro. Teman saya cukup banyak. maklum saya aktif di OSIS, olah raga, musik maupun siaran di radio siaran milik sekolah.

Matapelajaran ekstrakuler yang paling saya sukai yaitu komputer. Cuma sayang, guru komputer saya yang katanya sarjana komputer itu ternyata bisanya cuma membuat alamat e-mail dan milis. Tidak pernah dia membuat blog atau website.

Atas dasar itu untuk HTML, Java, CSS, Visual Basic, PHP dan bahasa pemrograman lainnya terpaksa saya belajar sendiri. Maklum, guru komputer saya itu orangnya sok tahu dan sok pintar.

“Iya, memang Pak Mulyana Sharaff itu memang orangnya sok tahu, ” kata Pramono, teman saya sekelas. Kebetulan saat itu saya dan dia sedang membuat blog di ruang laboratorium komputer.

“Kok, kamu bilang begitu?” saya ingin tahu. Saya terus mengerjakan blog yang ada di layar monitor.

“Iya. Saya kan pernah membaca email Pak Mulyana Sharaff di milis BandungCity. Dia suka mengritik orang. Dia nggak ngerti ilmu hukum bicara hukum. Nggak ngerti ilmu filsafat bicara filsafat. Nggak ngerti ilmu logika bicara logika. Itu kan membuat bahan tertawaan kakak saya yang kebetulan sarjana hukum. ” kata Pramono sambil tangannya terus menekan tombol-tombol di keyboard.

“Iya ya. Saya baru menyadari itu. Kakak saya yang sarjana filsafat juga pernah mengatakan Pak Mulyana itu sok tahu. Snobistis-lah atau Obsession Direct Syndrome-lah, istilah psikologinya, ” saya berkomentar sampil meneruskan mengetik di blog.

“Kenapa ya, kok ada orang seperti itu?” Pramono ingin tahu.

“Ya, kalau saya lihat sih, gejala-gejala orang sakit jiwa sudah dimiliki Pak Mulyana Sharaff. Antara lain, dia merasa lebih hebat dari orang lain. Suka melecehkan orang lain. Sok tahu dan sok pintar. Dia itu juga tingkah lakunya asosial dan egosentrik, ” saya menerangkan berdasar buku-buku psikologi yang pernah saya baca.

“Kalau begitu, guru komputer kita tergolong mengalami gejala sakit jiwa, dong, ” Pramono bertanya.

“Bukan hanya gejala, tetapi sudah sakit jiwa, ” saya menjelaskan.

“Tapi, dia kan rajin shalat. Mana mungkin orang rajin shalat bisa sakit jiwa?” bantah Pramono.

“Kalau kamu pernah baca buku-buku psikologi, antara kegiatan agama dan faktor kejiwaan tidak ada hubunganya secara signifikan. Agama itu merupakan keyakinan. Sedangkan sakit jiwa itu hubungannya dengan jiwa. Salah besar kalau kamu menilai orang yang rajib shalat itu semuanya orang waras. Koruptor juga banyak yang rajin shalat. Padahal, korupsi hanya bisa dilakukan oleh orang penderita psikopat alias sakit jiwa. ” saya memberikan penjelasan. Sementara tanganku terus menggerakkan mouse untuk menyempurnakan tampilan blog saya di WordPress.

“Iya, ya. Sekarang ini banyak orang yang kelihatannya normal, ternyata sakit jiwa. ” Pramono menganggukangguk sambil terus membuat blog di Blogspot.

Saat itu saya sedang membuat blog Elan Vital 2009. Sebuah blog motivasi yang saya beri alamat di http://elanvital2009. wordpress. com. Blog ini saya tayangkan mulai Minggu, 22 Maret 2009.

Memang, saya kadang-kadang merasa kasihan dengan orang macam Pak Mulyana Sharaff itu. Sarjana komputer yang bisanya cuma membuat alamat email dan milis. Ternyata, sedikit demi sedikit saya mengetahui kalau dia sebenarnya sakit jiwa.

Suka sekali dia menyerang orang lain melalui milis BandungCity. Seolah-olah dia lebih hebat dari orang yang dikritiknya. Seolah-olah semua pendapat orang itu salah. Seolah-olah pendapatnya sendiri yang hebat. Dalam psikologi sikap demikian disebut megalomania. Padahal, dia itu cuma lulusan satu perguruan tinggi. Lulusnya juga tidak cumlaude.

Bahkan saya ingat hasil penelitian yang dilakukan University of North Carolina, Amerika Serikat yang mengatakan bahwa dari 1000 sarjana yang suka pamer gelar sarjana, ternyata hanya ada tiga sarjana yang lulus cumlaude. Dengan kata lain, sebagian sarjana yang suka pamer gelar hampir bisa dipastikan lulusnya tidak cum laude. Demikian juga sarjana yang sok tahu dan sok pintar, dia juga lulusnya tidak cumlaude. Itulah sebabanya dia suka menganggap orang lain bodoh dan dia yang merasa paling hebat.

“Bagaimana sikap kita terhadap guru komputer seperti itu?” tanya Pramono yang sudah selesai mengedit blognya.

“Ya, biasa-biasa sajalah. Tak usah memberikan pujian kepada orang seperti Pak Mulyana Sharaff. Dia memang haus pujian sebagai kompensasi karena dulu lulusnya tidak cumlaude. Lha, guru komputer kok bisanya cuma membuat email dan milis. Kapan siswa-siswanya bisa membuat website yang profesional. Padahal, tiap pelajar SMAN seharusnya sudah menguasai bahasa HTML, Java, CSS, Visual Basic, PHP dan lain-lain?”

Tak berapa lama kemudian sayapun selesai mengedit Blog Elan Vital 2009. Saya dan Pramonopun segera keluar kelas untuk beristirahat.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker

 

NB:Cerpen ini cuma merupakan hasil imajinasi penulis dan bersifat fiktif.

 

Hariyanto Imadha

facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: