CERPEN: Facebookmu Sayang Facebookmu Malang

WALAUPUN Devita bukan cewek yang cantik, namun penampilannya cukup menarik dan simpatik. Foto profilnya yang dipasang memang mengesankan Devita memang sosok “camera face”. Andaikan saya masih muda, mungkin saya tertarik juga.

“Saya masih kelas satu SMA di Yogyakarta,Om. Boleh dong konsultasi dengan Om. Soalnya saya sering baca artikel-artikel Om Harry yang dikirimkan ke para Facebooker. Boleh dong Om?” Begitu pesan yang dikirim ke fasilitas pesan di Facebook saya.

Tentu saja, saya yang sudah tua dan punya banyak pengalaman hidup yang pahit dan manis bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Devita.

“Begini lho,Om. Saya tiap hari selalu nge-add Facebooker yang cowok-cowok saja. Maklum, teman-teman saya sudah punya pacar, sedangkan sejak di bangku SMP-pun saya belum punya pacar. Kebetulan ada satu cowok yang agresif sekali, Om, Namanya Nandang Saputra. Dia katanya kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Cowoknya keren, Om. Bisa Om search di Facebook Om. Bagaimana Om, pendapatnya?” Begitu bunyi pesan berikutnya. Hampir tiap hari Devita yang punya nama lengkap Devita Novitasari ini curhat ke Facebook saya.

Setelah saya search, saya memang menemukan profil Nandang Saputra, seorang mahasiswa semester ketiga dari perguruan tinggi swasta di bilangan Jakarta Timur. Fotonya boleh juga.

Namun kepada Devita saya cuma memberi saran supaya berhati-hati terhadap cowok yang baru dikenal. Apalagi cuma Facebook.

“Iya,Om. Saya juga hati-hati. Tapi dia sepertinya baik-baik,kok. Dia sering kirim SMS atau menelepon saya. Hampir tiap hari. Katanya liburan semester ini akan mani-main ke rumah saya di Yogyakarta. Cuma katanya, dia minta bertemu di Bandung saja karena kalau ke Yogya terlalu jauh”. Itu curhat Devita yang saya terima pada 20 November 2009.

Saya langsung melarang Devita untuk bertemu di Bandung. Saya katakan, kalau Nandang benar-benar cowok yang baik, maka dia harus konsekuen datang ke Yogyakarta. Dan bukan menyuruh bertemu di Bandung.

“Betul Om. Saya mengikuti saran Om Harry. Saya tolak bertemu di Bandung. Kebetulan, mama saya mau pergi ke Jakarta karena ada famili yang akan menikah. Sayapun ikut Om. Saya sudah minta izin ke sekolah. Sekarang saya di kawasan Sunter Hijau, Jakarta Utara Om.” Itu pesan Devita yang saya terima pada 28 November 2009.

Kemudian Devita bercerita besok harinya akan bertemu Nandang di kantin Fakultas Ekonomi, Universitas Borobudur. Saya hanya bilang, hati-hati. Kalau bisa mengajak teman.

Seminggu lamanya, tak ada berita apa-apa di Facebook saya. Saya tak tahu apa yang terjadi dengan Devita. Mungkin sudah bosan ber-Facebook ria, Atau mungkin HP-nya kehabisan pulsa, Masa bodohlah. Saya punya 2.000 teman di Facebook. Tidak mungkin saya mengurusinya secara khusus

Tiba-tiba pada 5 Desember HP saya berbunyi. Saya lihat tidak ada nama yang muncul. Artinya, penelepon belum saya kenal. Ternyata dari seorang ibu. Katanya dia tahu nomor HP saya dari Facebook anaknya, Devita.

Ibu itu tanya, apakah kenal Devita melalui Facebook. Tentu saja saya jawab kenal. Toh, bukti-bukti tertulis ada di Facebook Devita. Ibu itu juga tanya, apakah saya kenal Nandang. Tentu saya jawab tidak kenal.

Akhirnya 10 Desember, ibu itu datang dari Yogya menuju ke rumah saya. Minta diantarkan ke Fakultas Ekonomi, Universitas Borobudur. Dengan naik taksi saya meluncur ke universitas tersebut.

Di kampus itu, saya dan ibu Devita menanyakan ke tata usaha kampus, aoakah ada mahasiswa bernama Nandang Saputra. Setelah dicek di komputer berkali-kali, ternyata tidak ada. Kemudian saya dan ibu Devitapun bertanya ke beberapa mahasiswa fakultas ekonomi, apakah mereka kenal Nandang. Semua menjawab tidak tahu.

Ibu Mochtar, ibunya Devitapun mulai cemas. Akhirnya kasus itu dilaporkan ke pihak kepolisian. Seminggu di Jakarta, tidak ada perkembangan yang berarti.

Akhirnya, pada 15 Januari 2010, Bu Mochtarpun kembali ke rumah saya dan mengajak saya ke kantor polisi tempat dulu melapor. Kebetulan, hari itu pihak kepolisian baru saja menangani kasus kecelakaan sepeda motor yang bertabrakan dengan mobil. Pengemudinya kabur meninggalkan cewek yang diboncengkan. Katanya, cewek itu sudah dilarikan ke rumah sakit RSCM, di Jakarta Pusat. Dan berdasarkan kartu pelajar yang ditemukan di dompet cewek itu, namanya Devita.

Langsung saya dan Bu Mochtar menuju ke RSCM. Dan benar saja, Devita tergeletak di rumah sakit itu, Menurut keterangan dokter, Devita mengalami gegar otak ringan. Namun yang mengejutkan yaitu, berdasarkan pemeriksaan, Devita dinyatakan pemakai narkoba. Namun yang lebih mengejutkan Bu Mochtar, dokter Pirngadi mengatakan Devita sudah tidak perawan lagi.

Dengan terbata-bata Devita mengatakan tidak tahu di mana rumah Nandang. Devita selalu berjanji bertemu di kampus Borobudur. Setelah itu menginap berminggu-minggu di salah satu vila kecil di Puncak. Dengan terbata-bata pula,Devita mengaku ke ibunya, bahwa di Puncak itu dia dipaksa melayani nafsu seks Nandang. Jika menolak, dia ditampar dan dipukul.

Juga, dipaksa memakai narkoba. Tidak hanya itu, Devita juga dipaksa melayani om-om dengan imbalan Rp 1 juta atau berupa narkoba. Namun uang dan narkoba itu yang menerima Nandang. Kalau dihitung-hitung, Nandang mungkin sudah menerima keuntungan lebih dari Rp 50 juta dari hasil menjual tubuh Devita dan bisnis narkoba yang digeluti Nandang

Sejak kecelakaan itu, Devita tak pernah bertemu lagi dengan Nandang Saputra.

Bu Mochtar dan Devita hanya bisa menangis.

Sebuah tangisan yang tak ada manfaatnya apa-apa.

Sumber foto: webmediaportal.com

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: