CERPEN : Rajin Shalat Kok Takut Hantu?

27- Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al A’raaf 27)

DULU, saya punya kenalan seorang mahasiswi bernama Sandra Mouddy yang saat itu kuliah di Faculty of Letters and Fine Arts (Fakultas Sastra dan Seni) di Queensland University, Australia, pernah menulis surat ke saya. Katanya, berdasarkan hasil survei yang dia lakukan, orang Indonesia banyak yang tidak konsekuen. Misalnya, memakai gelar sarjana, tetapi tidak menguasai ilmunya. Memakai gelar haji, tetapi korupsi. Menjadi anggota DPR, tetapi memperkaya diri sendiri .Rajin shalat, tetapi takut hantu.

Rajin shalat tetapi takut hantu? Ternyata hasil surveinya benar. Pada 1988 saya berkesempatan menjadi konsultan manajemen dan setelah bertugas di berbagai kota di Indonesia, akhirnya saya ditugaskan di Kota Manna untuk membenahi manajemen perpajakan Daerah Tingkat II di kantor pemda. Kota ini merupakan ibukota Kabupaten Bengkulu Selatan. Sebuah kota yang sepi tetapi serba mahal.

“Wah, gaji saya bisa habis kalau saya menginap tiap hari di hotel ini” Gerutu saya pada hari ketiga ketika menginap di hotel yang saya lupa namanya. Mungkin Hotel Oniko.

Ternyata, gerutuan saya didengar seorang karyawan pemda yang saat itu memang bertugas menjemput saya.

“Tinggal di mess pemda saja, Pak” Usulnya. Usul yang bagus.

Begitulah. Setelah menyelesaikan tugas di kantor pemda, siang harinya dengan diantar karyawan pemda, saya menghadap Bupati Kabupaten Bengkulu Selatan. Semula beliau heran, tapi kemudian bisa memaklumi. Cuma beliau berpesan dan mengingatkan kalau air krannya keruh.

“Tapi air kran keruh, lho. Jadi, usahakan membuat saringan. Tidak bisa diminum. Kalau untuk mandi mungkin bisa” Begitu ujar Pak Bupati yang bernama Qohar Mahmudi itu.

Sesudah lapor ke bupati, sayapun pindah dari hotel ke mess pemda. Mess pemda ini terdiri dari tiga kamar tidur yang cukup luas, bersih, dilengkapi dapur dan ruang tamu. Ada juga televisi, tetapi rusak. Untung aya membawa televisi mini ukuran 7” (tujuh inci).

Ketika saya memasuki salah satu kamar tidur, tiba-tiba bulu kuduk saya merinding. Sebuah isyarat bahwa di kamar itu pasti ada mahluk halusnya.

“Di sini ada mahluk halusnya ya, Pak?” Tanya saya ke karyawan pemda yang mengantarkan saya.

“Ah,ti…tidak…ti…tidak ada, Pak konsultan” Gelagapan dia menjawab.

Begitulah. Mulai malam itu saya menginap di mess pemda. Gratis. Saya bisa menghemat banyak uang. Maklum, kalau menginap di hotel saya bisa menghabiskan uang sekitar Rp 500.000 sampai dengan Rp 750.000 per bulan. Padahal honor saya sebagai konsultan saat itu Rp 3.000.000. Status saya adalah konsultan Manajemen dari PT Bumi Prasidi, Jakarta yang bertugas mengerjakan proyek Dirjen PUOD Depdagri.

Malam hari memang mencekam. Sepi sekali. Jalanan juga sepi. Untung saya membawa televisi mini sehingga saya punya hiburan. Sinyal televisi juga kuat dipancarkan dari stasiun relai yang ada di Kabupaten Lahat, tidak jauh dari Kabupaten Bengkulu Selatan.

Saya merasa aneh. Kenapa mess pemda ini tidak dijaga? Pertanyaan ini terjawab esok harinya ketika ada petugas mess datang. Namanya Slamet, bertugas sebagai penjaga mess. Dia berasal dari Jawa Tengah.

Seusai shalat Jum’at, di mess saya ngobrol-ngobrol dengan Slamet yang tadinya shalat Jum’at bersama dengan saya.

“Slamet, kamu jaga mess kok justru siang hari? Kenapa tidak malam hari?” Saya ingin tahu. Kami ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Kebetulan kalau Jum’at dan Sabtu merupakan hari libur saya.

“Anu, ya…memang saya tugasnya siang hari” Gelagapan jawab Slamet yang saat itu berusia sekitar 20 tahunan. Namun setelah saya desak akhirnya Slamet mengaku.

Katanya, mess pemda itu angker. Kalau malam seperti ada suara kursi dan meja yang ada di kamar tidur digeser-geser. Tetapi kalau dicek, ternyata tidak ada apa-apa. Begitu juga, sering terdengar kain gordijn dibuka ditutup, tetapi kalau dicek, tidak ada apa-apa.

Bahkan Slamet menceritakan sering ada rombongan dari kabupaten lain menginap di mess, beberapa di antaranya kesurupan.

“Sering terjadi beberapa tamu kesurupan di mess ini, Pak” Cerita Slamet. Saya cuma manggut-manggut saja. Cerita Slamet sama persis dengan cerita Bu Sarmi, pemilik toko yang ada di seberang mess pemda.

“Jadi, kamu takut dengan hantu?” Saya memancing pendapat Slamet.

“Ya, iyalah”

“Seharusnya manusia yang takut hantu atau hantu yang seharusnya takut manusia?” Saya menguji Slamet. Slamet diam saja.

Saya cuma bisa menasehati Slamet bahwa kalau manusia takut hantu, itu keliru. Seharusnya hantu yang takut manusia. Sebab, Tuhan menciptakan manusia memiliki derajat lebih tinggi daripada hantu ataupun mahluk halus lainnya. Yang penting manusia tidak mengganggu kehidupan mereka.

“Lantas, kita harus membaca doa apa, Pak?” Slamet ingin tahu.

“Di Al Quran sudah ada tuh doanya. Banyak. Antara lain Ayat Qursi. Kalau kamu mempunyai keyakinan yang kuat, saya yakin kamu tidak akan diganggu mahluk halus. Tidak mungkin kesurupan. Orang yang ditakuti hantu ataupun kesurupan itu kan orang-orang yang keyakinan agamanya tipis. Rajin shalat harus diimbangi dengan keyakinan yang kuat…”. Demikian saya menjelaskan ke Slamet.

“Nah, kalau memang kamu sebenarnya penjaga malam, coba nanti malam bertugas. Saya jamin kamu tidak diganggu mahluk halus. Kecuali kamu penakut” Ajak saya.

Dan benarlah, mulai malam itu Slamet memberanikan diri jaga malam di mess pemda. Semalaman saya dan Slamet bermain catur sampai dini hari. Justru, di kamar yang saya tengarai ada mahluk halusnya.

Esok hari ketika Slamet bangun dari tidurnya, sayapun bertanya.

“Bagaimana? Diganggu hantu tidak?

Slamet menggelengkan kepala.

“Nah! Ingat! Percuma rajin shalat kalau kamu takut dengan hantu!. Jangan mengaku beragama Islam kalau kamu takut hantu.Tetapi, jangan sesekali kamu menantang mahluk halus.”

Sejak malam itu Slamet mempunyai keberanian untuk bertugas malam hari sesuai dengan surat tugas yang diberikan oleh pihak pemda Kabupaten Bengkulu Selatan

Sumber foto: cerita-lucu.tk

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Iklan

CERPEN: Nostalgia Dancing Queen

SAYA sering bertanya ke teman-teman kuliah saya, kenapa Indonesia yang mayoritas beragama Islam ini lebih suka merayakan acara Tahun Baru Masehi 1 Januari dan tidak merayakan acara Tahun Baru Islam 1 Muharam secara meriah? Semua teman-teman menjawab tidak tahu.

Itulah sebabnya, saya sebagai aktivis senat mahasiswa, memprogramkan peringatan Tahun Baru Islam secara meriah. Saya adakan di Gedung Soemantri Brodjonegoro, Kuningan Jakarta Selatan. Saya juga mengundang menteri agama.

Karena orang Indonesia sering terlambat datang satu jam dari jam yang tertera diundangan, maka di undangan saya cantumkan acara akan dimulai tepat pukul 19:00 WIB dan saya mengharap agar semua undangan datang tepat pada waktunya.

Tepat pukul 19:00 WIB, gedung masih sepi. Hanya panitia saja yang telah siap. Celaka, menteri agama dan pengawalnya telah tiba. Begitu melihat gedung masih kosong, beliaupun marah-marah. Untunglah, beberapa dosen segera menemani beliau duduk di kursi deretan paling depan.

Tepat pukul 20:00 acara dimulai. Gedung telah penuh. Bahkan ada yang berdiri. Setelah menteri agama memberikan sambutan dan disusul sambutan-sambutan dari pihak yang terhormat, maka selanjutnya diisi acara-acara bernuansa Islami.

Tepat pukul 00:00 merupakan tanggal 1 Muharam (versi panitia) maka ratusan kembang api memancarkan sinarnya dengan indah di berbagai tempat di dalam gedung sekaligus mengakhiri acara itu.

Selanjutnya merupakan acara bebas. Langsung disambut dengan dentuman musik-musik dari perangkat diskotik yang telah disediakan. Dengan cekatan DJ memilih lagu slow dan hot secara bergantian. Semua mahasiswa dan mahasiswi berdansa bersama pacar masing-masing. Lampu disko warna-warni berlomptan ke sana ke mari dengan sangat indahnya.

Tepat ketika lagu “Dancing Queen” dari band ABBA diputar, saya sempat melihat Maureen duduk sendirian. Sayapun mendekati.

“Turun, yuk” Ajak saya sambil mengulurkan tangan. Maureen berdiri sambil tersenyum.

Kamipun melantai mengikuti irama lagu “Dancing Queen” yang indah itu. Sempat kutatap mata Maureen yang indah itu. Bulu matanya lentik. Diapun menatap mata saya. Ada rasa aneh di hati saya.

“Kok, tidak datang sama Tommy” Saya ingin tahu. Tommy adalah pacar Maureen yang kuliah di Universitas Tarumanagara.

“Enggak” Singkat Maureen menjawab.

“Kenapa?”

“Saya sudah putus sama Tommy”

“O” Komentar saya singkat. Kebetulan, saat itu saya juga baru putus dengan Yenara. Yenara dan Maureen adalah adik kelas saya. Cuma, mereka berdua berbeda kelas.

Saya tidak tahu, kenapa DJ memutar lagu “Dancing Queen” sampai dua kali. Yang berakibat saya dan Maureen saling berdekap cukup lama.

“Bagaimana kabar Yenara?” Maureen memancing komentar saya.

“Oh, saya juga sudah putus sama Yenara”

Saya melihat mata Maureen bersinar. Selanjutnya bisa ditebak, walaupun saya dan Maureen tak saling menyatakan cinta, namun apa yang terjadi malam itu, kami telah saling jatuh cinta.

Tepat pukul 01:00 WIB dini hari, acarapun selesai sesuai rencana. Karena Maureen tak ada yang menjemput, sayapun mengantarkannya pulang. Rumahnya di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.Sesudah mengantarkan Maureen, saya segera meluncur pulang ke rumah saya di kawasan Kebayoran Baru.

Di rumah, sehabis ganti pakaian, saya langsung memutar kaset band ABBA dan memutar lagu “Dancing Queen” berulang-ulang. Indah sekali lagu itu. Diam-diam, saya telah jatuh cinta ke Maureen yang cantik itu.

Dan ketika di kampus, maka di mana ada saya di situ pasti ada Maureen. Semua mahasiswa sekampus sudah mengetahui hubungan saya dan Maureen. Selama itu hubungan saya dengan Maureen lancar-lancar saja. Saya merasa beruntung mendapatkan pacar yang cantik dan gaul itu.

Namun dalam perkembangannya saya berpikir, diteruskan atau tidak? Soalnya, seringkali Maureen mengajak jalan-jalan ke mal. Tak segan-segan dia minta dibelikan baju ini, baju itu, sepatu ini, sepatu itu. Bahkan minta diantarkan ke salon langganannya. Semua mahal dan harus saya yang membayar.

Terus terang saya menjadi ragu-ragu untuk meneruskan hubungan dengan Maureen. Maklum, selama enam bulan berpacaran, saya telah menghabiskan dana Rp 6 juta. Sebegitu mahalkan biaya berpacaran dengan Maureen?

Akhirnya saya mengambil keputusan, tidak akan membelikan apa-apa lagi, kecuali hanya traktir makan di resto atau kafe serta traktir nonton. Begitulah, ketika saya dan Maureen di salah satu mal di Jakarta Selatan, Maureen mulai minta dibelikan ini dan itu.

“Ah, tidak! Nanti saja kalau Harry telah bekerja” Selalu saya katakan demikian.

“Aduh. Barangnya bagus Harry. Di toko lain nggak ada yang jual,nih” Maureen menunjuk kalung di etalase. Harganya Rp 2 juta.

“Ah, tidak! Nanti saja kalau Harry telah bekerja”. Begitu saja saya katakan.

Sejak saat itulah, di kampus Maureen tak mau lagi menemani saya. Pulang kuliahpun tak bersama saya. Malam Minggupun Maureen tak mau lagi menemui saya. Kalau saya telepon, hanya sebentar Maureen bicara, kemudian telepon ditutup. Semua merupakan sinyal agar saya mengundurkan diri saja.

Keputusannya memang begitu. Dengan rasa yang sangat berat, saya berusaha melupakan Maureen. Tidak mudah memang, Dan setelah saya lulus, saya tak pernah lagi bertemu ataupun berkomunikasi dengan Maureen.

Meskipun demikian, saya tak akan pernah melupakan Maureen. Saya tak akan pernah melupakan lagu “Dancing Queen”. Lagu itu sampai hari ini masih sering saya putar.

Akhirnya saya menyadari bahwa hidup di Jakarta memang harus pandai-pandai memilih sahabat ataupun pacar. Kehidupan di kota besar selalu diwarnai perhitungan untung rugi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kehidupan di Jakarta atau kota besar adalah kehidupan yang bernuansa materialis. Semua diukur berdasarkan materi dan uang.

Lantas, siapa yang harus saya salahkan?

Video & Lagu Dancing Queen bisa anda dengarkan di:

http://www.youtube.com/watch?v=8ejypIv8zSA

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Catatan:

1.Ada yang berpendapat bahwa menjadikan 1 Muharram sebagai Hari Besar Islam tidak boleh, karena :

– Perbuatan tersebut tidak ada dasarnya dalam Islam. Karena syari’at Islam menetapkan bahwa Hari Besar Islam hanya ada dua, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.

2.Tidak boleh merayakan acara Tahun Baru Masehi karena perbuatan tersebut mengikuti dan menyerupai adat kebiasaan orang-orang kafir Nashara, di mana mereka biasa memperingati Tahun Baru Masehi dan menjadikannya sebagai Hari Besar agama mereka.

3.“Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari tersebut dengan hari raya yang lebih baik, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.“ (Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn).

CERPEN : Di Langit Kugapai Bintang

YOGYA,17 Juni 1985.Hari ini saya dan Ita atau Ade Rosita sedang duduk berdua di restoran Hellen,Jl.Malioboro.Kami berdua sedang minum ice juice kesukaan masing-masing.

“Selamat hari ulang tahun 17 Juni 1985.Mudah-mudahan Mas Harry cepat mendapatkan pekerjaan lagi”,kata Ita sambil menyalami saya.

“Terima kasih. Saya juga mengucapkan ulang tahun untuk Ita.Bukankah ulang tahun kita sama? Mudah-mudahan Ita kelak menjadi sarjana yang berguna bagi nusa dan bangsa”,sayapun menyalami tangan Ita yang halus lembut itu.

Hari demikian cepat berlalu.Semua sahabat saya telah menikah.Ruddy Rayadi,Faizal Salmun,Armi Helena Nasution,Orizanita,Inggah Silanawati,Chatarina Pri Ernawati,yah..hampir semua.Tinggal saya yang belum.Sudah berkali-kali saya naksir cewek mulai dari Rikit Mulyasari,Nunie Hendrati,Sri Redjeki Cikatomas,Dewi Sayekti,Emiria Bhakti…semuanya menolak.Tapi,untunglah saya menemukan seorang gadis bernama Ita.

“Ita,secepatnya saya akan melamarmu.Apalagi menurut Dokter Arifin Mahubay, telah menyatakan bahwa Ita dalam keadaan sehat dan bahkan sudah mengandung.Tentu,saya harus bertanggung jawab”,kata saya suatu ketika.Saya pandangi bulu mata Ita yang lentik serta alisnya yang tebal.Orang bilang,gadis yang demikian biasanya bisa memiliki keturunan yang cantik dan ganteng.Ita diam saja.Hari itu Ita telah hamil dua bulan.

MALAM harinya saya masih berada di rumah Ita di Jl.Cik Di Tiro.Di ruang tamu kami berbicara,ngobrol,melihat TV sambil membuka-buka album.Ibu Ita,yaitu ibu Sindoro turut menemani.Pak Sindoro telah meninggal sepuluh tahun yang lalu.Putera Bu Sindoro tujuh orang,Ita nomor tujuh.Hanya Ita dan Bu Sindoro yang menempati rumah di Jl.Cik Di Tiro,Yogyakarta itu.

Tiba-tiba saya terkejut ketika membuka album yang berikutnya. Di situ saya melihat foto rumah saya yang terletak di Jl.Trunojoyo No.4 Bojonegoro yang sudah terjual 15 tahun yang lalu.

“Ini foto rumah siapa,Bu?”,tanya saya memancing.Bu Sindoro melihat ke album yang kutunjukkan.Lalu katanya panjang lebar.

“Itu foto rumah Bu Sudjana,bekas tetangga Bu Sindoro sewaktu Pak Sindoro menjabat sebagai bupati waktu itu.Semua putera Bu Sudjana. Karena Bu Sudjana tak berhasil memiliki putera laki-laki,maka akhirnya putera ibu yang laki-laki dimintanya.Sebagai anak angkat”.Wajah Bu Sindoro menerawang,mengingat masa lalu.

Sayapun mengambil kesimpulan bahwa sayalah yang dimaksud putera laki-laki itu.Kalau begitu,saya ini anak angkat?Kalau begitu,Bu Sindoro adalah ibu kandung saya?Kalau begitu,Ita yang tengah mengandung dua bulan ini adalah…adik kandung saya?Ya Tuhan,terkutuklah saya ini…”.Saya berdesah,cemas dan ragu.

ESOK harinya Ita menangis deras.Lama dia menangis di Hotel Intan, tempat saya menginap.

“Tak mungkin kita menikah.Tak mungkin”,ucap saya lirih,setengah putus asa.Saya bingung,pikiran ruwet.Ita berkali-kali mengusap air mata yang membasahi pipinya.

“Ita,satu-satunya jalan adalah …aborsi.Ita harus gugurkan kandungan itu.Sekarang juga kita ke Dokter Arifin.Saya bangkit,kutarik pelan tangan Ita.Ita pun bangkit dari tempat tidur.Sesudah menyeka air mata,Itapun mengikuti saya.

“Apakah aborsi tidak dilarang hukum?”,Ita ingin tahu.Sementara itu Yogya mulai diguyur hujan yang deras.Becak yang kami naiki amat pelan jalannya.Maklum,tukang becaknya sudah tua.

“Sekitar tahun 1972 Indonesia memang menganggap bahwa bahwa aborsi adalah ilegal.Tidak sah.Tanpa kekecualian.Bahkan pasal 346 KUHP  bisa memidanakan seorang wanita yang menggugurkan kandungannya”,saya menjelaskan.

“Jadi?”,Ita ingin tahu.Wajahnya agak ketakutan.Memang serba salah.Alkan menikah,jelas agama tidak mungkin mengijinkan karena kami ternyata kakak beradik kandung.Melakukan aborsi berarti melanggar hukum.Sudahkan Indonesia menganut “legal conditionally” mengenai aborsi di mana aborsi bisa dibenarkan atas dasar pertimbangan ‘rape’ (perkosaan),’incest’ (sesaudara kandung),atau ‘deformed fetus’ atau pertimbangan medis?Entahlah.

Yang jelas,uang adalah segala-galanya.Setelah tawar-menawar akhirnya dr.Arifin Mahubay bersedia melakukan aborsi dengan imbalan uang Rp 15 juta.

Darimana saya mendapatkan uang sebanyak itu?Akhirnya saya nekat,rumah yang saya tempati di kawasan Cinere,Bogor,saya jual.Saya iklankan di Harian Sinar Harapan.Bunyinya:”Rumah:Dijual.Murah,mungil indah.Cinere Blok D-160 (Jl.Bukit Cinere,PT Kani).LT/LB 108/65,2 KT,BathTub.Dijual di bawah harga pasaran.Hub:Harry alamat tsb.TP”.

Untunglah rumah saya cepat laku.Terjual dengan harga Rp 61 juta,yang 15 juta untuk biaya aborsi.Sisanya saya belikan rumah di perumahan Pondok Mekarsari,Jl.Raya Bogor Km 30,sekitar enam kilometer sebelah Selatan terminal Cililitan.

Sikap saya ke Bu Sindoro (ibu kandung saya) biasa-biasa saja.Rahasia itu saya pendam rapat-rapat.Masalah aborsi hanya saya,Ita dan dr.Arifin yang mengetahuinya.Yang jelas,saya tetap menghargai Bu Sudjana yang telah memelihara saya,memmanjakan saya,dan mendewasakan saya hingga sekarang.Luar biasa,betapa tahan Bu Sudjana menyimpan rahasia ini sampai puluhan tahun.

Menjelang lebaran tahun ini,saya meminta ijin ke Bu Sindoro agar Ita boleh saya ajak ke Bali,berlibur dan berlebaran di sana.Ijin dikabulkan.Benarkah kami ke Bali? Tidak!Saya mengajak Ita ke kota Bojonegoro,kota di mana ‘ibu’ saya berada.Saya akana sungkem dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan ‘ibu’ Sudjana.

Ita tetap saya ajak ke Bojonegoro,Jawa Timur.Karena,meskipun Ita ternyata adalah adik kandung saya,namun kami belum bisa mengganti rasa cinta itu dengan rasa persaudaraan.Aneh memang.

“Saya tak mengira cinta pertama saya seburuk ini”,Ita mengeluh berkali-kali.Matanya masih basah.Badannya masih lemah akibat aborsi.Ita memang pantas bersedih, karena sesudah aborsi itu,dr.Arifin mengatakan bahwa Ita tak mungkin akan memiliki keturunan seumur hidup.

Betapa banyak cobaan yang saya hadapi pada tahun 1985 ini.Saya dipecat dari PT Sunan Ngampel akibat saya difitnah,mobil Honda Civic Wonder saya hancur akibat kecelakaan dekat restoran Situ Gintung,Ciputat.Saya ditolak untuk menjadi dosen di Fakultas Ekonomi,Universitas Trisakti,Jakarta karena lowongan telah diisi oleh teman saya Eva Hassan dan Heru Hardjanto dan sekarang mengalami mysibah mencintai seorang gadis yang ternyata adik kandung sendiri.

Malam harinya kami makan malam bersama.Bukan main hiruk-pikuknya.Semua saudara saya yang kebetulan semuanya perempuan datang bersama suami masing-masing,juga famili-famili,sahabat-sahabat se-SMA,lengkap dengan putera-puteranya.

Saya sengaja mengajak Ita supaya tidak diledek.Kalau ditanya, maka saya akan memperkenalkan Ita sebagai calon istri saya.Mereka pasti percaya,termasuk ‘ibu’ saya.Namun suasana lebaran malam itu menjadi lain ketika ‘ibu’ku memandang tajam ke arah Ita.’Ibu’ saya berhenti makan sejenak.Semua yang duduk di sekitar meja makan saling berpandangan tak mengerti.

“Nak Ita,boleh ibu pinjam sebentar kalung,nak Ita?”,pinta ‘ibu’.

Agak ragu dan heran, pelan Ita melepas kalung itu dan memberikannya ke ‘ibu’.’Ibu’ pun melihat dan membolak-baliknya.

“Nak Ita,ibumu namanya siapa?”,tanya ‘ibu’.

“Sindoro” jawab Ita jelas.

“Sindoro Soesmadji?” tanya ‘ibu’.Ita mengangguk.

‘Ibu’ku langsung bangkit dan memeluk Ita erat-erat.

“Ya Tuhan…kamu anak kandung saya…!

Saya semakin heran.Semua yang hadir terpaku.Ita merangkul ‘ibu’ setengah tak percaya.

Namun setelah ‘ibu’ bercerita,segalanya jadi jelas.Dulu,’ibu’ Sudjana berputera seluruhnya perempuan,satu di antaranya jadi anak angkat Bu Sindoro.Sebaliknya,seluruh putera Bu Sindoro adalah laki-laki,satu di antaranya adalah saya)menjadi anak angkatnya Bu Sudjana.Jadi,semacam barter begitu.Jadi,sebenarnya ternyata Ita bukan adik kandung saya!

SEWAKTU seluruh keluarga tidur, di pavilyun saya dan Ita sa;ling berpeluk.Air mata Ita menetes deras.Air mata suka,sedih,haru,kecewa,semuanya menjadi satu.

“Jadi,kita bukan kakak beradik sekandung…”,kata saya.

“Kalau begitu,kita boleh menikah ,bukan?”,ucap Ita.

“Benar.”,singkat jawab saya.

“Tapi,Mas…Kita sudah terlanjur melakukan aborsi.Dan saya tak mungkin memiliki keturunan lagiApakah Mas Harry nanti tak menyesal jika tak punya anak?”,Ita bertanya penuh rasa kekhawatiran.

“Serahkan saja semuanya kepada Tuhan.Masalah kita nanti punya keturunan atau tidak itu tidak masalah bagi saya.Hanya Tuhan yang Maha Tahu”,saya mencoba meyakinkan Ita.

Benar.Dua tahun sesudah kami menikah,saya dan Ita dikaruniai seorang putera sehat dan lucu.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 


 

 

CERPEN : Antara Erna Stella dan Erna FISIP

 SAYA lupa hari, tanggal, bulan dan tahun kejadiannya. Namun yang pasti, saat itu saya baru saja putus hubungan Puspita, mahasiswi Fakultas Psikologi UGM. Sore itu saya menuju stasiun untuk pulang ke Jakarta.

Namun baru saja kaki akan menaiki gerbong, seorang gadis didampingi seorang gadis lagi memanggil saya.

-“Mas,Mas…sebentar,Mas”.

Saya tengok kanan kiri. Saya yakin saya yang dipanggil. Walaupun saya tidak mengenalnya, namun rasa keinginan tahu menyebabkan saya menghampiri.

_”Ada apa?”. Saya bertanya ke gadis itu.

“Tolong, Mas.Ini adik saya. Belum pernah ke Jakarta. Tolong dijagain ya, Mas?”

Karena kereta mulai bergerak berangkat, maka saya mengiyakan saja. Adiknya saya suruh naik ke kereta terlebih dulu. Sempat juga melambaikan tangan ke kakaknya. Kereta terus berjalan semakin kencang. Ternyata saya dan gadis itu berbeda gerbong dan tidak sama pula nomor kursinya. Untunglah, ada mahasiswa yang berbaik hati bertukar tempat sehingga saya bisa duduk bersama dengan gadis itu. Gadis itu wajahnya biasa-biasa saja. Tidak secantik kakaknya.

Dari hasil ngobrol-ngobrol di kereta saya tahu, gadis itu namanya Budiningsih dan kakanya namanya Ernawati. Sayapun mencatat alamat keduanya. Ternyata, Erna masih kelas 3 SMA dan tinggal di Asrama Putri Stella Duce.

Biasalah. Sampai di Jakarta saya mengantarkan Budi ke rumah pamannya di daerah Tanah Abang. Esok harinya saya berkirim surat ke Erna. Isinya biasa-biasa saja. Mengabarkan bahwa Budi telah tiba di Jakarta dengan selamat.

E, ternyata dari surat-menyurat itu memaksa saya harus bolak-balik lagi Jakarta-Yogyakarta. Ceritanya, Erna jadi “teman baik” saya. Biasalah, namanya juga anak muda. Lama juga saya berpacaran. Sampai akhirnya peristiwa yang pernah saya alami dengan Puspita terjadi lagi. Sesudah Erna lulusa dari SMA, saya tidak tahu di mana tinggalnya. Saya tanyakan ke neneknya yang tinggal di daerah Ambarukmo. Katanya, Erna kos di Jl. Magelang, dekat Hotel Maerakaca. Celakanya, nomornya tidak tahu.

Karena kepalang tanggung, maka di Yogya itu saya gunakan untuk menelusuri Jl. Magelang. Setiap ada anak-anak SMA atau mahasiswa, saya tanya apakah di daerah itu ada yang namanya Erna. O ya, waktu itu saya ke Yogya bersama teman dari Jakarta juga, namanya Paul, dari Timor Timur. Dia kuliah di Fakultas Teknik Universitas Trisakti, sedangkan saya di Fakultas Ekonomi pada universitas yang sama.

Tiba-tiba ada anak yang menunjukkan ke sesuatu jalan.

-“Oh, ada Mas. Mbak Erna rumahnya di jalan itu”.

Saya dan Paul pun mengikuti arah yang ditunjukkan. Akhirnya saya menemukan sebuah rumah. Semacam rumah panggung. Suara ayamnya ramai sekali. Sayapun mengetuk pintu.

Tak lama kemudian muncul seorang gadis putih berwajah Jawa dan cantik.

-“Cari siapa,Mas?”. Dia bertanya.

-“Anu, saya mencari Erna”. Agak gugup juga saya menjawabnya.

-“Ya, saya Erna”. Wah, ternyata gadis itu namanya Erna juga. Akhirnya sudah kepalang tanggung, saya katakan bukan Erna dia yang saya cari. Saya dipersilahkan duduk dan sempat minum. Aneh ya, keramahannya membuat seolah-olah saya sudah mengenalnya puluhan tahun yang lalu. Gadis itu ternyata bernama Erna juga, tetapi kuliah di FISIP UGM.

Besoknya, sesudah mengantarkan Paul ke beberapa objek wisata, maka sorenya kembali ke Jakarta. Selanjutnya biasalah, saya berkirim surat ke Erna FISIP. Jaman dulu belum ada SMS. Akhirnya, Ernapun menjadi “teman baik” saya, menggantikan Erna Stella. Kabarnya sih Erna melanjutkan di Fakultas Psikologi, tetapi karena uang saku saya terbatas, saya tidak sempat mencari di kampusnya.

Yang pasti, tiap Jumat sore saya ke Yogya dan tiap Minggu sore kembali ke Jakarta. Dua tahun kemudian hubungan saya dan Erna FISIP tidak ada kelanjutannya.  Maklum, kesibukan saya di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, Jakarta, banyak sekali.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: SMS Gelap dari Tempat yang Gelap

 

SAYA bekerja pada salah satu BUMN yang berada di Jakarta. Jabatan saya sebagai staf ahli. Jadi, setara pejabat fungsional. Tugas saya sama dengan konsultan manajemen, yaitu membenahi unit-unit BUMN tersebut yang saya nilai kurang efektif dan efisien. Sebagai sarjana manajemen (S2), tentu bidang itu merupakan kompetensi saya.

Satu persatu unit-unit di BUMN itu saya benahi. Mungkin sudah sepuluh unit. Namun, akhir-akhir ini sering masuk SMS gelap. Isinya macam-macam. Namun sebagian besar merupakan teror. Mengancam akan membunuh saya. Tapai kalau saya tanya lewat SMS, apa alasannya akan membunuh saya, SMS saya tidak dijawab. Kalau saya hubungi via suara, HP-nya malahan dimatikan. Lebih parah lagi, nomor HP-nya selalu berganti-ganti.

 

Mula-mula saya tidak begitu peduli. Namun, suatu saat ketika saya pulang kantor mengendarai mobil, tiba-tiba di sebelah kanan meluncur sepeda motor dan dua penumpang. Tiba-tiba dua batu sebesar kepalan tangan dilempar ke kaca mobil saya. Pecah. Merekapun kabur. Kejadian itu sudah saya laporkan ke atasan saya dan polisi setempat. Sayang, saya tidak tahu nomor polisinya. Yang pasti mereka naik motor Honda Revo. Juga, SMS-SMS ancaman yang belum saya hapus juga saya laporkan ke polisi.

 

Sampai di rumah saya di Cinere, sehabis mandi sore, saya mulai berpikir, kira-kira apa motivasinya mereka. Soal cewek? Kemungkinannya kecil. Soal jabatan? Ada kemungkininan iri soal jabatan. Tapi, siapa? Atau barangkali soal korupsi? Korupsi di unit yang mana? Rasa-rasanya kok belum ada petunjuk yang kuat. Apalagi SMS gelap yang dikirim dari tempat yang gelap itu tak pernah menyebutkan alasannya.

“Bagaimana, Harry? Sudah mengetahui motivasi mereka?” tanya Bu Sandra yang satu kantor dengan saya. Beliau masuk bersama-sama dengan saya. Berhubung dia sudah punya anak, saya memanggilnya “Bu”, walaupun usianya lebih muda daripada usia saya.

“Belum, Bu….” singkat saja jawaban saya.

“Tidak ada masalah pribadi di luar urusan kantor?”

“Rasa-rasanya saya tidak punya musuh, Bu…”

“Wah, agak susah ya kalau begitu. Kira-kira ada yang dicurigai?”

“Hmmm,…sampai hari ini belum ada. Saya pastikan belum ada. Percakapan itu percakapan lewat intercom. Maklum, satu staf ahli mempunyai kamar masing-masing dan dibantu seorang sekretaris.

“Hallo, Mas Harry. Bagaimana soal SMS gelap itu?” tiba-tiba intercom dari Pak Djatno berbunyi. Saya angkat. Kemudian mengobrol sebentar.

“Mungkin ada hubungannya dengan sekretaris Mas Harry. Dia kan cantik dan masih single. Banyak cowok BUMN yang naksir dia…” itu pendapat Pak Djatno.

“Hmmm, bisa juga. Kemungkinan itu ada. Tapi, siapa ya kira-kira? Mungkin motivasinya cemburu? Padahal sih, saya sama Devi biasa-biasa saja,” saya katakan hal itu ke Pak Djatno. Kebetulan, hari itu Devi tidak masuk karena sakit.

Begitulah. Hampir tiap hari saya pasti menerima SMS gelap dari tempat yang gelap. Minimal dua kali sehari. Isinya hampir sama, yaitu supaya bersikap hati-hati karena saya akan dBunuh. Betul-betul membuat saya gelisah. Meskipun demikian saya tetap berusaha tenang. Yang pasti soal SMS gelap itu saya sudah curhat ke semua teman-teman satu unit kantor.

Berbagai kemungkinan saya kumpulkan. Mulai dari dugaan adanya korupsi, soal Devi, atau barangkali ada masalah dengan Mellia, isteri saya? Atau barangkali ada yang iri soal jabatan saya? Ah…sangat banyak kemungkinannya. Tapi persentasenya belum signifikan. Sampai bulan ketiga ini belum ada petunjuk-petunjuk yang signifikan.

Esoknya, Devi, sekretaris saya, sudah masuk kerja seperti biasanya. Dia juga tahu masalah SMS gelap yang sering saya terima. Devipun hanya memberikan masukan berdasarkan kira-kira juga. Katanya, kalau tidak dari orang dalam, kemungkinan dari orang luar. Kalau orang dalam, kemungkinan iri soal jabatan. kalau orang luar, mungkin ada hubungannya dengan tetangga yang iri atau barangkali isteri saya ada yang memusuhinya. Ah….dasar SMS gelap. Sampai bulan ketiga tetap gelap.

Seminggu kemudian saya dan Devi dapat tugas meninjau salah satu unit BUMN tersebut yang ada di Yogyakarta. Kabarnya, manajemennya amburadul. Dengan naik pesawat, saya dan Devi langsung terbang ke Yogya.

Begitu tiba di Yogyakarta, langsung menuju Hotel Mutiara Utama yang ada di Jl. Malioboro. Pesan dua kamar. Sesudah istirahat sebentar, makan siang, kemudian menuju ke unit kantor tersebut hanya untuk memberitahu atau melapor dulu atas kedatangan saya. Surat tugas sayapun sudah diterima kepala unit tersebut. jadwalnya, besok saya dan Devi akan melakukan audit manajemen di unit tersebut.

Malam harinya, ketika saya akan tidur. Pintu kamar diketuk orang. Ketika saya buka, ternyata Devi.

“Ada apa?” tanya saya. saat itu saya mengenakan pakaian tidur. Dan Devi mengenakan kimono yang tipis sekali.

“Mau mengembalikan kamera digital Bapak…” diapun menyerahkan kamera digital saya yang dipinjamnya.

“Oh, ya…Terima kasih…” saya terima kamera itu. Devipun permisi mau kembali ke kamarnya.

Sambil merenung di kamar tidur, tiba-tiba saya teringat sesuatu. Beberapa bulan yang lalu, selesai rapat, pimpinan saya lupa membawa berkas rapatnya. Ketika semua peserta rapat sudah keluar ruangan, iseng-iseng saya membaca berkas itu. Ternyata bukti-bukti dan laporan pembelian 50 buah komputer untuk unit kerja saya. Yang membuat saya heran, kenapa ada perbedaan harga yang begitu jauh? Sebuah komputer yang harganya cuma Rp 5 juta dihargai Rp 10 juta? Mark up? Korupsi? Mungkinkan pimpinan saya yang mengirim SMS gelap itu? Ah, selama ini saya menilai Pak Ronald, nama atasan saya, orang yang baik-baik. Kabarnya, beliau belum pernah korupsi.

Sekitar pukul 23:00 WIB, tiba-tiba intercom di kamar hotel saya berbunyi. Ternyata dari Devi. Katanya, dia takut tidur sendiri. Saya jadi ingat, biasanya kalau saya tugas ke luar kota, Devi juga ditemani Yulia, sekretaris Pak Ronald. Saya jadi serba salah. Setelah berpikir lama, akhirnya saya memutuskan pindah ke kamar Devi. Toh tempat tidurnya ada dua. saya tidur di tempat tidur satunya. Entahlah, setan mana yang menggoda saya…malam itu saya terpaksa memnuhi keinginan Devi. saya tidur bersama Devi. Layaknya suami isteri. Tapi saya yakin Devi tak akan hamil sebab saya menggunakan karet KB.

Besoknya saya dibantu Devi langsung melakukan audit manajemen di unit tersebut. Mulai dari struktur organisasinya, tupoksinya, kualitas SDM-nya, sistem dan prosedurnya, dan…aspek-aspek manajemennya.

Malam harinya, di hotel, berkas-berkas itu saya bahas bersama Devi. Juga, menganalisa kelebihan dan kelemahannya. Cukup lama. Akhirnya kami berdua tertidur bersama karena terlalu capai.

Seminggu kemudian saya kembali ke kantor pusat untuk membuat laporan. Di kantor, saya dapat SMS dari Mellia, isteri saya, kabarnya, selama seminggu ini dia mendapat SMS gelap. SMS teror. Isinya sama, akan membunuh Mellia. Alasannya tidak jelas. hanya ancaman-ancaman saja.Semula, selama seminggu Mellia menganggap teror itu biasa-biasa saja dan tidak pernah diceritakan kepada saya.

Saya dan isteri saya dapat teror? Siapa kira-kira yang melakukan SMS gelap dari tempat yang gelap itu? Semakin banyak yang saya curigai. Bisa Pak Ronald, Bisa Devi, bisa juga orang dari unit-unit lain yang pernah saya audit. Bisa juga dari unit di Yogyakarta yang baru saya audit dan kebetulan saya menemukan indikator-indikator korupsi.

Masalah korupsi memang sudah merajalela di Indonesia ini. Agama hanya dijadikan ritual biasa-biasa saja. Agama dipelajari hanya kulit-kulitnya saja. Harta benda dan uang telah membutakan hati nurani banyak orang.

Siang itu saya bekerja seperti biasa. Karena ada bahan-bahan yang saya perlukan, saya tugaskan ke Devi untuk meminjam berkas tertentu ke Bu Sandra. Devipun segera menuju ke ruang kerja Bu Sandra.Tak lama kemudian, Devi sudah meletakkan berkas itu di meja saya.

Pikiran saya saat itu kacau. Di satu pihak, masalah SMS gelap untuk saya dan isteri saya. Di pihak lain, selama di Yogyakarta saya terjebak melayani nafsu seks Devi. Oh, betapa kacaunya hidup saya akhir-akhir ini.

Ketika saya membuka berkas-berkas dari Bu Sandra, tiba-tiba terselip SIM Card HP. Diam-diam saya ambil. Diam-diam saya buka HP saya, dan saya masukkan ke HP saya yang bisa GSM dan bisa CDMA itu. Saya catat nomor HP yang ada di SIM Card itu. Kemudian saya pang lagi SIM Card saya sendiri. Iseng-iseng saya cocokkan ke beberapa nomor SMS gelap yang pernah saya catat,

“Oh, Tuhan……Ternyata nomor itu cocok dengan salah satu nomor dari SMS gelap itu. Mungkinkan Bu Sandra pelakunya? Jika,ya…apa motivasinya? Hal itupun saya laporkan ke pihak kepolisian. Pihak kepolisianpun segera melakukan penyelidikan. Pak Ronald, Bu Sandra, Devi dan semua karyawan yang ada di unit itu, semuanya ada 50 orang, diperiksa satu persatu untuk dimintai keterangannya.

Singkat cerita. Hasil penyelidikan kepolisian, menunjukkan bahwa SIM Card itu bukan milik Bu Sandra, tetapi milik Devi yang diselipkan ke berkas Bu Sandra. Kenapa? Supaya saya mencurigai Bu Sandra. Kenapa, karena Devi sangat cemburu jika saya terlalu dekat berhubungan dengan Sandra. Kenapa isteri saya diteror? Untuk mengalihkan perhatian saja. Apa motivasi Devi menjebak saya di Hotel di Yogyakarta? Ternyata, itu atas perintah Pak Ronald. Apa motivasinya? Karena saya berselingkuh dengan Devi, maka ada alasan Pak Ronald untuk memecat saya. Kenapa saya harus dipecat? Karena….saya mengetahu adanya korupsi yang dilakukan Pak Ronald. Jumlah total sekitar Rp 5 M.

Akhirnya, Pak Ronald masuk ke LP. Penggantinya cukup bijaksana. Surat pemecatan terhadap saya yang dibuat Pak Ronald dibatalkan. Lantas, bagaimana dengan Devi? Dia telah meminta maaf atas SMS-SMS gelap itu. Meskipun demikian, Devi oleh pihak kepolisian dijebloskan ke LP juga.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN : Patah Hati Bukanlah Kiamat

YOGYAKARTA. Waktu itu saya sekolah di salah satu SMA di Kota Gudeg. Kos di kawasan Lobaningratan. Di tempat kos ini ada 10 kamar dan semuanya mahasiswa. Hanya saya yang masih di SMA kelas tiga.

“Hai…! Melamun saja,nih…” agak terkejut ketika tiba-tiba Mirna Stella muncul di depan kamar saya. Kebetulan pagi itu hari Minggu.

“Oh,masuk Mirna…..” saya persilahkan dia masuk dan duduk.

“Ke mana acara kita hari ini? “ seperti biasa saya menanyakan acara. Hari itu Mirna mengenakan gaun ungu muda dan celana ketat hitam serta sepatu hak tinggi. Rambut pendek dan bulu mata lentik. Dia sekolah di SMA swasta dan tinggal di Asrama  Putri Stella Duce. Saya mengenalnya secara tak sengaja sewaktu sama-sama akan membeli baju batik di sebuah toko di Jl.Malioboro.

“Terserahlah. Yang punya motor kan Harry,” ujar Mirna yang cantik itu. Sudah satu tahun dia menjadi pacar saya. Sayapun segera meninggalkan kamar dan bersama Mirna menuju motor yang saya parkir di depan. Diapun langsung duduk diboncengan.

Motor segera menuju ke…saya belum tahu mau ke mana.

“Kemana kita?” saya tanya lagi.

“Terserahlah, yang penting kita nikmati hari Minggu ini…”

“Ke Pantai Samas,ya?”

“Oke…”

Motorpun melaju ke Samas. Sepanjang perjalanan ngobrol-ngobrol dan becanda. Sebentar-sebentar tertawa. Masa muda memang masa yang sangat menyenangkan. Apalagi punya pacar cantik dan tidak “neko-neko”. Dia menerima saya apa adanya. Walaupun dia cantik, tetapi tidak sombong. Temannya banyak.

Akhirnya, sampailah ke Pantai Samas. Pantai yang sebenarnya biasa-biasa saja. Namun pantai yang bersih. Suara debur ombak membuat suasana menjadi benar-benar mendebarkan. Saya dan Mirna melepas sepatu, kemudian main-main di air pantai.

“Mas…jangan ketengah-tengah…!” teriak orang-orang yang ada di pantai. Saat itu memang banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang. Pantai Samas yang terletak di Jawa Selatan memang bukanlah pantai yang landai, sebab sekitar 50 meter dari pantai, merupakan lantai yang terjal yang dalamnya minimal 100 meter. Lebih jauh lagi, ribuan meter dalamnya. Sudah banyak wisatawan terseret ombak dan tak pernah kembali lagi untuk selama-lamanya. Saya dan Mirnapun kembali ke pantai, takut kalau terseret ombak.

Seperti biasa, kami berdua saling berfoto bersama menggunakan kamera otomatis. Berfoto di pantai, di kedai, di bawah pohon kelapa dan di mana-mana. Hari itu merupakan hari yang terindah namun juga sekaligus hari yang paling hitam pekat.

Ternyata, di pantai itu Mirna bertemu dengan pacar lamanya yang selama ini sekolah di Jerman dan hari itu merupakan hari libur sekolahnya. Mirnapun bicara-bicara dengan Eric, begitu nama cowok itu. Panas juga hati saya.

Untunglah Mirna mengerti perasaan saya. Mirnapun mendekati saya dan mengajak pindah ke tempat rekreasi lain. Motorpun meluncur menuju ke pantai Parangtritis. Pantai yang konon tempat munculnya Nyi Roro Kidul. Katanya lagi, para wisatawan dilarang memakai baju berwarna biru atau hijau karena itu merupakan warna kesayangan Nyi Roro Kidul. Siapa yang memakai baju warna itu, sudah pasti akan diseret ombak untuk dibawa ke keraton milik Nyi Roro Kidul.

Namun saya tak menyangka bahwa pertemuan itu merupakan pertemuan terakhir dengan Mirna. Dalam arti, Mirna menyatakan ingin kembali ke Eric.

“Harry….Jangan marah,ya. Boleh tidak Mirna kembali ke Eric?” begitu tanyanya sewaktu telah tiba di kamar kos saya. Betapa susah untuk menjawabnya. Sebab, selama ini saya benar-benar mencintai Mirna.

Namun, karena lingkungan saya mahasiswa dan saya sering berdiskusi dengan mereka soal cinta, maka banyak pelajaran yang saya petik. Artinya, apakah saya sebagai seorang cowok harus menangis hanya gara-gara cewek? Apalagi dia tidak 100% mencintai saya? Haruskah saya mengatakan tidak boleh dia kembali ke Eric, padahal dia masih menyimpan cinta kepada Eric?

“Patah hati bukanlah kiamat…,” begitu kata Mas Bathara teman satu kos saya. Dia mahasiswa Fakultas Filsafat, UGM. Banyak filsafat-filsafatnya yang membuat wawasan berpikir saya cukup luas. Banyak pandangan-pandangan hidup yang patut saya hargai.

“Bagaimana, Harry?” kata Mirna setengah mendesak.

“Hmmm, tolong saya beri waktu berpikir sekitar lima menit……” begitu jawab saya dan sambil terus menimbang-nimbang. Sementara itu Mirna duduk tenang di kursi yang ada di kamar kos saya sambil membuka-buka majalah yang tadi baru saya beli.

Akhirnya, dengan berat sayapun mengambil keputusan.

“Mirna….Kalau Mirna ingin kembali ke Eric, kembalilah. Saya tidak ingin merusak kebahagiaan Mirna dengan dia. Semoga berbahagia. Kita bersahabat saja…’” itulah kalimat yang saya ucapkan. Mirnapun berdiri, sayapun berdiri. Mirna  langsung memeluk saya sambil menangis di dekapan saya.

“Terima kasih, Harry….,” dia memandang saya. Cukup lama kami saling berpandangan. Akhirnya kami saling berciuman. Cukup lama. Itulah ciuman terakhir saya untuk Mirna. Tak lama kemudian, sambil menyeka air matanya menggunakan sapu tangan, Mirnapun pamit untuk pulang.

Saya mengantarkannya sampai ke jalan raya. Tak lama kemudian Mirna naik becak dan melambai-lambaikan tangannya. Saya pandangi becak itu dengan pandangan sedih. Hancur rasanya hati ini. Tapi, apa boleh buat. Tak lama kemudian becak hilang dari pandangan saya. Sayapun kembali ke tempat kos.

Sampai di kamar, langsung saya rebahkan tubuh di tempat tidur. Sejuta perasaan menyatu di dalam pikiran dan perasaan saya. Galau, kecewa, putus asa, menyesal dan perasaan lainnya.

Namun, saya kembali ingat filsafat-filsafat yang pernah diberikan oleh Mas Batahara. Antara lain, saya boleh saja cinta kepada seseorang cewek, tapi jangan sampai 100%. Sebab, jika putus, maka kehancuran hati saya juga akan mencapai angka 100%. Lagipula, cewek di Yogya ini banyak, sangat banyak dan yang cantik juga banyak. Anggap saja Mirna bukan jodoh saya. Cinta memang tak bisa dipaksakan. Boleh saja saya dan Mirna saling cinta, tetapi cinta belum tentu saling memiliki.

Boleh saja saya tak punya pacar lagi, tapi saya yakin suatu saat nanti saya akan punya pacar lagi. Yang penting, jangan sampai sekolah saya berantakan. Apalagi, kedua orang tua saya yang ada di Semarang selalu berpesan agar saya setelah lulus SMA supaya meneruskan ke fakultas kedokteran. Maklum ,kedua orang tua saya menginginkan saya jadi seorang dokter.

Yah, saya sadar. Saya ingin membahagiakan kedua orang tua saya. Demi kedua orang tua saya, saya akan memprioritaskan belajar, belajar dan belajar. Saya harus bisa melupakan Mirna. Betapapun sakitnya rasa hati ini, saya harus bisa melupakannya. “Patah hati, bukanlah kiamat”. Begitulah kalimat yang sering diucapkan Mas Bathara.

Hariyanto Imadha

Penulis Cerpen

Sejak 1973

CERPEN: Pak Kades Ternyata Mister Hombreng

PAK Kades sebetulnya bernama Pak Siloyono atau Pak Silo. Namun seperti biasa, masyarakat desa memanggil dengan sebutan Pak Kades seperti masyarakat desa-desa lainnya. Namun, ada sekelompok masyarakat menyebutnya secara diam-diam dengan sebutan Mister Hombreng. Lho, bagaimana ceritanya.

“Kok, bisa dikatakan Mister Hombreng ceritanya bagaimana, sih? “ tanya Tarjo ingin tahu. Saat itu mereka sedang ada di kebun menanam ubi.

“Ha ha ha…Suatu saat kamu akan tahu. rahasia…,” sahut Gimin yang juga sedang menanam ubi. Mereka memang punya bermacam-macam kebun dan bermacam-macam tanaman.

“Alaaaaa…..kasih tahu, dong. Saya penasaran juga,nih…,” Tukijopun ikut-ikutan memberi komentar sambil terus mencangkul tanah yang sangat subur itu.

Namun Gimin tetap bertahan pada pendiriannya untuk tetap bungkam. Entah apa alasannya, tidak ada yang tahu. Mungkin juga Gimin takut dicari Pak Kades, atau mungkin juga Gimin sendiri belum yakin informasi yang diterimanya itu benar.

“Yang pasti, Pak Kades memang kurang peduli dengan masyarakat desa. Dia itu memikirkan diri sendiri dan kelompoknya. Bahkan, isterinyapun merangkap menjadi calo tanah dan calo bisnis…,” ucap Tukijo.

“Ya, iyalah. Bahkan banyak warga kita yang curiga atas kedupan mewah Pak Kades. masak, punya banyak motor baru. Istrinya dan keempat anaknya punya motor baru. Pak Kades sendiri punya mobil baru. Kalau dari gaji tidak mungkinlah…,” begitu komen Tarjo.

“Betul. Apalagi Pak Kades tidak punya perusahaan. Tidak punya PT, Firma, CV, koperasi atau bisnis informal. Patut curiga kita ini….,” sahut Gimin.

“Ho oh…Isterinya juga berpakaian mewah. Gelang emas, kalung emas….darimana asal uangnya?” komentar Tukijo.

“Oh, ya. Selama ini Pak Kades kan tidak pernah jelas soal anggaran ataupun soal keuangan desa…” kata Gimin.

“Iya. Tidak ada transparansi….,” tukas Tarjo.

Begitulah. Mereka bertiga terus bekerja di kebun sambil membicarakan Pak Kades yang dinilainya bermental korup tetapi sulit untuk membuktikan. Maklum, untuk membongkar kasus dugaan korupsi, masyarakat juga takut. Soalnya, Pak Kades merupakan guru silat dan sekitar 50 persen warga merupakan muridnya. Bisa jadi, kalau dibongkar, bisa terjadi tawuran antarwarga sendiri. Akan terjadi “perang saudara”.

Esoknya, Tarjo dan Tukijo tidak berkebun. Kebetulan hari Minggu. Mereka berdua bersepeda menunju ke tempat pemancingan. Kebetulan mereka punya hobi mancing.

Sambil memacing, merekapun ngobrol ngalor-ngidul.

“Oh, ya…bagaimana soal yang kemarin?” Tarjo memulai pembicaraan.

“Soal apa,tuh?” Tukijo memandang Tarjo dengan wajah ingin tahu.

“Soal istilah hombreng itu,lho. Apa artinya?” dengan nada agak keras Tarjopun menjawab.

“Oh, itu. Semalam saya ngobrol-ngobrol sama istri saya, katanya hombreng itu artinya homo…homoseks….,” Tukijo menerangkan sambil sedikit tersenyum.

“Oooh, itu? Masak, sih. Kalau itu benar, siapa dong teman homonya?” Tarjo penasaran.

“Itulah yang perlu kita cari…,” singkat jawab Tukijo.

“Bagaimana kalau mulai hari ini kita melakukan penyelidikan?” ajak Tarjo.

“Wow…Setuju. Tapi hati-hati, jangan sampai ketahuan para pendukung Pak Kades. bahaya…!” pesan Tukijo.

Begitulah, dari hari ke hari, Tarjo dan Tukijo melakukan penyelidikan. Caranya, memancing informasi dari berbagai warga di desa itu. Semuanya tampak bungkam atau memang tidak tahu. Tentu iitu membuat Tarjo dan Tukijo agak kesulitan.

“Wah, tampaknya warga desa kita takut berbicara kalau menyangkut Pak Kades. Bagaimana kalau kita ke kota?” usul Tarjo.

“Ngapain?”

“Kita ke warnet. Untuk mencari informasi ciri-ciri manusia hombreng…”

“Oh, ide yang bagus. Setuju…” sambut Tukijo bersemangat.

Tanpa diikuti Gimin, maka Tarjo dan Tukijopun menuju ke kota dengan naik ojek. Mereka, walaupun orang desa, tidak begitu ketinggalan soal internet. Maklum, mereka berdua baru saja lulus SMA di kota. Berhubung belum ada uang cukup, mereka belum mampu meneruskan ke perguruan tinggi.

Mereka berduapun segera memasuki salah satu internet dan melakukan surfing, browsing atau lebih tepat melakukan Googling. Dengan berganti-ganti keyword atau kata kunci mereka asyik mencari informasi. Tarjo dan Tukijo masing-masing menghadapi satu komputer.

“Nah, saya sudah menemukannya. saya catat dulu…..” Tarjo berteriak kecil karena telah menemukan apa yang dicari. Diapun mencatatnya di selembar kertas. Tak lama kemudian mereka berduapun selesai ngenet. Mereka keluar meninggalkan warnet. Sambil menunggu angkot lewat, merekapun membahas hasil temuannya.

“Bagaimana tuh ciri-cirinya?” Tukijo penasaran ingin tahu.

“Nih, ciricirinya. Suka berpakaian sangat rapi, melebihi wanita. Selalu tertarik aktivitas yang biasa dilakukan wanita, misalnya arisan, ngrumpi ataupun curhat. Bicaranya lembut atau terlalu santun. Rata-rata badannya tegap atau macho. Biasanya juga berwajah ganteng. Agak mudah tersinggung…….” Tarjopun membaca catatannya sampai tuntas.

“Wah, kok semua ciri-ciri itu dimiliki Pak Kades,ya? saya mulai yakin kalau Pak Kades memang hombreng atau gay atau semacamnya. Cuma pertanyaannya, dengan siapa dia bermain?” tanya Tukijo.

“Itulah tugas kita berdua untuk menyelidikinya…,” jawab Tarjo bernada usul.

“Boleh….Saya semakin penasaran saja……”

Begitulah, tiap hari Tarjo dan Tukijo mempelajari situasi di kantor kades dari kejauhan atau dengan cara mencari informasi dari masyarakat. Satu informasi yang bisa dijadikan petunjuk awal adalah, tiap malam Minggu Pak Kades sering ke kota berdua dan Pak Kades sendiri yang setir mobil. Cuma, dengan siapa itu yang membuat Tarjo dan Tukijo penasaran.

Mereka berduapun siaga untuk memata-matai mobil Pak Kades yang biasanya berangkat senja hari menjelang malam Minggu. Dengan mencarter ojek, mereka berdua akhirnya berhasil mengikuti mobil Pak Kades dengan jarak sekitar 500 meter di belakang mobil.

Sampai ke kota, Tarjo dan Tukijo kehilangan jejak gara-gara terkena lampu merah lalu lintas.

“Wah…..Tampaknya gagal kita hari ini…..” Tarjo mengeluh hampir putus asa.

“Jangan putus asa…Mari kita keluar masuk halaman hotel untuk mencari mobilnya….” usul Tukijo yang cukup masuk akal.

“Oke! Usul yang bagus…”

Mereka berduapun berkeliling kota dari hotel ke hotel. Sudah satu jam mereka melakukan iitu, namun belum berhasil juga. Bahkan, ketika semua hotel dikunjungi, ternyata juga tidak ada hasilnya.

“Siapa tahu ke salah satu vila di pegunungan?” kali ini Tarjo yang punya ide.

“Boleh…..” sambut Tukijo. Merekap[un langsung menuju ke luar kota ke pegunungan yang jaraknya sekitar dua kilometer.

Usaha mereka ternyata tidak sia-sia. Satu persatu mengamati vila-vila yang ada di lokasi tersebut. Akhirnya menemukan mobil Pak Kades diparkir di Vila Biru. Mereka berdua berhenti dan istirahat sebentar di tempat yang agak tersembunyi.

Setelah aman, Tarjo dan Tukijo berjalan mengendap mendekati rumah penjaga vila dan menanyakan Pak Kades bersama siapa. Kebetulan, penjaga vila itu juga berasal dari desa yang sama dengan Tarjo dan Tukijo.

Betapa terkejut ketika mendengar jawaban dari penjaga vila yang bernama Pak Benu itu.

“Oh, jadi…selama ini Pak Kades bermain dengan Pak Sekdes?” komentar Tarjo.

“Oh,..pantaslah. Pak Sekdes pakaiannya juga rapi. Ternyata kedua pesolek itu sama-sama hombreng…” Tukijo manggut-manggut.

Seminggu kemudian, Tarjo dan Tukijo mulai menyampaikan informasi itu ke warga secara hati-hati.Lama kelamaan semakin banyak warga yang percaya. Satu bulan kemudian warga desapun mulai punya rencana untuk membuktikan issue itu. Bahkan, para murid Pak Kadespun berbalik sikap.

Begitulah, beberapa malam Minggu berikutnya Pak Kades dan Pak Sekdes tertangkap basah sedang berhomoria di Vila Biru. Selanjutnya, masyarakat desa me”lengser”kan Pak Kades dan Pak Sekdes. Bahkan akhirnya mereka berdua dimasukkan ke LP karena kasus korupsi uang desa.

“Nah, lain kali jangan memilih calon kades yang pesolek!” pesan Tarjo dan Tukijo ke masyarakat desa Kumambang, Kabupaten Subayu, Jawa Barat.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger