CERPEN : Rajin Shalat Kok Takut Hantu?

27- Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al A’raaf 27)

DULU, saya punya kenalan seorang mahasiswi bernama Sandra Mouddy yang saat itu kuliah di Faculty of Letters and Fine Arts (Fakultas Sastra dan Seni) di Queensland University, Australia, pernah menulis surat ke saya. Katanya, berdasarkan hasil survei yang dia lakukan, orang Indonesia banyak yang tidak konsekuen. Misalnya, memakai gelar sarjana, tetapi tidak menguasai ilmunya. Memakai gelar haji, tetapi korupsi. Menjadi anggota DPR, tetapi memperkaya diri sendiri .Rajin shalat, tetapi takut hantu.

Rajin shalat tetapi takut hantu? Ternyata hasil surveinya benar. Pada 1988 saya berkesempatan menjadi konsultan manajemen dan setelah bertugas di berbagai kota di Indonesia, akhirnya saya ditugaskan di Kota Manna untuk membenahi manajemen perpajakan Daerah Tingkat II di kantor pemda. Kota ini merupakan ibukota Kabupaten Bengkulu Selatan. Sebuah kota yang sepi tetapi serba mahal.

“Wah, gaji saya bisa habis kalau saya menginap tiap hari di hotel ini” Gerutu saya pada hari ketiga ketika menginap di hotel yang saya lupa namanya. Mungkin Hotel Oniko.

Ternyata, gerutuan saya didengar seorang karyawan pemda yang saat itu memang bertugas menjemput saya.

“Tinggal di mess pemda saja, Pak” Usulnya. Usul yang bagus.

Begitulah. Setelah menyelesaikan tugas di kantor pemda, siang harinya dengan diantar karyawan pemda, saya menghadap Bupati Kabupaten Bengkulu Selatan. Semula beliau heran, tapi kemudian bisa memaklumi. Cuma beliau berpesan dan mengingatkan kalau air krannya keruh.

“Tapi air kran keruh, lho. Jadi, usahakan membuat saringan. Tidak bisa diminum. Kalau untuk mandi mungkin bisa” Begitu ujar Pak Bupati yang bernama Qohar Mahmudi itu.

Sesudah lapor ke bupati, sayapun pindah dari hotel ke mess pemda. Mess pemda ini terdiri dari tiga kamar tidur yang cukup luas, bersih, dilengkapi dapur dan ruang tamu. Ada juga televisi, tetapi rusak. Untung aya membawa televisi mini ukuran 7” (tujuh inci).

Ketika saya memasuki salah satu kamar tidur, tiba-tiba bulu kuduk saya merinding. Sebuah isyarat bahwa di kamar itu pasti ada mahluk halusnya.

“Di sini ada mahluk halusnya ya, Pak?” Tanya saya ke karyawan pemda yang mengantarkan saya.

“Ah,ti…tidak…ti…tidak ada, Pak konsultan” Gelagapan dia menjawab.

Begitulah. Mulai malam itu saya menginap di mess pemda. Gratis. Saya bisa menghemat banyak uang. Maklum, kalau menginap di hotel saya bisa menghabiskan uang sekitar Rp 500.000 sampai dengan Rp 750.000 per bulan. Padahal honor saya sebagai konsultan saat itu Rp 3.000.000. Status saya adalah konsultan Manajemen dari PT Bumi Prasidi, Jakarta yang bertugas mengerjakan proyek Dirjen PUOD Depdagri.

Malam hari memang mencekam. Sepi sekali. Jalanan juga sepi. Untung saya membawa televisi mini sehingga saya punya hiburan. Sinyal televisi juga kuat dipancarkan dari stasiun relai yang ada di Kabupaten Lahat, tidak jauh dari Kabupaten Bengkulu Selatan.

Saya merasa aneh. Kenapa mess pemda ini tidak dijaga? Pertanyaan ini terjawab esok harinya ketika ada petugas mess datang. Namanya Slamet, bertugas sebagai penjaga mess. Dia berasal dari Jawa Tengah.

Seusai shalat Jum’at, di mess saya ngobrol-ngobrol dengan Slamet yang tadinya shalat Jum’at bersama dengan saya.

“Slamet, kamu jaga mess kok justru siang hari? Kenapa tidak malam hari?” Saya ingin tahu. Kami ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Kebetulan kalau Jum’at dan Sabtu merupakan hari libur saya.

“Anu, ya…memang saya tugasnya siang hari” Gelagapan jawab Slamet yang saat itu berusia sekitar 20 tahunan. Namun setelah saya desak akhirnya Slamet mengaku.

Katanya, mess pemda itu angker. Kalau malam seperti ada suara kursi dan meja yang ada di kamar tidur digeser-geser. Tetapi kalau dicek, ternyata tidak ada apa-apa. Begitu juga, sering terdengar kain gordijn dibuka ditutup, tetapi kalau dicek, tidak ada apa-apa.

Bahkan Slamet menceritakan sering ada rombongan dari kabupaten lain menginap di mess, beberapa di antaranya kesurupan.

“Sering terjadi beberapa tamu kesurupan di mess ini, Pak” Cerita Slamet. Saya cuma manggut-manggut saja. Cerita Slamet sama persis dengan cerita Bu Sarmi, pemilik toko yang ada di seberang mess pemda.

“Jadi, kamu takut dengan hantu?” Saya memancing pendapat Slamet.

“Ya, iyalah”

“Seharusnya manusia yang takut hantu atau hantu yang seharusnya takut manusia?” Saya menguji Slamet. Slamet diam saja.

Saya cuma bisa menasehati Slamet bahwa kalau manusia takut hantu, itu keliru. Seharusnya hantu yang takut manusia. Sebab, Tuhan menciptakan manusia memiliki derajat lebih tinggi daripada hantu ataupun mahluk halus lainnya. Yang penting manusia tidak mengganggu kehidupan mereka.

“Lantas, kita harus membaca doa apa, Pak?” Slamet ingin tahu.

“Di Al Quran sudah ada tuh doanya. Banyak. Antara lain Ayat Qursi. Kalau kamu mempunyai keyakinan yang kuat, saya yakin kamu tidak akan diganggu mahluk halus. Tidak mungkin kesurupan. Orang yang ditakuti hantu ataupun kesurupan itu kan orang-orang yang keyakinan agamanya tipis. Rajin shalat harus diimbangi dengan keyakinan yang kuat…”. Demikian saya menjelaskan ke Slamet.

“Nah, kalau memang kamu sebenarnya penjaga malam, coba nanti malam bertugas. Saya jamin kamu tidak diganggu mahluk halus. Kecuali kamu penakut” Ajak saya.

Dan benarlah, mulai malam itu Slamet memberanikan diri jaga malam di mess pemda. Semalaman saya dan Slamet bermain catur sampai dini hari. Justru, di kamar yang saya tengarai ada mahluk halusnya.

Esok hari ketika Slamet bangun dari tidurnya, sayapun bertanya.

“Bagaimana? Diganggu hantu tidak?

Slamet menggelengkan kepala.

“Nah! Ingat! Percuma rajin shalat kalau kamu takut dengan hantu!. Jangan mengaku beragama Islam kalau kamu takut hantu.Tetapi, jangan sesekali kamu menantang mahluk halus.”

Sejak malam itu Slamet mempunyai keberanian untuk bertugas malam hari sesuai dengan surat tugas yang diberikan oleh pihak pemda Kabupaten Bengkulu Selatan

Sumber foto: cerita-lucu.tk

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s