CERPEN: Ada Cinta di Malam Wisuda

JAKARTA 1980. Saat yang saya tunggu-tunggupun tiba. Yaitu, lulus kuliah dari Akademi Bahasa Asing “Metropolitan” sekaligus mempersiapkan acara malam wisuda. Kebetulan saya termasuk panitianya. Berhari-hari aktif mempersiapkan segala sesuatunya. Capek juga.

Sekitar pukul 18:00 WIB saya telah tiba di Gedung Kebayoran Inn, yaitu satu jam sebelum acara. Celakanya, penerima tamunya belum datang semua. Bingung juga ya. Apalagi saya dapat info dari Faisal, katanya Zaenal mobilnya mogok sewaktu menjemput para penerima tamu. Wah, kacau sekali.

Pukul 18:30 WIB. Untunglah, akhirnya semua penerima tamu datang juga.

“Kamu bagaimana sih. Jadi panitia tidak tanggung jawab. Sudah ada keputusan rapat, semua panitia harus hadir tepat pukul 18:00 WIB !,” saya marah-marah. Tentu, saya berhak marah-marah sebab saya ketua panitia.

“Maaf, Harry. Tadi mobilnya mogok di jalan. Terpaksa saya pinjam mobil Om saya yang rumahnya tidak jauh dari tempat mobil saya mogok. Sekali, lagi. Mohon Maaf,Harry…,” Zaenal meminta maaf. sayapun memaafkan karena alasannya memang kuat. Di samping itu juga ada usaha untuk mencari solusi dengan cara meminjam mobil Om-nya.

Tamu-tamu yang sebagian besar merupakan kedua orang tua para calon wisudawanpun sudah mulai datang.

Tiba-tiba perut saya terasa sakit luar biasa.

“Oh, penyakit maag saya kambuh…,” keluh saya sambil memegang perut. Tentu sambil meringis kesakitan. Gelas minuman yang saya pegangpun jatuh dan pecah.

“Kenapa Harry?” tiba-tiba salah satu dosen saya, Pak Frans Soeprapto mendekati saya. Saya katakan maag saya kambuh. Pak Franspun mengajak saya untuk istirahat sebentar di salah satu ruangan. Entah ruang apa. Di situ ada sofa. Saya tidur-tiduran sebentar di sofa itu.

“Istirahatlah sebentar, Harry,” ujar Pak Frans yang kemudian meminta izin untuk meninggalkan saya sebentar. Sayapun tercenung sendiri di ruangan itu. Sambil sebentar-sebentar memegang perut yang sakit.

Ketika hampir tertidur, tiba-tiba ada yang menyapa saya.

“Sakit, Mas Harry?” lembut suaranya. Ketika saya buka mata, terkejut saya melihat Adelia sudah duduk di sofa dekat tubuh saya. Dia adalah adik kelas saya. Saya akui, Adelia merupakan salah satu mahasiswi tercantik di kampus saya.

“Minum obat dulu,Mas Harry,” katanya sambil memberikan sebuah pil Promag dan segelas air putih. Sayapun bangkit dan meminum air putih itu beserta pil tersebut.

“Kok, tahu saya ada di sini?” saya ingin tahu.

“Tadi saya bertemu Pak Frans dan beliau pesan untuk dicarikan obat. Kebetulan saya juga punya sakit maag dan kemana-mana selalu membawa obat maag. Lantas Pak Frans menugaskan saya ,membawa segelas air dan obat maag untuk Mas, Harry,” katanya lancar sekali.

Hubungan saya dengan Adelia selama ini biasa-biasa saja. Sejak dulu saya menganggapnya sebagai seorang adik atau sahabat. Tidak lebih dari itu.

“Cepat sembuh ya Mas Harry,” bisik Adelia yang ternyata kemudian mencium pipi saya.

“Insya Allah,” jawab saya. Sebagai laki-laki normal, sayapun membalas ciuman pipi Adelia. Ada perasaan aneh yang muncul pada diri saya.

Tak berapa lama kemudian, sayapun sembuh. Bergegas saya menemui rekan-rekan lain yang juga akan diwisuda. Segera saya kenakan toga dan mempersiapkan diri. Untunglah acara masih berupa sambutan-sambutan.

Namun akhirnya, acara wisudapun selesai juga. Kami yang diwisuda saling foto bersama. Saling peluk cium tanda perpisahan dengan janji akan selalu bertemu kembali dalam acara reuni-reuni mendatang. Semua orang tua teman-teman saya hadir, kecuali kedua orang tua saya yang berdomisili di Bojonegoro, Jawa Timur. Kedua orang tua saya tidak bisa hadir karena sudah tua.

 

Sebagai ketua panitia, tentu saya tidak boleh pulang duluan. Harus menunggu semua orang meninggalkan gedung. Kemudian saya mencek barang-barang yang mungkin ada yang ketinggalan. Betul saja, di ruang panitia saya menemukan sebuah kamera, sebuah vandel, dan sebuah tas wanita yang saya hafal betul milik siapa tas itu,

“Kok,sendirian Mas harry.” tiba-tiba di belakang saya ada yang menyapa. sayapun menoleh.

“Oh,Adelia. Kok,belum pulang?” saya tercengang melihat dia belum pulang.

“Iya. Tidak ada yang menjemput. Rencananya sih mau naik taksi saja,” Adelia menjelaskan.

“Oh, jangan. Sama-sama saya saja,” janji saya.

Setelah beres-beres, maka sayapun pamit ke satpam Kebayoran Inn. Sayapun mengajak Adelia menuju ke tempat parkir. Adelia masuk ke mobil dan sayapun mengendarainya. Pelan-pelan meninggalkan Gedung Kebayoran Inn menuju ke arah Pancoran. Kebetulan, rumah Adelia tidak jauh dari rumah saya. Rumah Adelia di Tebet sedangkan rumah saya saat itu di Pasar Minggu.

Tentu, sebelum sampai kerumahnya, sepanjang perjalanan mengobrol kesana kemari sambil sebentar-sebentar tertawa. Maklum, saya dan Adelia memang suka bercanda. Dia suka sekali cerita yang lucu-lucu terutama adanya peristiwa yang lucu selama acara wisuda.

Namun, ketika mobil sudah dekat dengan rumahnya, mendadak Adelia berbicara serius. Terpaksa moobil saya jalankan pelan. Bahkan berhenti di pinggir jalan. Mesin saya matikan.

“Mau bicara apa,Adelia?” saya ingin tahu.

“Ya, sesudah wisuda, Mas Harry masih sering ke kampus tidak?”

“Mungkin jarang. Soalnya saya sudah dapat panggilan kerja di Bank of Tokyo, Jl.MH Thamrin. Kenapa?”

“Oh, syukurlah kalau sudah dapat kerja. Berarti kita tidak mungkin bertemu lagi,dong?’ tanyanya memacing. Sayapun faham kata-kata itu. Kebetulan, saya sebetulnya juga ada perhatian ke Adelia sejak dulu.

“Hmmm. Kalau boleh sih, tiap malam Minggu saya mau ke rumah Adelia. Kalau boleh,sih…”

“Oooh, boleh. Dengan senang hati. Serius apa bohong,nih? Nanti dimarahi pacarnya?”

“Ha ha ha…pacar yang mana?”

“Lho, kan sama Niken. Cewek ASMI yang cantik itu?”

“Hahaha…Sebulan yang lalu dia menikah. Dijodohin kedua orang tuanya…” saya bicara serius. Saya lihat Adelia tersenyum penuh arti. Akhirnya, sebagai laki-laki saya memberanikan diri untuk mengatakan cinta ke Adelia. Diterima ya syukur, nggak diterima ya cari yang lain. Jakarta kan masih banyak cewek yang cantik,kok.

 

Ternyata, Adelia menyambut pernyataan cinta saya. Wow, tanpa buang-buang waktu, kamipun berciuman sepuas-puasnya di dalam mobil. Indah sekali malam itu. Malam cinta pertama bagi Adelia dan malam cinta kedua bagi saya.

 

Mobilpun segera berjalan menuju ke rumah Adelia di kawasan Tebet. Sesudah pintu rumah dibukakan ibunya, maka sayapun minta izin pamit. Ibunya mengucapkan terima kasih. Sayapun melangkah balik menuju ke mobil. Saya lihat Adelia melambaikan tangannya. Sayapun membalasnya.

Mobil Honda Civic Wonder empat pintu warna putih segera meluncur ke arah Pasarminggu.

Malam wisuda. Malam yang indah. Malam yang tak kusangka.Ternyata Tuhan memberi jodoh buat saya. Alhamdulillah, sejak malam itu Adelia resmi menjadi pacar saya.

 

Catatan:

Berdasarkan pengalaman pribadi, tetapi sudah dimodifikasi.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

 

 

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: