CERPEN: Nostalgia Dancing Queen

SAYA sering bertanya ke teman-teman kuliah saya, kenapa Indonesia yang mayoritas beragama Islam ini lebih suka merayakan acara Tahun Baru Masehi 1 Januari dan tidak merayakan acara Tahun Baru Islam 1 Muharam secara meriah? Semua teman-teman menjawab tidak tahu.

Itulah sebabnya, saya sebagai aktivis senat mahasiswa, memprogramkan peringatan Tahun Baru Islam secara meriah. Saya adakan di Gedung Soemantri Brodjonegoro, Kuningan Jakarta Selatan. Saya juga mengundang menteri agama.

Karena orang Indonesia sering terlambat datang satu jam dari jam yang tertera diundangan, maka di undangan saya cantumkan acara akan dimulai tepat pukul 19:00 WIB dan saya mengharap agar semua undangan datang tepat pada waktunya.

Tepat pukul 19:00 WIB, gedung masih sepi. Hanya panitia saja yang telah siap. Celaka, menteri agama dan pengawalnya telah tiba. Begitu melihat gedung masih kosong, beliaupun marah-marah. Untunglah, beberapa dosen segera menemani beliau duduk di kursi deretan paling depan.

Tepat pukul 20:00 acara dimulai. Gedung telah penuh. Bahkan ada yang berdiri. Setelah menteri agama memberikan sambutan dan disusul sambutan-sambutan dari pihak yang terhormat, maka selanjutnya diisi acara-acara bernuansa Islami.

Tepat pukul 00:00 merupakan tanggal 1 Muharam (versi panitia) maka ratusan kembang api memancarkan sinarnya dengan indah di berbagai tempat di dalam gedung sekaligus mengakhiri acara itu.

Selanjutnya merupakan acara bebas. Langsung disambut dengan dentuman musik-musik dari perangkat diskotik yang telah disediakan. Dengan cekatan DJ memilih lagu slow dan hot secara bergantian. Semua mahasiswa dan mahasiswi berdansa bersama pacar masing-masing. Lampu disko warna-warni berlomptan ke sana ke mari dengan sangat indahnya.

Tepat ketika lagu “Dancing Queen” dari band ABBA diputar, saya sempat melihat Maureen duduk sendirian. Sayapun mendekati.

“Turun, yuk” Ajak saya sambil mengulurkan tangan. Maureen berdiri sambil tersenyum.

Kamipun melantai mengikuti irama lagu “Dancing Queen” yang indah itu. Sempat kutatap mata Maureen yang indah itu. Bulu matanya lentik. Diapun menatap mata saya. Ada rasa aneh di hati saya.

“Kok, tidak datang sama Tommy” Saya ingin tahu. Tommy adalah pacar Maureen yang kuliah di Universitas Tarumanagara.

“Enggak” Singkat Maureen menjawab.

“Kenapa?”

“Saya sudah putus sama Tommy”

“O” Komentar saya singkat. Kebetulan, saat itu saya juga baru putus dengan Yenara. Yenara dan Maureen adalah adik kelas saya. Cuma, mereka berdua berbeda kelas.

Saya tidak tahu, kenapa DJ memutar lagu “Dancing Queen” sampai dua kali. Yang berakibat saya dan Maureen saling berdekap cukup lama.

“Bagaimana kabar Yenara?” Maureen memancing komentar saya.

“Oh, saya juga sudah putus sama Yenara”

Saya melihat mata Maureen bersinar. Selanjutnya bisa ditebak, walaupun saya dan Maureen tak saling menyatakan cinta, namun apa yang terjadi malam itu, kami telah saling jatuh cinta.

Tepat pukul 01:00 WIB dini hari, acarapun selesai sesuai rencana. Karena Maureen tak ada yang menjemput, sayapun mengantarkannya pulang. Rumahnya di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.Sesudah mengantarkan Maureen, saya segera meluncur pulang ke rumah saya di kawasan Kebayoran Baru.

Di rumah, sehabis ganti pakaian, saya langsung memutar kaset band ABBA dan memutar lagu “Dancing Queen” berulang-ulang. Indah sekali lagu itu. Diam-diam, saya telah jatuh cinta ke Maureen yang cantik itu.

Dan ketika di kampus, maka di mana ada saya di situ pasti ada Maureen. Semua mahasiswa sekampus sudah mengetahui hubungan saya dan Maureen. Selama itu hubungan saya dengan Maureen lancar-lancar saja. Saya merasa beruntung mendapatkan pacar yang cantik dan gaul itu.

Namun dalam perkembangannya saya berpikir, diteruskan atau tidak? Soalnya, seringkali Maureen mengajak jalan-jalan ke mal. Tak segan-segan dia minta dibelikan baju ini, baju itu, sepatu ini, sepatu itu. Bahkan minta diantarkan ke salon langganannya. Semua mahal dan harus saya yang membayar.

Terus terang saya menjadi ragu-ragu untuk meneruskan hubungan dengan Maureen. Maklum, selama enam bulan berpacaran, saya telah menghabiskan dana Rp 6 juta. Sebegitu mahalkan biaya berpacaran dengan Maureen?

Akhirnya saya mengambil keputusan, tidak akan membelikan apa-apa lagi, kecuali hanya traktir makan di resto atau kafe serta traktir nonton. Begitulah, ketika saya dan Maureen di salah satu mal di Jakarta Selatan, Maureen mulai minta dibelikan ini dan itu.

“Ah, tidak! Nanti saja kalau Harry telah bekerja” Selalu saya katakan demikian.

“Aduh. Barangnya bagus Harry. Di toko lain nggak ada yang jual,nih” Maureen menunjuk kalung di etalase. Harganya Rp 2 juta.

“Ah, tidak! Nanti saja kalau Harry telah bekerja”. Begitu saja saya katakan.

Sejak saat itulah, di kampus Maureen tak mau lagi menemani saya. Pulang kuliahpun tak bersama saya. Malam Minggupun Maureen tak mau lagi menemui saya. Kalau saya telepon, hanya sebentar Maureen bicara, kemudian telepon ditutup. Semua merupakan sinyal agar saya mengundurkan diri saja.

Keputusannya memang begitu. Dengan rasa yang sangat berat, saya berusaha melupakan Maureen. Tidak mudah memang, Dan setelah saya lulus, saya tak pernah lagi bertemu ataupun berkomunikasi dengan Maureen.

Meskipun demikian, saya tak akan pernah melupakan Maureen. Saya tak akan pernah melupakan lagu “Dancing Queen”. Lagu itu sampai hari ini masih sering saya putar.

Akhirnya saya menyadari bahwa hidup di Jakarta memang harus pandai-pandai memilih sahabat ataupun pacar. Kehidupan di kota besar selalu diwarnai perhitungan untung rugi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kehidupan di Jakarta atau kota besar adalah kehidupan yang bernuansa materialis. Semua diukur berdasarkan materi dan uang.

Lantas, siapa yang harus saya salahkan?

Video & Lagu Dancing Queen bisa anda dengarkan di:

http://www.youtube.com/watch?v=8ejypIv8zSA

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Catatan:

1.Ada yang berpendapat bahwa menjadikan 1 Muharram sebagai Hari Besar Islam tidak boleh, karena :

– Perbuatan tersebut tidak ada dasarnya dalam Islam. Karena syari’at Islam menetapkan bahwa Hari Besar Islam hanya ada dua, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.

2.Tidak boleh merayakan acara Tahun Baru Masehi karena perbuatan tersebut mengikuti dan menyerupai adat kebiasaan orang-orang kafir Nashara, di mana mereka biasa memperingati Tahun Baru Masehi dan menjadikannya sebagai Hari Besar agama mereka.

3.“Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari tersebut dengan hari raya yang lebih baik, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.“ (Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn).

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: