CERPEN: SMS Gelap dari Tempat yang Gelap

 

SAYA bekerja pada salah satu BUMN yang berada di Jakarta. Jabatan saya sebagai staf ahli. Jadi, setara pejabat fungsional. Tugas saya sama dengan konsultan manajemen, yaitu membenahi unit-unit BUMN tersebut yang saya nilai kurang efektif dan efisien. Sebagai sarjana manajemen (S2), tentu bidang itu merupakan kompetensi saya.

Satu persatu unit-unit di BUMN itu saya benahi. Mungkin sudah sepuluh unit. Namun, akhir-akhir ini sering masuk SMS gelap. Isinya macam-macam. Namun sebagian besar merupakan teror. Mengancam akan membunuh saya. Tapai kalau saya tanya lewat SMS, apa alasannya akan membunuh saya, SMS saya tidak dijawab. Kalau saya hubungi via suara, HP-nya malahan dimatikan. Lebih parah lagi, nomor HP-nya selalu berganti-ganti.

 

Mula-mula saya tidak begitu peduli. Namun, suatu saat ketika saya pulang kantor mengendarai mobil, tiba-tiba di sebelah kanan meluncur sepeda motor dan dua penumpang. Tiba-tiba dua batu sebesar kepalan tangan dilempar ke kaca mobil saya. Pecah. Merekapun kabur. Kejadian itu sudah saya laporkan ke atasan saya dan polisi setempat. Sayang, saya tidak tahu nomor polisinya. Yang pasti mereka naik motor Honda Revo. Juga, SMS-SMS ancaman yang belum saya hapus juga saya laporkan ke polisi.

 

Sampai di rumah saya di Cinere, sehabis mandi sore, saya mulai berpikir, kira-kira apa motivasinya mereka. Soal cewek? Kemungkinannya kecil. Soal jabatan? Ada kemungkininan iri soal jabatan. Tapi, siapa? Atau barangkali soal korupsi? Korupsi di unit yang mana? Rasa-rasanya kok belum ada petunjuk yang kuat. Apalagi SMS gelap yang dikirim dari tempat yang gelap itu tak pernah menyebutkan alasannya.

“Bagaimana, Harry? Sudah mengetahui motivasi mereka?” tanya Bu Sandra yang satu kantor dengan saya. Beliau masuk bersama-sama dengan saya. Berhubung dia sudah punya anak, saya memanggilnya “Bu”, walaupun usianya lebih muda daripada usia saya.

“Belum, Bu….” singkat saja jawaban saya.

“Tidak ada masalah pribadi di luar urusan kantor?”

“Rasa-rasanya saya tidak punya musuh, Bu…”

“Wah, agak susah ya kalau begitu. Kira-kira ada yang dicurigai?”

“Hmmm,…sampai hari ini belum ada. Saya pastikan belum ada. Percakapan itu percakapan lewat intercom. Maklum, satu staf ahli mempunyai kamar masing-masing dan dibantu seorang sekretaris.

“Hallo, Mas Harry. Bagaimana soal SMS gelap itu?” tiba-tiba intercom dari Pak Djatno berbunyi. Saya angkat. Kemudian mengobrol sebentar.

“Mungkin ada hubungannya dengan sekretaris Mas Harry. Dia kan cantik dan masih single. Banyak cowok BUMN yang naksir dia…” itu pendapat Pak Djatno.

“Hmmm, bisa juga. Kemungkinan itu ada. Tapi, siapa ya kira-kira? Mungkin motivasinya cemburu? Padahal sih, saya sama Devi biasa-biasa saja,” saya katakan hal itu ke Pak Djatno. Kebetulan, hari itu Devi tidak masuk karena sakit.

Begitulah. Hampir tiap hari saya pasti menerima SMS gelap dari tempat yang gelap. Minimal dua kali sehari. Isinya hampir sama, yaitu supaya bersikap hati-hati karena saya akan dBunuh. Betul-betul membuat saya gelisah. Meskipun demikian saya tetap berusaha tenang. Yang pasti soal SMS gelap itu saya sudah curhat ke semua teman-teman satu unit kantor.

Berbagai kemungkinan saya kumpulkan. Mulai dari dugaan adanya korupsi, soal Devi, atau barangkali ada masalah dengan Mellia, isteri saya? Atau barangkali ada yang iri soal jabatan saya? Ah…sangat banyak kemungkinannya. Tapi persentasenya belum signifikan. Sampai bulan ketiga ini belum ada petunjuk-petunjuk yang signifikan.

Esoknya, Devi, sekretaris saya, sudah masuk kerja seperti biasanya. Dia juga tahu masalah SMS gelap yang sering saya terima. Devipun hanya memberikan masukan berdasarkan kira-kira juga. Katanya, kalau tidak dari orang dalam, kemungkinan dari orang luar. Kalau orang dalam, kemungkinan iri soal jabatan. kalau orang luar, mungkin ada hubungannya dengan tetangga yang iri atau barangkali isteri saya ada yang memusuhinya. Ah….dasar SMS gelap. Sampai bulan ketiga tetap gelap.

Seminggu kemudian saya dan Devi dapat tugas meninjau salah satu unit BUMN tersebut yang ada di Yogyakarta. Kabarnya, manajemennya amburadul. Dengan naik pesawat, saya dan Devi langsung terbang ke Yogya.

Begitu tiba di Yogyakarta, langsung menuju Hotel Mutiara Utama yang ada di Jl. Malioboro. Pesan dua kamar. Sesudah istirahat sebentar, makan siang, kemudian menuju ke unit kantor tersebut hanya untuk memberitahu atau melapor dulu atas kedatangan saya. Surat tugas sayapun sudah diterima kepala unit tersebut. jadwalnya, besok saya dan Devi akan melakukan audit manajemen di unit tersebut.

Malam harinya, ketika saya akan tidur. Pintu kamar diketuk orang. Ketika saya buka, ternyata Devi.

“Ada apa?” tanya saya. saat itu saya mengenakan pakaian tidur. Dan Devi mengenakan kimono yang tipis sekali.

“Mau mengembalikan kamera digital Bapak…” diapun menyerahkan kamera digital saya yang dipinjamnya.

“Oh, ya…Terima kasih…” saya terima kamera itu. Devipun permisi mau kembali ke kamarnya.

Sambil merenung di kamar tidur, tiba-tiba saya teringat sesuatu. Beberapa bulan yang lalu, selesai rapat, pimpinan saya lupa membawa berkas rapatnya. Ketika semua peserta rapat sudah keluar ruangan, iseng-iseng saya membaca berkas itu. Ternyata bukti-bukti dan laporan pembelian 50 buah komputer untuk unit kerja saya. Yang membuat saya heran, kenapa ada perbedaan harga yang begitu jauh? Sebuah komputer yang harganya cuma Rp 5 juta dihargai Rp 10 juta? Mark up? Korupsi? Mungkinkan pimpinan saya yang mengirim SMS gelap itu? Ah, selama ini saya menilai Pak Ronald, nama atasan saya, orang yang baik-baik. Kabarnya, beliau belum pernah korupsi.

Sekitar pukul 23:00 WIB, tiba-tiba intercom di kamar hotel saya berbunyi. Ternyata dari Devi. Katanya, dia takut tidur sendiri. Saya jadi ingat, biasanya kalau saya tugas ke luar kota, Devi juga ditemani Yulia, sekretaris Pak Ronald. Saya jadi serba salah. Setelah berpikir lama, akhirnya saya memutuskan pindah ke kamar Devi. Toh tempat tidurnya ada dua. saya tidur di tempat tidur satunya. Entahlah, setan mana yang menggoda saya…malam itu saya terpaksa memnuhi keinginan Devi. saya tidur bersama Devi. Layaknya suami isteri. Tapi saya yakin Devi tak akan hamil sebab saya menggunakan karet KB.

Besoknya saya dibantu Devi langsung melakukan audit manajemen di unit tersebut. Mulai dari struktur organisasinya, tupoksinya, kualitas SDM-nya, sistem dan prosedurnya, dan…aspek-aspek manajemennya.

Malam harinya, di hotel, berkas-berkas itu saya bahas bersama Devi. Juga, menganalisa kelebihan dan kelemahannya. Cukup lama. Akhirnya kami berdua tertidur bersama karena terlalu capai.

Seminggu kemudian saya kembali ke kantor pusat untuk membuat laporan. Di kantor, saya dapat SMS dari Mellia, isteri saya, kabarnya, selama seminggu ini dia mendapat SMS gelap. SMS teror. Isinya sama, akan membunuh Mellia. Alasannya tidak jelas. hanya ancaman-ancaman saja.Semula, selama seminggu Mellia menganggap teror itu biasa-biasa saja dan tidak pernah diceritakan kepada saya.

Saya dan isteri saya dapat teror? Siapa kira-kira yang melakukan SMS gelap dari tempat yang gelap itu? Semakin banyak yang saya curigai. Bisa Pak Ronald, Bisa Devi, bisa juga orang dari unit-unit lain yang pernah saya audit. Bisa juga dari unit di Yogyakarta yang baru saya audit dan kebetulan saya menemukan indikator-indikator korupsi.

Masalah korupsi memang sudah merajalela di Indonesia ini. Agama hanya dijadikan ritual biasa-biasa saja. Agama dipelajari hanya kulit-kulitnya saja. Harta benda dan uang telah membutakan hati nurani banyak orang.

Siang itu saya bekerja seperti biasa. Karena ada bahan-bahan yang saya perlukan, saya tugaskan ke Devi untuk meminjam berkas tertentu ke Bu Sandra. Devipun segera menuju ke ruang kerja Bu Sandra.Tak lama kemudian, Devi sudah meletakkan berkas itu di meja saya.

Pikiran saya saat itu kacau. Di satu pihak, masalah SMS gelap untuk saya dan isteri saya. Di pihak lain, selama di Yogyakarta saya terjebak melayani nafsu seks Devi. Oh, betapa kacaunya hidup saya akhir-akhir ini.

Ketika saya membuka berkas-berkas dari Bu Sandra, tiba-tiba terselip SIM Card HP. Diam-diam saya ambil. Diam-diam saya buka HP saya, dan saya masukkan ke HP saya yang bisa GSM dan bisa CDMA itu. Saya catat nomor HP yang ada di SIM Card itu. Kemudian saya pang lagi SIM Card saya sendiri. Iseng-iseng saya cocokkan ke beberapa nomor SMS gelap yang pernah saya catat,

“Oh, Tuhan……Ternyata nomor itu cocok dengan salah satu nomor dari SMS gelap itu. Mungkinkan Bu Sandra pelakunya? Jika,ya…apa motivasinya? Hal itupun saya laporkan ke pihak kepolisian. Pihak kepolisianpun segera melakukan penyelidikan. Pak Ronald, Bu Sandra, Devi dan semua karyawan yang ada di unit itu, semuanya ada 50 orang, diperiksa satu persatu untuk dimintai keterangannya.

Singkat cerita. Hasil penyelidikan kepolisian, menunjukkan bahwa SIM Card itu bukan milik Bu Sandra, tetapi milik Devi yang diselipkan ke berkas Bu Sandra. Kenapa? Supaya saya mencurigai Bu Sandra. Kenapa, karena Devi sangat cemburu jika saya terlalu dekat berhubungan dengan Sandra. Kenapa isteri saya diteror? Untuk mengalihkan perhatian saja. Apa motivasi Devi menjebak saya di Hotel di Yogyakarta? Ternyata, itu atas perintah Pak Ronald. Apa motivasinya? Karena saya berselingkuh dengan Devi, maka ada alasan Pak Ronald untuk memecat saya. Kenapa saya harus dipecat? Karena….saya mengetahu adanya korupsi yang dilakukan Pak Ronald. Jumlah total sekitar Rp 5 M.

Akhirnya, Pak Ronald masuk ke LP. Penggantinya cukup bijaksana. Surat pemecatan terhadap saya yang dibuat Pak Ronald dibatalkan. Lantas, bagaimana dengan Devi? Dia telah meminta maaf atas SMS-SMS gelap itu. Meskipun demikian, Devi oleh pihak kepolisian dijebloskan ke LP juga.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: