CERPEN: S e s u a t u

SAYA merasa beruntung karena bisa duduk dalam panitia penerimaan mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di Jakarta. Karena dengan demikian saya punya pengalaman baru di kampus. Bukan masalah honor, tetapi saya memang suka mencari pengalaman baru.

Saat itulah, ada seorang calon mahasiswi yang mendaftar. Tentu cantik. Sayapun memberikan pelayanan yang baik. Dari formulir pendaftaran saya tahu dia bernama Analita. Sebuah nama yang bagus seperti yang punya nama.

Cuma sayang, beberapa bulan ketika kuliah dimulai, Analita tak kelihatan batang hidungnya. Dari kelas ke kelas saya teliti, tetap tidak ada. Bahkan samapi tiga bulan juga tidak ada.

“Coba cari di tempat saudaranya” Usul Oggie, teman kuliah saya. Di formulir memang ada kolom alamat di Jakarta yang harus diisini. Setelah saya catat, bubar kuliah saya langsung menuju ke Cililitan. Sekitar satu jam kemudian baru saya menemukan alamatnya. Sayang, saya dapat informasi bahwa Analita tak jadi kuliah di Jakarta karena diterima di PTS di Yogyakarta. Alamat di Yogyakarta tidak diketahui.

“Coba cari alamat orang tuanya” Usul Oggie suatu hari. Setelah saya mendapatkan alamatnya, saya segera menuju ke Sukabumi. Ternyata alamatnya tidak disertai nomor rumah maupun RT/RW. Hanya nama desa saja. Wah, repot juga. Berkali-kali saya menanyakan warga Sukabumi apa ada warga yang bernama Analita. Jawabnya selalu sama, di Sukabumi banyak yang bernama Analita.

Karena terlanjur ke Sukabumi, apa boleh buat, tiap ada yang bernama Analita, maka saya berusaha untuk bertemu. Ternyata bukan. Selama setengah haru saya menemukan tujuh cewek bernama Analita, semuanya bukan yang saya cari.

Ketika saya berjalan kaki menyusuri jalan, tiba-tiba mata saya melihat pakaian mirip milik Analita yang sedang dijemur. Intuisi saya mengatakan, pasti itu rumah Analita yang saya cari.

“Maaf, apakah di sini ada yang namanya Analita?” Saya bertanya ke seorang ibu muda yang kebetulan duduk di teras.

“Oh, ada. Kebetulan dia sedang libur”. Ibu muda itu masuk ke dalam rumah. Dan benar saja, Analita yang cari akhirnya bisa saya temukan. Tentu itu merupakan kabar yang menggembirakan.

Akhirnya, saya ngobrol sepuasnya. Ternyata benar, Analita memilih kuliah di Yogyakarta karena teman se-SMA-nya juga kuliah di fakultas yang sama. Sebelum pulang, sayapun minta alamat kos dia yang ada di Yogya.

Selanjutnya secara rutin dua minggu sekali saya ke Yogyakarta, yaitu tiap hari Minggu ganjil. Sabtu berangkat dari Jakarta dan Minggu sore pulang dari Yogyakarta. Memang cukup singkat pertemuan saya. Tak sebanding dengan lama perjalanan saya di kereta.

Hubungan saya dengan berlangsung sekitar satu tahun lebih dua bulan. Semakin lama semakin akrab. Sampai-sampai orang tuanya menanyakan ke saya, serius atau tidak. Sebuah pertanyaan yang mengejutkan, sebab saya masih berstatus mahasiswa dan belum bekerja.

“Maaf,pak. Saya akan menyelesaikan kuliah dulu. Setelah itu akan saya pertimbangkan dulu” Begitu jawab saya ke ayahnya. Ayahnya hanya manggut-manggut saja.

Suatu saat ketika saya menunjukkan foto Analita ke Hatta, sahabat baik saya, dia terkejut.

“Kenapa,Ta?” Saya mendesak Hatta untuk menjawab.

“O, saya kenal dia. Di rumahnya di belakang rumah saya. Di Sukabumi,kan? Namanya Analita,kan” Kalimat-kalimat yang diucapkan hatta seratus persen benar.

“Iya.Memang. Tapi kenapa wajah Hatta kelihatannya aneh begitu?” Saya ingin tahu.

“Begini,ya. Sebelumnya saya minta maaf ke Harry. Saya Cuma ingin memberi tahu Harry. Keputusan terserah Harry”

“Apa itu?” Saya semakin penasaran.

“Begini. Analita itu sudah punya anak. Umurnya sekitar dua tahun. Dia sudah cerai dari suaminya gara-gara Analita berselingkuh dengan laki-laki lain”

Bagaikan tersambar petir saya mendengar pengakuan Hatta. Maka, ketika saya ke Yogyakarta, sayapun menanyakan kebenaran informasi itu. Saya tanyakan secara baik-baik. Ternyata, Analita mengatakan bahwa informasi itu benar.

Akhirnya, secara baik-baik pula saya mengakhiri hubungan itu. Cukup sebagai sahabat saja. Ternyata Analita tidak beberatan. Itulah, terakhir kalinya saya bertemu dengan Analita.

 

Catatan:

Judul Asli “Yang Tak Pernah Terkatakan Analita”

Sumber foto: bloggembel.com

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Semua komentar otomatis akan dihapus

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: