CERPEN: Pak Kades Ternyata Mister Hombreng

PAK Kades sebetulnya bernama Pak Siloyono atau Pak Silo. Namun seperti biasa, masyarakat desa memanggil dengan sebutan Pak Kades seperti masyarakat desa-desa lainnya. Namun, ada sekelompok masyarakat menyebutnya secara diam-diam dengan sebutan Mister Hombreng. Lho, bagaimana ceritanya.

“Kok, bisa dikatakan Mister Hombreng ceritanya bagaimana, sih? “ tanya Tarjo ingin tahu. Saat itu mereka sedang ada di kebun menanam ubi.

“Ha ha ha…Suatu saat kamu akan tahu. rahasia…,” sahut Gimin yang juga sedang menanam ubi. Mereka memang punya bermacam-macam kebun dan bermacam-macam tanaman.

“Alaaaaa…..kasih tahu, dong. Saya penasaran juga,nih…,” Tukijopun ikut-ikutan memberi komentar sambil terus mencangkul tanah yang sangat subur itu.

Namun Gimin tetap bertahan pada pendiriannya untuk tetap bungkam. Entah apa alasannya, tidak ada yang tahu. Mungkin juga Gimin takut dicari Pak Kades, atau mungkin juga Gimin sendiri belum yakin informasi yang diterimanya itu benar.

“Yang pasti, Pak Kades memang kurang peduli dengan masyarakat desa. Dia itu memikirkan diri sendiri dan kelompoknya. Bahkan, isterinyapun merangkap menjadi calo tanah dan calo bisnis…,” ucap Tukijo.

“Ya, iyalah. Bahkan banyak warga kita yang curiga atas kedupan mewah Pak Kades. masak, punya banyak motor baru. Istrinya dan keempat anaknya punya motor baru. Pak Kades sendiri punya mobil baru. Kalau dari gaji tidak mungkinlah…,” begitu komen Tarjo.

“Betul. Apalagi Pak Kades tidak punya perusahaan. Tidak punya PT, Firma, CV, koperasi atau bisnis informal. Patut curiga kita ini….,” sahut Gimin.

“Ho oh…Isterinya juga berpakaian mewah. Gelang emas, kalung emas….darimana asal uangnya?” komentar Tukijo.

“Oh, ya. Selama ini Pak Kades kan tidak pernah jelas soal anggaran ataupun soal keuangan desa…” kata Gimin.

“Iya. Tidak ada transparansi….,” tukas Tarjo.

Begitulah. Mereka bertiga terus bekerja di kebun sambil membicarakan Pak Kades yang dinilainya bermental korup tetapi sulit untuk membuktikan. Maklum, untuk membongkar kasus dugaan korupsi, masyarakat juga takut. Soalnya, Pak Kades merupakan guru silat dan sekitar 50 persen warga merupakan muridnya. Bisa jadi, kalau dibongkar, bisa terjadi tawuran antarwarga sendiri. Akan terjadi “perang saudara”.

Esoknya, Tarjo dan Tukijo tidak berkebun. Kebetulan hari Minggu. Mereka berdua bersepeda menunju ke tempat pemancingan. Kebetulan mereka punya hobi mancing.

Sambil memacing, merekapun ngobrol ngalor-ngidul.

“Oh, ya…bagaimana soal yang kemarin?” Tarjo memulai pembicaraan.

“Soal apa,tuh?” Tukijo memandang Tarjo dengan wajah ingin tahu.

“Soal istilah hombreng itu,lho. Apa artinya?” dengan nada agak keras Tarjopun menjawab.

“Oh, itu. Semalam saya ngobrol-ngobrol sama istri saya, katanya hombreng itu artinya homo…homoseks….,” Tukijo menerangkan sambil sedikit tersenyum.

“Oooh, itu? Masak, sih. Kalau itu benar, siapa dong teman homonya?” Tarjo penasaran.

“Itulah yang perlu kita cari…,” singkat jawab Tukijo.

“Bagaimana kalau mulai hari ini kita melakukan penyelidikan?” ajak Tarjo.

“Wow…Setuju. Tapi hati-hati, jangan sampai ketahuan para pendukung Pak Kades. bahaya…!” pesan Tukijo.

Begitulah, dari hari ke hari, Tarjo dan Tukijo melakukan penyelidikan. Caranya, memancing informasi dari berbagai warga di desa itu. Semuanya tampak bungkam atau memang tidak tahu. Tentu iitu membuat Tarjo dan Tukijo agak kesulitan.

“Wah, tampaknya warga desa kita takut berbicara kalau menyangkut Pak Kades. Bagaimana kalau kita ke kota?” usul Tarjo.

“Ngapain?”

“Kita ke warnet. Untuk mencari informasi ciri-ciri manusia hombreng…”

“Oh, ide yang bagus. Setuju…” sambut Tukijo bersemangat.

Tanpa diikuti Gimin, maka Tarjo dan Tukijopun menuju ke kota dengan naik ojek. Mereka, walaupun orang desa, tidak begitu ketinggalan soal internet. Maklum, mereka berdua baru saja lulus SMA di kota. Berhubung belum ada uang cukup, mereka belum mampu meneruskan ke perguruan tinggi.

Mereka berduapun segera memasuki salah satu internet dan melakukan surfing, browsing atau lebih tepat melakukan Googling. Dengan berganti-ganti keyword atau kata kunci mereka asyik mencari informasi. Tarjo dan Tukijo masing-masing menghadapi satu komputer.

“Nah, saya sudah menemukannya. saya catat dulu…..” Tarjo berteriak kecil karena telah menemukan apa yang dicari. Diapun mencatatnya di selembar kertas. Tak lama kemudian mereka berduapun selesai ngenet. Mereka keluar meninggalkan warnet. Sambil menunggu angkot lewat, merekapun membahas hasil temuannya.

“Bagaimana tuh ciri-cirinya?” Tukijo penasaran ingin tahu.

“Nih, ciricirinya. Suka berpakaian sangat rapi, melebihi wanita. Selalu tertarik aktivitas yang biasa dilakukan wanita, misalnya arisan, ngrumpi ataupun curhat. Bicaranya lembut atau terlalu santun. Rata-rata badannya tegap atau macho. Biasanya juga berwajah ganteng. Agak mudah tersinggung…….” Tarjopun membaca catatannya sampai tuntas.

“Wah, kok semua ciri-ciri itu dimiliki Pak Kades,ya? saya mulai yakin kalau Pak Kades memang hombreng atau gay atau semacamnya. Cuma pertanyaannya, dengan siapa dia bermain?” tanya Tukijo.

“Itulah tugas kita berdua untuk menyelidikinya…,” jawab Tarjo bernada usul.

“Boleh….Saya semakin penasaran saja……”

Begitulah, tiap hari Tarjo dan Tukijo mempelajari situasi di kantor kades dari kejauhan atau dengan cara mencari informasi dari masyarakat. Satu informasi yang bisa dijadikan petunjuk awal adalah, tiap malam Minggu Pak Kades sering ke kota berdua dan Pak Kades sendiri yang setir mobil. Cuma, dengan siapa itu yang membuat Tarjo dan Tukijo penasaran.

Mereka berduapun siaga untuk memata-matai mobil Pak Kades yang biasanya berangkat senja hari menjelang malam Minggu. Dengan mencarter ojek, mereka berdua akhirnya berhasil mengikuti mobil Pak Kades dengan jarak sekitar 500 meter di belakang mobil.

Sampai ke kota, Tarjo dan Tukijo kehilangan jejak gara-gara terkena lampu merah lalu lintas.

“Wah…..Tampaknya gagal kita hari ini…..” Tarjo mengeluh hampir putus asa.

“Jangan putus asa…Mari kita keluar masuk halaman hotel untuk mencari mobilnya….” usul Tukijo yang cukup masuk akal.

“Oke! Usul yang bagus…”

Mereka berduapun berkeliling kota dari hotel ke hotel. Sudah satu jam mereka melakukan iitu, namun belum berhasil juga. Bahkan, ketika semua hotel dikunjungi, ternyata juga tidak ada hasilnya.

“Siapa tahu ke salah satu vila di pegunungan?” kali ini Tarjo yang punya ide.

“Boleh…..” sambut Tukijo. Merekap[un langsung menuju ke luar kota ke pegunungan yang jaraknya sekitar dua kilometer.

Usaha mereka ternyata tidak sia-sia. Satu persatu mengamati vila-vila yang ada di lokasi tersebut. Akhirnya menemukan mobil Pak Kades diparkir di Vila Biru. Mereka berdua berhenti dan istirahat sebentar di tempat yang agak tersembunyi.

Setelah aman, Tarjo dan Tukijo berjalan mengendap mendekati rumah penjaga vila dan menanyakan Pak Kades bersama siapa. Kebetulan, penjaga vila itu juga berasal dari desa yang sama dengan Tarjo dan Tukijo.

Betapa terkejut ketika mendengar jawaban dari penjaga vila yang bernama Pak Benu itu.

“Oh, jadi…selama ini Pak Kades bermain dengan Pak Sekdes?” komentar Tarjo.

“Oh,..pantaslah. Pak Sekdes pakaiannya juga rapi. Ternyata kedua pesolek itu sama-sama hombreng…” Tukijo manggut-manggut.

Seminggu kemudian, Tarjo dan Tukijo mulai menyampaikan informasi itu ke warga secara hati-hati.Lama kelamaan semakin banyak warga yang percaya. Satu bulan kemudian warga desapun mulai punya rencana untuk membuktikan issue itu. Bahkan, para murid Pak Kadespun berbalik sikap.

Begitulah, beberapa malam Minggu berikutnya Pak Kades dan Pak Sekdes tertangkap basah sedang berhomoria di Vila Biru. Selanjutnya, masyarakat desa me”lengser”kan Pak Kades dan Pak Sekdes. Bahkan akhirnya mereka berdua dimasukkan ke LP karena kasus korupsi uang desa.

“Nah, lain kali jangan memilih calon kades yang pesolek!” pesan Tarjo dan Tukijo ke masyarakat desa Kumambang, Kabupaten Subayu, Jawa Barat.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: