CERPEN: Bencana 7 Januari 2012

TANGERANG, Sabtu, 7 Januari 2012. Saat itu hari masih pagi. Seperti biasa, saya menyiapkan motor untuk mempromosikan kanopi motor. Tapi, aneh. Di langit ada mendung yang warnanya aneh. Sekumpulan awan besar berkumpul dan membentuk huruf Arab berbunyi “Allah”. Kebetulankah? Saya lihat, banyak tetangga keluar menyaksikan keanehan itu. Beberapa di antaranya mengabadikan dengan menggunakan kamera ponsel.

Entah kenapa, saya teringat sebuah ramalan yang pernah saya baca beberapa tahun yang lalu. Saya lupa itu ramalan siapa, tetapi bunyinya sebagai berikut:

.————————————————————————————————-

”… Wolak-waliking jaman, sing ngelmune mung sak dumuk lan cubluk,  gawene umuk bebener keminter, lan seneng miala, aniaya lan ngluputake liyan. Manungsa lagake wus keminter, najan mangkono ora ngerti apa kang ana sajroning samudra ?

.————————————————————————————————-

Artinya; “Zaman serba terbalik, orang yang ilmunya hanya sebatas kulit dan sangat bodoh, (cirinya) gemar pamer kebenaran dan merasa paling pandai, suka menyakiti, menganiaya, dan menyalahkan orang lain. Manusia sudah berlagak pandai, sementara apa yang ada di dalam laut saja tidak diketahuinya

Tiba-tiba, motor saya ambruk, kepala saya pusing, saya mencoba berjalan tetapi sempoyongan. Lantas terdengar suara hiruk pikuk.

“Gempa…!Gempa…! Gempa…!” Sayapun lihat semua penghuni rumah keluar ramai-ramai. Jalan penuh orang. Mobil tetangga yang diparkir di jalan tiba-tiba menggelundung beberapa meter. Sayapun bergegas lari ke jalan. Langit semakin gelap. Tak lama kemudian hujan turun secara tiba-tiba. Deras sekali.

Serba salah. Mau masuk rumah, masih dalam situasi  gempa. Di luar saja ,kehujanan. Akhirnya saya dan semua tetangga memilih tinggal di luar. Luar biasa gempa itu. Beberapa pohon tumbang. Ribuan genteng rontok jatuh ke tanah. Jerit-jerit histeris terdengar di mana-mana. Anak-anak kecil menangis keras.

Sebagian tetangga cepat-cepat masuk mobil dan entah pergi ke mana. Sayapun segera membetulkan letak motor. Langsung saya kendarai meninggalkan komplek perumahan. Tidak kehujanan , sebab motor dilengkapi kanopi atau atap dari bahan akrilik dan polikarbonat. Melaju meninggalkan kompleks perumahan. Saya tak punya tujuan, yang penting menyelamatkan diri.

Saya lihat beberapa rumah tingkat ambruk. Celakanya, tepat di depan dekat pos satpam, tanah retak dengan lebar sekitar 50 cm. Motor tak bisa lewat. Terpaksa lewat sebelah kiri, naik gundukan tanah sedikit, kemudian turun ke Jl. Bali. Tepat tujuh menit, gempapun berhenti.

Motor terus melaju. Hujan tetap turun dengan deras. Jalan-jalan penuh mobil dan motor. Tepat di depan Alfamart, semakin lama air di jalan semakin tiinggi, semakin tinggi. Saya langsung belok ke depan Alfamart. Banjirpun datang. Motor mulai tenggelam. Saya bergegas naik pohon sambil terus menyebut nama Tuhan. Saya terus menuju batang pohon paling atas. Sekitar lima orang menyusul saya. Saya lihat air banjir sudah sekitar satu meter.

“Berarti seluruh Tangerang juga banjir!,” teriak salah seorang yang ada di bawah saya.

“Mungkin tsunami!” sahut satu orang lainnya yang saya tidak tahu namanya. Walaupun saya kebetulan memakai jaket, namun dinginnya air hujan terasa juga. Masih untung saya tidak menggigil. Saya terus membaca ayat-ayat Al Qur’an memohon perlindungan Tuhan.

Saya mencoba menghubungi saudara-saudara saya lewat ponsel. Mati. Tak bisa digunakan. Mungkin semua menara ponsel di Tangerang tergenang banjir. Rasa-rasanya saya tak tahu apa yang harus saya lakukan. Pikiran kacau sekali. Seberapa lama bencana ini akan berhenti? Saya tidak tahu.

Saya lihat ke bawah. Saya lihat barang-barang milik Alfamart berhamburan keluar dibawah banjir. Satu orang di bawah saya turun sedikit dan mengambil beberapa kue-kue yang ada di kaleng dan mengapung. Satu persatu diberikan ke atas secara berantai. Sayapun dapat biskuit satu kaleng. Di tengah hujan deras, saya buka kaleng itu dan sedikit demi sedikit makan biskuit. Maklum, lapar.

Di bawah, semua mobil macet. Air setinggi mobil. Semua penumpangnya naik ke atap mobil. Beruntung yang membawa payung. Yang tidak membawa payung, menggigil kedinginan. Betul-betul seperti di neraka.

“Ya, Tuhan. Lindungilah kami…!” teriakan seperti itu terdengar di mana-mana.

Untunglah saya teringat nasehat-nasehat bijak bahwa dalam keadaan seperti itu, kita tidak boleh panik. Pikiran harus tenang setenang-tenangnya. Dalam pikiran yang tenang, sayapun mencoba mencari solusi. Sulit. Beberapa lama saya berpikiir, saya tak menemukan solusi. Air banjir di bawah masih mengalir dengan deras. Namun tingginya relatif stabil.Sekitar satu meter.

“Demi Tuhan. Seumur hidup daerah ini tak pernah banjir satu sentimeterpun!,” teriak salah seorang yang berbaju merah di bawah saya.

“Betul! Tapi ada ahli geologi yang meramalkan terjadinya gempa ini. Sebab, dari Laut Selatan hingga Sukabumi, Bogor,Tangerang hingga di anak Gunung Krakatau, ada sub lempeng dari “ring of  fire”,” kata yang berbaju biru.

“Maksudnya?” tanya saya.

“Ya, di bawah tanah Tangerang, mulai dari Selatan hingga Utara, ada sub lempeng. Jika di laut Selatan terjadi gempa hebat, maka Tangerang terkena akibatnya?” jawab si baju biru.

“Oh, Tuhan. kalau saya mengerti, saya tak akan membeli rumah di Tangerang ini…,” gerutu saya.

Huh! Lima jam saya dan beberapa orang tetap berada di pohon. Menjelang sore, air banjir sedikit demi sedikit mulai surut. Dan akhirnya…menjelang malampun air banjir sudah surut. Saya dan orang-orang di pohonpun turun. Waktu sudah senja. Listrik PLN padam.

Hari mulai gelap. Semua mobil macet. Tidak ada satupun bisa distarter. Motor saya penuh lumpur. Juga tak bisa distarter. Terpaksa, saya tuntun menuju ke rumah. Cukup sulit sebab jalan-jalan yang semula berupa jalan aspal mulus, sekarang penuh lumpur. Secara bertahap saya terus mendorong motor. Sepanjang perjalanan saya terus berdoa. Terutama membaca Surat Al Fatehah. Tiap seratus meter berhenti. Nafas terasa ngos-ngosan.

Akhirnya malam hari sekitar pukul 19:00 WIB tiba di rumah. Semua listrik PLN di komplek perumahan tetap mati. Saya punya gensetpun tidak bisa dipakai. Sayapun masuk rumah. Wow! Berantakan. Meja, kursi, rak buku, lemari semuanya bergeser dari ttempat semula. Piring, gelas, sendok,garpu, botol dan barang-barang lain jatuh di lantai. Jam dinding, piagam penghargaan atau award dan lukisan yang ada di dinding, juga jatuh ke lantau. Kulkas, TV terjatuh di lantau penuh lumpur. Tiga galon air mineralpun jatuh ke lantai. Alhamdulillah…isinya masih bersih 100% dan bisa di minum.

Dengan menggunakan senter yang kebetulan ada di atas lemari, saya lihat semua ruangan. Mulai dari kamar mandi, dapur, kamar tidur dan kamar-kamar lain. Alhamdulillah, tidak ada satu dindingpun yang retak. Bahkan kondisipun ubinpun tetap utuh.

“Oh, Tuhan. Terima kasih. Engkau telah melindungi nyawa dan rumah saya…”

Masih untung juga, air PAM masih mengucur lancar. Semalaman terpaksa saya kerja bakti membersihkan ubin dan apa saja yang perlu dibersihkan. Malam harinya saya tidur di tempat tidur atas. Kebetulan, di kamar tidur saya punya tempat tidur tingkat.

Sekitar pukul 21:00 WIB di tempat tidur atas, saya mencoba membunyikan radio. Ada beberapa yang bisa ditangkap siarannya. Salah satunya Radio Elshinta. Kebetulan ada berita tentang gempa di Tangerang. Katanya, gempa dahsyat hanya terjadi di Laut Selatan, Sukabumi, Bogor dan Tangerang.

Sedangkan Jakarta juga terkena imbasnya.  Ada beberapa bangunan di Jakarta yang retak. Namun yang mengejutkan, gedung DPRRI, istana negara, Gedung KPK, Gedung Mahkamah Agung, Gedung Polda Metro Jaya,Gedung Kementrian Kehakiman, Gedung Kejaksaan Agung dan Kantor Pusat DPP Partai Demokrat ambruk total. Rata dengan tanah.

Dari Radio Elshinta, juga diberitakan bahwa berdasarkan pantauan dari udara, ribuan bangunan di Tangerang hancur lebur. BSD Juction ambruk, ITC Mall dan WTC Mall ambruk. Dan ada retakan tanah di Jl.Serpong Raya  dengan lebar sekitar 50 cm sepanjang lima kilomter. Luar biasa! Macet total. Juga dikabarkan sekiitar sembilan bangunan mengalami kebakaran. Kabarnya, semua listrik PLN di Tangerang juga padam. Suasana gelap gulita. Bagaikan di alam kubur.

“Oh, Tuhan. Saya bersyukur karena Engkau telah menyelamatkan jiwa saya…,”

Esoknya ponsel baru bisa digunakan. Saya hubungi semua saudara-saudara dan keponakan-keponakan. Alhamdulillah. Selamat semua. Rumahnya juga utuh semua. Itulah gempa terdahsyat. Pusat gempa di Laut Selatan. Kekuatan gempa 9,1 Skala Richter. Sabtu, 7 Januari 2012. Sangat mencekam.

.————————————————————————————————

”… Wolak-waliking jaman, sing ngelmune mung sak dumuk lan cubluk,  gawene umuk bebener keminter, lan seneng miala, aniaya lan ngluputake liyan. Manungsa lagake wus keminter, najan mangkono ora ngerti apa kang ana sajroning samudra ?

.————————————————————————————————

Artinya; “Zaman serba terbalik, orang yang ilmunya hanya sebatas kulit dan sangat bodoh, (cirinya) gemar pamer kebenaran dan merasa paling pandai, suka menyakiti, menganiaya, dan menyalahkan orang lain. Manusia sudah berlagak pandai, sementara apa yang ada di dalam laut saja tidak diketahuinya

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: