CERPEN: Ah…!!! Ada-Ada Saja

 

KEJADIANNYA sudah lama sekali,yaitu sekitar tahun 1965.Waktu itu saya masih duduk di kelas 2 SMP di kota Semarang, Jawa Tengah. Persoalannya, dimulai dari kejadian yang tidak saya sengaja. Begini,saya keluar kelas secara terburu-buru,maklum jas istirahat.Saya menuju  ke kamar kecil untuk buang air kecil.Namun,baru saja saya melangkah ke luar kelas,saya menabrak siswi dari kelas lain.

“Aduh…lihat-lihat,dong!”,gadis itu memarahi saya.

“Maaf!”,kata saya sambil mengulurkan tangan meminta maaf.Siswi tersebut adalah siswi baru pindahan dari SMP kota Malang,Jawa Timur.

“Sekali lagi,saya minta maaf,Dewi…”,saya minta maaf lagi.Gadis itu bersedia menerima uluran tangan saya sambil berkata.

“Maaf sih,saya maafkan.Tetapi kenapa kamu mengganti namaku dengan Dewi?”,ucapnya ramah.

“Lho,kalau begitu siapa,dong?”,saya bertanya.Percakapanpun menjadi akrab.

“Panggil saja aku,Irsha”,dia menyebut namanya.

“Lengkapnya”,saya ingin tahu.

“Irsha Ardhika.Kamu siapa…?”,dia juga ingin tahu.Pandangannya tajam tapi bening.Cantik juga gadis itu.

“Saya Harry. Harry Laksamana”

“Kok kamu terburu-buru,mau kemana…?”,Irsha bertanya.

“Kamu,eh..Harry mau kemana kok terburu-buru…?”

“Mau..eh,ke..ke kantin. Minum-minum.Mau ikut”,saya tiba-tiba berbohong.Maklum,saya melihat ada kesempatan bagus saat itu.

“Kalau ditraktir sih,..boleh-boleh aja..”,jawab Irsha sambil tersenyum.

“Minum apa?”,tanya saya setelah kami berdua duduk di kantin.Terus terang,saya agak gugup duduk berdua dengan Irsha.Maklum,pelajar SMP jaman dulu tidak sebebas jaman sekarang.

“Coca Cola saja…”,pintanya.Sayapun segera memesan Coca Cola untuk Irsha dan Fanta untuk saya.

“Coca Colanya manis,ya…”,saya mulai memancing.

“Iya”,singkat jawab Irsha.

“Kalau begitu,sama dong dengan Irsha.Irsha juga manis…”,saya memberi pujian sejujurnya.Tampak Irsha tersenyum tersipu-sipu.

“Ah,…ada-ada saja…”,komentar Irsha singkat.

Seminggu setelah itu, persahabatanpun semakin akrab.Sepulang sekolah,kami berdua bersepeda berkeliling kota sambil berbicara dan bercanda.O,indah sekali rasanya saat itu.

“Jika kota Semarang ini boleh dibeli,maka saya akan membelinya”,kata saya sambil mengayuh pedal sepeda.Maklum,jaman dulu saya tidak punya sepeda motor.

“Untuk apa?”,Irsha bertanya singkat.

“Untuk kita berdua”,saya menjawab lebih singkat lagi.

“Untuk kita berdua? Ah,ada-ada saja…!”,Irsha tertawa.Ya Tuhan,betapa sempurna kecantikan Irsha.Saya menyukai semua ucapan maupun gerak-gerik Irsha.Semua terasa indah.Irsha,sungguh cantik.

Tiga bulan kemudian,seusai latihan kepanduan atau kepramukaan menurut istilah sekarang,Irsha saya boncengkan untuk pulang ke rumah.

“Pulang? Untuk apa.khan masih siang.Di rumah kita tidak bebas,ada papa sama mama”,katanya.

Saya pun tidak jadi mengantarkannya pulang ke rumah.

“Bagaimana kalau kita putar-putar kota sampai besok pagi?”,saya menggodanya.

“Ah,ada-ada saja…”,lagi-lagi Irsha mengatakan “Ah,ada-ada saja…”

Setahun kemudian.Kami telah kelas 3.Siang itu SMP kami mengadakan pesta pora karena seluruh kelas 3 dinyatakan lulus 100% dan berhak meneruskan ke SMA.Waktu itu,saya terpilih sebagai The Best Student II,sedangkan The Best Student I diraih Irsha.

“Selamat ya,atas kemenanganmu mengalahkan nilai-nilai saya.Irsha ternyata hebat!”,saya memberi ucapan selamat untuk Irsha.

“Ah,ada-ada saja….”,komentarnya singkat.

Siang itu kami berdua berkeliling kota dengan Irsha.Roda sepeda terus menggelinding di Jl.Sugyopranoto,belok kiri ke Jl.Pemuda,Jl.HA Salim,Jl.Patimura,terus melewati Jl.Citarum

Lantas saya berkata:

“Saya nggak menyangka kalau cewek secantik kamu ternyata mempunyai otak yang brilian”

“Maksudmu”,Irsha ingin tahu.

“Soalnya, maaf, biasanya cewek kalau cantik itu bego,karena waktunya habis untuk bersolek dan tidak punya waktu untuk belajar.Jarang lho,ada cewek cantik yang IQ-nya tinggi seperti Irsha”,lagi-lagi saya memujinya.

“Ah,ada-ada saja…!Cowok yang ganteng tapi bego juga banyak,kok!”,Irsha membalas meledek.

 

Sementara itu,sepeda telah melewati Jl.Bugangan.

“O,ya saya lupa bilang sama Harry kalau orang tua Irsha akan pindah ke luar kota.Nggak tahu ke kota mana”,ucap Irsha.Saya agak terkejut.Sampai-sampai sepeda saya berhentikan,sekalian istirahat.

“Irsha sungguh-sungguh”,nada bicara saya agak tak percaya.

Irsha mengangguk.Wajahnya tampak sedih.

“Irsha…Kelak jika saya telah dewasa dan telah bekerja,saya akan melamar Irsha”,saya nekat mengatakan kalimat itu tanpa persiapan.

“Ah,ada-ada saja…”,jawab Irsha singkat.

Saya kemudian mengantarkannya pulang ke Jl.Karanganyar.Hari sudah sore.Hari yang menyedihkan bagi kami berdua.

Tahun 2003,atau 38 tahun sesudah peristiwa itu…saya sudah beristri yang setia dan dikaruniai satu anak perempuan yang sudah dewasa.Saya tinggal di Jakarta dan bekerja sebagai Konsultan Manajemen pada PT Sunan Ngampel dan sering dikirim ke luar negeri di dalam rangka tugas kantor.Negara yang pernah saya kunjungi antara lain Inggeris,Perancis,Amerika,Kanada,Italia,dan lain-lain di dalam rangka memperdalam “consulting management”.

Di PT Sunan Ngampel saya ditempatkan di unit baru.Manajemennya masih morat-marit.Bayangkan,karyawan karyawan lulusan SMA yang bernama Sukardi yang punya ijasah mengetik,ditempatkan di tenaga harian dan diperlakukan sebagai kacung,yaitu disuruh membeli makanan dan minuman.Padahal,tugas yang sebenarnya di bagian administrasi ringan.

Sedangkan saya sebagai konsultan sering dapat tugas angkat-angkat bangku, kursi, lemari, komputer,dll.

Tiba-tiba…..

“Mas Harry,dapat salam dari Irsha…”,kata Bobby Basuki mengejutkan saya.Dia teman sekantor,lulusan IPB.

Saya terkejut.Akhirnya saya tahu bahwa ternyata Irsha masih ada hubungan famili dengan Bobby.Kata Bobby,Irsha sekarang tinggal di Bogor bersama suaminya dan dua orang putera yang sudah dewasa

Oh,secepat kilat saya keluar kantor.Kularikan mobil Honda Accord saya menuju Bogor,mencari Jl.Cikuray 277 tempat Irsha tinggal.Sungguh,saya sangat rindu sekali.

Irsha terkejut melihat kedatangan saya.Maklum,.sudah 38 tahun tidak bertemu.Dia menangis terharu.

“Tiga puluh delapan tahun kita berpisah…Tapi,Irsha masih secantik dulu…”,saya masih seperti dulu.Selalu memuji kecantikannya.

“Ah,ada-ada saja….”,jawab Irsha.Jawabannya masih seperti dulu juga.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

 

 

 

CERPEN: Cintaku Berat di Ongkos

SAAT itu saya baru saja membuka LPK atau Lembaga Pendidikan Komputer INDODATA di Komplek Perumahan Pondok Hijau Permai, dekat pintu tol Bekasi Timur. Sudah merekrut beberapa instruktur komputer lulusan Gunadarma, UI, Binus dan lain-lain. Untuk staf administrasi minimal sarjana muda dan saya pilih beberapa yang cantik. Lho, kok cantik? Ya, iiyalah. Buat daya tarik. jadi, ada unsur marketingnya, begitu.

Tetapi karena saya masih bujangan, tentu saya sangat masuk akal kalau jatuh cinta sama salah satu karyawati. namanya Vanny, pindahan dari Palembang. Sebagai laki-laki normal tentu saya tahu Vanny memang cantik, putih, mulus, seksi dan cukup gaul. Setelah tiga bulan melakukan pedekate, akhirnya Vannypun nempel di sisi saya. Semudah itu? O, tiga bulan penuh perjuangan.

Di kompleks perumahan itu dia tinggal sama kakak perempuannya yang sudah menikah. Pertama kali datang, saya diusir kakak perempuannya. Kedua, dites membaca Al Qur’an. Kedatangan ketiga kalinya ditanya, serius tidak dengan Vanny. Tentu, saya jawab serius.

“Kalau serius, sering-sering ke orang tua Vanny di palembang,” kata kakaknya Vanny saat itu. nama kakaknya Verra.

Ya,iyalah. namanya juga jatuh cinta. Sebulan sekali saya ke Palembang bersama Vanny. Kadang naik pesawat kadang naik bus. Tentu, untuk pengelolaan LPK INDODAT saya menunjuk wakil. Saat itu total karyawan saya ada 24 orang dan jumlah siswa yang kursus komputer ada 500 siswa. Pemasukannya lumayan.

Pertama kali ke Palembang naik pesawat dan turun di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, kalau nggak salah ingat. Yang penting saat itu langsung naik taksi dan meluncur ke rumah orang tua Vanny melewati Jembatan Ampera, dekan terminal Pak Jo, kalau nggak salah sebut namanya. Maklum, soal nama saya tidak begitu peduli.

Rumahnya cukup besar. Ternyata ayahnya seorang pengusaha sukses. Ibunya juga punya ruko di Kota Palembang, bisnis emas perhiasan. Di rumah ada tiga buah mobil. sayapun diperkenalkan ke kedua orangtuanya yang saat itu libur. Maklum, hari Minggu kedua orang tuanya memang libur. Sambutan kedua orang tuanya kaku. Tidak ada senyuman. bahkan sorot matanya yang tajam memandangi saya dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah-olah saya ini teroris, begitu. Vannypun memperkenalkan saya dengan kedua adik perempuannya. Vanny tidak punya saudara laki-laki. Malam harinya saya menginap di Hotel Sriwijaya dan tidak mungkin tidur di rumah Vanny.

Esoknya, kedua orang tuanya tak ada di rumah. Sibu di tempat bisnis masing-masing. Saat itulah Vanny mengajak saya ke beberapa tempat wisata. Cukup mengendarai motor. Untung, saya membawa SIM A dan C.

“Kemana kita?” tanya saya yang sudah siap mengemudikan motor. Vanny ada di boncengan.

“Sudalah, ikuti saja petunjuk saya,” ujarnya.

Motorpun melesat. Paling dekat, istirahat sebentar di Jembatan Ampera. Berfoto bersama. Sebuah jembatan yang cukup bagus, melintasi Sungai Musi yang cukup lebar dan panjang.

Berikiut ke Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, sebuah site peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang terletak di tepian Sungai Musi. Di sini, terdapat sebuah prasasti batu peninggalan Kerajaan .

Lantas ke Taman Purbakala Bukit Siguntang, lokasi di perbukitan sebelah Barat Kota Palembang. Terdapat banyak peninggalan dan makam-makam kuno Kerajaan Sriwijaya. Wow, membuat bulu kuduk merinding.

Juga mampir ke Monumen Perjuangan Rakyat,sebuah museum yang menyimpan banyak benda – benda peninggalan Kerajaan Sriwijaya.Terus ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, terletak di dekat Jembatan Ampera . Terakhir ke Masjid Cheng Ho Palembang

“Huh! Capek. Mondar-mandir…” keluh saya. Soalnya petunjuk Vanny tidak sistematis, jadi harus bolak-balik dan melewati jalan yang pernah dilewati. Tapi, tak apalah. Demi cinta. Saat itupun kami singgah makan siang di resto dekat Hotel Sriwijaya. Rasanya nikmat sekali.

Begitulah, sebulan sekali saya harus ke Palembang. Kata orang-orang, kalau tidak pandai-pandai mengambil hati kedua orang tuanya, jangan harap bisa mendapatkan Vanny. Indikasinya, selama kedua orang tuanya belum tersenyum berarti saya belum bisa melamar Vanny. Wah, kok “ono-ono wae,to”?

Tapi demi cinta, tak apalah. Tiap bulan saya tetap ke Palembang. Saat itu sekali ke Palembang menghabiskan biaya Rp 1 juta. Lumayan berat. Namun karena saya tertantag menundukkan hati kedua orangtuanya, semua harus saya hadapi. Tantangan demi tantangan harus saya hadapi. Bukan hanya disuruh membaca Al Qur’an, tetapi saya juga diwajibkan menguasai salah satu ilmu bela diri. Ini yang saya tidak punya. Terpaksa, sejak saat itu saya ikut mendaftar di perguruan silat yang ada di Bekasi. saya memilik silat karena ini merupakan budaya Indonesia.

Bulan-bulan berikutnya ketika saya sudah sedikit menguasai silat, sayapun diuji ayahnya. Saya ditantang duel. walaupun bohong-bohongan, tetapi saya tetap kalah. Kok aneh-aneh saja orang tua Vanny ini. Mau melamar anaknya saja harus ada syarat ini syarat itu.

Tanpa terasa, setahun sudah berlalu. pada bulan keduabelas itu, barulah kedua orang tuanya mau tersenyum kepada saya. Artinya, saya dianggap lulus tahap pertama. Huh, ada-ada saja.

“Orang tua saya memang orang Palembang kolot, Harry. Maih terikat tradisi nenek moyang dari silsilah kami Harap maklum,” begitu kata Vanny suatu saat ketika kami sedang makan makan siang di salah satu resto di Hotel Novotel.

Sebenarnya tidak hanya objek wisata saja yang kami kunjungi. Tak lupa sayapun mengunjungi pusat-pusat belanja seperti JM pasaraya, JM Plaju, Ramayana Departmen & Store, Senter Point Square, Carrefour Jakabaring ataupun ke The Fame City Walk. Tentu, harus belanja, terutama baju dan lain-lain.

Tanpa terasa sudah 13 bulan dan sudah 13 kali saya ke Palembang. Sebagai pengusaha, semua pengeluaran selama saya pacaran dengan Vannypun saya catat. Ha ha ha….Dicatat? Buat apa? Tak apalah. saya catat di buku pembukuan khusus. Sesudah saya hitung, selama 13 pacaran dengan Vanny, saya telah menghabiskan uang pribadi sebesar Rp 25.545.775. Hampir Rp 26 juta. Wow! Saat itu uang sebesar itu cukup besar. Pengeluuaran terbesr untuk biaya pesawat, hotel dan belanja.

Karena saya tak mau rugi, sayapun memutuskan untuk segera melamar Vanny. Sesudah meminta persetujuan kedua orang tua, maka untuk bulan ke-14 saaya ke Palembang lagi bersama Vanny untuk menanyakan syarat-syarat pelamaran dan pernikahan. maklum, Vanny yang orang Palembang menginginkan pernikahannya secara adat Palembang, tidak mau secara adat Jawa karena saya orang Jawa.

Hari tupun saya ditemui kedua orang tua untuk membicarakan proses lamaran dan syarat-syaratnya. Semua saya catat dengan baik.

“Dan jangan lupa, emas kawinnya,” kata ayahnya. saat itu Vanny duduk di sebelah saya.

“Syaratnya berupa uang tunai atau emas,” sahut ibunya.

“Sekitar berapa,Om,” saya ingin tahu.

“Sekarang sekitar Rp 100 juta,” jawabnya yang membuat saya luar biasa terkejut. Namun saya berusaha tenang. Uang sebesar itu, pada tahun 20011 sekarang nilainya sama dengan Rp 250 juta, senilai rumah mungil di kawasan Pamulang. Sesudah mencatat semua syarat-syarat, seperti biasa, sayapun mengantarkan Vanny belanja.

Sampai di Bekasi saya langsung meminta pertimbangankedua orang tua saya. Ternyata kedua orang tua saya tidak sanggup menyediakan uang sebanyak itu. Maklm, ayah saya sudah pensiun. Kekayaan orang tua saya juga tidak sebanyak itu.

Terus, bagaimana nih solusinya? Demi cinta ataukah demi orang tua? Kalau demi cinta, emas kawin sebesar itu tidak ada. Ditawar? Hehehe…emas kawin kok ditawar. Malu saya.

 

Tiba-tiba saya dikejutkan masuknya seorang cewek ke ruang kerja saya di LPK INDODATA. Oh, ternyata Elsya, mantan pacar saya yang baru menyelesaikan studi di University of California, Los Angeles, Amerika.

“Wow….kejutan,nih…!” sayapun menyambut kedatanganya dengan hangat. Sekaligus saya memanfaatkan kesempatan untuk kembali ke Elsya. Kebetulan juga Elsya masih sendiri dan mau menerima saya sbagai pacarnya lagi.

Tiga bulan kemudian saya saya memutuskan hubungan dengan Vanny. maklum, berat di ongkos. Sedangkan dengan Elsya tidak berat di ongkos karena Elsya orang Jawa dan kedua orang tuanya juga kaya dan pengertian. Satu bulan kemudian saya menikah dengan Elsya di sebuah gedung di Jakarta Selatan. Vannypun hadir dan menerima kenyataan itu secara dewasa.

Saya menyesal berpacaran denganVanny. Selama pacaran, telah menelan biaya Rp 25.545.775 dan kalau dinilai tahun 2011 nilainya sekitar Rp 50 juta.

Benar-benar berat di ongkos.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Bukan Salah Dieta

NAMA lengkapnya Dieta Taniasari. Dia tinggal di Bandung. Saya mengenalnya melalui kegiatan sahabat pena. Semula kenal lewat surat, tukar menukar foto kemudian janji bertemu. Sayapun ke Bandung naik kereta api. Sesampai di stasiun saya cari seorang gadis mengenakan baju biru muda dan rok pendek biru tua dan sepatu berwarna biru seperti yang dijanjikan. Katanya, dia menunggu di sebuah tempat duduk. Akhirnya ketemu juga.

“Hallo, Dieta”. Sapaku ke seorang gadis cantik berambut pendek. Gadis itu bangkit dan langsung bersalaman dengan saya.

“Hallo, juga. Harry,ya?”. Pertanyaan itu tak perlu saya jawab. Tapi saya langsung gandeng dia keluar stasiun kemudian menyusuri jalan. Saya memilih hotel yang letaknya sangat dekat dengan stasiun.

Wah, ternyata Dieta memang secantik fotonya. Waktu itu dia berstatus mahasiswi fakultas psikologi di Bandung. Sedangkan saya berstatus mahasiswa fakultas sastra di Jakarta.

Sesampai di hotel, sesudah saya mandi, Dietapun segera mengajak jalan-jalan ke beberapa tempat di Bandung. Cukup naik kendaraan umum. Maklum, Dieta tak punya kendaraan jenis apapun.

Kami berjalan ke mana saja kami suka. Dari toko ke toko, dari taman ke taman dari restoran ke restoran. Sesudah capai, kami kembali ke hotel. Karena hari telah sore, Dietapun pamit pulang.

“Oke, besok kita jumpa lagi”. Saya melambaikan tangan. Dietapun melambaikan tangan sambil keluar ruangan. Tak lupa senyumnya yang menawan. Saya tak sempat mengantarkan karena capai seharian jalan kaki.

Esok harinya saya diajak ke rumahnya. Ternyata dia tinggal di sebuah gang kecil, rumahnya kecil tapi rapi dan terkesan indah. Ibunya ramah sekali. Bapaknya tidak ada karena sudah dua tahun yang lalu meninggal. Dua adik perempuannya masing-masing sekolah di SMP dan SMA. Dieta anak pertama.

Siang itu saya makan siang di rumah Dieta. Kata ibunya, Dieta yang memasak. Sebenarnya sih, rasa makanannya kurang enak. Namun karena saya lapar, saya makan juga. Sebenarnya saya tidak suka makan ikan, karena tak ada pilihan lain, ya terpaksa saya makan juga. Kenapa ya, kok sebelumnya tidak tanya dulu apa makanan kesukaan saya.

“Makan seadanya,Harry”. Ujar Dieta.

“Kok, Harry makannya sedikit,sih? Nggak enak ya masakan Dieta?” Komentar ibunya.

“Ah, saya orangnya kurus tante. Nggak bisa makan banyak”. Itu alasan saya. Dieta dan ibunya tertawa kecil. Ibunya tidak ikut makan. Sehabis makan, kami shalat  Dhuhur bersama. Kemudian saya dan Dieta kembali jalan-jalan mengitari kota Bandung. Kali ini acaranya dari toko buku ke toko buku lainnya. Kebetulan saya dan dIeta ingin membeli buku-buku kuliah

Hanya dua hari saya di Bandung. Sesudah berkemas, saya segera menuju pintu keluar kamar tidur. Namun sebelumnya, saya menyempatkan diri untuk mencium bibir Dieta. Ternyata dia tak menolak. Siang itu saya kembali ke jakarta naik kereta api Parahiyangan. Itulah kenangan pertama saya dengan Dieta.

Bulan berikutnya Dieta membalas kunjungan saya. Dia datang ke tempat kos saya di Grogol bersama seorang teman perempuannya. Usianya sebaya Dieta. Namanya Windy. Teman kuliah Dieta di fakultas psikologi. Cantik juga. Mereka berdua berencana menyewa salah satu kamar kos di tempat saya yang juga melayani sewa harian. Ada 20 kamar kos. Yang khusus disewakan lima kamar.

Malam harinya, saya mengajak Dieta dan temannya jalan-jalan ke Ancol. Sayapun mengajak Syamsul, teman kos saya yang merupakan teman kuliah tetapi adik kelas.

Entah kenapa, selama di Ancol saya justru sering dekat dengan Windy. Sedangkan Dieta lebih sering berdua dengan Syamsul. Bahkan keesokan harinya ketika kami berempat ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), hal itu terjadi lagi. Bahkan ketika berfotopun, Dieta ambil pose bersama Syamsul dan saya berfoto dengan Windy.

“Wah enak ya tinggal di Jakarta. Objek wisatanya bagus-bagus”. Komentar Windy ketika kami berjalan-jalan di TMII. Tanpa saya sadari, saya dan Windy saling bergandengan tangan. Aneh juga, Dieta tak marah melihat itu.

Hari-hari selanjutnya memang hari-hari yang aneh. Sebulan sekali saya dan Syamsul ke Bandung. Anehnya, saya berkunjung ke rumah Windy , sedangkan Syamsul berkunjung ke rumah Dieta.

Akhirnya yang terjadi adalah, Syamsul berpacaran dengan Dieta dan saya berpacaran dengan Windy. Kalau itu terjadi, maka itu bukan salah Dieta memperkenalkan Windy ke saya. Toh, Dieta juga tidak marah. Bahkan memberikan dukungan. Sebuah persahabatan yang aneh, tetapi menyenangkan dan benar-benar terjadi.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Buku Harian Seorang Aktivis

BOJONEGORO,1 JANUARI 1970.“Selamat Tahun Baru 1970″,ucap Rohandha sambil menyalamiku di depan kelas 12 SMA Negeri,Bojonegoro.Tak terasa,kami telah satu tahun pacaran,sejak kami masih duduk di bangku SMP Negeri 2 di kota yang sama.Setelah saya putus hubungan dengan Ika,Maya dan Yudha,dengan Roghandha inilah saya mengalami cinta dalam arti yang sesungguhnya.

Rohandha,puteri seorang dokter yang berdarah Iran dan Yunani.Ia cerdas dan menyukai organisasi seperti saya.Di SMA ini kami sama-sama aktif sebagai pengurus PPSMA (Persatuan Pelajar SMA ) atau OSIS menurut istilah sekarang.

Aneh,rasanya hubungan kami tak bisa dipisahkan,walau cuma sehari sekalipun.Barangkali ini adalah cinta pertama bagi kami berdua.Indah sekali.

“Jangan lupa,nanti sore siaran!”,kata saya suatu saat sewaktu mengantarkan Rohandha di rumahnya yang ada di Jl.Diponegoro

“Beres!”,jawabnya sambil tersenyum.Tak lupa dia mencium pipi saya seperti biasa.

Dan diapun menepati janji.Sorenya  Rohandha datang ke rumah saya untuk siaran.Rohandha adalah salah seorang penyiar Radio Amatir ARMADA-151 yang didirikan kakak saya yang gemar otak-atik alat-alat elektronika.Radio amatir tersebut terletak di sebuah pavilyun kecil di dekat sebuah taman bunga yang indah.

Salah seorang penyiar lainnya kini menjadi ilustrator majalah di ibukota,namanya Erry Amanda.

“Sore ini mungkin saya tidak bisa siaran sampai malam”,katanya.

“Kenapa”,saya ingin tahu.Sebab,biasanya Rohandha suka siaran sampai pukul 20:00 WIB.

“Saya lagi nggak enak badan,Harry”,jelasnya.Jawabnya lemah.Saya baru menyadari bahwa sore itu Rohandha memang agak pucat.

“Tak apa-apa.Nanti saya akan telepon Yunieta untuk menggantikanmu.Kamu tampaknya terlalu letih setelah sebulan lebih kamu sibuk dengan urusanmu untuk mendatangkan band “Yeah-Yeah Boys” itu”,kata saya.Saya jadi teringat,Rohandha memang sejak dua bulan ini sibuk dengan urusan PPSMA-nya untuk memeriahkan acara “Old and New Party”.

BOJONEGORO,10 JANUARI 1970.Sudah sepuluh hari ini Rohandha menderita sakit dan tidak bisa menghadiri rapat-rapat PPSMA,padahal dia termasuk salah seorang aktivis yang menduduki posisi penting,yaitu sebagai Sekretaris PPSMA.

Malam itu,Rohanda pun tidak bisa membawakan acara “Parade Call and Song” di Radio ARMADA-151.Terpaksa Vera dan Erry Amandha yang menggantikannya.

Malam itu malam Minggu,malam panjang.Kami bertiga,yaitu saya,Vera (nama samaran dari Agoes yang sekarang jadi Kepala Telkom Sumberrejo) dan Erry siaran terus sampai larut malam .

Malam itu saya hanya sempat mengirim lagu buat Rohandha.Lagu kesayangannya antara lain “Walk Away”,”Today”,”Bougenville”,dan “Vision”  serta “It’s All Over”.

Kami merasa kewalahan melayani dering telepon dari para penggemar.Boleh dikatakan gampir tiap dua menit telepon terus berbunyi.

Dan tepat pukul 21:00 WIB saya menerima telepon yang membawa kabar yang kurang menyenangkan.Semula saya tak percaya,tetapi mengingat suara telepon itu cukup saya kenal,maka sayapun mempercayainya.Papa Rohandha telah mengabarkan bahwa…

Saya langsung pingsan.Rohandha telah meninggal dunia karena penyakit leukemia!Kejadian itu merupakan pukulan batin yang hebat dalam sejarah hidup saya.Kejadian itu sangat sulit untuk dilupakan.

Akhirnya,urusan di PPSMA di mana saya menjadi Ketua Umumnya,menjadi berantakan.Konsentrasi di berbagai pelajaranpun goyah.Keorganisasian organisasi Radio ARMADA-151 pun menurun sekali.Telah terjadi pergolakan batin yang hebat dalam diri saya.

Setumpuk nasehat saya terima dari guru saya dan seonggok saran-saran dari sahabat-sahabat se-SMA.Kartu dan bunga ucapan turut berduka memenuhi ruangan Radio ARMADA-151.Ucapan-ucapan melalui telepon pun datang silih berganti.Hampir seluruh pendengar turut merasakan malapetaka itu.Percuma!Sia-sia!Semua itu tak mampu memberikan setetes kebahagiaan untuk saya

SURABAYA 1971.Akhirnya saya mengambil keputusan untuk pindah sekolah ke Surabaya.Di kota ini saya diterima di SMA Negeri 4,Jl.Darmahusada.Tetapi,karena di SMA ini ada siswi yang wajahnya mirip Rohandha,akhirnya saya pindah lagi ke SMA Negeri 6,Jl.Pemuda ,dekat gedung bioskop Mitra.

Di SMAN 6 ini saya juga jadi aktivis lagi.Cuma bedanya saya tidak aktif di OSIS,melainkan mengelola buletin Elka atau Lingkaran Kreasi.Saya aktif membuat cerpen,vignet,puisi,kritik sosial,menggambar,artikel-artikel ilmiah pop,dll.

Selesai ujian kuartal,SMAN 6 mengadakan wisata ke Bali.Saya merupakan salah satu panitianya.Di salah satu pantai di Bali,saya tak sengaja berkenalan dengan salah seorang siswi SMAN 5 Surabaya yang kebetulan juga sedang mengadakan wisata ke Bali.

Gadis itu saya kenal bernama Ika Asokawati Putri Pertiwi.Ika saya kenal pada Minggu,4 Juli 1971.Gadis yang ramah,pemalu,tetapi juga genit.

Hubungan saya dengan Ika berlangsung hingga tahun 1973.Pada tahun ini saya sudah menyandang predikat mahasiswa di Fakultas Ekonomi,Universitas Trisakti,Jakarta.

Pada liburan semester,beberapa mahasiswa Universitas Trisakti antara lain Rini,Shanty Mintaredja,Doddy,dll.mengadakan piknik ke Bali.Mereka semua adalah sahabat baik saya.

Ika Asokawati pun ikut bergabung ke Bali sewaktu rombongan kami melewati kota Surabaya kota di mana Ika bertempat tinggal.

Apa yang terjadi di Bali pada 13 Juli 1973? Ternyata saya mengalami musibnah untuk yang kedua kalinya.Ika meninggal atau hilang karena tenggelam di Pantai Kuta bagian selatan.

YOGYA,1974-1975.Setelah musibah di Bali itu,saya sering rekreasi ke Jogjakarta.Di sini saya tak sengaja berkenalan dengan Erna Stella  yang punya nama asli Erna Purnamasari.

Ah,musibah terjadi lagi.Erna Stella mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya.Hubungan kami yang terjalin satu tahun tak ada artinya.Darah waktu itu memercik di Jl.Malioboro di depan restoran Hellen.Kejadiannya masih saya catat,yaitu 11 Maret 1975.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Chelsea dan Kucing Kesayangannya

SAYA sebenarnya merasa kasihan terhadap Chelsea. Baru enam bulan dia beserta kedua orang tua dan kedua adiknya pindah rumah ke sebelah rumah saya di Bogor, keluarganya terkena musibah. Sepulang dari Taman Safari, mobil yang ditumpangi dan hendak pulang ke Jakarta mengalami kecelakaan beruntun. Kedua orang tuanya dan kedua adiknya tewas. Terpaksa dia hidup sendiri. Namun untunglah, adik iparnya yang bertempat tinggal di Sukabumi mau menemaninya.

Karena saya kenal baik dengan Chelsea, maka sayapun sering membantunya. Membantu apa saja termasuk membayarkan rekening listrik, telepon, dan lain-lain. Kebetulan saya sudah bekerja di pemda Bogor dengan gaji lumayan. Sedangkan Chelsea masih kuliah semester empat di salah satu perguruan tinggi.

“Sudahlah, semua sudah kehendak Allah swt. Semua kehendakNya pasti ada maksudnya. Ada hikmahnya. Masa depan Chelsea masih panjang. Masih ada harapan yang lebih baik. Suatu saat Chelse pasti akan berkumpul lagi dengan kedua orang tua dan kedua adik, di sorga” Begitu sering saya memberikan nasehat dan semangat.

Saya memahami kehancuran hati Chelsea. Oleh karena itu tak ada salahnya sebagai tetangga perlu memberikan perhatian. Untunglah Chelsea mau mendengarkan nasehat saya, juga nasehat tetangga-tetangga lainnya. Soal makan tak jadi soal karena bisa berlangganan nasi rantang. Soal biaya juga nggak masalah karena para warga secara bersama-sama bergotong royong membantu. Uang kuliah saya yang membantu.

Sepulang kuliah Chelse sibuk bermain-main dengan dua ekor kucing Persianya yang cantik. Bulunya lembut halus. Penampilannya sehat dan lucu. Kucing-kucing kesayangannya itulah satu-satunya hiburannya.

“Yang ini mananya Kaisar” Suatu hari Chelsea memperkenalkan nama kucingnya ke saya.

“Yang satunya lagi, yang agak kecil, yang perempuan ini namanya Ratu” Jelasnya lagi. Saya manggut-manggut dan memuji kelucuan kucing-kucing itu.

Beberapa bulan kemudian kecingnya beranak. Lahir empat kucing, namun yang satu mati. Sayapun membantu membelikan rumah baru untuk kucingnya. Memang, para kucingnya punya rumah berupa sangkar yang bentuknya seperti rumah. Juga ada tempat tidur khusus kucing. Makananya disediakan di kamar makan khusus kucing. Chelsea memperlakukan kucing-kucingnya seperti memperlakukannya sebagai manusia.

“Terima kasih lho, saya sudah dibantu” Dia berkata kepada saya sambil mengelus-elus Kaisar.

“Ah, sesama manusia harus saling menolong”

“Merepotkan ya, Mas?”

“Ya, enggaklah. Itu sudah kewajiban”

Chelsea memang gadis yang ramah. Apalagi dia juga cantik. Dia disukai dalam pergaulan. Tak heran kalau di lingkungan RT ataupun di lingkungan kampus Chelsea punya banyak kawan. Hampir tiap hari ada saja temannya yang datang. Ya pria ya wanita.

Satu tahun berlalu. Kucing Chelsea sudah dewasa. Sekarang punya lima kucing yang lucu-lucu. Chelsea punya rencana untuk bisnis kucing Persia supaya bisa berpengfhasilan sendiri dan tidak meminta bantuan keuangan dari tetangga-tetangganya lagi.

Usul itu saya dukung. Bahkan saya siap membantu permodalannya secara gratis. Ternyata sambutan Chelsea positif. Minggu itu saya dan Chelsea kemudian ke pets shop atau toko binatang. Sekaligus membeli lima pasang kucing Persia.

Halaman belakang rumah Chelsea memang cukup luas. Saya membantu membuat istana-istana baru bagi para kucingnya. Kebetulan saya alumni fakultas teknik arsitek, jadi saya buatkan istana-istana kucing yang bagus. Tentu, ukurannya mini.

Juga saya bangun WC khusus kucing, kolam renang khusus kucing dan tempat makan khusus kucing. Tak ketinggalan tempat bermain yang menyenangkan bagi kucing-kucingnya.

“O, bagus sekali” Pujinya ketika melihat istana-istana kucingnya telah jadi. Karena Chelsea sudah berpengalaman memelihara kucing Persia, maka bisnis kucingnya cukup lancar. Bahkan dia mampu membayar satu karyawan yang bertugas merawat, memberi makan, memandikan, dan mengontrol kesehatan para kucingnya.

Dia iklankan kucingnya melalui website-nya http://www. chelsea. pussycat. com dan hampir tiap hari ada orang yang membeli kucingnya. Harganya jutaan rupiah. Jangan heran kalau kemudian Chelsea memberitahu para tetangganya bahwa dia sudah mandiri dan tak perlu bantuan keuangan lagi.

Waktu terus berjalan. Bisnis Chelsea semakin maju. Kalau dulu kucingnya cuma dua ekor, sekarang telah berkembang menjadi 90 ekor. Bukan hanya kucing Persia, tetapi juga kucing dari beberapa jenis lainnya. Manajemennya cukup bagus sehingga tidak mengganggu para tetangganya.

Sumber foto: http://wallpaperaleadesign.blogspot.com/2010/09/wallpaper-kucing-lucu.html

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Antara Anisa dan Anita

PALEMBANG. Antara Anisa dan Anita tidak ada hubungan saudara. Bukan saudara kembar. Bahkan keduanya tidak saling mengenal. Apalagi, Anisa adalah dulu adalah suku Palembang sedangkan Anita suku Betawi.

Anisa adalah istri saya. Sudah tiga tahun saya menikah dan tinggal di Palembang. Namun, hingga tahun ketiga saya belum dikaruniai anak. Sedangkan Anita adalah mantan teman SMA di Jakarta yang secara kebetulan saya bertemu di Mal JM. Dia sudah berstatus janda tanpa anak karena suaminya meninggal karena sakit. Karena saya membutuhkan sekretaris perusahaan, maka Anita saya angkat sebagai sekretaris di perusahaan saya.

Hubungan saya dengan Anisa biasa-biasa saja. Artinya, tidak ada kemajuan apa-apa. Anisa yang sebenar banyak bicara itu ternyata di tempat tidur dingin-dingin saja. Akibatnya, sebagai seorang suami saya hanya mendapatkan kepuasan biologis saja sedangkan kepuasan psikologis nol.

“Ma, masak tiga tahun kita begini terus. Posisinya begini terus. Tempatnya di sini terus. Kita kan butuh variasi,Ma”. Suatu saat saya berkata jujur kepada Anisa.

“Habis, maunya gimana, Pa?”.

“Ya, sekali-kali ganti posisi,kek. Atau sekali-kali kita lakukan hubungan suami istri di luar kota”. Saya mengusulkan.

“Ah, Tuhan memang belum memberi kita anak,Pak. Walaupun posisinya ganti-ganti atau kita lakukan di luar kota, kalau Tuhan belum memberi kita anak, ya kita nggak akan punya anak”. Sanggah Anisa.

“Bukan itu maksud saya. Selama ini saya hanya merasakan kepuasan biologis. Sedangkan kepuasan psikologis saya tidak merasakan”. Agak kesal saya menjawabnya.

“Maksudnya gimana sih, Pa? Apa sekali-sekali saya harus ada di posisi atas? Saya kan bukan pelacur,Pa?”. Bantah istri saya yang tidak mengerti juga maksud saya.

“Iya! Semua orang tahu. Tapi komunikasi seks kita buruk sekali,Ma. Seharusnya ada keterbukaan. Kalau Mama puas, katakan puas. Kalau belum, ya katakan belum”. Saya berusaha menjelaskan.

“Saya kan perempuan,Pa. Masak harus ngomong-ngomong begitu. Yang namanya suami kan harus tahu dan mengerti bahwa istrinya sudah puas atau belum”. Bantah Anisa.

Perdebatan kecil seperti itu sudah sering terjadi. Bahkan sudah berlangsung tiga tahun. Namun tidak ada kemajuan sedikit pun. Lama-lama saya kurang bergairah untuk melakukan hubungan intim. Bahkan kadang-kadang sebulan Cuma satu dua kali saja. Gairah seks saya menurun. Bukan karena impoten, tetapi Anisa kurang mampu berkreasi.

Beda dengan Anita. Dia tampil modern, berpandangan maju, kalau diajak bicara selalu nyambung. Itulah sebabnya tiap kali tugas ke luar kota, Anita selalu saya ajak. Sebagai sekretaris perusahaan diua cocok sekali. Mampu mengatur jadwal rapat, menyusun materi rapat, membuat ringkasan rapat dan bahkan mampu membuat laporan manajemen perusahaan dan sekaligus laporan keuangan sederhana. Maklum, Anita adalah lulusan Akademi Sekretaris dan Manajemen Indonesia (ASMI).

Selama enam bulan ini saya sudah bertugas ke Medan, Lampung, Manado, Yogyakarta, dan kota-kota besar lainnya di dalam rangka memperluas jaringan bisnis di dalam negeri. Namun yang agak lama yaitu di Singapura. Saya butuh waktu 15 hari di negeri itu.

Mungkin waktu yang cuykup lama dan tiap hari bertemu Anita di hotel dan jauh dari istri, maka terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi. Walaupun saya dan Anita tidak satu kamar, namun tetap satu hotel.

Semula saya masuk kamar Anita murni untuk membicarakan masalah perusahaan. Namun karena saat itu Anita sedang mengenakan pakaian minim, maka sebagai laki-laki normal saya pun goyah juga imannya. Apalagi layanan Anisa kurang memuaskan.

Anita tampaknya cukup tanggap. Apalagi sudah lama hidup menjanda. Maka terjadilah perselingkuhan saya yang pertama dengan Anita. Kemudian disusul dengan perselingkuhan-perselingkuhan lainnya di berbagai kota.

Sungguh berbeda hubungan intim saya dengan Anisa dan dengan Anita. Kalau Anisa bersikap pasif, dingin, tidak kreatif dan tidak komunikatif, maka Anita justru sebaliknya. Kalau Anita tidak puas, maka dia bilang tidak puas. Kalau puas, ya bilang puas. Dengan demikian sebagai laki-laki saya bisa berusaha mencari solusi. Terus terang, hanya pada Anita saya memperoleh kepuasan biologis maupun psikologis. Apalagi Anita mau melayani saya dengan berbagai posisi dan gaya sejauh itu dalam kontek yang wajar.

Setahun kemudian saya terpaksa mengambil keputusan menceraikan Anisa. Maklum sudah tiga tahun lebih tidak punya anak, komunikasi sudah tidak harmonis, apalagi sudah lebih dari setahun saya pisah ranjang.

Setahun kemudian saya menikah dengan Anita dan dikaruniai bayi perempuan, montok, putih, cantik dan lucu. Saya membeli rumah baru di Komplek Perumahan Citra Mandala Persada. Sebuah perumahan mewah.

Namun saya membeli rumah yang ukuran biasa-biasa saja. Artinya, cukup mewah tetapi ukuran bangunan hanya 140 dua lantai dan tanah seluas 500 meter persegi. Hari-hari berikutnya saya merasakan kebahagiaan lahir dan batin bersama Anita dan anak perempuan saya yang montok dan lucu.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

CERPEN: Ketika Cintaku Terkapar di Kaliketek

BOJONEGORO 1969. Waktu itu saya masih duduk di kelas satu. Saya lulusan dari SMPN 2. Sedangkan Widya lulusan SMPN 1. Kami berdua satu kelas di SMAN 1 yang dulu namanya SMA Negara. Lokasinya di Jl. Panglima Sudirman.

Sejak SMP memang saya dan Widya sudah pacaran. Jadi, tak heran kalau di SMApun cinta kami berlangsung terus. Apalagi, kebetulan kami satu kelas. Kata orang, cinta pertama adalah cinta yang terindah. Kebetulan, kami berdua sama-sama cinta pertama.

“Harry, jangan lupa acara besok,” pesan Widya sewaktu pulang sekolah.

“Oh, ya. Besok saya jemput jam 07:00 WIB ya?” jawab saya.

Esoknya adalah hari Minggu. Tentu, kami manfaatkan sebaik-baiknya. Dengan masing-masing mengendarai sepeda ontel, kami bergerak menuju ke Kolam Renang Dander lewat Jetak. Waktu itu jalannya masih rusak. banyak lubang. banyak batu berserakan dengan ukuran mulai sebesar ibu jari hingga ukuran kepala kambing. Juga, berdebut. Jadi, harus pandai-pandai memilih jalan.

Menit demi menit kami jalani jalan yang buruk itu. Akhirnya, dua jam baru sampai di tempat tujuan. Padahal jarak dari Kota Bojonegoro cuma sekitar 14 kilo meter.

“Kita istirahat dulu,” ajak saya setiba di Dander. Kami berdua menyandarkan sepeda di sebuah pohon besar. Kemudian duduk berdua di sebuah tempat duduk yang terbuat dari semen.

Betapa indah hari itu. Suara kicau burung, suara debur air yang ditepuk anak-anak kecil, suara teriakan-teriakan kecil dari mereka yang berenang dan suara orang-orang berjualan menawarkan dagangannya.

“Beli jagung rebus,yuk!” ajak saya. saya dan Widyapun membeli jagung rebus yang masih hangat. Empuh, gurih dan manis rasanya. Sungguh benar-benar indah hari itu. Bahkan lagu-lagu yang diputar dari kaset milik orang lain menambah indahnya suasana.

Selesai makan jagung, kamu berduapun berenang sepuas-puasnya. Sayang, saya tidak membawa kamera foto sehingga tidak ada kenangan yang bisa diabadaikan.

Sebenarnya tidak Cuma di Dander saja cinta kami terukit. Kami juga pernah ke Waduk Pacal. Sebuah waduk yang sangat teduh dan indah. Sayang, tidak dibangun jalan setapak agar kami bisa mengelilingi waduk itu. Jadi, Cuma bisa naik atau menuruni tangga yang jumlahnya ratusan itu. Sayang, objek wisata itu tidak pernah dikelola secara profesional.

Di Kahyangan Api juga pernah kami kunjungi. Biasa-biasa saja. Tidak ada daya tariknya. Sepi dari pengunjungnya. Objek wisata inipun tidak dikelola secara profesional. Lha wong bupatinya juga tidak punya daya kreativitas. Maklum saja.

Atau kadang-kadang kami membeli salak di Wedi, Kalianyar. Dulu, salaknya besar-besar dan gurih. Tidak seperti sekarang, kecil-kecil dan sepet. Tidak ada usaha untuk mengembangkan salak Wedi menjadi buah-buahan kebanggaan warga. Maklum, orang Indonesia memang terkenal malas untuk berkreasi.

Karena di dalam kota tidak ada objek wisata, maka acara saya dengan Widya paling jajan bakso dan es campur. Padahal, kalau mau, di tengah kota bisa dibangun objek wisata yang menarik. Misalnya ada lapangan multi fungsi. Bisa untuk voli, sekaligus bisa untuk tenis, basket, sepatu roda dan lain-lain. Juga bisa dibangun sarana-sarana wisata lainnya.

Dulu, masih ada gedung bioskop. Lokasinya di Bombok. Gedungnya lumayanlah untuk ukuran saat itu. Kebanyakan memutar film India dan China. Sering juga sih film Barat. Dan tiap malam Minggu, saya dan Widya pasti menonton bersama.

Sampai suatu saat, kamipun rekreasi ke Kaliketek. Sebuah jembatan yang terletak di perbatasan Bojonegoro dan Tuban. Kami berdua masing-masing bersepeda. Untunglah, saya membawa kamera. jaman dulu, kamera masih menggunakan klise.

“Ambil foto saya,dong!” pinta Widya. Kamipun berfoto bergantian. Untuk foto bersama, saya meminta bantuan orang yang lewat. Tentu, saya ajari dulu. Cukup lama kami bersenang-senang di Kaliketek.

Sampai akhirnya, Widya berkata.

“Harry, ada sesuatu yang ingin saya katakan…”

“Apa itu? Katakan saja…” pinta saya.

“Sebelumnya saya mintab ma’af,Harry. Mungkin saya tidak bisa ,eneruskan sekolah di SMA di kota ini. Saya harus pindah…”

“Kenapa harus pindah?”

“Soalnya, bapak saya dipindahtugaskan ke Mojokerto. Maklum, pegawai negeri kan harus siap dipindahkan ke mana saja”

“Jadi, Widya akan melanjutkan sekolah di SMA Mojokerto?” saya pandangi Widya dengan tatapan mata serius.

“Mungkin saya tidak melanjutkan sekolah”

“Lho, kenapa? Sayang kan kalau tidak taman SMA?”

Widya diam saja. bahkan pelan-pelan saya lihat di pipinya mengalir dua butir air mata.

“Kenapa?” saya penasaran.

“Maaf Harry. Saya dijodohkan. Dan di Mojokerto sayapun harus menikah…”

bagaikan disambar petir saya mendengar ucapan Widya.

“Kenapa Widya mau? “ saya agak marah.

“Saya satu-satunya anak orang tua saya. Apalagi, ibu saya sering sakit. Saya ingin membahagian kedua orang tua, Harry…”

“Jadi, hubungan kita hanya sampai di sini?” kata saya penuh rasa kecewa.

‘Apa boleh buat, Harry. Yang penting, kita tetap saling mencintai. Sampai kapanpun.”

Sayapun terdiam. Tak bisa berbuat apa-apa. Saya tidak bisa memaksa Widya untuk menolak keinginan kedua orang tuanya. Memang sakit hati saya mendengar kalimat-kalimat itu. Rasa-rasanya percuma kami berpacaran sejak SMP.

Pikiran saya tiba-tiba kacau. Kacau sekali. Kecewa.Kecewa sekali. Saya putus asa. Benar-benar putus asa. Saya cium Widya untuk terakhir kalinya.

Saya lepaskan dekapan saya.

“Selamat tinggal,Widya!” kata saya. sayapun secepat kilat naik ke pagar besi jembatan. Saya berdiri di atas pagar itu.

“Harry….Jangaaan….!” saya dengar teriakan Widya. Saya tak perduli. Sayapun nekat. Meloncat dari pagar terjun ke Bengawan Solo.

Tahu-tahu, saya sudah ada di rumah seorang penduduk. Beberapa saat, saya melihat Widya ada di samping saya. Saya baru sadar, saya telah diselamatkan warga-warga di sekitar jembatan Kaliketek itu. Usaha bunuh diri saya gagal.

Saya cuma bisa mengucapkan terima kasih kepada Pak Sugriwo dan Pak Darno yang telah menyelamatkan saya dari arus Sungai Bengawan Solo.

Sampai kapanpun saya tak akan melupakan peristiwa itu.

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger