CERPEN : Indahnya Cinta di Kampus UCLA

“Hai orang musyrik apakah kamu merasa lebih beruntung ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9.)

SAYA berteriak dan menari-nari kecil ketika bagian tata usaha fakultas filsafat memberi tahu bahwa permohonan bea siswa saya dikabulkan Fullbright Foundation, Amerika. Sayapun segera mengumpukan teman-teman satu angkatan di taman fakultas filsafat. Mereka saya traktir jajan sepuas-puasnya. Satu persatu mereka menyalami dan memberi ucapan atau ciuman selamat.

Tanpa banyak cingcong, beberapa hari kemudian setelah urusan visa, passport dan lain-lain urusan imigrasi selesai, sayapun segera terbang ke Los Angeles. Sampai di California saya sudah dijemput panitia penjemputan terdiri dari beberapa orang dari Fullbright.

Sayapun segera didrop ke asrama mahasiswa dan ada satu ruangan khusus buat saya. Setelah selesai mandi dan sarapan pagi, sayapun diantar ke kampus University of California, Los Angeles.

Wow, begitu tiba di depan kampus, saya kagum sekali. Kampus itu ternyata sangat besar, halamannya sangat luas, udaranya sangat sejuk dan nyaman. Terus terang, ini merupakan kedua kalinya saya mendapat bea siswa. Yang pertama dari fakultas sastra dan saya melanjutkan kuliah ke University of Sascatchewan, Kanada.

Sayapun diantar ke bagian registrasi sebagai mahasiswa baru. Sambutannya benar-benar ramah dan profesional. Tidak ada pungli. Bagi mahasiswa biasa, dikenakan SPP yang sangat murah, hanya sepersepuluhnya biaya kuliah di Indonesia. Pemerintah Indonesia kebanyakan utang sehingga tak mampu lagi memberikan subsidi untuk semua perguruan tinggi negeri.

Kemudian saya diberi kesempatan mengikuti masa perkenalan mahasiswa baru di aula Kampus UCLA. Di situ saya bisa bertemu dengan penerima bea siswa dari berbagai negara. Antara lain Jepang, Malaysia, Thailand, Australia dan lain-lain. Ada juga dua orang mahasiswa dari Universitas Airlangga yang bertemu saya di kampus itu.

Salah satu mahasiswi baru yang menarik perhatian saya namanya Marleen, dari Darwin Australia. Mahasiswi yang wajahnya mirip Demi More ini ternyata sangat akrab dengan saya. Dia banyak cerita tentang Bali.

-“O, saya sering ke Bali. Paling tidak tiga bulan sekali. Saya suka ke pantai Kuta, pantai Sanur, Pura Besakih dan objek wisata lainnya”. Begitu dia bercerita dengan menggunakan bahasa Indonesia yang cukup lancar.

Ternyata Marleen satu ruang kuliah dengan saya. Bahkan duduknya berdekatan. Tanpa terasa, hari demi hari Marleen telah menjadi sahabat baik saya. Tiap Minggu pasti kami berdua mengunjungi objek wisata. Antara lain ke High Sierra, Inland Empire, komplek Hollywood yang juga ada di Los Angeles, mengunjungi Gold Country, dan lain-lain.

-“Bagus sekali pemandangan di sini,”. Dia kagum melihat melihat keindahan panorama High Sierra. Saya juga mengatakan kagum. High Sierra memang merupakan pemandangan alam yang benar-benar alami dan nyaman.

Begitulah. Walaupun saya tak pernah menyatakan cinta dan demikian pula Marleen. Namun, apa yang kami lakukan adalah benar-benar berpacaran. Banyak foto kenangan yang tersimpan di album dengan rapi. Begitu pula kumpulan video dengan durasi yang singkat, baik sewaktu di kampus maupun di luar kampus.

Meskipun demikian kegiatan kampus bersama mahasiswa lain juga saya ikuti. Antara lain olah raga, berkemah, rekreasi, diskusi ilmiah atau kegiatan-kegiatan kampus lainnya.

Tanpa terasa, kami berdua telah diwisuda. Seusai diwisuda, baru kali itulah saya mengucapkan kata cinta.

–“I love you Marleen”

-“I love you,Harry”. Kami berdua kemudian berpelukan. Lantas, apa yang harus kami lakukan selanjutnya? Hanya pacaran saja? Tidak ada tindak lanjutnya? Akhirnya, saya memutuskan untuk melamar Marleen untuk menjadi istri.

Marleen tidak keberatan, namun dengan syarat, pernikahan harus di gereja secara Kristiani. Oh, Tuhan. Saya sebagai seorang muslim tentu tidak bisa menerima persyaratan seperti itu. Sampai beberapa hari belum ada perubahan sikap dari Marleen.

Akhirnya kami sepakat untuk tinggal bersama dulu di Bali selama satu tahun sambil mencari solusi. Nah, selama satu tahun di Bali itulah, saya kemukakan bahwa agama Islam tidak sesulit yang dibayangkan. Semua bisa dipelajari secara bertahap.

Sayapun mengajari Marleen shalat. Ternyata dalam waktu sepuluh hari sudah bisa melakukannya. Begitu juga untuk menulis dan membaca huruf Arab, saya memanggil guru privat untuk itu. Dalam waktu tiga bulan, Marleen sudah fasih membaca Al Quran.

Akhirnya, bulan berikutnya Marleen bersedia masuk Islam. Untunglah semua saudara-saudaranya dan kedua orang tuanya di Australia tidak ada yang keberatan. Mereka benar-benar keluarga yang demokratis.

Tanpa ada halangan yang berarti, dua bulan kemudian kami menikah secara Islam. Sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Apalagi, kami saling mencintai. Cinta yang bersemi di Kampus UCLA, akan kami pelihara bersama sampai kapanpun.

Sekarang, Marleen telah menjadi seorang muslimah, berkerudung, rajin shalat dan sering berdiskusi sekitar Al Quran dengan saya. Meskipun demikian, Marleen tetap bernama Marleen dan tidak mau mengubah namanya menjadi nama lain. Alasannya, tidak ada alasan yang kuat untuk mengganti nama.

Apa yang saya tulis di atas saya alami pada tahun 1980-1985. Insya Allah, tahun 2009 ini kami akan merayakan Tahun Baru ke Kampus UCLA sekaligus bernostalgia.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s