CERPEN : Patah Hati Bukanlah Kiamat

YOGYAKARTA. Waktu itu saya sekolah di salah satu SMA di Kota Gudeg. Kos di kawasan Lobaningratan. Di tempat kos ini ada 10 kamar dan semuanya mahasiswa. Hanya saya yang masih di SMA kelas tiga.

“Hai…! Melamun saja,nih…” agak terkejut ketika tiba-tiba Mirna Stella muncul di depan kamar saya. Kebetulan pagi itu hari Minggu.

“Oh,masuk Mirna…..” saya persilahkan dia masuk dan duduk.

“Ke mana acara kita hari ini? “ seperti biasa saya menanyakan acara. Hari itu Mirna mengenakan gaun ungu muda dan celana ketat hitam serta sepatu hak tinggi. Rambut pendek dan bulu mata lentik. Dia sekolah di SMA swasta dan tinggal di Asrama  Putri Stella Duce. Saya mengenalnya secara tak sengaja sewaktu sama-sama akan membeli baju batik di sebuah toko di Jl.Malioboro.

“Terserahlah. Yang punya motor kan Harry,” ujar Mirna yang cantik itu. Sudah satu tahun dia menjadi pacar saya. Sayapun segera meninggalkan kamar dan bersama Mirna menuju motor yang saya parkir di depan. Diapun langsung duduk diboncengan.

Motor segera menuju ke…saya belum tahu mau ke mana.

“Kemana kita?” saya tanya lagi.

“Terserahlah, yang penting kita nikmati hari Minggu ini…”

“Ke Pantai Samas,ya?”

“Oke…”

Motorpun melaju ke Samas. Sepanjang perjalanan ngobrol-ngobrol dan becanda. Sebentar-sebentar tertawa. Masa muda memang masa yang sangat menyenangkan. Apalagi punya pacar cantik dan tidak “neko-neko”. Dia menerima saya apa adanya. Walaupun dia cantik, tetapi tidak sombong. Temannya banyak.

Akhirnya, sampailah ke Pantai Samas. Pantai yang sebenarnya biasa-biasa saja. Namun pantai yang bersih. Suara debur ombak membuat suasana menjadi benar-benar mendebarkan. Saya dan Mirna melepas sepatu, kemudian main-main di air pantai.

“Mas…jangan ketengah-tengah…!” teriak orang-orang yang ada di pantai. Saat itu memang banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang. Pantai Samas yang terletak di Jawa Selatan memang bukanlah pantai yang landai, sebab sekitar 50 meter dari pantai, merupakan lantai yang terjal yang dalamnya minimal 100 meter. Lebih jauh lagi, ribuan meter dalamnya. Sudah banyak wisatawan terseret ombak dan tak pernah kembali lagi untuk selama-lamanya. Saya dan Mirnapun kembali ke pantai, takut kalau terseret ombak.

Seperti biasa, kami berdua saling berfoto bersama menggunakan kamera otomatis. Berfoto di pantai, di kedai, di bawah pohon kelapa dan di mana-mana. Hari itu merupakan hari yang terindah namun juga sekaligus hari yang paling hitam pekat.

Ternyata, di pantai itu Mirna bertemu dengan pacar lamanya yang selama ini sekolah di Jerman dan hari itu merupakan hari libur sekolahnya. Mirnapun bicara-bicara dengan Eric, begitu nama cowok itu. Panas juga hati saya.

Untunglah Mirna mengerti perasaan saya. Mirnapun mendekati saya dan mengajak pindah ke tempat rekreasi lain. Motorpun meluncur menuju ke pantai Parangtritis. Pantai yang konon tempat munculnya Nyi Roro Kidul. Katanya lagi, para wisatawan dilarang memakai baju berwarna biru atau hijau karena itu merupakan warna kesayangan Nyi Roro Kidul. Siapa yang memakai baju warna itu, sudah pasti akan diseret ombak untuk dibawa ke keraton milik Nyi Roro Kidul.

Namun saya tak menyangka bahwa pertemuan itu merupakan pertemuan terakhir dengan Mirna. Dalam arti, Mirna menyatakan ingin kembali ke Eric.

“Harry….Jangan marah,ya. Boleh tidak Mirna kembali ke Eric?” begitu tanyanya sewaktu telah tiba di kamar kos saya. Betapa susah untuk menjawabnya. Sebab, selama ini saya benar-benar mencintai Mirna.

Namun, karena lingkungan saya mahasiswa dan saya sering berdiskusi dengan mereka soal cinta, maka banyak pelajaran yang saya petik. Artinya, apakah saya sebagai seorang cowok harus menangis hanya gara-gara cewek? Apalagi dia tidak 100% mencintai saya? Haruskah saya mengatakan tidak boleh dia kembali ke Eric, padahal dia masih menyimpan cinta kepada Eric?

“Patah hati bukanlah kiamat…,” begitu kata Mas Bathara teman satu kos saya. Dia mahasiswa Fakultas Filsafat, UGM. Banyak filsafat-filsafatnya yang membuat wawasan berpikir saya cukup luas. Banyak pandangan-pandangan hidup yang patut saya hargai.

“Bagaimana, Harry?” kata Mirna setengah mendesak.

“Hmmm, tolong saya beri waktu berpikir sekitar lima menit……” begitu jawab saya dan sambil terus menimbang-nimbang. Sementara itu Mirna duduk tenang di kursi yang ada di kamar kos saya sambil membuka-buka majalah yang tadi baru saya beli.

Akhirnya, dengan berat sayapun mengambil keputusan.

“Mirna….Kalau Mirna ingin kembali ke Eric, kembalilah. Saya tidak ingin merusak kebahagiaan Mirna dengan dia. Semoga berbahagia. Kita bersahabat saja…’” itulah kalimat yang saya ucapkan. Mirnapun berdiri, sayapun berdiri. Mirna  langsung memeluk saya sambil menangis di dekapan saya.

“Terima kasih, Harry….,” dia memandang saya. Cukup lama kami saling berpandangan. Akhirnya kami saling berciuman. Cukup lama. Itulah ciuman terakhir saya untuk Mirna. Tak lama kemudian, sambil menyeka air matanya menggunakan sapu tangan, Mirnapun pamit untuk pulang.

Saya mengantarkannya sampai ke jalan raya. Tak lama kemudian Mirna naik becak dan melambai-lambaikan tangannya. Saya pandangi becak itu dengan pandangan sedih. Hancur rasanya hati ini. Tapi, apa boleh buat. Tak lama kemudian becak hilang dari pandangan saya. Sayapun kembali ke tempat kos.

Sampai di kamar, langsung saya rebahkan tubuh di tempat tidur. Sejuta perasaan menyatu di dalam pikiran dan perasaan saya. Galau, kecewa, putus asa, menyesal dan perasaan lainnya.

Namun, saya kembali ingat filsafat-filsafat yang pernah diberikan oleh Mas Batahara. Antara lain, saya boleh saja cinta kepada seseorang cewek, tapi jangan sampai 100%. Sebab, jika putus, maka kehancuran hati saya juga akan mencapai angka 100%. Lagipula, cewek di Yogya ini banyak, sangat banyak dan yang cantik juga banyak. Anggap saja Mirna bukan jodoh saya. Cinta memang tak bisa dipaksakan. Boleh saja saya dan Mirna saling cinta, tetapi cinta belum tentu saling memiliki.

Boleh saja saya tak punya pacar lagi, tapi saya yakin suatu saat nanti saya akan punya pacar lagi. Yang penting, jangan sampai sekolah saya berantakan. Apalagi, kedua orang tua saya yang ada di Semarang selalu berpesan agar saya setelah lulus SMA supaya meneruskan ke fakultas kedokteran. Maklum ,kedua orang tua saya menginginkan saya jadi seorang dokter.

Yah, saya sadar. Saya ingin membahagiakan kedua orang tua saya. Demi kedua orang tua saya, saya akan memprioritaskan belajar, belajar dan belajar. Saya harus bisa melupakan Mirna. Betapapun sakitnya rasa hati ini, saya harus bisa melupakannya. “Patah hati, bukanlah kiamat”. Begitulah kalimat yang sering diucapkan Mas Bathara.

Hariyanto Imadha

Penulis Cerpen

Sejak 1973

Satu Tanggapan

  1. wah .. aq terharu dgn cerita cinta ini.. aq salut banget dgn perjuangan ketabahan tuh mas yg di tinggalin pacar .. gak spt aq yg dulu hancur gara gara cinta .. akibatnya nih sampe tuwa jd orang yg gagal .. astagfirrulloh

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: