CERPEN: Naik Kereta Api…Tut…Tut…Tut…!

SAYA baru saja menyelesaikan studi saya dari Unigoro (Universitas Bojonegoro). Umur saya 21 tahun. Tentu, langkah berikutnya yaitu mencari kerja. Saya mengambil keputusan untuk mencari kerja ke Jakarta. Saya berangkat dari stasiun kota itu dan naik kereta api Gumarang dan dapat tempat duduk nomor 12A.

Sejak dari Kota Bojonegoro kursi di sebelah saya kosong. Baru sesampainya di Semarang, ada seseorang menanyakan tempat duduk itu.

“Maaf, nomor 12B,ya?,” tanya seorang gadis cantik yang wajahnya mirip Ratna Listy.

“Oh, ya.Kosong. Silahkan…,” saya mempersilahkan dia duduk. Sesudah dia menaruh tas tentengnya di dekat tas tenteng saya yang terletak di atas, diapun duduk. Waktu itu saya sedang asyik mendengarkan MP3 dari ponsel.

“Mau ke mana,Mas,” saya dengar suaranya. Saya lepas headset saya. Saya matikan lagu MP3.

“Oh, mau ke Jakarta….,” saya menjawab singkat. Akhirnya saya dan diapun ngobrol-ngobrol. Katanya, dia juga baru saja lulus dari Fakultas Ekonomi, Undip, Semarang. Juga mau ke Jakarta untuk mencari kerja.

“Nama saya Astuti,” dia memperkenalkan diri. Sayapun menyebutkan nama saya. Enak juga ngobrol-ngobrol dengan dia. Di samping cantik, gaul dan juga terkesan cerdas. Banyak sekali ceritanya, terutama tentang dunia wiraswasta.

“Memangnya di Semarang uasha apa?” saya ingin tahu.

“Antara lain salon kecantikan, warnet dan bengkel motor,” sahutnya.

“Bengkel motor? Memangnya mengerti mesin motor?”

“Saya yang punya modal, adik saya yang lulusan SMK Mesin yang mengelolanya. Saya cuma memantau saja.”

“Kalau salon?”

“Adik saya yang perempuan yang mengelola”

“Lha, nanti kalau diterima kerja di Jakarta, bagaimana?”

“Ya, tidak apa-apa. Nanti bisnis saya di Semarang adik-adik saya yang akan mengelolanya,” sahutnya lancar sekali.

Malam semakin larut. Hampir semua penumpang tidur. Hanya saya, Astuti dan dua penumpang di depan saya yang belum tidur. Di depan saya duduk seorang bapak dan seorang anaknya yang masih duduk di bangku SMP. Bapaknya asyik membaca koran sedangkan anaknya sibuk mengisi teka-teki silang. Yang anak SMP kadang-kadang tanya ke saya tentang pertanyaan yang ada di TTS untuk mencari jawabannya. Untung, saya bisa menjawab semuanya.

Karena lapar, sayapun berniat ke gerbong restoran. Sayapun mengajak Astuti dan ternyata dia mau. Kami berdua memasan nasi goreng dan the hangat manis. Sambil makan juga sambil ngobrol. Ternyata dia pecinta sinetron, pecinta Opera van Java, Bukan Empat Mata. Juga penggemar MetroTV dan TVOne.

Katanya, dia di Jakarta akan menginap di rumah saudaranya di kawasan Kompleks Perumahan Suntert Hijau Permai, Jakarta Utara. Saypun diberi alamatnya.

Dari hasil ngobrol-ngobrol di restoran, akhirnya Astuti berkata terus terang kalau belum punya pacar. Kebetulan, saya juga belum punya pacar. Maka, tak heran kalau saya memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil foto dirinya dengan menggunakan kamera ponsel yang saya bawa. Diapun memfoto saya menggunakan ponselnya. kamipun bertukar nomor ponsel.

“Yuk, kembali ke gerbong kita,” ajak saya sesudah makan. Ketika saya akan membayarinya, dia menolak.

“Kita bayar sendiri-sendiri saja,Mas,” katanya dan langsung mengeluarkan uang membayar nasi goreng dan teh hangat manisnya. Sayapun berbuat yang sama.

Saya dan Astutipun kembali ke tempat duduk semula. Sesudah ngobrol-ngobrol, terasa saya merasa haus lagi.

“Haus ya,Mas Harry?” tanyanya. Diapun berdiri dan mengambil minuman Coca Cola kaleng yang diambil dari tas tentengnya yang ada di atas. sayapun tidak menolak sebab miniman Aqua saya sudah habis. maklum, saya punya penyakit diabetes. Selalu merasa lapar dan haus. Sayapun meminumnya. Segar sekali rasanya. Kebetulan, Coca Cola adalah minuman saya sejak dulu.

Malam semakin larut. Mungkin, di Bojonegoro saya tidak tidur siang, maka mata saya tak bisa diajak damai. Mengantuk sekali. Sayapun bersandar ke dinding kereta dekat jendela. Astutipun mulai tidur dan menyhandarkan kepalanya di pundak saya. Sempat saya mencium bau harum dari rambutnya. Harum sekali. Dan malam itu terasa sangat indah sekali. maunya sih saya ingin mencium Astuti. sayang, bapak dan anak yang duduk di depan saya belum tidur juga. Asyik membaca dan mengisi majalah TTS.

Akhirnya, sayapun tertidur. Dalam mimpi, seolah-olah saya telah diterima di Bank of Tokyo yang berlokasi di Wisma Nusantara, Jl. MH Thamrin Jakarta. Sebuah bank yang sangat disiplin. Kebanyakan wsanita yang bekerja di situ. kabarnya, walaupun namanya Bank og Tokyo, tetapi pemilik modalnya adalah orang-orang Inggeris. Benar atau tidak, saya tidak tahu.

Sayang, mimpi yang menyenangkan itu harus berakhir, sebab saya terbangun karena ingin buang air kecil. Cuma saya heran, kok Astuti tidak ada? Semula, saya mengira di ada di gerbong restoran atau sedang buang air kecil.

“Oh, cewek di samping sampeyan? Dia sudah turun di Cirebon,Mas” kata bapak yang duduk di depan saya ketika saya menanyakannya.

“Turun di Cirebon?”  tanya saya. bapak itu mengangguk. Saya merasa kecewa karena kehilangan teman mengobrol. Namun saya meneruskan niat saya untuk buang air kecil di kamar kecil. Kemudian balik kembali ke tempat duduk.

Secara tak sengaja, saya melihat ke atas. Oh My God! jantung saya berdebar keras.

“Ada apa,Mas?” tanya bapak yang duduk di depan saya melihat saya terkejut.

“Tas saya tidak ada,Pak?”

“Warnanya?”

“Hitam”

“Oh, yang warna hitam bukannya mbak-mbak tadi? saya lihat dia yang bawa dan turun di Cirebon,” kata bapak itu.

“Oh Tuhan….Tas hitam itu punya saya,Pak. Tas dia yang warna biru tua…” saya menjelaskan ke bapak itu.

“Oh, mungkin dia salah ambil. Tas sampeyan mirip sih sama tas dia. Waktu mengambil tas itupun dia tampak tergesa-gesa. Mungkin dia tak sengaja dan salah ambil. Tertukar….barangkali,” katanya.

Ya, saya tidak suudzon.kata bapak itu mungkin benar.Mungkin tertukar. Akhirnya, sesampai di Jakarta, tas Astutipun saya ambil dengan harapan tiga-empat hari nanti akan saya kembalikan ke rumah oorangtuanya di Semarang. Kebetulan, saya punya alamatnya. Sudah berkali-kali ponselnya saya hubungi, tetapi tidak diangkat. SMS-pun tidak dijawab. bahkan saya baru tahu, ternyata ponselnya ada di tasnya yang saya bawa dalam keadaan off. Isi tasnya sebagian pakaian wanita, alat-alat kecantikan, handuk dan alat-alat kosmetik. Tidak ada surat-surat penting.

Tiga-empat hari kemudian, saya ke Kompleks Perumahan Sunter Hijau Permai, Jakarta Utara. katanya, itu rumah tantenya. Rumah saya dapatkan. Ternyata, penghuninya tak kenal Astuti. Rumah itu dihuni keluarga keturunan China, sedangkan Astuti orang Jawa.

Esok harinya saya ke Semarang dan langsung naik taksi menuju ke alamat rumah orang tuanya. Ternyata bukan rumah, tetapi alamat hotel. Karena hari itu hari Minggu, maka baru hari Senin saya bisa mencek ke kampusnya. saya datangi Bagian Tata Usaha, Fakultas Ekonomi, Undip, untuk mencari kebenaran informasinya. Setelah petugas mencarinya di komputer, ternyata tidak ada yang namanya Astuti. Adanya nama Widyastuti. Fotonyapun tidak sama dengan Astuti. Widyastutipun kabarnya sudah meninggal karena sakit kanker otak.

“Oh, Tuhan. saya tertipu,” sampai di hotel tempat saya menginap, saya baru sadar kalau tertipu. Saya benar-benar merasa terpukul karena semua isi tas saya amblas. Antara lain, sebuah ponsel Blackberry yang baru saya beli. Uang tunai Rp 33 juta. Dua buah buku tabungan Bank BRI dan Bank BNI. Sebuah cek senilai Rp 11 juta. Sertifikat tanah dan ijasah sarjana saya dari Unigoro.

Saya baru sadar. Minuman Coca Cola yang diberikan ke saya sewaktu di kereta, pasti sudah dicampur obat tidur.

“Oh, Astuti. Benar-benar Astuti….(As)li (tu)kang (ti)pu….Ya,Astuti memang asli tukang tipu…”

Catatan:

Judul asli : Astuti

Hariyanto Imadha

Penulis cerpen

Sejak 1973

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: