CERPEN: Loe…Gue…End…!

JAKARTA, 2009. Reuni yang diadakan di Hotel Hilton cukup sukses. Sekitar 95% alumni menghadirinya. Reuni akbar. Bahkan sudah 30 tahun saya tidak pernah bertemu dengan mantan teman-teman kuliah. maklum, selama 15 tahun saya tinggal di Jawa Timur, sehingga tiap ada reuni angkatan saya, saya tak bisa menghadirinya. Apalagi teman-teman tidak ada yang tahu alamat baru saya di jawa Timuur.

”Hai! mas Harry! Apa khabar?” tiba-tiba ada seorang menyapa saya. Ternyata Della. nama lengkapnya Della Purnamasari. Adik kelas sewaktu kuliah.

“Hai! Apa khabar Della!” sayapun langsung mencium pipinya. Cium persahabatan. Della memang masih seperti dulu, cantik dan banyak bicaranya. Suka ngobrol. Bedanya, Della sudah menjadi seorang ibu dari dua orang anak.

Acara reuni cukup meriah. Apalagi Della yang sejak dulu punya hobi menyanyi juga ikut menyumbangkan suara. Dia memang punya talenta uuntuk itu. Sayapun punya gagasan, ingin membantu mengorbitkan Della melalui stasiun ttelevisi agar menjadi penyanyi terkenal. Bahkan kalau bisa menjadi pemain sinetron.

“Wah! Suara Della tetap masih bagus seperti dul!,” saya angkat dua jempol tangan saya selesai Della menyanyi. Diapun duduk di dekat saya. Saat itu satu meja ada enam kursi, yaitu saya, Della, Mathias Muchus, Rudy Rayadi, Suhata Wiramiharja, Faisal Salmun dan Armi Helena. kami bersahabat akrab sejak di kampus. walaupun dulu berbeda tingkat dan berbeda kelas, namun kami ttetap komppak. Maklum, kami semua dulu aktivis senat mahasiswa.

“Oh, ya,Della. Mau nggak diorbitkan jadi penyanyi terkenal?” saya menawarkan niat baik ke Della. Dellapun menengok ke arah saya setengah percaya setengah tidak percaya.

“Ah! yang benar…” katanya sambil menunggu jawaban.

“Serius. Kebetulan saya punya kenalan di SCTV. Kalau Della mau, kapan-kapan saya antarkan ke SCTV,” saya serius berkata. Dellapun menggeser kursinya lebih dekat dengan saya.

“Wow! Kalau serius, boleh juga,nih! Kapan rencananya?” Della semangat bertanya.

Akhirnya, kamipun berjani Sabtu depan bertemu dulu di food court, Plasa Senayan. Dan Dellapun datang diantarkan suaminya. Sesudah Della duduk, suaminyapun meneruskan perjalanannya mengantarkan anak-anaknya ke kolam renang.

Begitulah, setelah membuat rencana yang matang dan sesudah makan siang, sayapun mengantarkan Della ke SCTV. sayapun langsung memasuki ruangan produksi tempat teman saya bekerja.

Sayapun memperkenalkan Della ke Handoko, manajer produksi SCTV. Sehari sebelumnya memang saya sudah kontak dia melalui ponsel.

“Boleh! Siap mengikuti audisi? Kebetulan hari ini saya mau men-tes enam calon penyanyi termasuk Della,” kata Handoko. Tentu saja Della menjawab siap. Dan memang hari itu juga Della langsung mengikuti audisi. Cukup lama juga. Sekitar enam jam untuk enam peserta. Ada enam juri yang menilainya. hasilnya akan diberitahukan lewat SMS seminggu kemudian.

Alhamdulillah! Seminggu kemudian saya dapat SMS dari Handoko, bahwa dari enam peserta, hanya dua orang yang lolos, termasuk Della. Langsung saya kontak Della. Dan mulai esok harinya saya selalu menjemput Della untuk keperluan latihan. Suaminya tidak bisa mengantarkan karena kerja di kantor.

Begitulah. Tidak hanya latihan suara, tetapi juga latihan gerak tubuh atau koreografi.Bahkan juga membahas kostum atau pakaian untuk artis. Tentu, pakaian seorang artis harus berbeda dengan pakaian nonartis.

Sebulan kemudian, Della telah muncul di SCTV mengisi beberapa acara musik. Honornya meemang semula tak seberapa, namun ketika ada sebuah perusahaan sabun menawarkan untuk menjadi bintang iklan, maka penghasilan Della-pun meningkat. Bahkan bulan berikutnya perusahaan mie instan, perusahaan shampo, dan perusahaan motor juga memintanya menjadi bintang iklan. Ratusan juta rupiah mulai mengalir ke rekeningnya.

Sebetulnya saya tidak meminta imbalan. Namun, kalau Della memberi seagian rezekinya, saya juga tidak menolak. Menolak rezeki itu tidak baik. Tidak perlu malu-malu. yang penting saya tidak meminta.

Sampai suatu saat, ketika akan rekaman, Mathias Muchuspun hadir. Iseng-iseng saya menyampaikan gagasan saya untuk membuat sinetron berdasarkan novel-novel yang saya buat. Kebetulan saya telah membuat enam buah novel. Kebetulan Muchus yang saat itu juga menjadi pemilik dan pengelola production house (PH) tidak keberatan dengan syarat akan membaca semua novel saya terlebih dulu.

Alhamdulillah! Salah satu novel saya, yaitu yang berjudul “Misteri Gelas Pecah” disetujui untuk ditampilkan dalam bentuk sinetron. Sayapun mengusulkan agar Della sebagai salah satu pemeran utamanya. Ternyata Muchus tidak keberatan.

Bulan-bulan berikutnya, Dellapun tidak hanya sibuk rekaman untuk bernyanyi, tetapi juga sibuk shooting sinetron. Konsekuensinya, tiap hari saya selalu antar jemput. Dan dengan penuh pengertian, sayapun kecipratan rezeki dari Della. Apalagi, lagu-lagu ciptaan sayapun telah mendominasi pasaran lagu di Indonesia. Dan akhirnya, Della secara khusus anya membawakan llagu-lagu ciptaan saya.

Tanpa terasa, sinetron “Misteri Gelas Pecah” yang sebagian shootingnya di Yogyakarta, selesai sudah. Lemudian disambung untuk men-sinetronkan novel saya yang berikut. Yaitu, “Balada Pantai Lovina” dan disusul “Di Telaga Sarangan Pernah Ada Cinta”.

Setahun sudah. Della sudah berubah menjadi kaya raya. Punya moobil pribadi. Tiodak mau saya jemput lagi. Jadi tiap kali ada acara ke SCTV, dia datang dan pulang menyetir mobil barunya. Sayapun tak banyak lagi buang-buang tenaga untuk antar jemput Della. Namun konsekuensinya, saya juga jarang bertemu dengan Della. Apalagi, akhir-akhirnya Della lebih sering bermain sinetron daripada bernyanyi. Cuma, setelah keenam sinetron saya habis, Della membintangi sinetron yang dibuat oleh orang lain. Konsekuensinya saya tidak dapat apa-apa.

“Kok, begini jadinya?” gerutu saya. Usaha saya membuat novel barupun tak pernah tterealisasi. Serasa ide saya macet. Bahhkan untuk mengarang lagupun tak sebanyak dulu. Apalagi, akhir-akhir ini sikap Della agak berubah. Kalau dulu selalu ada di dekat saya, sekarang lebih dekat dengan para selebriti lainnya. Kalau saya mendekati, Della selalu menghindar secara halus dengan berbagai alasan.

Lama-lama, sikap Della semakin jelas. Mencoba menjauhi saya. Tak membutuhkan saya lagi. Kalau saya datang ke rumahnyapun, saya selalu diusir secara halus. Begitu pula, tiap kali bertemu di SCTV, Della cepat-cepat bergabung dengan teman-teman artis lainnya.

Akhirnya, suatu saat, selesai Della shootiing sinetron, sayapun mencoba bertanya secara baik-baik ke Della, kenapa kok sikapnya berbeda. Semula jawabannya diplomatis dan berusaha tidak melukai perasaan saya. Namun dari hari ke hari, sikapnya berubah. Ketus!

Itulah yang menyebabkan saya menjadi emosi.

“Kok Della sekarang menjauh dari saya?” tegur saya di gedung SCTV.

“Ya, kan saya sudah bisa mandiri. Sudah ada pengarang lagu lain. Sudah ada pembuat novel dan sinetron lain. Lagu-lagunya juga lebih enak. Sinetronnya juga lebih bagus,” begitu jawwaban Della. Walaupun diucapkan secara baik-baik, tetapi cukup menyinggung perasaan.

“Kalau begitu, Dela memberlakukan saya bagaikan habis manis sepah dibuang?” agak keras saya berkata.

“Terserah apa kata Harry. Yang pasti situasi sudah berubah!” katanya ketus sekali.

Akhirnya, terjadilah pertengkaran yang cukup hebat antara saya dan Della.

Dan akhirnya sayapun mengambil keputusan untuk memutus persahabatan saja.

“Oke! Loe…Gue…End…!” keras kata saya sambil menggerakkan tangan kiri ke kiri dan tangan kanan ke kanan. Simbol putusnya persahabatan.

“Baik! Loe…Gue…End…!” balas Della dengan suara keras pula sambil kedua tangannya membuat simbul putusnya sebuah persahabatan.

Dellap dan teman-temannya masuk ke lift dan menghilang dari pandangan saya. sayapun segera keluar dari gedung SCTV. Pelan, saya kemudikan Honda Freed saya meninggalkan halaman gedung.

“Huh! Saya tidak menyangka, maksud baik saya jadi begini…” gerutu saya.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: