CERPEN : Pacarku Cantik Tetapi Ngentutan

PALEMBANG 1988. Waktu itu saya menjadi konsultan manajemen salah satu proyek dari Dirjen PUOD, Departemen Dalam Negeri. Saat itu yang menjadi menteri dalam negeri yaitu Rudini. Saya ditugaskan di pemda Palembang, Muara Enim, Prabumulih, Baturaja, Lahat, Bengkulu dan Bengkulu Selatan.

Kota pertama yaitu Palembang. Dari Jakarta naik pesawat dan turun di Bandara Sultan Badaruddin II, Palembang. Naik taksi dan langsung meluncur ke Hotel Sriwijaya. Pesan kamar. Dan sayapun menuju kamar di lantai dua diantar karyawan hotel yang membawakan kopor saya.

Sesudah meletakkan kopor dan barang-barang di meja, sayapun meninggalkan kamar dan mencari rumah makan yang tak jauh dari hotel. Maklum, hari agak siang dan saatnya makan siang. Enak juga makanannya. Saya makan kenyang.

Oh,ya. Saya ingat, saya perlu beli baju dan celana. Maklum, baju dan celana yang saya bawa jumlahnya sedikit. Sewaktu berangkat dari Jakarta, sebagian baju dan celana saya masih basah habis dicuci dan tidak mungkin saya bawa.

Selesai makan, sayapun menuju ke JM Mall yang tidak jauh dari rumah makan tadi. Saya menuju ke lantai dua. Saya pilih-pilih baju dan celana. Sesampai di bagian celana jean, sayapun tanya ke pramuria yang sedang bertugas.

“Yang ini berapa,Mbak? Kok tidak ada harganya?” saya tanya. Pramuria itu melihat ke arah saya. Wow, cantik sekali cewek itu. Diapun mencoba mencari label harga. Ternyata tidak ada sedangkan celana jean lainnya ada harganya. Mungkin, satu-satunya celana yang label harganya hilang atau lupa belum ditempel adalah celana yang saya pilih.

“Sebentar, Mas. saya tanyakan ke Boss dulu,” diapun membawa celana yang akan saya beli. Sempat saya lihat, tubuhnya langsing, kulitnya putih dan rambutnya pendek. Hmm… seperti itulah cewek dambaan saya. Tak lama kemudian cewek itu kembali lagi. Saya manfaatkan untuk bertanya macam-macam sekitar celana jean. Buntut-buntutnya saya bertanya yang menyangkut pribadinya.

“Sudah lama, kerja di sini, Mbak?” tanya saya lagi. Akhirnya sayapun ngobrol ke sana ngobrol ke sini dan akhirnya saya menyatakan ingin berkenalan. Dan ternyata pramuria itu menerima perkenalan saya dengan senang hati. Namanya Asmarani. Sayapun meminta alamat dan nomor teleponnya. Sayapun bercerita bahwa saya ke Palembang di dalam rangka tugas dan juga saya katakan saya menginap di Hotel Sriwijaya. Itulah awal perkenalan saya.

Esok harinya, sebagai konsultan yang ditugaskan di daerah, maka terlebih dulu saya harus melaporkan kehadiran saya ke gubernur Sumatera Selatan sambil menyerahkan surat tugas dari Dirjen PUOD, Departemen Dalam Negeri. Ternyata, saya disambut seperti pejabat saja. Dengan menaiki mobil, oleh salah satu kepala dinas, saya diantarkan ke hotel tempat saya menginap.

Esok harinya, saya seperti biasa makan siang di rumah makan di mana saya kemarin juga makan di situ. Wah, sate kambingnya enak sekali. Minumannya es jeruk kesukaan saya. Sedang enak-enaknya saya makan, saya melihat di luar rumah makan melintas Asmarani.Entah mau ke ke mana. Mungkin ke JM Mall. Sayapun segera keluar dan memanggilnya. Sekaligus saya ajak makan siang bersama. Semula Asmarani menolak, tetapi akhirnya mau juga. Diapun masuk dan duduk bersama saya. Diapun segera memesan makanan dan minuman.

“Kok, tidak memakai seragam?” tanya saya.

“Lho, kalau Sabtu saya off, Mas. Tidak masuk kerja. Cuma ingin bertemu dengan teman di JM Mall saja,” jawabnya lembut. Saya pandangi wajahnya. Wow, cantik sekali. Betapa sempurna Tuhan menciptakan Asmarani.

Malam harinya, malam Minggu. Sayapun menepati janji untuk main-main ke rumahnya. Sampai di rumahnya, muncullah Asmarani.

“Oh, mencari Asmarani,ya? Tunggu sebentar, Mas. Asmarani sedang ke toko sebelah sebentar,” katanya. Aneh. Kok Asmarani bilang seperti itu? Sayapun duduk di kamar tamu. Tak lama kemudian masuk cewek.

“Oh, sudah lama menunggu,Mas?” tanya Asmarani. Saya jadi bingung. Apakah Asmarani punya saudara kembar? Ternyata benar. Tak lama kemudian Asmaranipun memperkenalkan saudara kembarnya. Namanya Asmarina. Astaga…Keduanya bagaikan pinang dibelah dua. Rambutnya sama, matanya sama, bibirnya sama, suaranya sama, bajunya sama. Semuanya sama. Saya tak bisa membedakan.

Itulah awal persahabatan saya. Hari-hari berikutnya sayapun sering ke rumahnya. Dan tetap tak bisa membedakan mana Asmarani dan mana Asmarina. Apalagi, saya juga merasa dikerjain. Soalnya, ketika saya mengajak Asmarani makan siang, ternyata yang saya ajak adalah Asmarina.

“Hahaha….Coba, cari perbedaan saya dengan Asmarani, Mas. Suatu saat pasti akan tahu,” Asmarina tertawa terbahak-bahak melihat saya berhasil dikadalin. Hmm…memang sulit untuk membedakan.

Namun akhirnya, sedikit demi sedikit akhirnya saya tahu ciri-ciri Asmarani, yaitu suka kentut sembarangan. Pertama, ketika saya ajak nonton film, dia kentut. Kedua, ketika saya ajak ke salah satu tempat wisata, dia juga kentut. Ketiga, ketiga saya mengantarkan Asmarani ke salon, dia juga kentut. Akhirnya, Asmarani mengakui dia tak bisa menahan kentut. Kalau ditahan bisa sakit. Dan untuk itu dia meminta maaf.

“Maaf, Mas, kalau saya sering kentut sembarangan,” katanya.

“Nggak apa-apa, asal kentutnya tidak bunyi,” jawab saya.

“Ha ha ha….!” Asmarani tertawa terbahak-bahak. Yah, karena sudah terlanjur jatuh cinta, segala kekurangan yang ada pada diri Asmarani bisa saya maklumi. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

“Nggak menyesal punya pacar saya,Mas? Pendidikan saya cuma lulusan SMA. Sedangkan Mas Harry seorang sarjana. Mas Harry seorang konsultan, sedangkan saya cuma pramuria. Cuma penjaga toko,” begitu katanya suatu ketika. Selesai berkata begitu, kentutnyapun bunyi. “Tuuut…”. Saya dan diapun tertawa.

“Jangan merendahkan diri, ah. Saya hanya membutuhkan cinta Asmarani. Apapun pendidikannya. Apapun pekerjaannya. Jangan membeda-bedakan semuanya itu.”

Namun hubungan saya tak selancar yang saya duga. Saudara kembarnya, Asmarina, ternyata juga naksir saya. Jadi, tak heran kalau selalu ada hal-hal yang di luar dugaan saya. Misalnya, ketika sedang enak-enak istirahat di kamar hotel, tiba-tiba Asmarina masuk. Untunglah saya sudah bisa membedakan mana Asmarina dan mana Asmarani. Ternyata, Asmarina punya tahi lalat kecil di leher sebelah kiri. Sedangkan Asmaranii tak punya tahi lalat di leher.

Memang, Asmarina dan Asmarani sama-sama cantiknya. Sewaktu saya belum bisa membedakan, sayapun pernah mencium Asmarina, yang saya kira Asmarani. Dan celakanya, itupun berlangsung berkali-kali. Artinya, tak sengaja saya berpacaran dengan Asmarani dan Asmarina.

Namun akhirnya saya bersikap tegas ke Asmarina, bahwa saya hanya mencintai Asmarani. Diapun menangis. Tapi akkhirnya menyadari posisinya. Begitulah, bulan berikutnya saya bertugas ke Baturaja satu bulan, kemudian ke Muara Enim satu bulan, kemudian ke Prabumulih satu bulan, kemudian ke Bengkulu satu bulan dan kemudian ke Bengkulu Selatan satu bulan. Kemudian dimulai dari kota pertama lagi, yaitu Palembang. Begitu seterusnya. Tanpa terasa, telah dua tahun saya berpacaran dengan Asmarani

Sayang, tugas sayapun selesai. Saya harus kembali ke Jakarta. Celakanya, Asmarani tidak mau saya ajak pindah ke Jakarta, sebab ibunya sering sakit dan dia dan Asmarina harus merawatnya. Tapi itu tidak masalah. Paling tidak seminggu sekali saya terbang dari Jakarta ke Palembang. Tepatnya, Sabtu pagi berangkat ke Palembang. Soalnya, tiap Sabtu saya libur. Minggu sore kembali ke Jakarta. Memang, butuh biaya besar. Untunglah, pekerjaan saya sebagai konsultan manajemen bisa diandalkan. Gaji saya cukup besar. Jadi, Sabtu dan Minggu saya berada di Palembang. Demi pacar tercinta.

Asmarani. Memang cantik, tetapi “ngentutan.”

“Tuuut…!”

Harriyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: