CERPEN: Bambang Tralala Si Pembawa Sial

SIANG itu para mahasiswa Akademi Bahasa Asing (ABA) Metropolitan sedang punya acara unik. Yaitu pemilu senat. Tujuannya memilih ketua senat mahasiswa, wakil ketua, sekretaris, wakil sekretaris, bendahara dan wakil bendahara. Hanya ada dua bilik suara. Semua plakat, spanduk, brosur dan media kampanye sudah dicopot semua sesuai dengan peraturan. Namun, selama proses pemilihan hari itu, kampanye secara oral atau secara lisan tidak dilarang. Jadi jangan heran kalau ada yang berteriak pilih Si A,pilih Si B dan seterusnya.

Dua jam kemudian pemilupun usai. Hasil pemilu dihitung oleh ketua senat yang lama disaksikan semua dosen dan semua ketua kelas. Pemenangnyapun langsung diumumkan. Ketua terpilih Bambang Djatmiko, wakil ketua Darmawan Sulyanto (beberapa bulan setelah terpilih,meninggal), sekretaris Hariyanto Imadha (saya), wakil sekretaris Rudy Rayadi, Bendahara Suhata Wiramihardja dan wakil bendahara Inggah Silanawati. Kemenangan itupun dilanjutkan dengan pesta kampus berupa makan nasi tumpeng bersama.

Sebulan kemudian, saya baru bisa menilai kemampuan ketua senat yang baru, yaitu Bambang Djatmiko. Karena dia satu kelas dengan saya, maka saya tahu sebenarnya dia bukan termasuk yang pandai. Bahkan tergolong bodoh. Kalau ujian sering tanya ke saya atau teman lainnya. Ganteng sih ganteng, tetapi bodoh.

Hasil analisa saya, kalau Bambang terpilih bukan karena dia pandai. Tetapi, dia termasuk cowok yang ganteng.  Apalagi, dia pandai main gitar dan bernyanyi. Bagi kampus ABA Metropolitan yang 80% terdiri dari cewek, tak heran kalau memilih ketua senat yang ganteng, pandai main gitar, dan pandai bernyanyi. Betul kata orang bijak, kalau pemilihnya bodoh, maka pemimpin yang dipilih juga bodoh. Cocok.

“Harry, tolong ya nanti rapat senatnya dipimpin,” katanya. Tiap Sabtu memang ada rapat senat. Bambang memang tak punya kemampuan organisasi. Bahkan memimpin rapatpun tak bisa. Dia itu bisanya cuma mengeluh. Bahkan seringkali cuma curhat melulu ke saya. Sebelum rapat, berputar-putar dulu di depan cermin lemari. Merapikan celana, merapikan baju dan merapikan sepatu. gayanya memang seperti peragawan. Dasar pesolek.

Bambang malas belajar. Jam istirahat dipakai main gitar dan bernyanyi di ruang senat. Sejak itulah teman-teman menyebutnya dengan sebutan “Bambang Tralala”. Hampir semua kegiatan senat, sayalah yang memimpin. Apa boleh buat, sebagai sekretaris saya tak ingin program-program senat gagal.

“Oh,ya Harry. Jangan lupa, tolong diatur bersama ketua seksi rekreasi. Bulan depan kita rekreasi ke Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu,” katanya. Demi teman dan demi mahasiswa keseluruhan, maka saya dan ketua seksi rekreasi membahas rencana itu secara mendalam. Sedangkan Bambang Tralala cuma memantau saja.

Ketika saat rekreasi tiba, timbul keributan. Mahasiswa sebanyak dua bus protes, kenapa kok sarana transportasinya tidak sesuai janji? Katanya akan naik kapal kecil, kok hanya naik perahu nelayan yang dilengkapi mesin perahu? Katanya berangkat dari Pantai Marina Ancol, kenapa berangkat dari Pantai Kamal yang tergolong kampung? Usut punya usut, ternyata ketua rekreasi telah tertipu pemilik kapal kecil itu.

Apa boleh buat, sekitar 100 mahasiswa naik sekitar lima buah perahu nelayan. Satu perahu nelayan diisi 25 mahasiswa. Mengerikan sebab jarak airnya cuma sekitar 20 cm. Artinya, goyang sedikit, pasti terjadi kecelakaan .

Keributan berikut, renacanya ke Pulau Bidadari, ternyata cuma di Pulau Onroes. Pulau kecil yang tidak ada apa-apanya. Hanya ada bangunan-bangunan tua yang sudah rusak. Lagi-lagi ketua rekreasi meminta maaf karena uangnya untuk ke Pulau Bidadari tidak cukup karena sebagian sudah dibayarkan ke orang yang mengaku pemilik kapal kecil yang ternyata menipu itu.

Rekreasi dua bulan kemudian ke Yogyakarta. Kebetulan Bambang Tralala tidak ikut karena sakit. Berangkat dari Jakarta lancar saja. Di Yogya menginap di Hotel Maerakaca untuk hari pertama dan kedua. Sedangkan hari ketiga dan keempat menginap di salah satu vila di Kaliurang. Acaranya di samping kunjungan ke ABAYO (Akademi bahasa Asing Yogyakarta), juga ke Pantai Parangtritis, Keraton, Candi Borobudur, Candi Prambanan, Grojogan Sewu dan lain-lain.

“Tumben ya, acaranya lancar-lancar saja,” kata Etta atau Wan Sukmawati sekwaktu beristirahat.

“Iya. Kalau Mas Harry yang memimpin, pasti lancar,” jawab Inggah Silanawati.

“Bukan di situ persoalannya,” sahut Tata Suhata.

“Terus, apa sebabnya?” Ari Helena Nasution ingin tahu.

“Oooh, tahu saya. Soalnya Bambang Tralala tidak ikut,” kata Darmawan Sulyanto.

“Kenapa memang?” tanya Faisal Salmun,

“Soalnya, Bambang Tralala itu Si Pembawa Sial,” komentar Djamaluddin.

“Ha ha ha….,” semua teman-teman yang saat itu sedang beristirahat di vila di Kaliurang tertawa terbahak-bahak.

Dan apa yang dikatakan Djamaluddin atau biasa dipanggil Ustadz Djamaluddin memang terbukti. Rekreasi-rekreasi berikutnya memang sial. Antara lain, sewaktu ke Gunung Tangkuban Perahu, salah satu bus dari lima bus rombongan ABA Metropolitan mengalami kecelakaan, sehingga seluruh penumpangnya yang kebetulan selamat, dipindahkan ke empat bus lainnya. Penuh sesak.

Rekreasi berikut ke Pantai Pelabuhan Ratu. Sekitar 10 mahasiswi kesurupan dan histeris. Untunglah bisa ditanggulangi oleh Djamaluddin Si Ustadz itu. Dengan dibacakan doa-doa tertentu, kesepuluh mahasiswi itupun sembuh dari kesurupannya.

Begitu pula sewaktu rekreasi ke Pantai Carita, sekitar 10 mahasiswa kehilangan barang-barangnya yang ditinggalkan di bus. Antara lain berupa uang, kamera, gelang emas, dan barang-barang berharga lainnya.

“Iya,ya. Tiap kali Bambang Tralala ikut, pasti kita sial,” ujar teman-teman sewaktu di kampus, di dalam ruang kuliah, menunggu dosen masuk. Itu kata Inggah Silanawati. Kebetulan Bambang Tralala tidak masuk karena sakit. Dia memang sering sakit.

“Iyalah. Yang namanya Bambang, kalau jadi pemimpin, pasti pembawa sial atau pembawa bencana,” kata Zaenal.

“Hahaha…Ada benarnya juga. Ada faktanya juga…,” Faisal Salmun menimpali.

Hal itu terbukti. Ketika bulan-bulan berikutnya rekreasi ke Bukit Cangkuang, Taman Selabintana Sukabumi, Waduk Jatiluhur, ternyata lancar-lancar saja.

“Nah, kalau Bambang Tralala tidak ikut, lancar-lancar saja,kan? “ tanya Rudy rayadi sewaktu kami rekreasi ke Waduk atau Bendungan Jatiluhur.

“Iya,ya. Aneh, tapi nyata…,” komentar Yoelly Krisna Murti yang baru kali itu ikut rekreasi.

Begitulah kenangan saya sewaktu menjadi aktivis mahasiswa. Berdasarkan pengalaman seperti itu, saya memberi saran kepada para mahasiswa kalau memilih ketua senat jangan karena faktor ngganteng, pandai main gitar, pandai bernyanyi dan pandai menciptakan lagu, tetapi pilihlah calon ketua senat mahasiswa yang berkualitas dan punya program kerja yang realistis.

“Setujuuu……” serempak teman-teman yang saat itu jajan di kantin berteriak kecil serentak. Juga ada adik-adik kelas mahasiswa di kantin itu. Memang, masyarakat kita masih tergolong bodoh di dalam memilih pemimpin. Bukan kualitas calon pemimpin yang jadi bahan pertimbangan, tetapi faktor ganteng atau cantik, faktor popularitas. Faktor janji-janji muluk. Faktor kharisma. Hasilnya, ya korupsi merajalela, soalnya pemimpin yang dipilih juga berbakat korupsi. Berbakat maling. Betul kata teman-teman, orang yang bernama Bambang kalau dipilih jadi pemimpin, akan menjadi pembawa sial. Seperti Bambang Tralala, yang telah berkali-kali terbukti membawa sial.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: