CERPEN: Dosen Pembimbing Skripsiku Cantik dan Seksi

SURPRISE! Ternyata di papan pengumuman saya baca bahwa calon pembimbing skripsi saya yaitu Bu Nita atau Arnita Ardhyanna. Dosen yang paling cantik dan seksi di Fakultas Psikologi, Universitas Maharani, Bandung. Teman-teman sayapun menyalami saya satu persatu.

“Wah! dapat durian runtuh kamu. Selamat Harry…” begitu ucap Chandra yang mendapat dosen pembimbim Pak Kartomo Wisnusoebroto,MPsy. Waktu itu memang saya dan teman-teman seangkatan telah menyelesaikan studi di fakultas tersebut.

Sayapun segera ke Gedung A, gedung khusus dosen-dosen. Saya menuju lantai dua dan mencari ruang kerja Bu Nita. Kuketuk pintunya.

“Masuk…!” terdengar suara merdu dari dalam. Saya buka pintu dan melangkah masuk. Di depan sana Bu Nita sedang sibuk menghadapi laptopnya.

“Permisi, Bu…” salam saya. Bu Nitapun mempersilahkan saya duduk. Sayapun mengutarakan maksud saya untuk meminta bimbingan skripsi.

“Sudah membuat outline,nya?” tanya Bu Nita yang saat itu memakai baju putih tipis sehingga samar-samar BH-nya terlihat. Payudaranya yang padat membuat saya tak bisa berkedip.

“Su…su…sudah, Bu…” tergagap saya menjawabnya. Sayapun membuka tas kuliah. Saya ambil outline skripsi dan saya sampaikan ke Nita. Saat itu saya membuat skripsi berjudul “Puasa Tak Bisa Mengubah Perilaku ataupun Watak : Sebuah Tinjauan Psikologis”. Bu Nitapun membaca outline tersebut dengan teliti.

“Baiklah. Sebaiknya bimbingan di rumah saya saja. Tiap Selasa dan Sabtu pagi, sebab hari-hari itu saya tidak mengajar. Bisa?”

“Bi…bi…bisa,Bu…,” jawab saya. Setelah itu sayapun meninggalkan ruang kera Bu Nita.

Selasa pagi. Dengan naik motor, sayapun meluncur menuju ke Jl. Biliton, ke rumah Bu Nita. Sesudah memarkir motor, sayapun menuju ke pintu rumahnya yang terbuka. Tak lama Bu Nitapun muncul. Wow! Memakai rok mini. Pahanya yang putih mulus membuat jantung saya berdebar keras.

“Silahkan duduk…,” kata Bu Nita yyang juga langsung duduk di sofa. Tanpa buang-buang waktu saya dan Bu Nita membahas outline skripsi. Ada beberapa yang dikoreksi. Ada subbab yang diganti ataupun dihilangkan. Ada bab yang diganti. Sesekali Bu Nita meminta saya menjelaskan secara umum isi tiap bab. Sayapun menjelaskannya dengan lancar. Maklum, saya sudah membaca texbook-nya berkali-kali. Sesekali saya mengagumi wajah Bu Nita yang cantik, rambut pendek, bulu mata lentik. Sepintas mirip Cut Tari. Sebagai laki-laki normal, tentu tak sengaja membayangkan yang bukan-bukan. Ah, persetan!

Bu Nita memang tergolong masih muda. Usia sekitar 25 tahun dan sudah menyandang gelar doktor psikologi dari salah satu perguruan tinggi di California. Di rumah tinggal sendiri. Tidak punya pembantu. Rumahnya cukup mewah. Bu Nita suku Jawa. Dan satu lagi, belum menikah. Hmmm…Laki-laki mana yang tak terangsang melihat Bu Nita yang mirip Cut Tari itu?

“Sebentar, Harry. Saya buatkan minuman dulu,” ujar Bu Nita sambil berdiri.

“Ah, nggak usah repot-repot, Bu…” sahut saya basa-basi. Namun Bu Nita langsung berjalan menuju ke dapur. Dan tak lama kemudian membawa dua gelas minuman es jeruk manis.

“Diminum dulu, Harry. Ini buatan saya sendiri. Maklum, saya sudah tiga kali gantii pembantu, tidak ada yang cocok…,” Bu Nita mempersilahkan saya minum dan beliau langsung duduk di sofa di depan saya. Karena haus, sayapun langgsung meneguk air jeruk dingin itu. Dan kemudian membahas skripsi lagi.

Mungkin karena kebanyakan minum, sayapun ingin buang air kecil. Daripada ditahan bisa jadi ppenyakit, maka sayapun minta izin Bu Nita untuk ke toilet. Sayapun diantarkan ke toilet yang letaknya agak ke belakang.

Sabtu pagi. Sayapun kembali ke rumah Bu Nita. Kali ini membawa skripsi bab I yang telah saya susun beberapa hari sebelumnya. Sampai di rumah Bu Nita, ternyata di halaman rumahnya ada sebuah mobil putih. Mobil Bu Nita.

“Mau pergi, Bu?” tanya saya sesudah memarkir motor.

“Iya. Tolong Harry, antarkan saya sebentar. Bisa bawa mobil, khan?” tanya Bu Nita. Kebetulan memang saya bisa bawa mobil. Bu Nitapun duduk di di samping kiri saya. Mobilpun segera meluncur. Tujuannya ke salah satu salon terkemuka di Bandung.

Tiba-tiba, tanpa sengaja, ketika mau memegang persneling, tangan kiri saya meleset dan mengenai paha kanan Bu Nita.

“Oh, maaf, Bu. Nggak sengaja…,” ucap saya gelagapan. Saat itu saya memang benar-benar tidak sengaja. Namun tampak Bu Nita tidak marah. Biasa-biasa saja. Hmm, sepanjang perjalanan sebentar-sebentar mata saya melirik melihat paha Bu Nita yang mulus. Apalagi memakai rok mini. Huh! Persetan.

Pulang dari salon, Bu Niita langsung memberikan bimbingan skripsi. Satu persatu, lembar per lembar dibacanya dan kemudian diberi komentar sambil sesekali mencoret-coretkan ballpointnya ke naskah skripsi saya.

Satu jam kemudian, seperti biasa, Bu Nitapun menuju ke dapur untuk membuatkan minuman buat saya. Sayapun memandangi tubuh Bu Nita yang padat sintal. Betul-betul wanita yang sempurna.

Tak lama kemudian Bu Nitapun kembali sambil membawa dua gelas minuman . Ketika akan meletakkan gelas itu ke meja, tanpa sengaja tangan saya menyenggol baki yang dibawahnya. Gelaspun jatuh dan airnyapun tumpah mengenai rok Bu Nita dan celana saya. Basah kuyup!

“Ah…! Aduh…Bagaimana ini?” teriakan kecil keluar dari Bu Nita. Sayapun terkejut dan tak mengira kejadian itu akan terjadi. Dalam hati saya memperkirakan Bu Nita akan marah. Ternyata tidak.

“Oh, Harry. Ganti celana dulu. Basah tuh. Bisa pakai celana saya dulu.Mungkin cocok…” usul Bu Nita yang di luar dugaan. Tangan sayapun ditariknya dan diajak menuju ke kamar tidurnya. Dibukanya lemari pakaiannya dan diambil dua celana panjang yang tampaknya cocok buat saya.

“Pakailah. Tidak usah malu-malu…,” kata Bu Nita. Beliau sendiripun mencari rok di lemari. Sayapun memberanikan diri melepas celana saya yang basah. Dan sempat juga saya melihat Bu Nita melepas roknya yang basah.

Kami saling berpandangan. Tiba-tiba Bu Nita yang tidak mengenakan rok itu mendekati saya. Dipeluknya saya. Padahal, sayapun dalam kondisi tiidak memakai celana. Diciumnya bibir saya. Sebagai laki-laki normal, sayapun membalas ciumannya dengan hangat. Bu Nitapun saya rebahkan ke tempat tidur.

Tiba-tiba.

“Harry! Harry!….,” terdengar suara Chandra memanggil saya. Suara pintu kamarpun diketok keras. Saya buka mata saya. Saya lihat sekeliling saya.

“Oh, Tuhan…Ternyata saya bermimpi…”

Sayapun bangun dan membukakan pintu untuk Chandra yang biasa menjemput saya untuk berangkat ke kampus.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Satu Tanggapan

  1. cukup romantis

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: